Ide bahwa Saitama yang botak mencoba menjual sampo, dengan Luffy yang ceria sebagai rekan, adalah resep sempurna untuk kekonyolan maksimal.
Nami datang dengan wajah berseri-seri dan tumpukan koin emas di tangannya. "Dengar, semuanya! Aku punya ide bisnis baru! Aku akan meluncurkan brand sampo sendiri: 'Nami's Orange Scent Elixir'!"
Semua kru terdiam. Mereka tahu Nami akan melakukan apa saja demi uang.
"Aku butuh bintang iklan," kata Nami, matanya berbinar melihat Luffy dan Saitama. "Kalian berdua punya daya tarik yang unik! Luffy, rambutmu elastis dan sehat! Saitama... kau punya aura yang kuat!"
Luffy menyeringai. "Iklan? Kedengarannya seru!"
Saitama menatap Nami dengan datar. "Tapi aku botak. Rambutku tidak tumbuh. Bagaimana aku bisa mengiklankan sampo?"
"Justru itu seninya!" Nami menekan tombol di sampingnya, dan sebuah papan iklan raksasa muncul. "Konsepnya: 'Nami's Orange Scent Elixir: Bahkan Pahlawan Botak Pun Merasakan Kesegarannya!'"
Nami menyeret Luffy dan Saitama ke sebuah studio mini di kapal. Di sana sudah ada kamera dan berbagai properti.
"Oke, Luffy! Senyum ceria sambil menyiramkan sampo ke rambutmu yang mengembang!" perintah Nami
Luffy langsung melakukan pose paling konyol, menyiramkan sebotol sampo ke kepalanya hingga berbusa. Aroma jeruk memenuhi ruangan.
"Nah, sekarang giliranmu, Saitama!" Nami menyerahkan sebotol sampo. "Pose dramatis! Tatapan kosong tapi penuh makna! Bayangkan kau baru saja mencuci kepalamu dan merasa segar!"
Saitama memegang botol sampo itu. Dia hanya menatap ke kamera dengan ekspresi hampa.
"Ayo, Saitama! Ekspresikan dirimu!" teriak Nami. "Bayangkan kau sedang mencuci rambutmu dengan sampo ini!"
Saitama mencoba. Dia mulai menggosokkan tangannya di kepalanya yang licin, seolah-olah dia sedang mencuci rambut. Wajahnya berusaha keras untuk terlihat "segar".
The "Botak & Busa" Dilemma
Namun, karena tidak ada rambut, busa sampo itu langsung meluncur turun dari kepalanya, memenuhi seluruh wajah dan jubah pahlawannya. Saitama terlihat seperti manusia salju yang baru saja mandi.
"Potret! Potret sekarang!" teriak Nami girang. "Ini dia! Konsepnya: 'Kesegaran yang Melimpah Ruah!
Sampai-sampai rambutmu menghilang karena terlalu segar!'"
Kai yang menyaksikan dari belakang kamera hanya bisa memijat pelipisnya. "Nami, ini bukan iklan sampo. Ini iklan pembasmi rambut."
Giliran Luffy. Nami ingin Luffy menunjukkan elastisitas rambutnya.
"Luffy! Angkat rambutmu setinggi mungkin! Lalu biarkan dia meliuk-liuk seperti ombak!"
Luffy mengangguk. Dia menggunakan Gear 3 di rambutnya. Rambut hitamnya mendadak mengembang seperti balon raksasa, menembus atap studio. Lalu dia mengubahnya menjadi berbagai bentuk: bentuk kapal, bentuk Sea King, dan terakhir bentuk kepiting raksasa.
"Hebat! Luar biasa!" teriak Nami. "Ini iklan yang unik! Rambut yang bisa berubah bentuk!"
Jujur
Pada sesi terakhir, Nami meminta Luffy dan Saitama memberikan testimoni.
"Oke, Luffy! Apa pendapatmu tentang 'Nami's Orange Scent Elixir'?"
Luffy menyeringai lebar. "Ini membuat rambutku sangat elastis! Aku bisa membuat rambutku jadi tangga darurat kalau aku tersesat!"
"Sekarang giliranmu, Saitama," Nami menyerahkan mikrofon.
Saitama menatap mikrofon, lalu ke kepalanya yang botak. "Sampo ini... rasanya licin di kepalaku. Dan baunya lumayan enak. Tapi rambutku tidak tumbuh. Jadi, aku tidak tahu apakah ini berhasil."
