"Berangin"
Ibu Kota Bunga kembali meriah. Lampion beterbangan, musik Shamisen berdentum, dan sake mengalir deras. Di tengah panggung utama, di depan ribuan rakyat Wano yang masih bingung dengan perubahan sifat Shogun mereka, berdiri dua monster yang sedang bersitegang.
"Saitama!" Luffy berteriak sambil memegang perutnya yang bulat karena baru saja menghabiskan 50 piring ramen ekstra kacang merah. "Aku menantangmu! Ini adalah pertarungan terakhir! Siapa yang punya 'daya dorong' paling kuat dari belakang, dia adalah Raja Sejati!"
Saitama berdiri dengan wajah datarnya yang legendaris. Dia baru saja menghabiskan ubi cilembu Wano seberat 5 kilogram pemberian warga. "Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini, Luffy. Tapi sebagai pria, aku tidak bisa membiarkan ubi ini terbuang sia-sia."
Kai berdiri di antara mereka dengan masker gas berlapis-lapis. "Tunggu! Semuanya evakuasi! Ini bukan sekadar bau, ini adalah ancaman pemusnahan massal!"
"Gomu Gomu no Jet Fart"
Luffy mengambil ancang-ancang. Dia masuk ke mode Gear 2. Tubuhnya memerah dan mengeluarkan uap panas. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan badannya ke arah hutan di luar kota.
"Rasakan ini! GOMU GOMU NO... JET FART!"
KRA-BOOOOOM!
Suaranya seperti mesin jet tempur yang gagal fungsi. Tekanan udara yang dihasilkan Luffy melesat jauh, menumbangkan seluruh pohon di hutan sejauh 5 kilometer. Hembusan anginnya begitu kencang hingga topi-topi samurai terbang sampai ke wilayah Kuri.
"Wah! Hebat!" sorak rakyat Wano (sambil menutup hidung). "Luffy-dono baru saja membuka jalur transportasi baru lewat hutan!"
Saitama melangkah maju. Dia tidak berpose. Dia hanya sedikit membungkuk dan menahan napas. Suasana mendadak sunyi. Burung-burung berhenti berkicau, dan bahkan sungai di Wano mendadak berhenti mengalir karena takut.
"Oi, Saitama," bisik Zoro dari kejauhan. "Kalau kau melakukannya, pastikan arahnya tidak ke arah kapal kita."
Saitama mengangguk. Dia menatap ke arah laut lepas yang kosong. "Aku akan mencoba menahannya sesedikit mungkin."
Saitama melepaskan "beban" hidupnya.
"SERIOUS SERIES: SERIOUS GAS."
Tidak ada suara ledakan yang keras. Yang terdengar hanyalah suara pelan: Pffffft.
Tapi sedetik kemudian, langit Wano terbelah. Awan-awan di atmosfer terdorong keluar hingga menciptakan lubang raksasa yang menembus ke luar angkasa. Laut di depan Wano terbelah secara vertikal, menciptakan jurang sedalam ribuan meter yang tidak tertutup selama sepuluh menit.
Gelombang tekanan udaranya melesat menembus lautan, melewati perbatasan Wano, dan kabarnya membuat gerbang Markas Besar Angkatan Laut di Marineford bergetar hebat.
Kemenangan Mutlak (dan Bau)
Luffy terdiam. Dia melihat laut yang terbelah dan awan yang menghilang. "S-Saitama... kau curang. Kau menggunakan kekuatan inti bumi ya?"
Saitama menggaruk pantatnya dengan santai. "Tidak, itu murni kekuatan ubi cilembu. Aku bilang juga apa, jangan tantang aku kalau aku baru saja makan ubi."
Nami datang dari belakang dan memukul kepala mereka berdua dengan tongkat Clima-Tact-nya. DUAK! DUAK!
