Cherreads

Chapter 188 - BAB 179: SEA KING

Luffy duduk di pinggir kapal dengan kaki menjuntai, memegang seutas tali jemuran yang diujungnya diikatkan tulang ayam bekas makan siangnya.

​"Saitama! Sini! Memancing itu seru lho!" seru Luffy sambil nyengir. "Rasanya seperti menunggu hadiah ulang tahun, tapi hadiahnya bisa dimakan!"

​Saitama duduk di sebelah Luffy. Dia tidak pakai tali. Dia cuma mencelupkan jari telunjuknya ke dalam air laut. "Aku tidak punya umpan. Lagipula, ikan-ikan ini sepertinya takut padaku."

​"Itu karena wajahmu terlalu serius, Botak!" canda Luffy. "Coba buat wajah yang lebih 'lezat'!"

​Tiba-tiba, laut mulai berguncang. Bayangan raksasa muncul dari kegelapan air. Seekor Sea King jenis Lord of the Coast yang ukurannya lebih besar dari kapal Sunny mendongak ke permukaan. Matanya merah, menatap jari Saitama yang dikira cacing raksasa.

​HAP!

​Sea King itu menggigit jari Saitama.

​"Wah! Dapat!" teriak Saitama datar. Dia tidak merasa sakit sama sekali; baginya, gigitan Sea King itu hanya seperti dipijat oleh jepitan jemuran plastik.

​"Tarik, Saitama! Tarik yang kuat!" Luffy bersorak sambil melompat-lompat kegirangan.

​Saitama menghela napas. "Baiklah. Ayo kita makan besar malam ini."

​Saitama menyentakkan tangannya ke atas. Namun, karena dia sedang malas berpikir, dia lupa bahwa Sea King itu sedang berada di arus bawah laut yang terhubung dengan Lempeng Tektonik Red Line.

​KREEEEEEEEKKKKKK!

​Suara itu bukan suara air yang terbelah, melainkan suara kerak bumi yang bergeser. Seluruh kapal Thousand Sunny miring 45 derajat. Nami yang sedang mandi berteriak karena air di bak mandinya mendadak miring. Zoro yang sedang tidur terjatuh dari tempat tidurnya.

​"OI! APA YANG KAU LAKUKAN, BOTAK?!" teriak Sanji dari dapur sambil memegangi piring-piringnya.

​Saitama terus menarik. Di ujung jarinya, Sea King itu sudah pingsan karena syok, tapi gigitannya terkunci. Karena kekuatan tarikan Saitama begitu absolut, dia tidak hanya menarik ikan itu. Dia menarik dasar laut yang tersangkut pada ekor sang ikan.

​Dari kejauhan, terlihat pemandangan yang mengerikan: Pulau Longue dan sebagian dari Red Line perlahan-lahan mulai bergeser mendekat ke arah kapal mereka.

​"Saitama! Berhenti!" teriak Kai sambil melihat melalui teropong. "Kau tidak hanya memancing ikan! Kau sedang menyeret seluruh benua ke sini! Jarak antara dua pulau jadi hilang!"

​"Eh?" Saitama menoleh sebentar, tangannya masih menarik. "Pantas saja terasa sedikit berat. Aku pikir ikannya sedang menahan napas."

​ Geografi Baru Grand Line

​Dengan satu hentakan terakhir "NORMAL SERIES: CATCH OF THE DAY!" Saitama mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

​BOOOOOOM!

​Sea King itu terlempar ke dek kapal dengan sukses. Namun, di belakangnya, suara gemuruh dahsyat terdengar. Karena tarikan Saitama, peta dunia One Piece berubah seketika.

Pulau yang harusnya ditempuh dalam waktu satu minggu pelayaran, sekarang berada tepat di sebelah Thousand Sunny.

​"Wah! Kita sudah sampai di pulau selanjutnya!" seru Luffy kegirangan tanpa peduli bahwa dia baru saja menyaksikan bencana alam buatan manusia. "Saitama, kau hebat! Kita tidak perlu berlayar lagi!"

​Nami jatuh berlutut, memegang peta dunianya yang sekarang sudah tidak berguna. "Peta ini... semua kerja kerasku selama bertahun-tahun... hancur karena satu pancingan..."

