Cherreads

Chapter 190 - BAB 181: LOMBA MASAK

" Luffy berteriak sambil melompat-lompat di atas dermaga batu. "Tangan harus tetap di saku atau di belakang punggung! Siapa yang sampai ke puncak Mariejois duluan, dia pemenangnya! Dan hadiahnya... Sanji sudah menyiapkan Daging Raja Laut Panggang Saus Madu seberat satu ton!"

​Saitama berdiri di sampingnya, mengenakan kostum pahlawannya yang kuning cerah, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. "Satu ton daging... itu bisa buat stok makan satu bulan di apartemenku. Baik, Kekanak-kanakan ini aku terima."

​Kai berdiri di tengah mereka, memegang peluit dengan tangan gemetar. "Kalian sadar kan? Red Line itu tingginya puluhan ribu meter. Mendaki tanpa tangan itu secara fisik mustahil untuk manusia normal!"

​"Kami bukan manusia normal, Kai! Shishishi!" Luffy menyeringai, tubuhnya mulai mengeluarkan uap panas. "Gear 4: Snakeman!"

​Luffy tidak menggunakan tangannya untuk memukul udara. Sebaliknya, dia memompa kakinya hingga membengkak dan memanjang. "Aku akan menggunakan kakiku sebagai pegas!"

​"Satu... Dua... MULAI!"

​BOOOOOM!

​Luffy melesat seperti peluru kendali hitam. Dia menendang permukaan vertikal Red Line dengan kecepatan ribuan kali per detik. "Kaki Karet! Python Leg!" Kaki Luffy meliuk-liuk di dinding batu, mencari celah sekecil apa pun untuk berpijak, lalu melontarkan tubuhnya lebih tinggi lagi.

​Saitama? Dia tidak melompat seperti peluru. Dia hanya berjalan.

​Ya, berjalan secara vertikal.

​"Oi, Saitama! Kenapa kau pelan sekali?" teriak Luffy yang sudah berada seratus meter di atas.

​Saitama menapakkan kaki kanannya ke dinding batu merah itu. Krak. Batu purba itu retak di bawah sol sepatunya. Dia melangkah lagi dengan kaki kiri. Krak. Setiap langkah Saitama menciptakan lubang pijakan baru di dinding yang seharusnya tidak bisa dihancurkan itu.

​"Aku cuma sedang menikmati pemandangan," jawab Saitama datar. "Lagipula, kalau aku melompat terlalu keras, aku takut tembok ini runtuh dan dunia jadi satu lautan lagi."

​"Sombong sekali!" Luffy tertawa, dia mulai berputar di udara seperti gasing. "Jet Spear Kick!"

​Luffy melesat ke atas, menembus lapisan awan pertama. Suhu udara mulai turun drastis, oksigen menipis, dan angin badai mulai menghantam mereka. Namun bagi Luffy, ini hanyalah rintangan kecil. Dia terus memanjat dengan gaya akrobatik yang gila, menggunakan dagunya sesekali untuk menyeimbangkan diri saat kakinya harus berpindah posisi.

​Di bawahnya, Saitama mulai merasa bosan karena kecepatannya sendiri. "Hm, sepertinya aku harus sedikit lebih cepat. Kalau kelamaan, dagingnya dingin."

​Saitama sedikit membungkukkan badannya, lututnya ditekuk. Matanya menatap lurus ke puncak yang tak terlihat.

​"Normal Series: Vertical Sprint."

​Saitama mulai berlari. Tapi dia tidak lari di tanah. Dia lari lurus ke atas menentang gravitasi. Setiap langkahnya menghasilkan ledakan sonik yang membuat seluruh dinding Red Line bergetar hebat.

​BANG! BANG! BANG! BANG!

​"Apa itu?!" Zoro di atas kapal mendongak, melihat rentetan ledakan yang bergerak cepat ke atas tebing. "Apa Saitama sedang mengebom tebingnya?"

​"Bukan!" teriak Nami sambil memegang teropong. "Dia sedang lari! Dia lari di tembok seolah-olah itu jalan raya datar!"

​Dalam sekejap, Saitama menyalip Luffy yang sedang bersusah payah menghindari sarang burung raksasa.