GEDEBUK! Nami jatuh pingsan.
Setelah Nami sadar, dia melihat hasil foto dan video iklan.
"Aku akan kehilangan semua uangku!" Nami meraung. "Bagaimana bisa iklan sampo kita menampilkan pahlawan botak yang jujur bilang sampo tidak menumbuhkan rambut?!"
Sanji masuk ke studio sambil membawa jus jeruk. "Sudah kubilang, Nami-swan, rambutmu sendiri sudah jadi iklan terbaik. Kenapa harus menyewa dua monster itu?"
"Tapi aku ingin uang tambahan!" Nami merengek.
Saitama, sambil meminum jus jeruk Sanji, menepuk pundak Nami. "Tidak apa-apa, Nami. Setidaknya orang tahu kalau sampo ini tidak berbohong. Itu sudah prestasi, kan?"
Nami hanya bisa menatap Saitama dengan ekspresi putus asa. "Kau benar-benar pahlawan teraneh yang pernah aku temui."
Mau lanjut ke kekonyolan selanjutnya?
"Saitama Menjadi Guru Haki untuk Seekor Kucing Laut" (Kucing lautnya jadi punya pukulan satu kali menang dan bisa menguasai Gear 5).
"Luffy dan Saitama Tersangkut di Pulau yang Dihuni Hanya oleh Buah Iblis Berjalan" (Mereka harus memakan buah iblis itu atau dimakan).
Ini adalah skenario paling aneh sekaligus berbahaya bagi siapa pun yang memiliki kekuatan super. , dan situasi yang makin lama makin tidak masuk akal di Pulau Fruity-Doom.
Kapal Thousand Sunny terhenti di depan sebuah pulau yang bentuknya menyerupai keranjang buah raksasa. Baunya sangat manis, namun suasananya sunyi mencekam. Tidak ada burung, tidak ada serangga, hanya suara semak-semak yang bergeser.
Luffy, Saitama, dan Kai turun ke pantai. Kaki mereka tenggelam di pasir yang ternyata adalah gula halus.
"Wah! Pasirnya manis!" Luffy menjilat tangannya. "Saitama, pulau ini surga!"
Saitama menatap pohon-pohon di depannya. Daunnya berbentuk sendok dan buahnya... buahnya memiliki kaki. "Oi, Kai. Kenapa buah nanas di depan itu menatapku dengan tatapan ingin membunuh?"
Kai memeriksa jurnalnya dengan panik. "Celaka! Ini adalah Pulau Akuma-No-Mori. Legenda mengatakan, buah iblis yang tidak pernah dimakan manusia selama ratusan tahun akan berevolusi.
Mereka punya kesadaran sendiri, dan mereka membenci manusia karena kita menganggap mereka cuma 'makanan peningkat kekuatan'!"
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncullah pasukan buah yang berjalan tegak. Ada Pisang yang memiliki otot seperti binaragawan, Melon yang mengeluarkan api dari kepalanya, dan Durian yang dilapisi baja tajam.
"Manusia..." sebuah suara serak muncul dari seekor Buah Naga raksasa yang melayang. "Kalian datang untuk mencuri kekuatan kami lagi, bukan?"
"Hah? Buahnya bicara?" Saitama mengorek telinganya. "Dengar ya, naga buah. Aku tidak butuh kekuatan tambahan. Aku sudah terlalu kuat sampai-sampai hidupku membosankan. Aku cuma mau mencari supermarket, tapi temanku ini malah membawaku ke sini."
Luffy maju selangkah, matanya berbinar. "Kalian terlihat sangat enak! Boleh aku makan satu? Yang pisang itu kelihatannya bergizi!"
Si Pisang Berotot tersinggung. Dia melakukan pose binaraga. "Berani sekali kau! Aku adalah pemakan buah iblis tipe Zoan Model: Gorilla, tapi karena aku sendiri adalah buah, aku adalah Gorilla-Banana!
Rasakan tinju potasiumku!"
BOOM! Si Pisang melesat dan memukul Luffy. Luffy terpental tapi membalas dengan tawa.
Di Tengah Pertempuran
Saitama dikelilingi oleh sekumpulan Buah Beri kecil yang bisa meledak.