​Malam itu, mereka makan daging Sea King yang sangat besar. Tapi suasananya sangat hening.

​Zoro menatap ke luar jendela. "Biasanya aku yang tersesat mencari jalan. Sekarang jalannya yang tersesat mencariku."

​Saitama hanya asyik mengunyah daging. "Maaf ya, Nami. Nanti aku dorong balik pulau-pulaunya kalau aku sudah kenyang."

​"JANGAN DISENTUH LAGI!" teriak Nami, Sanji, dan Kai secara bersamaan.

​Mau lanjut ke kekonyolan berikutnya?

​"Saitama Mencoba Menjadi Model Baju untuk Brand Milik Nami" (Saitama dipaksa memakai bikini armor karena kesalahan stok).

​"Luffy dan Saitama Mengikuti Lomba Makan Ramen di Wano" (Dan mereka membuat seluruh koki di Wano pingsan karena kelelahan).

​ sekarang!

pertempuran yang bukan menggunakan tinju, melainkan sumpit dan kecepatan mengunyah yang melampaui batas manusia.

​ Festival Ramen di Ibu Kota Bunga

​Wano sedang merayakan festival musim semi. Di tengah pasar yang ramai, terpampang spanduk raksasa: "LOMBA MAKAN RAMEN SHOGUN: HADIAHNYA ADALAH OSHIRUKO SEUMUR HIDUP!"

​Luffy dan Saitama berdiri di depan kedai ramen paling bergengsi, "Kiba-Ramen". Di sana sudah berjejer 50 koki terbaik Wano yang dipimpin oleh koki legendaris bertangan empat (berkat bantuan buah iblis).

​"Dengar ya, Botak," ucap Luffy sambil mengencangkan ikat kepalanya. "Dalam hal makan, aku tidak akan kalah bahkan dari pahlawan sepertimu!"

​Saitama menatap mangkuk kosong di depannya. "Aku hanya ingin makan gratis karena dompetku ketinggalan di kapal. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku sedikit serius."

​"MULAI!" teriak wasit.

​WUSSSHHH!

​Dalam satu detik pertama, Luffy sudah menghabiskan 10 mangkuk. Perutnya mulai mengembang seperti balon karet. Tapi Saitama? Dia tidak bergerak... setidaknya itu yang dilihat penonton.

​SLRUUP! SLRUUP! SLRUUP!

​Tiba-tiba, tumpukan mangkuk di depan Saitama sudah setinggi menara. Saitama menggunakan teknik "Serious Series: Serious Slurp". Kecepatan sumpitnya menciptakan pusaran angin kecil yang menarik mi ramen langsung masuk ke mulutnya tanpa perlu dikunyah

​"Koki! Tambah!" teriak Luffy dengan mulut penuh.

​"Koki! Masih kurang!" sahut Saitama datar.

​ Terbakar

​Di dapur, suasana sudah seperti medan perang. Para koki berkeringat deras, tangan mereka bergerak seperti baling-baling helikopter untuk memotong mi, merebus air, dan menuangkan kuah.

​"Cepat! Mereka makan lebih cepat daripada air yang mendidih!" teriak kepala koki.

​Dua puluh koki pingsan karena dehidrasi setelah 30 menit. Kompor-kompor di dapur mulai meledak karena dipaksa bekerja di luar kapasitas. Kuah ramen tumpah ke mana-mana, tapi sebelum menyentuh lantai, Luffy sudah memanjangkan lehernya untuk meminum kuah itu di udara.

​"Ini bukan lomba makan..." bisik seorang pelayan yang gemetar. "Ini adalah pemusnahan sumber daya pangan!"

​ Puncak Absurditas – Teknik "Vacuum Mouth"

​Memasuki mangkuk ke-500, Luffy masuk ke mode Gear 4: Tank Man. Perutnya raksasa, tapi dia masih bisa menelan mangkuk-mangkuk itu sekaligus (lalu memuntahkan mangkuknya kembali).

