Cherreads

Chapter 191 - BAB 182 : DEWA MOODY

Sang Pahlawan

​Suasana di dek kapal mendadak berubah dingin. Saitama tidak lagi duduk melamun di pinggir kapal atau mengorek kupingnya dengan wajah bodoh. Dia berdiri di depan kemudi, jubah kuningnya berkibar tajam, dan tatapannya yang biasanya kosong kini berubah menjadi sangat tajam dan intimidatif.

​"Nami," suara Saitama terdengar berat dan penuh wibawa, jauh dari kesan malas. "Kau bilang kau navigator terbaik? Kenapa kita sudah berlayar dua jam tapi suhunya masih tidak stabil? Kau sengaja membuang waktuku?"

​Nami tersentak, menjatuhkan peta yang sedang ia pelajari. "H-hah? Saitama? Kau bicara apa? Biasanya kau tidak peduli kita mau ke mana!"

​"Itu karena dulu aku membiarkan kalian bermain-main," Saitama berjalan mendekat, setiap langkahnya menciptakan retakan halus di dek kayu. "Tapi sekarang, aku butuh efisiensi. Dan Sanji..."

Saitama menoleh ke arah dapur. "Kopi yang kau buat tadi... terlalu banyak gula. Kau koki atau pembuat sirup murahan?"

​Sanji keluar dari dapur dengan wajah merah padam, kakinya mulai membara. "Oi, Botak! Beraninya kau menghina masakanku dan membentak Nami-swan! Kau pikir kau siapa? Hanya karena kau kuat, bukan berarti kau bisa mengatur kapal ini!"

​Sanji melesat melakukan tebasan kaki Concasse, namun Saitama hanya menangkap kaki Sanji dengan satu jari. Hanya satu jari.

​"Kau berisik, koki," ucap Saitama dingin. Dengan satu jentikan, Sanji terpental jauh hingga menabrak tiang kapal.

​Di sudut kapal, Zoro yang biasanya akan langsung menghunus pedang jika ada keributan, justru tetap duduk bersila. Dia tidak bergerak sedikit pun. Malah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat misterius.

​"Menarik..." gumam Zoro. "Akhirnya dia menunjukkan taringnya. Aku sudah lama curiga, tidak mungkin ada orang sekuat itu yang benar-benar punya otak sekosong itu."

​Kai berdiri di tengah kekacauan itu dengan tubuh gemetar, tapi tangannya memegang jurnal emasnya dengan sangat erat. Dia menatap Saitama bukan dengan rasa takut, tapi dengan kemarahan seorang penulis yang karyanya sedang dimanipulasi.

​"Cukup sandiwaranya, Saitama!" teriak Kai.

​Saitama menoleh, matanya berkilat. "Sandiwara apa, Manajer Kecil?"

​"Berhenti berpura-pura sombong hanya untuk memancing reaksi mereka!" Kai melangkah maju, membuka halaman rahasia di jurnalnya. "Aku sudah membacanya di data 'Plot Point' dari Oda-sensei. Kau sengaja berakting menjadi jahat dan sombong karena kau tahu ada Parasit Emosi yang menempel di kapal ini, kan?"

​Luffy yang sedang asyik menonton sambil makan daging mendadak berhenti. "Hah? Parasit?"

​Kai menunjuk ke arah bayangan Saitama. "Saitama tidak berubah! Dia sengaja memancing amarah Sanji dan ketakutan Nami agar The Grudge-Grudge Fruit Spirit hantu yang memakan kedamaian muncul karena mengira mangsanya sudah matang!"

​Saitama terdiam sejenak, lalu wajah tajamnya perlahan kembali menjadi datar dan... bodoh. "Yah... ketahuan ya. Padahal aku baru saja mau akting seperti penjahat di film-film keren yang kutonton di TV diskon."

​"JADI KAU HANYA BERAKTING?!" teriak Nami sambil memukul kepala Saitama dengan tinju cintanya. DUAK!

​"Aduh! Sakit, Nami!" Saitama mengusap kepalanya. "Tapi benar kata Kai. Ada sesuatu yang mengintip dari tadi. Kalau aku tidak berpura-pura sombong, dia tidak akan keluar."

​Zoro berdiri, menyarungkan pedangnya yang ternyata tadi sudah sedikit ia cabut. "Aku sudah tahu. Mana mungkin si Bodah ini tiba-tiba punya selera kopi yang tinggi. Tapi aktingmu lumayan, Saitama. Kau hampir membuatku ingin menebasmu sungguhan."