"Kenapa kalian marah sekali?" tanya Saitama sambil menghindari ledakan kecil dengan malas. "Bukankah tujuan buah adalah untuk dinikmati? Kalian harusnya senang kalau ada yang memakan kalian."
"Kau tidak mengerti, Botak!" teriak Buah Durian Tajam. "Kami bosan menjadi alat! Kami ingin menjadi subjek! Kami yang akan memakan kalian, lalu kami akan mendapatkan kekuatan manusia untuk menguasai laut!"
Saitama berhenti menghindar. Dia menatap Durian itu dengan serius. "Tunggu sebentar. Kalau kalian memakan kami, bukankah kalian tetap menjadi buah? Hanya saja buah yang punya memori manusia? Itu tetap tidak masuk akal. Kalian tetap akan membusuk pada akhirnya."
"Diam! Logikamu terlalu nyata untuk dunia fantasi ini!" teriak Durian itu sambil meluncurkan duri-durinya.
Saitama menangkis duri-duri itu dengan jarinya. "Dengar ya. Aku punya masalah yang lebih besar. Di rumahku, kalau aku lupa memakan pisang selama tiga hari, dia akan menghitam dan lalat mulai datang. Kalian di sini sibuk mau menguasai dunia, tapi apa kalian sudah mandi? Bau kalian sudah mulai agak masam."
Luffy sedang sibuk bergulat dengan si Melon Api. "Saitama! Bantu aku! Melon ini tidak mau masuk ke mulutku! Dia terus membakar lidahku!"
"Gunakan Haki-mu, Luffy! Lindungi lidahmu!" teriak Kai dari balik batu.
Tiba-tiba, Buah Naga raksasa itu berteriak, "Satu-satunya cara mengalahkan monster botak dan manusia karet ini adalah dengan...
PENYATUAN SEMPURNA!"
Semua buah di pulau itu mulai berlari dan menumpuk satu sama lain. Mereka membentuk satu raksasa kolosal yang terbuat dari berbagai macam buah. Kepalanya semangka, tangannya nanas, kakinya durian, dan tubuhnya adalah kumpulan anggur yang mengeluarkan listrik.
"Jadilah Fruit-Zilla!" teriak raksasa itu. Suaranya bergema seperti blender raksasa.
Saitama menatap raksasa itu dari bawah. "Wah... itu... itu adalah salad buah terbesar yang pernah aku lihat."
"Persiapkan dirimu, Manusia!" Fruit-Zilla mengangkat tangan nanasnya yang berduri. "Kami akan menghapus kalian dari sejarah!"
Saitama menghela napas panjang. Dia menatap Luffy. "Luffy, kau punya piring besar?"
"Piring? Untuk apa, Saitama?" tanya Luffy bingung.
"Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita semua."
Saitama melangkah maju. Raksasa Fruit-Zilla memukul dengan kecepatan penuh, namun Saitama hanya mengepalkan tangannya dengan santai.
"SERIOUS SERIES: FRUIT JUICE IMPACT!"
POW!
Pukulan itu tidak menghancurkan pulau, tapi tekanan udaranya begitu terkonsentrasi sehingga dia memeras seluruh raksasa buah itu dalam sekejap. Bukan ledakan api atau batu, yang terjadi adalah hujan jus buah segar yang sangat deras menyirami seluruh pantai.
Syuuuuutttt!
Ribuan liter jus jeruk, melon, nanas, dan anggur tumpah ke mana-mana. Di tengah pantai, kini menyisakan tumpukan kulit buah yang sudah kering dan tidak berdaya.
Luffy duduk di pinggir pantai, memegang sebuah ember besar yang entah didapat dari mana, menampung jus yang jatuh dari langit. "Nyam nyam! Ini jus paling enak yang pernah kurasa! Saitama, kau koki yang hebat!"
Saitama berdiri di tengah hujan jus, jubahnya basah kuyup dan lengket. "Sial... aku benci perasaan lengket ini. Mandinya akan susah sekali."
Kai keluar dari persembunyiannya, membawa gelas. "Saitama, kau sadar tidak? Kau baru saja melakukan 'Genosida Nutrisi'. Pulau ini sekarang kehilangan semua pelindungnya."
"Mereka yang mulai duluan," sahut Saitama sambil menjilat sedikit jus di pipinya. "Lagipula, mereka bilang mau memakan kami. Itu namanya pertahanan diri yang lezat."