"Kalian berdua!" teriak Nami dengan air mata mengalir (karena bau dan marah). "Gara-gara kalian, seluruh persediaan parfum di kapal Sunny habis dalam satu menit! Wano sekarang berbau seperti gudang pupuk kimia yang terbakar!"
Sanji jatuh pingsan di dapur, indra penciumannya yang sensitif telah hancur total untuk sementara waktu.
Pesan Terakhir Kai
Kai mencatat kejadian ini di halaman terakhir jurnalnya dengan tangan yang gemetar.
"Hari ini, aku belajar bahwa pahlawan sejati tidak diukur dari seberapa kuat tinjunya, tapi dari seberapa besar dia bisa menahan diri agar tidak menghancurkan ekosistem dunia hanya karena sakit perut. Saitama dan Luffy... mereka adalah bencana alam yang memiliki kepribadian."
Saitama menatap matahari yang mulai terbit dari ufuk timur Wano. "Nah, Kai. Sepertinya perjalananku di dunia ini sudah cukup. Aku mendengar ada supermarket di Kota Z yang akan mengadakan diskon 90% untuk daging wagyu besok pagi."
Luffy tersenyum lebar, memegang bahu Saitama. "Saitama! Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi di ujung lautan! Saat itu, aku pastikan aku yang akan menang lomba makan ramen!"
Saitama mengangguk, tubuhnya perlahan mulai memudar, kembali ke dimensinya sendiri. "Boleh. Tapi jangan lupa bayar tagihannya, Luffy."
Petualangan lintas dimensi ini berakhir dengan aroma ubi yang legendaris. Saitama kembali ke apartemennya, sementara Luffy melanjutkan perjalanannya menuju Laugh Tale.
Saitama sudah hampir menghilang sepenuhnya. Tubuhnya sudah transparan, menyatu dengan cahaya fajar di pelabuhan Wano. Luffy berdiri di depannya, menatap sosok pria botak yang telah mengajarinya bahwa kekuatan absolut tidak harus datang dengan ambisi yang rumit.
"Tunggu, Saitama!" seru Luffy. "Kau tidak meninggalkan kenang-kenangan?"
Saitama berhenti memudar sejenak. Dia meraba-raba kantong jubahnya yang kusam. "Ah, benar juga. Aku punya sesuatu yang sudah tidak kupakai lagi. Ini jauh lebih berharga daripada emas atau harta karun mana pun di duniaku."
Saitama mengeluarkan sebuah Kupon Diskon Kusam yang sudah agak lecek. Di atasnya tertulis: "DISKON 100% - AMBIL APA SAJA SEPUASMU".
"Ini adalah kupon legendaris dari supermarket di Kota Z yang sudah tutup," kata Saitama dengan nada sangat khidmat, seolah-olah dia sedang menyerahkan pedang suci. "Gunakan ini saat kau benar-benar merasa lapar dan tidak punya uang. Di duniamu, mungkin ini tidak bisa ditukar dengan uang, tapi aku sudah memberikan 'sedikit' tambahan padanya."
Luffy menerima kupon itu dengan mata berbinar. Begitu jarinya menyentuh kertas itu, sebuah kilatan cahaya emas merambat ke seluruh tubuh Luffy.
"Serious Training Manual"
"Dan satu lagi," Saitama mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Luffy. Sesuatu yang bahkan tidak bisa didengar oleh Zoro atau Sanji.
"Luffy... kalau kau bertemu pria bernama Im-sama atau siapa pun yang merasa dirinya Tuhan... jangan gunakan tinju karetmu. Gunakan Latihan Dasar yang aku ajarkan. 100 push-up, 100 sit-up... dan yang terpenting, jangan pakai AC di musim panas. Itu rahasia kekuatan yang sebenarnya."
Saitama kemudian menepuk pundak Luffy untuk terakhir kalinya.
BOOM!
Tekanan udara dari tepukan santai itu membuat seluruh laut di sekitar Wano bergoyang. Saitama menghilang dalam ledakan cahaya, kembali ke apartemennya yang sempit, meninggalkan Luffy yang sekarang memiliki aura sedikit berbeda.