​Tiba-tiba, dari bayangan di bawah kaki Sanji, muncullah sosok asap hitam yang meraung karena rencana adu dombanya gagal. Itulah sang Parasit.

​"Sialan kalian!" teriak sang Parasit. "Aku hampir saja membuat kapal ini hancur karena kebencian!"

​Saitama menatap hantu itu dengan wajah datarnya yang biasa. "Oh, jadi kau pelakunya. Kau tahu, gara-gara kau, aku harus bicara banyak sekali hari ini. Tenggorokanku jadi kering."

​HAP.

​Saitama menangkap hantu asap itu dengan tangannya sesuatu yang seharusnya tidak bisa disentuh secara fisik.

​"Karena kau sudah membuatku bicara panjang lebar..." Saitama mengepalkan tinjunya. "Normal Series: Mood Breaker."

​PUFF!

​Hantu itu hancur menjadi serpihan cahaya dan menghilang ditiup angin laut.

​Suasana kembali normal. Sanji kembali ke dapur sambil mengomel tentang seleranya yang dihina, Nami kembali menagih hutang perbaikan dek pada Saitama, dan Luffy kembali tertawa.

​"Saitama!" Luffy menepuk punggung Saitama. "Lain kali kalau akting jadi orang jahat, jangan lupa pakai kumis palsu! Biar lebih meyakinkan!"

​Saitama menghela napas, menatap Kai. "Oi, Kai. Lain kali kalau aku sedang akting keren, jangan dipotong begitu saja. Aku baru saja menikmati rasanya jadi orang yang berwibawa."

​Kai hanya bisa mengelap keringat di dahinya. "Maaf, Saitama. Tapi kalau dibiarkan lebih lama, Sanji benar-benar akan memasakmu jadi sup botak."

​Zoro kembali memejamkan mata di sudut kapal. "Dasar orang-orang aneh."

​Kapal Sunny berlabuh di pelabuhan rahasia Wano. Suasana sedang kacau pasca kekalahan Kaido; terjadi kekosongan kekuasaan karena Momonosuke sedang pergi berlatih ke pegunungan suci. Para samurai gelisah, dan rakyat ketakutan akan serangan sisa-saki bajak laut Beast.

​Saitama melangkah turun dari kapal. Tapi kali ini, dia tidak berjalan bungkuk. Tubuhnya tegak lurus, tangannya bersedekap di dada, dan wajahnya setajam pedang Enma. Aura di sekitarnya begitu menekan hingga rumput di pelabuhan merunduk.

​"Tempat ini..." suara Saitama bergema berat, "Terlalu berisik. Nami, siapkan upacara penyambutan. Aku bosan menjadi penonton."

​Nami gemetar. "Saitama... kau serius? Kai bilang waktu itu kau cuma akting!"

​Saitama menatap Nami dengan tatapan dingin yang membuat nyali sang navigator menciut. "Kai hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Apakah kau pikir kekuatan sebesar ini dimiliki oleh orang bodoh? Pikirkan lagi."

​Mereka berjalan menuju Ibu Kota Bunga. Ribuan samurai yang tadinya siap menyerang orang asing, mendadak menjatuhkan katana mereka saat melihat Saitama.

​"Tatapan itu..." bisik Hyogoro sang Bunga. "Itu bukan tatapan manusia biasa. Itu adalah tatapan seseorang yang telah melihat akhir dari segala alam semesta!"

​Saitama berjalan menuju kursi singgasana Shogun yang kosong. Dia tidak bertanya. Dia hanya duduk di sana, meletakkan kakinya di atas meja, dan menatap para petinggi Wano dengan dagu terangkat.

​"Mulai hari ini," ucap Saitama, suaranya terdengar sampai ke ujung desa Kuri, "Peraturan di negeri ini hanya satu: Diskon Sabtu tetap berlaku, dan siapa pun yang berisik saat aku tidur akan kusingkirkan dari peta."

​"HIDUP SHOGUN SAITAMA-SAMA!" teriak seluruh rakyat Wano serempak, bersujud sampai dahi mereka menyentuh tanah. Mereka mengira ini adalah gaya kepemimpinan "Absolutitas Minimalis".