​"Permisi, Luffy," ucap Saitama saat dia melesat melewati Luffy dalam sekejap mata. Angin yang dihasilkan oleh larinya Saitama begitu kuat hingga Luffy terputar-putar di udara seperti layang-layang putus.

​"WAHHHH! SAITAMAAA! JANGAN CURANG!" Luffy berteriak sambil mencoba menstabilkan dirinya. "Kalau begitu, aku juga akan serius! GEAR 5!"

​Luffy berubah menjadi sosok putih yang bersinar. Dia tertawa terbahak-bahak dan mulai mengubah dinding Red Line menjadi karet.

Sekarang, alih-alih mendaki, Luffy mulai memantul-mantulkan dirinya di dinding tebing. Setiap pantulan membuatnya melesat ribuan meter ke atas.

​"Hahahaha! Ini menyenangkan!"

Luffy memantul dari sisi kiri ke sisi kanan tebing, meluncur lebih cepat dari kilat.

​Keduanya kini sudah mendekati puncak Mariejois. Para penjaga Pemerintahan Dunia di atas sana mulai panik. Mereka melihat dua sosok satu putih bersinar dan satu kuning mendekat dengan kecepatan yang akan menghancurkan gerbang suci mereka.

​"Ada serangan! Tahan mereka!" teriak para prajurit.

​Tapi Saitama tidak peduli. Dia sudah melihat garis finish. Namun, karena kecepatannya terlalu tinggi, dia tidak bisa berhenti mendadak.

​"Waduh, remnya blong," gumam Saitama.

​BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMM!

​Saitama menghantam pinggiran puncak Red Line dengan dadanya (karena tangannya masih di saku). Dampaknya begitu dahsyat hingga sebagian dataran Mariejois retak dan terangkat ke udara. Luffy mendarat tepat di sampingnya, terengah-engah dengan lidah menjulur.

​"Aku... sampai... duluan..." bisik Luffy sambil ambruk.

​Saitama berdiri tegak, meski jubahnya sudah compang-camping karena gesekan udara. Dia melihat ke sekeliling. Ribuan prajurit mengepung mereka dengan senjata lengkap, dan para Tenryuubito lari ketakutan melihat dua monster muncul dari tebing.

​"Mana dagingnya?" tanya Saitama kepada salah satu jenderal yang gemetar.

​"D-Daging? Ini Mariejois! Tempat suci!" teriak sang jenderal.

​Saitama menatap Luffy yang pingsan karena kelelahan, lalu menatap para prajurit itu. "Dengar ya, aku sudah memanjat tembok setinggi ini tanpa tangan cuma buat makan daging. Kalau dagingnya tidak ada di sini, aku akan sangat, sangat kecewa."

​Kai yang baru saja sampai di puncak menggunakan bantuan kekuatan buah iblis terbang milik salah satu kru, langsung berteriak,

"SAITAMA! JANGAN PUKUL MEREKA! Kita di wilayah musuh!"

​Tapi terlambat. Saitama baru saja menghela napas panjang karena kecewa. Hembusan napasnya saja menciptakan badai kecil yang menerbangkan topi-topi para prajurit.

​"Ayo kita pulang, Luffy," kata Saitama sambil mengangkat Luffy menggunakan kakinya (karena dia masih berkomitmen pada aturan 'tanpa tangan'). "Tempat ini membosankan. Tidak ada makanan enak, cuma ada orang-orang berisik dengan baju astronot."

​Saitama melompat kembali ke bawah, terjun bebas dari ketinggian 10.000 meter sambil menggendong Luffy di pundaknya tanpa memegang.

​"Kai! Ayo! Kalau kita sampai bawah duluan, kita bisa curi dagingnya sebelum Luffy bangun!"

​Kai hanya bisa pasrah, ikut terjun bebas sambil menangis. Inilah hidupku sekarang. Menjadi manajer bagi dua orang yang bisa menghancurkan dunia hanya karena lapar.

Terjun bebas dari ketinggian 10.000 meter bukanlah hal yang menenangkan bagi manusia normal seperti Kai. Angin menderu begitu kencang hingga wajahnya terasa seperti ditarik ke belakang oleh karet raksasa.

​"SAITAMAAAA! KITA AKAN MATIIIIII!" teriak Kai, air matanya terbang ke atas, membasahi wajah Saitama yang tepat berada di bawahnya.