Tiba-tiba, seekor Buah Apel kecil yang selamat merangkak di kaki Saitama. "Tolong... jangan peras aku..."
Saitama mengambil apel itu, menatapnya sebentar, lalu memberikannya ke Luffy.
"Nih, buat pencuci mulut."
"TIDAAAAAKKK!"
teriak si Apel saat Luffy membuka mulutnya lebar-lebar.
"Shishishi! Tenang saja, Apel Kecil! Aku akan memakanmu dengan penuh rasa hormat!" ucap Luffy sebelum melahapnya dalam satu gigitan.
Kai hanya bisa menulis di jurnalnya: Hari ini, hukum alam One Piece dipatahkan oleh rasa lapar dan satu pukulan yang menghasilkan vitamin C dosis tinggi.
Setelah pesta jus buah yang melelahkan, Luffy mendadak punya ide yang lebih "santai" setidaknya itu yang dia pikirkan. Matahari sore di Pulau Fruity-Doom mulai meredup, menyisakan pasir gula yang berkilauan.
"Saitama! Lihat!" Luffy berteriak sambil mengumpulkan tumpukan pasir dengan tangan karetnya yang bergerak secepat baling-baling. "Ayo lomba bikin istana pasir!
Siapa yang paling megah, dia boleh minta daging apa saja dari Sanji nanti malam!"
Saitama, yang sedang sibuk membersihkan sisa lengket jus di kepalanya, menoleh malas. "Istana pasir? Aku bukan anak kecil lagi, Luffy. Lagipula, membuat sesuatu yang detail itu melelahkan."
"Ehh? Bilang saja kau takut kalah dariku!" Luffy menjulurkan lidahnya, tangannya sudah membentuk menara-menara kecil yang rumit berkat kekuatan Gear 5 yang membuat pasir itu menjadi kenyal seperti karet. "Lihat ini! Istana Topi Jerami!"
Saitama terdiam. Kata 'takut kalah' selalu memicu sesuatu di sarafnya yang biasanya mati rasa. "Takut kalah? Aku hanya tidak ingin menghancurkan pantai ini."
"Halah, alasan! Ayo, buktikan! Satu... dua... TIGA!"
Luffy langsung menggila. Dia berubah menjadi raksasa putih yang tertawa terbahak-bahak, memutar-mutar pasir hingga membentuk replika kastil Mary Geoise yang lengkap dengan naga-naga kecil dari pasir. "Shishishi! Lihat ini, Saitama! Ini adalah seni!"
Saitama menghela napas panjang.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan membuat sesuatu yang... kokoh."
Saitama berjongkok. Dia menatap pasir di bawahnya dengan tatapan yang sangat intens, seolah-olah dia sedang menghitung setiap butir atom gula tersebut. "Pertama, aku butuh pondasi yang dalam. Kalau tidak dalam, istananya akan roboh tertiup angin."
Saitama mulai menggali. Dia tidak menggunakan sekop. Dia cuma menggunakan jari telunjuk dan tengahnya, menusukkannya ke tanah dengan gerakan seperti mematuk. Zup! Zup! Zup!
"Oi, Saitama! Kenapa kau cuma melubangi tanah? Kau mau bikin sumur atau istana?" tanya Luffy sambil menempelkan bendera di puncak menaranya.
"Ini pondasi, Luffy. Sabar sedikit," sahut Saitama.
Tapi masalahnya, Saitama tidak tahu kapan harus berhenti. Setiap kali dia merasa lubangnya kurang dalam, dia menekan sedikit lebih kuat.
KRAK.
"Hah? Suara apa itu?"
Kai yang sedang duduk di kejauhan mulai merasakan tanah bergetar. "Saitama! Berhenti! Kau menekan terlalu keras!"
"Sedikit lagi..." gumam Saitama. Dia memberikan satu dorongan terakhir dengan telapak tangannya untuk meratakan dasar lubang pondasinya.
BOOOOOOOOOOMMMMMMM!
Seluruh pulau berguncang hebat. Bukan gempa biasa, tapi seolah-olah dunia baru saja ditusuk oleh jarum raksasa. Dari lubang kecil yang digali Saitama, muncul cahaya oranye yang sangat terang. Hawa panas yang luar biasa menyembur keluar, membuat pasir-pasir di sekitarnya berubah menjadi kaca cair.