Beberapa minggu setelah kepergian Saitama, kru Topi Jerami sampai di sebuah pulau yang dijaga ketat oleh lima armada kapal Marine kelas berat. Mereka sedang menghadapi ancaman yang sangat serius.
Luffy maju ke depan dek Thousand Sunny. Dia tidak berteriak "Gomu Gomu no...". Dia hanya berdiri diam, memasukkan tangannya ke saku (meniru gaya Saitama), dan menatap lurus ke arah ribuan musuh.
"Luffy! Apa yang kau lakukan?! Gunakan Gear 5!" teriak Nami panik.
Luffy tersenyum tipis senyuman datar ala Saitama. "Tidak perlu, Nami. Aku baru saja menyadari sesuatu. Selama ini aku terlalu banyak bergerak."
Luffy hanya melepaskan satu Hembusan Napas yang sangat terkontrol.
WUSSSHHHHH!
Tekanan udara dari napasnya menciptakan badai kategori 5 yang langsung menerbangkan seluruh armada Marine hingga hilang dari pandangan mata. Kapal-kapal itu tidak hancur, mereka hanya "dipindahkan" secara paksa ke belahan bumi lain.
Kai yang menyaksikan itu dari belakang hanya bisa menjatuhkan jurnalnya. "Saitama... apa yang kau berikan pada Luffy? Dia sekarang bisa mengalahkan musuh hanya dengan bernapas?!"
Warisan yang Tak Terlihat
Di dalam saku celana Luffy, kupon pemberian Saitama itu mendadak berubah bentuk menjadi sebuah koin emas kecil dengan ukiran wajah botak yang sedang mengupil.
Setiap kali Luffy merasa ragu, dia akan memegang koin itu, dan seketika dia akan merasakan ketenangan luar biasa ketenangan seseorang yang tahu bahwa seberapa pun kuat musuhnya, mereka tetap saja hanya butuh satu tepukan untuk dibereskan.
Zoro melihat ke arah langit, tersenyum kecil. "Dunia ini baru saja menjadi tempat yang sangat membosankan bagi para musuh... tapi sangat menyenangkan bagi kita."
Sanji berteriak dari dapur, "OI! MAKAN SIANG SIAP! MENU HARI INI: RAMEN EKSTRA KACANG MERAH DAN UBI CILEMBU!"
Luffy tertawa terbahak-bahak, suaranya mengguncang seluruh Grand Line. Petualangan berlanjut, tapi sekarang, sang Raja Bajak Laut masa depan punya "Hobi" baru: Menjadi Pahlawan yang Terlalu Kuat.
"Gomu Gomu no... Imajinasi Malas"
Pagi itu, Thousand Sunny sedang terjebak di wilayah laut yang benar-benar mati. Tidak ada angin, tidak ada arus. Sanji mulai panik karena persediaan es mulai mencair.
"Luffy! Lakukan sesuatu! Tiup layarnya atau apa!" teriak Sanji.
Luffy, yang sedang duduk di atas kepala singa Sunny dengan wajah datar ala Saitama, hanya menoleh pelan. "Angin itu merepotkan, Sanji. Kenapa kita harus menunggu angin kalau kita bisa membuat laut ini... berjalan?"
"Hah? Apa maksudmu, Luffy?" Nami keluar dari kamarnya dengan wajah bingung.
Luffy melompat turun ke permukaan air laut. Tapi dia tidak tenggelam. Dia berdiri di atas air, lalu dia memasukkan tangannya ke dalam air seolah-olah dia sedang memegang pinggiran sebuah karpet.
"Saitama bilang, kalau kita menganggap segalanya ringan, maka segalanya akan menjadi ringan," gumam Luffy.
"GOMU GOMU NO... CARPET OCEAN!"