​Saitama, yang sedang meluncur jatuh dengan posisi telentang santai (tangan masih setia di saku celana), mengedipkan mata karena terkena air mata Kai. "Oi, Kai. Berhenti menangis. Kau membuat pandanganku kabur. Nanti kalau kita menabrak kapal bagaimana?

Sanji pasti marah kalau deknya bolong lagi."

​"KITA JATUH DARI LANGIT, SAITAMA! LOGIKANYA KITA AKAN JADI PERKEDEL SEBELUM SEMPAT MINTA MAAF PADA SANJI!"

​Luffy, yang masih pingsan di pundak Saitama, mendadak mengigau. "Daging... saus madu... tambahkan tulang sedikit..."

​Mendarat dengan Gaya (Yang Salah)

​Saat permukaan laut mulai terlihat jelas, Saitama menyadari sesuatu. Mereka tidak jatuh ke arah kapal Thousand Sunny, melainkan meluncur tepat ke arah markas terapung Angkatan Laut yang sedang melakukan patroli rutin di bawah Red Line.

​"Oh, itu ada kapal besar," ucap Saitama datar. "Sepertinya mereka punya bantalan yang empuk."

​"ITU KAPAL PERANG BUSTER CALL, BODOH!" jerit Kai.

​Saitama tidak peduli. Dia membalikkan badannya di udara, bersiap mendarat. Dia tidak menggunakan kaki, karena dia pikir kalau dia mendarat pakai kaki, kapal itu akan langsung terbelah dua dan tenggelam ke dasar laut. Jadi, dia memutuskan untuk mendarat menggunakan Bagian Belakang Tubuhnya.

​"Normal Series: Buttock Landing!"

​BOOOOOOOOOOMMMMMMM!

​Dampaknya luar biasa. Saitama mendarat tepat di tengah dek kapal perang tersebut. Dek kayu jati itu meledak, besi-besi pelapis kapal melengkung hebat, dan gelombang kejutnya melemparkan ratusan prajurit Angkatan Laut ke laut seperti butiran beras yang dikibas.

​Kapal itu tidak tenggelam, tapi bagian tengahnya melesat ke dalam air sedalam sepuluh meter sebelum membalap kembali ke atas seperti mainan pegas.

​Kekacauan terjadi dengan singkat di Atas Kapal Marine

​Kai jatuh tersungkur di atas tumpukan layar yang robek, kepalanya berputar. Sementara itu, Saitama berdiri dengan tenang, masih dengan tangan di saku, dan Luffy yang tersampir di bahunya perlahan mulai bangun.

​"Hah? Di mana dagingnya?" Luffy mengucek matanya, menatap sekeliling. Dia melihat ratusan meriam yang diarahkan tepat ke hidungnya. "Saitama, ini bukan kapal kita. Baunya tidak enak, bau bubuk mesiu."

​Seorang Laksamana Madya dengan wajah penuh keringat dingin maju sambil menghunus pedang.

"Si-siapa kalian?! Beraninya menyerang kapal keadilan!"

​Saitama menatap sang Laksamana. "Kami tidak menyerang. Kami cuma numpang mendarat. Tadi di atas tidak ada daging, jadi kami buru-buru turun."

​"NUMPANG MENDARAT KATAMU?! KAU MENGHANCURKAN DEK UTAMA KAMI!"

​Luffy mengendus udara. "Tunggu... aku mencium bau sosis!" Luffy melompat dari bahu Saitama, tangannya memanjang menuju dapur kapal Marine. Dia kembali dengan membawa rentengan sosis mentah dan sebotol besar mayones. "Ketemu!"

​"OI! ITU JATAH MAKAN SIANG KAMI!" teriak para prajurit.

​Kai mencoba berdiri, memperbaiki kacamata ngerinya yang retak. "Tunggu! Semuanya, tenang! Ini hanya kesalahpahaman geografis! Manajer saya maksud saya, teman-teman saya ini hanya sedikit lapar setelah mendaki Red Line!"

​"Mendaki Red Line?!" sang Laksamana tertegun. "Tanpa kapal? Tanpa peralatan?"

​"Tanpa tangan," tambah Saitama dengan nada bangga yang jarang dia tunjukkan.