"PANAAASS!" Luffy melompat ke atas tiang kapal Sunny. "Saitama! Apa yang kau lakukan?! Kau mengeluarkan api dari tanah!"
Saitama berdiri di pinggir lubang, wajahnya tertutup debu, menatap ke dalam kegelapan yang bersinar merah. "Eh? Pantas saja terasa agak lembap dan panas. Sepertinya aku menyentuh sesuatu yang cair di bawah sana."
Kai berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. Dia melihat ke dalam lubang dan hampir pingsan. "Saitama... itu bukan cairan biasa! Kau baru saja menggali menembus kerak bumi, mantel, dan masuk ke Inti Luar Bumi! Itu Magma!
"Oh," Saitama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi ini pusat bumi? Kecil ya, aku pikir lebih luas."
"KECIL MATAMU!" teriak Kai histeris. "Kau baru saja menciptakan gunung berapi buatan di tengah pantai! Lihat itu! Istananya Luffy meleleh semua!"
Luffy menatap istana pasirnya yang kini menjadi gumpalan kaca karena panas magma. "Istana-ku... hancur..." Dia terdiam sejenak, lalu matanya berbinar lagi. "WAHHH! Saitama! Kau hebat! Kau bisa membuat air mancur api!"
Tiba-tiba, dari dalam lubang magma itu, muncul suara raungan kuno. Sesuatu yang telah tertidur selama jutaan tahun di pusat bumi terbangun karena tercolok oleh tangan Saitama. Seekor Naga Inti Bumi yang terbuat dari batuan cair merangkak keluar, menatap mereka dengan mata yang membara.
"Siapa... yang berani... mengusik tidur panjangku..." naga itu mendesis, suaranya seperti batu yang bergesekan.
Luffy langsung pasang posisi bertarung. "Wah! Ada monster api! Saitama, dia terlihat kuat!"
Saitama menatap naga itu dengan wajah paling bosan yang pernah ada. "Oi, Naga. Kau menghalangi lomba istana pasirku. Dan kau menghancurkan menara Luffy. Bisa tolong kembali ke bawah? Aku tidak punya waktu untuk bertarung dengan kompor raksasa."
Naga itu marah besar, dia menyemburkan nafas lava panas ke arah Saitama. Tapi Saitama hanya berdiri diam. Lavanya hanya memantul di kepalanya yang licin, malah membuat kepalanya jadi lebih mengkilap.
"Sudah kubilang, aku sedang sibuk," ucap Saitama. Dia memberikan satu tepukan ringan di kepala naga itu seperti menepuk anak anjing yang nakal.
PLAK.
Naga itu langsung terbenam kembali ke dalam lubang dengan kecepatan suara. "MAAFKAN AKU!" teriak si naga saat dia terjun bebas kembali ke pusat bumi.
Saitama kemudian mengambil segenggam pasir besar dan menutup kembali lubang tersebut, menginjaknya sekali sampai tanahnya kembali rata. Dug. Getarannya hilang seketika.
"Nah, sudah kututup," kata Saitama sambil menepuk-nepuk tangannya dari debu. "Jadi, Luffy, siapa yang menang? Istanamu sudah jadi kaca, punyaku... yah, pondasiku sangat kuat."
Luffy menatap tanah yang sekarang rata dan padat seperti beton. "Ehh... tapi kau tidak bikin bangunan, Saitama! Itu cuma tanah rata!"
"Itu namanya desain minimalis, Luffy. Gaya modern," bela Saitama.
Kai hanya bisa bersandar di pohon kelapa yang sudah layu karena panas. "Kalian berdua... benar-benar harus dilarang bermain di pantai selamanya. Kita hampir saja membuat kiamat hanya karena taruhan daging Sanji."
Sanji muncul dari kapal sambil memegang nampan.
"Oi! Makan malam sudah siap! Dan aku dengar ada yang bicara soal daging?"
Luffy dan Saitama langsung berlari menuju kapal, melupakan fakta bahwa mereka baru saja hampir merobek planet ini menjadi dua.
"Saitama! Besok kita lomba manjat Red Line tanpa tangan ya!" teriak Luffy sambil makan.
"Boleh, asal hadiahnya ada kupon diskon bulanan," jawab Saitama tenang.
Kai hanya bisa menulis di jurnalnya: Catatan untuk diriku sendiri: Jangan biarkan Saitama menggali apa pun, termasuk menggali ingatan masa lalu.