​Kai berlari mendekati singgasana, wajahnya penuh keringat dingin. "Saitama! Berhenti! Aku tahu kau akting lagi! Kau mau memancing musuh lain kan? Cukup, ini sudah kelewatan! Kau membuat seluruh negeri ketakutan!"

​Saitama menoleh pelan. Dia tidak tersenyum. "Kai... kau selalu merasa paling tahu tentang alur cerita. Tapi tahukah kau? Penulis sering kali kehilangan kendali atas karakternya sendiri."

​Kai terdiam. Bulu kuduknya berdiri. "Maksudmu... kau benar-benar menjadi sombong?"

​"Bukan sombong," Saitama berdiri, jubahnya menyapu lantai dengan suara mendesis. "Hanya bosan berpura-pura menjadi lemah agar kalian merasa nyaman. Luffy, Sanji, Zoro... mereka butuh sosok yang ditakuti agar mereka berhenti bermain-main."

​Zoro berdiri di samping singgasana, menyilangkan tangan. Dia tersenyum lebar. "Aku suka gaya ini. Inilah kapten yang sebenarnya kita butuhkan. Luffy terlalu lembek, tapi pria ini... dia adalah kehancuran yang terorganisir."

​Sanji yang biasanya protes, kini hanya diam sambil menyalukan rokok dengan tangan gemetar. "Dia... dia menghancurkan mentalitas koki-ku hanya dengan satu tatapan. Ini bukan akting. Aura membunuh (Killing Intent) ini terlalu nyata untuk dipalsukan."

​Kebijakan Shogun Saitama

​Sore itu, Saitama mengeluarkan dekrit pertamanya sebagai Shogun:

​Pembangunan Supermarket Raksasa di atas reruntuhan Onigashima.

​Latihan Wajib: 100 push-up, 100 sit-up, dan lari 10km bagi seluruh samurai setiap hari sampai mereka botak.

​Pajak: Tidak ada pajak uang, hanya pajak sayuran segar yang harus disetorkan ke dapur kapal Sunny.

​"Shogun Saitama-sama!" terang seorang tetua. "Bagaimana dengan sisa-sisa pasukan Kaido yang menyerang desa?"

​Saitama berdiri. Dia tidak menggunakan tinju. Dia hanya menjentikkan jarinya ke arah cakrawala.

​BOOOOOOOOOOM!

​Sebuah gunung di kejauhan, tempat para pemberontak bersembunyi, mendadak terbelah menjadi dua hanya karena tekanan udara dari jentikan jari tersebut.

​"Masalah selesai," ucap Saitama dingin. "Sekarang, buatkan aku teh. Yang panas. Jangan banyak bicara."

​Kai yang Kehilangan Arah

​Kai duduk di pojok ruangan, membuka jurnalnya dengan tangan gemetar.

Dia mencoba menulis: "Saitama kemudian tertawa dan mengaku bercanda", tapi tinta di jurnalnya mendadak mengering. Seolah-olah dunia nyata pun setuju bahwa Saitama tidak sedang bercanda.

​"Ini kacau..." bisik Kai. "Kalau dia tidak berpura-pura, maka One Piece bukan lagi cerita tentang mencari harta karun, tapi cerita tentang bagaimana bertahan hidup di bawah satu dewa yang sedang moody."

​Luffy mendekati Kai, wajahnya tampak sangat serius (jarang terjadi dalam mode normal). "Kai... aku rasa Saitama benar. Selama ini kita terlalu berisik. Lihat Wano sekarang, jadi sangat tenang kan? Aku suka Shogun baru kita. Dia kuat sekali!"

​Di pelabuhan, Admiral Ryokugyu mendarat dengan kekuatan tanamannya. "Aku akan mengambil kepala Luffy dan memberesk...."

​Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah pesan terbang jatuh di depannya. Itu adalah sandal jepit bekas milik Saitama dengan tulisan tinta hitam:

"Pergi atau kujadikan pupuk. - Shogun Saitama."

​Ryokugyu merasakan aura dari sandal itu dan langsung berbalik arah, melompat kembali ke kapalnya. "KITA PERGI! WANO SUDAH DIHUNI OLEH IBLIS YANG LEBIH SERAM DARI KAIDO!"

​Saitama, duduk di singgasananya, menatap langit Wano yang kini damai. Apakah dia benar-benar berubah Ataukah ini adalah tingkatan akting yang begitu tinggi hingga dia sendiri percaya pada perannya?

More Chapters