​Suasana menjadi hening. Para prajurit Angkatan Laut saling pandang. Mereka melihat Saitama pria botak dengan jubah kuning yang tampak konyol tapi baru saja selamat dari jatuh 10.000 meter tanpa lecet sedikit pun.

​"Laksamana..." bisik salah satu bawahan. "Sepertinya lebih baik kita biarkan mereka pergi. Aku punya firasat kalau kita menembaknya, pelurunya akan balik menghancurkan markas pusat."

​Sang Laksamana menelan ludah. Dia melihat Luffy yang sedang asyik memakan sosis mentah bersama Saitama di atas meriam utama mereka.

​"Baiklah..." bisik Laksamana itu. "Berikan mereka sekoci. Dan semua sosis yang kita punya. Cepat, sebelum mereka memutuskan untuk 'numpang duduk' di kapal perang lainnya!"

​Kembali ke Thousand Sunny

​Beberapa jam kemudian, sekoci kecil Marine terlihat mendekati Thousand Sunny. Kai mendayung dengan lelah, sementara Luffy dan Saitama duduk bersandar sambil kekenyangan sosis.

​"Itu mereka!" teriak Chopper dari dek kapal.

​Sanji berdiri di pinggir kapal, memegang nampan perak dengan penutup. "Oi! Kalian lama sekali! Dagingnya sudah hampir dingin!"

​Mendengar kata 'daging', Luffy dan Saitama langsung melompat dari sekoci, terbang melintasi air, dan mendarat tepat di depan Sanji dalam sekejap.

​"DAGINGGG!" teriak mereka berdua.

​Kai, yang masih tertinggal di sekoci sendirian di tengah laut, hanya bisa menatap mereka dengan tatapan kosong. "Kalian... meninggalkan... pendayungnya..."

​Saitama menoleh sebentar sambil mengunyah daging besar di mulutnya. "Oh, Kai. Jangan lupa ikat sekocinya dengan kuat ya. Nanti kalau Marine-nya minta balik, kita susah."

​Kai menghela napas, tersenyum kecil sambil menyeka keringatnya. Yah, setidaknya hari ini dunianya belum kiamat. Hanya peta dunianya saja yang sedikit berantakan.

Ini adalah pertarungan harga diri bagi Sanji. Baginya, dapur adalah medan perang suci, sedangkan bagi Saitama, memasak hanyalah cara agar bahan makanan yang hampir busuk di kulkas tidak terbuang sia-sia.

​Semua bermula ketika Saitama mencoba membantu Sanji di dapur. Saitama berniat memotong bawang bombay, tapi karena dia melakukannya dengan "kecepatan normal" versinya, bawang itu tidak terpotong, melainkan atom-atomnya terbelah. Akibatnya, seluruh kapal Thousand Sunny dipenuhi gas bawang yang begitu kuat hingga membuat Zoro menangis dalam tidurnya.

​"OI, BOTAK!" bentak Sanji sambil memakai kacamata renang agar matanya tidak perih. "Kau menghancurkan bahan-bahanku! Memasak itu soal perasaan, presisi, dan teknik! Bukan soal kekuatan kasar!"

​Saitama mengusap air matanya yang juga mulai mengalir. "Aku cuma mau bantu supaya cepat selesai, Sanji. Lagipula, kalau dipotong cepat, vitaminnya tidak sempat kabur, kan?"

​Sanji melepaskan celemeknya dengan gaya dramatis. "Kalau begitu, mari kita buktikan! Aku tantang kau lomba memasak! Kita lihat apakah 'kekuatan supermu' bisa mengalahkan teknik koki kelas dunia!"

Bahan Ekstrem

​Luffy, yang bertindak sebagai juri utama (dengan air liur yang sudah menetes), berdiri di tengah.

"Oke! Bahannya adalah Gurita Raksasa Berlapis Baja dari Calm Belt! Siapa yang bisa membuatnya jadi hidangan paling enak dalam 10 menit, dia pemenangnya!"

​Kai berdiri di samping dengan stopwatch.

"Tiga... Dua... SATU...

MULAI!"

​Sanji bergerak seperti penari balet yang terbakar. Dia menggunakan Diable Jambe untuk memanaskan wajan dalam sekejap.

