Ketika The Chronos Eradicator mengangkat tangannya, sebuah gelombang kejut berwarna abu-abu pucat menyapu seluruh area. Itu bukan ledakan, melainkan "Hapus-Waktu".
"Hah? Siapa kau?" Zoro menatap Sanji dengan bingung. "Kenapa koki sepertimu ada di kapal ini?"
Sanji tertegun, rokoknya jatuh. "Zoro? Kau bicara apa? Aku koki kapalmu!"
"Aku tidak butuh koki," balas Zoro dingin, tangannya meraba pedangnya yang tiba-tiba terasa asing baginya. "Aku seorang pemburu bajak laut soliter. Aku tidak pernah punya kru."
Masalah Dimulai Garis waktu mulai retak di dalam diri mereka.
Sejarah pertemuan mereka di Baratie, di Arlong Park, di Alabasta... semua mulai terhapus satu per satu.
Mereka masih berada di satu kapal, tapi mereka mulai menjadi orang asing bagi satu sama lain.
Kai berteriak sambil memegang jurnalnya yang halamannya mulai menjadi putih polos. "Luffy! Jangan biarkan mereka lupa!
Jika ingatan kolektif kalian hilang, Thousand Sunny akan lenyap karena kapal ini dibangun atas dasar impian bersama!"
Luffy Prime mencoba mendekat, tapi Luffy Masa Depan menahannya. "Jangan sentuh mereka secara fisik, Prime! Jika kau menyentuh mereka saat garis waktu mereka tidak stabil, kalian berdua akan hancur menjadi debu sejarah."
Luffy Prime gemetar. "Tapi... mereka mulai melupakan segalanya! Nami menatap laut seolah dia tidak tahu cara membaca peta!
Chopper takut melihatku!"
Luffy Masa Depan menunjuk ke arah jantung Luffy Prime. "Satu-satunya cara untuk menstabilkan mereka adalah melalui Jangkar Emosi. Kau harus masuk ke dalam 'Ruang Batin' masing-masing kru dan menyambungkan kembali potongan memori yang telah diputus oleh Chronos."
"Bagaimana caranya?"
"Gunakan teknik yang kau pelajari dari si Botak," bisik Luffy Masa Depan. "Bukan kekuatan fisiknya, tapi Fokus Absolut. Masuklah ke dalam meditasi 'Normal' yang sangat dalam hingga kau bisa melihat aliran waktu di sekitarmu."
Di Dalam Pikiran Zoro
Luffy Prime duduk bersila di tengah kekacauan. Dia memejamkan mata, mengabaikan teriakan Chronos Eradicator yang mencoba menyerangnya. Dia fokus pada satu titik: Keberadaan Zoro.
Tiba-tiba, Luffy Prime berada di sebuah dojo tua di Desa Shimotsuki. Di sana, Zoro muda sedang berlatih sendirian, tapi dia tampak sedih. Tidak ada janji dengan Kuina. Tidak ada Luffy yang datang menyelamatkannya dari tiang eksekusi Morgan.
"Zoro!" panggil Luffy.
Zoro muda menoleh.
Matanya kosong. "Siapa kau? Pergi! Aku harus berlatih sendiri. Aku tidak butuh teman."
Luffy Prime berjalan mendekat. Dia merasakan tekanan mental yang luar biasa. Setiap langkah terasa seperti ditarik oleh ribuan tahun beban sejarah yang ingin menghapusnya.
"Kau bukan petarung sendirian, Zoro," ucap Luffy pelan. Dia memvisualisasikan sebuah pedang pedang janji mereka. "Kau adalah pria yang bilang padaku bahwa kau akan menjadi pendekar pedang nomor satu supaya aku bisa menjadi Raja Bajak Laut. Ingat tidak?"
Zoro muda mulai berkedip-kedip. Bayangan Zoro masa kini yang tangguh muncul di belakangnya, lalu menghilang lagi. "Raja... Bajak Laut? Nama itu... terasa hangat."
Belum sempat Zoro pulih sepenuhnya, Luffy ditarik ke dimensi lain—dimensi Nami. Di sini, Nami sedang duduk di ruangan gelap Arlong Park, menggambar peta dengan tangan berdarah.
"Nami! Berhenti!" teriak Luffy.
Nami menoleh, matanya penuh kebencian. "Siapa kau? Kau bajak laut juga? Pergi! Aku harus mengumpulkan 100 juta beri untuk membeli desaku! Aku tidak butuh bantuan siapa pun!"
Luffy Prime merasakan dadanya sesak. Dia melihat topi jeraminya di kepalanya sendiri. Dia ingin memberikan topi itu pada Nami, tapi tangannya menembus tubuh Nami.
"Kau sudah bebas, Nami!"
Luffy berteriak melawan angin waktu yang menderu. "Kau sudah menangis dan meminta bantuanku, dan aku sudah menghancurkan tempat ini! Ingatlah... kita melihat langit bersama dari dek Sunny!"