​Saitama, merasa tertantang, mulai meningkatkan kecepatannya. Dia menciptakan "After-Image Slurping". Seolah-olah ada sepuluh Saitama yang sedang makan di satu meja. Suara seruputan mi-nya begitu kencang hingga memecahkan semua kaca di Ibu Kota Bunga.

​"Tolong... berhenti..." rintih kepala koki. Tangannya gemetar, matanya putih. Dia baru saja memasak ramen ke-1000, dan saat dia meletakkannya di meja, mangkuk itu sudah kosong sebelum dia bisa melepaskan tangannya.

​GEDEBUK!

​Kepala koki itu jatuh pingsan, diikuti oleh sisa koki lainnya. Dapur kedai "Kiba-Ramen" kini sunyi, hanya menyisakan asap dari kompor yang hancur.

​Luffy tersungkur di lantai, perutnya sebesar rumah, napasnya berat tapi dia tersenyum puas. "Aku... sudah... tidak muat... daging..."

​Saitama berdiri, menepuk perutnya yang masih tampak rata (ajaibnya). Dia melihat ke arah dapur yang berantakan dengan para koki yang terkapar di lantai.

​"Eh? Sudah selesai?" tanya Saitama kecewa. "Padahal aku baru mulai merasa sedikit kenyang. Ternyata porsi di sini kecil ya."

​Kai yang menonton dari pojokan hanya bisa menangis melihat tagihan kerusakan yang harus ia bayar sebagai "Manager" mereka. "Kalian berdua... benar-benar bencana berjalan. Sekarang kita harus lari sebelum Shogun datang menagih ganti rugi dapur!"

​Saat mereka lari menuju pelabuhan, Saitama sempat-sempatnya mengambil satu kerupuk yang tertinggal.

​"Luffy," panggil Saitama sambil berlari dengan santai.

​"Apa?" jawab Luffy yang menggelinding seperti bola.

​"Lain kali, kalau lomba makan, cari tempat yang kokinya punya asuransi nyawa. Aku tidak enak melihat mereka pingsan massal begitu."

​Luffy tertawa. "Shishishi! Setuju! Selanjutnya kita lomba makan cokelat di Pulau Whole Cake!"

​Saitama mengangguk. "Boleh. Asal jangan ada lalat dimensi lagi."

Zoro yang buta arah dan Tatsumaki yang punya masalah emosional dengan tinggi badan.

​Zoro sedang berjalan di koridor kapal Thousand Sunny untuk pergi ke dapur. Dia hanya perlu berjalan lurus. Tapi entah bagaimana, setelah membuka satu pintu kayu, dia tidak menemukan Sanji dan aroma masakan, melainkan sebuah koridor logam futuristik yang dingin dengan logo besar bertuliskan: "HERO ASSOCIATION HQ".

​Zoro berhenti sejenak, menggaruk kepalanya yang berambut hijau. "Hah? Si koki mesum itu mengganti dekorasi dapur jadi sangat membosankan?"

​Zoro terus berjalan, melewati pintu-pintu otomatis yang terbuka sendiri. Dia tidak sadar bahwa dia baru saja "menebas" ruang dan waktu karena kebodohan arahnya yang legendaris.

​Di ujung koridor, Zoro berpapasan dengan seorang gadis kecil berambut hijau keriting yang sedang melayang di udara, memegang jus kotak. Itu adalah Tatsumaki (Terrible Tornado).

​Tatsumaki berhenti. Dia menatap Zoro dari atas ke bawah. "Hah? Siapa kau? Kenapa ada gelandangan pembawa pedang masuk ke area Kelas S? Dan kenapa rambutmu hijau norak begitu? Kau mencoba meniru gayaku?"

​Zoro berhenti, menatap Tatsumaki dengan wajah datar. "Hah? Kau bicara padaku, Bocah?"

​Ting! Perempatan imajiner muncul di dahi Tatsumaki. "BOCAH?! Aku ini pahlawan Kelas S Peringkat 2! Dan aku jauh lebih tua dari yang terlihat, dasar pendekar pedang amatir!"

​Zoro tidak peduli. Dia hanya ingin mencari dapur. "Minggir, Nak. Aku sedang mencari nasi onigiri. Kalau kau melihat koki pirang beralis melingkar, beritahu aku."