Luffy menarik permukaan laut itu sekuat tenaga. Dalam sekejap, tekstur air laut berubah menjadi seperti karet raksasa. Luffy mulai melipat air laut itu, menciptakan gelombang statis yang bentuknya seperti tangga jalan (travelator) di bandara.
"Nah, sekarang kita tinggal meluncur," ucap Luffy sambil kembali duduk santai.
Kapal Sunny tiba-tiba meluncur dengan kecepatan 200 knot di atas "karpet air" yang dibuat Luffy. Airnya tidak lagi cair, tapi kenyal dan mendorong kapal itu maju tanpa butuh angin.
Luffy Mencoba "Memancing" Awan
Kegilaan tidak berhenti di situ. Karena matahari terlalu terik, Luffy merasa kepalanya agak panas (karena dia mulai meniru Saitama yang tidak punya rambut untuk melindungi kepala).
Luffy mengambil tali pancing tanpa kail. Dia melemparkannya ke atas, menembus lapisan stratosfer.
"Luffy! Apa yang kau pancing di atas sana? Burung?" tanya Chopper.
"Bukan. Aku memancing awan yang lebih dingin," jawab Luffy.
Tiba-tiba, tali pancing itu menegang. Luffy menariknya dengan satu sentakan ringan. ZUP!
Seekor Awan Kumulonimbus raksasa yang seharusnya berjarak puluhan kilometer, mendadak tersangkut dan ditarik turun oleh Luffy seperti seekor anjing peliharaan yang diikat tali. Luffy menambatkan awan itu di tiang utama kapal.
"Nah, sekarang kita punya AC alami," kata Luffy puas. Awan itu sekarang melayang tepat satu meter di atas dek, memberikan hujan gerimis yang sejuk hanya di area kapal saja.
Kai mendekati Luffy dengan gemetar, mencatat semua kejadian itu. "Luffy... kau menyadari tidak? Kau baru saja mengubah sifat molekul air dan menarik massa gas atmosfer hanya karena kau merasa 'gerah'?"
Luffy menatap Kai dengan tatapan kosong. "Kai, kau terlalu banyak berpikir. Saitama pernah bilang, kalau kau melihat lalat, kau tidak perlu belajar biologi untuk menepuknya. Kau hanya perlu... menepuknya. Jadi, kalau aku butuh awan, aku tinggal ambil awannya."
"Tapi itu melanggar semua hukum fisika Grand Line!" teriak Kai.
"Hukum?" Luffy memiringkan kepalanya. "Hukum itu hanya ada karena orang-orang setuju untuk mengikutinya. Aku tidak setuju, jadi hukumnya tidak berlaku padaku."
Zoro yang sedang latihan angkat beban (yang sekarang bebannya adalah sebuah jangkar raksasa yang diringankan oleh Luffy menjadi seberat bulu ayam) tertawa. "Kai, lupakan logikamu. Sejak Saitama ada di sini, dunia kita sudah berubah menjadi komik strip."
Namun, kegilaan Luffy menarik perhatian sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari Pemerintah Dunia. Dari kejauhan, muncul sebuah kapal yang bentuknya seperti Penghapus Raksasa.
Kapal itu milik "The Eraser", seorang algojo dimensi yang bertugas menghapus karakter yang kekuatannya sudah terlalu tidak masuk akal (overpowered) hingga merusak plot cerita.
"Monkey D. Luffy," suara bergema dari kapal penghapus itu. "Kau telah merusak struktur realitas. Kau memancing awan? Kau melipat laut? Kau harus dihapus dari naskah!"
Luffy menoleh, masih dengan wajah datarnya. "Dihapus? Memangnya aku coretan pensil?"
Luffy melangkah di udara, mendekati kapal penghapus itu. Dia tidak menyiapkan tinju. Dia hanya mengeluarkan sebuah Penghapus Kecil dari sakunya (yang dulu pernah dijatuhkan Saitama).
"Dengar ya, Tuan Penghapus," ucap Luffy. "Kalau kau mau menghapusku, kau harus melewati hobi baruku dulu."