Nami terdiam, memegang dadanya. "Sunny? Nama itu... kenapa hatiku terasa sakit saat mendengarnya?"
Di dunia luar, tubuh Luffy Prime mulai mengeluarkan uap panas. Dia sedang bertarung di dua tempat sekaligus: menahan serangan Chronos Eradicator dengan insting bawah sadarnya, dan bertarung menyambungkan jiwa teman-temannya di dalam batin.
Chronos Eradicator tertawa. "Sia-sia! Kau mencoba menyambungkan benang yang sudah kusobek! Semakin kau mencoba mengingat, semakin banyak energi hidupmu yang terkuras!"
Kai melihat Luffy Prime mulai menua. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian. "Luffy! Berhenti! Kau membakar sisa usiamu untuk melakukan ini!"
Luffy Masa Depan hanya diam, matanya berkaca-kaca. Dia tahu ini adalah beban yang harus dipikul oleh "Versi Dirinya" yang ini. "Teruskan, Prime... Ini adalah latihan 'Serious' yang
sesungguhnya.
Menjaga apa yang berharga saat dunia ingin kau melupakannya."
Tiba-tiba, Zoro dan Sanji yang asli di atas kapal mulai transparan. Kaki Sanji menghilang, dan pedang Zoro mulai berubah menjadi pasir.
"Luffy..." bisik Sanji dengan suara sayup. "Aku... aku tidak ingat kenapa aku ingin mencari All Blue. Aku hanya merasa... lapar... tapi tidak tahu apa yang ingin kumakan."
Luffy Prime berteriak di dalam batinnya. Dia menarik semua memorinya saat-saat konyol, saat-saat menangis, saat-saat mereka tertawa bersama Saitama dan mengubahnya menjadi Rantai Cahaya.
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN HILANG!"
Luffy Prime memeluk seluruh kru-nya di dalam pikiran kolektif mereka. Dia bukan lagi Luffy yang memukul, dia adalah Luffy yang Menjadi Jangkar.
Luffy harus menghadapi "Memori Terlarang" miliknya sendiri yang coba dimanipulasi oleh Chronos.
Sanji dan Zoro mulai sadar di tengah dimensi batin dan membantu Luffy melawan balik "Erosi Waktu".
The Chronos Eradicator, melihat Luffy Prime yang mulai menyatukan kembali memori krunya, mendadak menghentikan serangannya. Dia menyadari bahwa kekuatan mental Luffy yang dibumbui "kegilaan" ala Saitama adalah anomali yang tak terduga.
"Menarik," suara Chronos Eradicator terdengar berdesir seperti pasir yang berjatuhan. "Kau punya tekad yang kuat, Monkey D. Luffy. Tapi kau tetap tidak bisa mengalahkanku dengan kekuatan. Jika aku mau, aku bisa menghapus keberadaanmu dari masa lalu sebelum kau lahir."
Luffy Prime bangkit, napasnya terengah-engah. Ingatan teman-temannya sudah mulai kembali, tapi masih terasa rapuh. Luffy Masa Depan berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu, jangan bertarung, bodoh!" teriak Luffy Prime, meniru gaya Saitama. "Main saja! Kalau kau menang, hapus kami. Kalau kami menang, kau biarkan timeline kami tetap ada!"
Chronos Eradicator terdiam. "Main? Apa maksudmu?"
"Saitama pernah bilang," Luffy Prime melanjutkan, "hidup itu seperti permainan. Kalau kau terlalu serius, kau akan bosan. Jadi, ayo main!"
Luffy Masa Depan
tersenyum tipis. "Dia tidak bisa mengerti konsep 'permainan'. Waktunya terlalu linier."
"Baiklah!" Luffy Prime menunjuk ke Chronos Eradicator. "Kita main 'Tebak Kata Kunci Sejarah'! Aku akan menyebutkan sebuah kejadian penting di masa lalu, dan kau harus menebak 'Kata Kunci' apa yang membuat kejadian itu terjadi! Jika salah, kau harus 'Mengembalikan Waktu' satu menit untuk dirimu sendiri! Setiap kali kau mengembalikan waktu, aku akan memanggil teman-temanku kembali sedikit demi sedikit!"
Chronos Eradicator tertawa sinis. "Menarik. Aku adalah penguasa waktu. Aku tahu setiap detik dari sejarah. Aku tidak akan kalah dalam permainan ini."
Ujian Pertama:
"Oke!" Luffy Prime menyeringai. "Pada tahun tertentu, di suatu pulau, seorang bajak laut bernama Monkey D. Luffy meninju seorang Tenryuubito di Rumah Lelang Manusia! Kata Kunci-nya adalah... APA?"
Chronos Eradicator berpikir. "Kata Kunci-nya adalah... 'Amarah terhadap ketidakadilan'!"
"SALAH!" teriak Luffy Prime. "Kata Kunci-nya adalah 'Keberanian Bodoh dan Topi Jerami yang Tidak Bisa Menahan Diri!'"
WUSSSHHH!