​Tatsumaki meledak. Aura hijau menyala di sekujur tubuhnya. "Berani-beraninya kau mengabaikanku! Akan kutunjukkan bagaimana rasanya menjadi debu di luar angkasa!"

​Seketika, seluruh koridor logam itu mulai melintir seperti kertas. Pedang-pedang Zoro di pinggangnya mulai bergetar hebat, mencoba ditarik oleh kekuatan psikis Tatsumaki.

​Zoro menyeringai. Dia memegang gagang pedangnya. "Oh? Jadi kau ingin bertarung? Menarik. Sudah lama aku tidak menebas hantu kecil sepertimu."

​Teknik Tanpa Berat

​Tatsumaki mengangkat tangannya, dan Zoro mendadak melayang ke langit-langit. "Rasakan tekanan gravitasi sepuluh kali lipat!"

​Zoro terhimpit di langit-langit, tapi wajahnya tetap tenang. "Hanya segini?"

​Zoro menggunakan teknik "Ichidai Sanzen Daiten Kasen" meskipun dalam posisi terbalik. Tebasan udaranya begitu kuat hingga membelah aura psikis Tatsumaki. Zoro mendarat kembali di lantai dengan dentuman berat.

​"Apa?! Kau membelah kekuatanku?" Tatsumaki terkejut. "Dasar monster hijau!"

​Tatsumaki mulai mengangkat seluruh gedung Asosiasi Pahlawan. Di luar gedung, para pahlawan lain seperti Genos dan King hanya bisa melongo melihat markas mereka mulai terbang.

​Tepat saat Tatsumaki akan menjatuhkan satu buah meteor (yang entah dia ambil dari mana) ke arah Zoro, sebuah tangan menepuk pundak Tatsumaki.

​"Oi, Tatsumaki. Berhenti bermain-main dengan temanku."

​Saitama muncul di sana, memakai piyama dengan kantong belanjaan berisi daun bawang. Di sebelahnya ada Kai yang sudah pucat pasi melihat gedung yang melayang.

​"Saitama?!" teriak Tatsumaki. "Kau kenal pria kasar ini?"

​"Dia temanku," ucap Saitama datar. "Zoro, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau tadi mau ke kamar mandi?"

​Zoro menyarungkan pedangnya, tampak sangat bingung. "Entahlah. Aku belok kanan di dekat tiang kapal, lalu tiba-tiba ada anak kecil ini marah-marah padaku."

​Saitama melihat ke sekeliling gedung yang rusak. "Waduh, ini pasti tagihannya mahal. Ayo Zoro, kita balik ke kapal sebelum Nami melihat ini."

​"TUNGGU! KITA BELUM SELESAI!" teriak Tatsumaki, rambut hijaunya berdiri semua karena marah.

​Saitama menghela napas. Dia merogoh kantong belanjaannya dan memberikan sebuah Permen Lolipop kepada Tatsumaki. "Ini, buatmu. Jangan marah-marah terus, nanti tubuhmu tidak tambah tinggi."

​Keheningan total melanda koridor itu.

​BOOOOOOMMMMM!

​Tatsumaki meledak dalam amarah murni. Seluruh gedung Asosiasi Pahlawan berputar seperti gasing. Saitama, Zoro, dan Kai langsung lari menuju pintu "ajaib" yang membawa mereka kembali ke Thousand Sunny.

​Zoro keluar dari pintu dapur, tepat di depan Sanji yang sedang membawa sup.

​"Lama sekali kau ke kamar mandi, Marimo!" ejek Sanji.

​Zoro duduk di kursi, wajahnya masih tampak bingung. "Aku tadi bertemu hantu hijau kecil yang sangat berisik. Dan gedungnya terbang."

​Sanji menatap Zoro dengan iba. "Kau sepertinya butuh tidur. Kau sudah mulai berhalusinasi karena terlalu banyak latihan."

​Saitama masuk ke dapur, menyerahkan daun bawangnya ke Sanji. "Untung kita cepat lari. Gadis itu kalau marah lebih seram daripada Sea King."

​"

More Chapters