Pisau-pisaunya menari, memisahkan daging gurita dari cangkang bajanya dengan akurasi mikroskopis. "Rasakan ini! Poêlé Gurita dengan Saus Mentega Lemon!"

​Sementara itu, Saitama berdiri diam di depan gurita raksasa miliknya yang masih hidup dan marah. Saitama menatap gurita itu, lalu menatap kompor yang menurutnya terlalu kecil.

​"Hm, kelamaan kalau pakai kompor," gumam Saitama.

"Serious Series"

​Saitama mengambil gurita itu dengan satu tangan. Dia melemparnya tinggi-tinggi ke atmosfer, menembus awan.

​"Oi! Apa yang kau lakukan?!" teriak Kai. "Kau membuang bahannya!"

​"Tunggu saja," sahut Saitama tenang.

​Saitama kemudian mengambil sebuah pohon tumbang yang ada di dek kapal, mengupasnya dengan kuku jarinya dalam sekejap hingga menjadi tusuk sate raksasa. Saat gurita itu jatuh kembali karena gravitasi, gurita itu sudah terbakar oleh gesekan atmosfer matang dengan sempurna di bagian luar tapi tetap juicy di dalam.

​Saitama menangkap gurita raksasa itu tepat di ujung tusuk satenya.

JLEB!

​"Serious Series: Serious Stir-Fry!"

​Saitama mulai memutar tusuk sate itu dengan kecepatan Mach 3 di atas tangannya. Gesekan udara yang dia ciptakan menghasilkan panas yang lebih stabil daripada api kompor mana pun.

Bumbu-bumbu yang dia lemparkan ke udara menyatu dengan daging gurita karena tekanan udara yang ekstrem.

​Waktu habis. Sanji menyajikan piring yang sangat indah. Guritanya tampak seperti karya seni, lembut, harum, dan elegan. "Silakan, Luffy-chan."

​Luffy memakan masakan Sanji. "ENAKKKKK! Sanji, kau memang dewa koki!"

​Lalu, Saitama menyerahkan "Sate Gurita Raksasa" miliknya. Ukurannya sebesar meriam kapal.

Penampilannya biasa saja, tapi baunya... baunya sangat kuat hingga membuat ikan-ikan di laut melompat ke dek karena ingin mencicipi.

​Luffy menggigit sate Saitama. Matanya mendadak berubah menjadi putih. Tubuhnya gemetar.

​"Luffy! Kau kenapa?!" teriak Chopper panik.

​"Ini..." bisik Luffy dengan suara serak. "Ini bukan cuma makanan. Ini... ini adalah ledakan nutrisi! Aku merasa seperti baru saja memakan satu seluruh pulau!"

​Ternyata, teknik "Serious Stir-Fry" Saitama telah memadatkan seluruh kalori dan rasa gurita itu ke dalam setiap serat dagingnya. Satu gigitan mengandung energi yang cukup untuk membuat Luffy lari keliling dunia sepuluh kali.

​Sanji mencicipi masakan Saitama dan langsung jatuh berlutut. "Bagaimana mungkin... teknik kasarmu bisa menghasilkan tekstur se-empuk ini?"

​Saitama menggaruk kepalanya. "Yah, sebenarnya aku tadi tidak sengaja menekan dagingnya terlalu keras saat diputar, jadi seratnya hancur sendiri. Dan gesekan atmosfer tadi memberikan aroma 'asap bintang' yang alami."

​Sanji menghela napas, menyalakan rokoknya. "Aku kalah dalam hal skala dan kecepatan. Tapi, Saitama... kau lupa satu hal."

​"Apa itu?"

​"Kau tidak mencuci guritanya tadi. Itu masih ada air lautnya, jadi rasanya asin sekali!"

​Saitama tertegun. Dia mencicipi masakannya sendiri. "Pantas saja tenggorokanku haus. Aku pikir itu bumbu rahasia."

​Luffy, yang sudah menghabiskan kedua masakan tersebut, tertawa terbahak-bahak. "Dua-duanya menang! Sekarang, siapa yang mau buatkan aku pencuci mulut?!"

​Sanji dan Saitama saling pandang, lalu tersenyum tipis. "Jangan harap aku mau lomba lagi denganmu, Botak," gumam Sanji sambil kembali ke dapur. "Dapurku hampir meledak gara-gara anginmu."

More Chapters