Tubuh Chronos Eradicator mendadak berkedip, seolah-olah dia mundur satu menit dalam waktunya sendiri. Satu detik kemudian, Zoro kembali normal! Ingatannya tentang Luffy pun pulih!
"Luffy! Apa yang terjadi?! Aku hampir lupa cara memegang pedang!" teriak Zoro, siap menebas Chronos Eradicator.
"Jangan, Zoro!" Luffy Masa Depan menahannya. "Ini permainan!"
Ujian Kedua:
"Oke! Giliranmu!" teriak Luffy Prime. "Di Marineford, seorang bajak laut tertentu melindungi Luffy dan berkata, 'Kalian tidak bisa menghapus keberadaan generasi baru!' Kata Kunci-nya adalah APA?!"
Chronos Eradicator berpikir keras. "Kata Kunci-nya adalah... 'Pengorbanan untuk masa depan'!"
"SALAH!" teriak Luffy Prime, sambil menunjuk Sanji. "Kata Kunci-nya adalah 'Cinta Kakak yang Cengeng dan Bodoh!'"
WUSSSHHH!
Chronos Eradicator kembali berkedip, dia mundur lagi satu menit. Kali ini, Sanji kembali normal! Dia langsung melihat Nami yang masih setengah transparan.
"NAMI-SWAN! SIAPA YANG MENGHAPUSMU?!" teriak Sanji, siap menendang Chronos Eradicator.
"Jangan, Sanji! Ini permainan!" Luffy Masa Depan kembali menahan.
Chronos Eradicator mulai geram. "Kalian bicara omong kosong! Itu bukan 'kata kunci sejarah' yang logis!"
"Logika itu membosankan!" Luffy Prime menyeringai. "Saitama bilang, kalau terlalu banyak logika, kepala jadi pusing!"
Ujian Ketiga:
Giliran Luffy Prime lagi. Dia menunjuk ke arah Nami yang masih transparan. "Oke! Di Arlong Park, seorang navigator jenius menangis dan meminta tolong pada kaptennya! Kata Kunci-nya adalah APA?"
Chronos Eradicator mencoba berpikir secara logis. "Kata Kunci-nya adalah... 'Kelemahan manusia yang membutuhkan bantuan'!"
"SALAH BESAR!" teriak Luffy Prime. "Kata Kunci-nya adalah 'Uang Nami yang Dicuriku, Jadi Aku Harus Menyelamatkannya!'"
WUSSSHHH!
Chronos Eradicator kembali mundur satu menit. Kali ini, Nami kembali normal! Dia langsung melihat Luffy.
"LUFFY! KENAPA KAU MEMBICARAKAN UANG YANG KAU CURI?!" Nami memukul kepala Luffy Prime dengan tinju cinta yang kini penuh tenaga.
"Aduh, Nami!" Luffy Prime mengusap kepalanya. "Itu bagian dari permainannya!"
Chronos Eradicator mulai ketakutan. Dia tidak bisa memenangkan permainan ini. Logikanya yang kaku tidak bisa memahami "kata kunci" yang berasal dari emosi absurd dan motivasi aneh Bajak Laut Topi Jerami.
"Ini tidak adil!" teriak Chronos Eradicator. "Kalian memutarbalikkan logika waktu!"
"Tentu saja!" Luffy Prime tertawa. "Saitama bilang, kalau ada aturan yang tidak adil, kita tinggal mainkan saja dengan caramu sendiri sampai aturannya berubah!"
Setiap kali Chronos Eradicator salah menebak, dia akan mundur satu menit. Tubuhnya kini berkedip-kedip semakin cepat, dia semakin tidak stabil. Dia terjebak dalam putaran waktu yang dia ciptakan sendiri.
"Kau kalah, Tuan Waktu," ucap Luffy Masa Depan. "Kau mencoba menghapus kami dengan paksaan, tapi kami mengalahkanmu dengan kebahagiaan dan tawa yang absurd. Itu adalah kekuatan yang tidak bisa kau pahami."
Akhirnya, Chronos Eradicator mundur terlalu jauh. Dia menjadi sangat muda, lalu menjadi bayi, dan akhirnya menghilang menjadi titik cahaya yang kembali ke awal waktu, sebelum dia pernah ada.
Dengan kekalahan Chronos Eradicator, garis waktu kembali stabil. Ingatan seluruh kru Topi Jerami pulih sepenuhnya. Kapal Sunny kembali utuh.
"Kita berhasil!" teriak Kai, jurnalnya kembali normal.
Luffy Masa Depan tersenyum dan menepuk pundak Luffy Prime. "Kau sudah belajar banyak, diriku yang dulu. Ingat, jangan pernah biarkan orang lain mengatur ceritamu. Jadilah absurda, jadilah unik, dan jadilah tak terkalahkan."
Luffy Masa Depan dan krunya kemudian melambaikan tangan, memasuki portal waktu mereka sendiri untuk kembali ke masa depan.
Luffy Prime menatap ke langit. "Aku mengerti. Jadi, ceritaku ini harus tetap... aneh."