Mau lanjut ke pertempuran absurd Luffy melawan "The Eraser" di mana Luffy menggunakan kekuatan "Penghapus vs Penghapus", atau ada kegilaan lain yang ingin kau tambahkan pada kru Topi Jerami?
" Penghapus di Langit Wano
Kapal The Eraser kini melayang tepat di atas Thousand Sunny. Kapal itu bukan hanya berbentuk penghapus, tapi permukaannya pun terbuat dari material yang mirip karet penghapus raksasa, berwarna abu-abu kusam. Dari deknya, muncul sosok Eraser-Head, seorang pria bertubuh kurus dengan mata yang selalu mengantuk, memegang sebuah penghapus pensil raksasa yang sudah terasah runcing.
"Monkey D. Luffy," suara Eraser-Head terdengar monoton, namun penuh ancaman. "Aku adalah Penjaga Konsistensi Naratif. Kekuatanmu sekarang terlalu tidak masuk akal. Kau melipat laut, memancing awan, dan bernapas menghempaskan armada. Kau adalah plot hole berjalan yang harus dihapus!"
Luffy, masih dengan wajah datarnya, memegang erat penghapus kecil pemberian Saitama. "Plot... hole? Aku cuma sedang bersenang-senang. Kenapa harus dihapus?"
"Karena kau merusak logika cerita! Aku akan menghapusmu dari panel ke panel!" Eraser-Head mengayunkan penghapus raksasanya.
WUSSSHHH!
Udara bergetar. Eraser-Head tidak memukul. Dia hanya menggesekkan penghapus raksasanya di udara. Seketika, satu per satu, bayangan Nami, Sanji, Zoro, dan Chopper mulai memudar dari keberadaan. Warna mereka luntur, seperti coretan pensil yang dihapus!
"NAMI-SWAN! KAU BERANINYA MENGHAPUS NAMI-SWAN-KU!" Sanji berteriak, sebagian kakinya sudah hilang.
"Ini bukan serangan fisik," Kai berteriak panik. "Ini serangan Meta-Narasi! Dia menghapus keberadaan mereka dari cerita!"
Luffy melihat kru-nya memudar. Matanya yang datar mendadak berubah menjadi serius
jenis keseriusan yang hanya muncul jika ada yang mengganggu makanannya atau teman-temannya.
"Kau tidak bisa menghapus teman-temanku," ucap Luffy, suaranya kini penuh Killing Intent yang tersembunyi. "Mereka adalah bagian dari ceritaku."
Eraser-Head kembali menggesekkan penghapusnya. Kali ini, separuh tubuh Luffy mulai memudar.
"Serahkan saja, Monkey D. Luffy. Kau hanya seorang karakter. Aku adalah hukum yang menghapus ketidaksesuaian," kata Eraser-Head.
Luffy mengangkat penghapus kecilnya. "Kalau begitu, aku juga punya hukumku sendiri."
"GOMU GOMU NO... ERASE!"
Luffy tidak memukul. Dia hanya menggesekkan penghapus kecilnya ke udara.
VRUUUMMM!
Penghapus kecil itu mendadak membesar, mengeluarkan aura putih bersih. Bukan energi, tapi aura "ketiadaan". Saat penghapus Luffy bersentuhan dengan udara, sebagian kecil dari kapal The Eraser mendadak menghilang. Bukan hancur, tapi benar-benar lenyap dari keberadaan, seolah-olah tidak pernah ada.
"A-apa?!" Eraser-Head terkejut. "Kau juga bisa menghapus?"
"Aku belajar dari temanku, Saitama," jawab Luffy, wajahnya datar. "Dia bilang, kalau ada sesuatu yang mengganggu, hapus saja sampai bersih."
Luffy mulai menyerang balik. Dia menggesekkan penghapusnya ke arah Eraser-Head. Eraser-Head menghindar, namun satu sentuhan kecil dari "hapusan" Luffy membuat lengan kanan Eraser-Head menghilang, bukan terpotong.
"Bagaimana bisa kau menghapus diriku?!" teriak Eraser-Head. "Aku adalah konsep!"
"Aku juga konsep," balas Luffy. "Konsep tentang menjadi Raja Bajak Laut yang bebas dan tidak diatur oleh siapa pun. Termasuk oleh orang yang suka menghapus cerita."
Pertarungan berubah menjadi duel penghapusan di tengah langit. Eraser-Head mencoba menghapus keberadaan Thousand Sunny, namun Luffy dengan cepat "menghapus" upaya penghapusan Eraser-Head itu sendiri.
GESEK! GESEK! WUSSSHHH!
Bagian dari langit Wano tiba-tiba hilang warnanya dan menjadi putih polos. Lalu, bagian lain dari samudra mendadak tidak ada kedalamannya. Itu adalah efek samping dari duel penghapusan mereka.
Kai menyaksikan dengan ngeri. "Mereka menghapus realitas itu sendiri! Kalau ini terus berlanjut, seluruh dunia akan menjadi halaman kosong!"
Zoro yang separuh tubuhnya sudah memudar menjadi abu-abu transparan, tersenyum. "Menarik. Aku belum pernah melihat pertarungan yang membuatku harus menghapus keberadaanku sendiri dari musuh."
Eraser-Head mulai panik. Dia melihat sisa-sisa Luffy yang menghapus kakinya. "Tidak mungkin! Kau menghapus konsep 'logika cerita' itu sendiri!"
Luffy terus menggesekkan penghapusnya. "Aku hanya menghapus bagian yang membosankan dari cerita. Cerita yang terlalu banyak aturan itu tidak menyenangkan."
Eraser-Head mengumpulkan seluruh kekuatannya. Dia membentuk penghapus raksasa yang lebih besar dari kapal The Eraser itu sendiri, berwarna hitam pekat.
"Ini adalah penghapusan terakhir!" teriak Eraser-Head. "Aku akan menghapusmu, seluruh krumu, dan seluruh dunia ini dari keberadaan! FINAL ERASE!"
Penghapus raksasa itu meluncur ke arah Luffy. Seluruh dunia Topi Jerami terasa seperti akan runtuh. Luffy menatap serangan itu, dan untuk pertama kalinya sejak Saitama pergi, dia tersenyum tulus, bukan senyum datar.
"Saitama pernah bilang, kalau ada yang merepotkan, jangan dipikirkan. Hapus saja," gumam Luffy.
Luffy tidak menggunakan penghapusnya. Dia mengambil sebuah pensil warna merah dari sakunya (yang entah bagaimana ada di sana). Dia mulai mencoret penghapus raksasa yang mendekat itu dengan pensilnya.
SRETTT! SRETTT!
Penghapus raksasa Eraser-Head mendadak berubah menjadi sekumpulan krayon berwarna-warni. Bentuknya berubah menjadi beruang dan kelinci, lalu melayang-layang di udara.
"A-apa?!" teriak Eraser-Head. "Kau... kau mewarnai seranganku?!"
"Tentu saja," jawab Luffy. "Menghapus itu membosankan. Kalau tidak suka, warnai saja ulang. Biar jadi lebih menyenangkan."
Eraser-Head jatuh berlutut, penghapusnya hancur menjadi debu. "Mustahil... kau... kau menghapus 'konsep penghapusan' itu sendiri... dengan 'konsep mewarnai'?"
Luffy mengangguk. Dia kemudian mencoret udara di depan kru-nya yang memudar. Seketika, warna mereka kembali. Nami, Sanji, Zoro, dan Chopper kembali utuh, meski masih sedikit pusing.
"Kau menang, Monkey D. Luffy," ucap Eraser-Head, suaranya sekarang penuh kekalahan. "Ceritamu terlalu absurd untuk dihapus. Kau adalah anomali yang harus diakui."
