"Bahan Rahasia" yang Salah Alamat
Setelah mengalahkan The Origin, suasana di Thousand Sunny kembali ceria. Namun, ada satu masalah besar: Saitama merasa bosan. Dan Saitama yang bosan adalah ancaman bagi struktur realitas.
"Oi, Kai," panggil Saitama sambil mengorek telinganya. "Aku dengar di pulau depan ada 'Daging Naga Pelangi' yang konon hanya muncul seratus tahun sekali. Katanya rasanya bisa membuat orang lupa kalau mereka sedang botak."
Kai menghela napas, menatap peta barunya. "Itu Pulau Mystic Gastronomy, Saitama. Tapi itu bukan naga, itu hanya kadal besar yang warnanya norak. Dan kita ke sana untuk mencari informasi tentang 'Gerbang Terakhir', bukan untuk makan!"
"Sama saja," sahut Saitama pendek.
"Menangkap Lalat Dimensi"
Begitu mereka mendarat di pulau, seorang penjaga raksasa setinggi gunung menghadang jalan. Namanya Gorgon sang Penghancur Logika. Dia memiliki seribu tangan dan masing-masing tangan memegang senjata pemusnah masal.
"Siapa yang berani menginjakkan kaki di..."
PLAK!
Belum sempat Gorgon menyelesaikan kalimatnya, Saitama sudah melesat di depannya. Tapi Saitama tidak memukul Gorgon. Dia justru sibuk menepuk-nepuk udara di depan hidung raksasa itu.
"Sial! Lalat ini cepat sekali!" teriak Saitama frustrasi.
Ternyata, ada seekor Lalat Dimensi makhluk kecil yang bisa berpindah ruang dan waktu yang sedang mengganggu Saitama sejak di kapal. Saitama melompat-lompat, berputar-putar, dan melakukan gerakan akrobatik tingkat tinggi hanya untuk menangkap satu lalat.
Gorgon terdiam. Seribu tangannya membeku. "Hei, botak! Aku ini bos terakhir di area ini! Perhatikan aku!"
"Tunggu sebentar! Lalat ini baru saja menghina martabatku!" balas Saitama. Ia menggunakan teknik "Serious Series: Table Flip" hanya untuk menjepit lalat itu di bawah tanah.
BOOOOOM! Seluruh pulau terangkat dan terbalik.
Gorgon sang raksasa terlempar ke atmosfer tanpa sempat mengeluarkan satu jurus pun.
"Ah, dapat," ucap Saitama sambil membuka telapak tangannya. Ternyata bukan lalat, melainkan kismis yang tertinggal di saku bajunya. "Pantas saja tidak terbang."
Melihat kekacauan yang dibuat Saitama, Zoro merasa tersinggung. "Kau menghancurkan seluruh pulau hanya untuk kismis?! Lihat ini, Kai! Aku akan menunjukkan tebasan dimensi yang sebenarnya!"
Zoro menarik napas dalam. Dia menargetkan sebuah peti harta karun legendaris yang tertanam di dinding tebing. "Santoryu Ogi... Dimensional Can Opener!"
SREEEET!
Bukannya membelah peti, tebasan Zoro justru merobek lapisan realitas dan menarik sebuah Toko dari tahun 2026 masuk ke dunia One Piece. Tepatnya, bagian rak susu dan sereal.
"Eh?" Zoro melongo.
Sanji langsung berlari masuk ke toko hasil tebasan Zoro itu. "Oooo! Ini adalah susu sapi murni dari masa depan! Zoro, kau jenius!"
"Aku ingin memotong harta karun, bodoh! Bukan merampok minimarket!" teriak Zoro, wajahnya memerah karena malu.
"Pesta Sereal di Tengah Perang"
Di tengah kekacauan itu, tentara bayangan dari sisa-sisa The Origin mulai muncul mengepung mereka. Ribuan ksatria berbaju zirah hitam siap menyerang.
Luffy sudah bersiap dengan Gear 4, tapi Saitama menghentikannya.
"Luffy, tunggu. Susu sereal ini akan basi jika kita tidak segera memakannya," ucap Saitama sambil menuangkan susu ke dalam mangkuk besar yang ia temukan.
"Tapi mereka menyerang kita, Saitama!" teriak Kai panik.
"Sini," Saitama memberikan satu sendok sereal ke pemimpin ksatria bayangan itu. "Coba ini. Ini rasanya cokelat."
Ksatria itu ragu, lalu mencicipinya. Detik berikutnya, zirah hitamnya pecah dan berubah menjadi kaos oblong santai. "Ini... ini sangat renyah!" ucap sang ksatria.
Seketika, pertempuran berubah menjadi Pesta Sereal Massal. Ribuan musuh duduk bersila di tanah, menikmati sereal cokelat dan susu murni masa depan.
Kai hanya bisa menepuk jidatnya. "Ternyata... solusi untuk menyelamatkan dunia bukan dengan kekuatan dewa, tapi dengan sereal masa depan dan kekonyolan si botak ini."
Di atas dek Thousand Sunny, Saitama tampak sangat menderita. Di depannya ada mangkuk sereal raksasa, tapi dia hanya menatapnya dengan nanar.
"Kenapa kau tidak makan, Saitama?" tanya Luffy sambil mengunyah daging.
"Aku tidak bisa menemukan sendok," jawab Saitama datar. "Makan sereal pakai sumpit itu seperti mencoba memindahkan air laut pakai garpu. Tidak efisien."
Sanji keluar dari dapur sambil mengelap piring. "Kalau kau mau sendok yang layak untuk sereal 'masa depan' itu, konon ada Sendok Perak Poseidon di dasar Palung Deep-End. Katanya, sendok itu bisa menyendok apa saja, bahkan takdir sekalipun."
Mata Saitama berbinar (untuk ukuran dia, itu hanya berarti pupilnya membesar 1 milimeter). "Ayo berangkat."
Nami mulai menghitung koordinat. "Kita butuh pelapis gelembung untuk kapal, dan butuh waktu tiga hari untuk sampai ke dasar palung itu ...."
BOOM!
Saitama sudah melompat ke air. Tapi dia tidak berenang. Dia melakukan gerakan "Serious Series: Sideways Jumps" di bawah air dengan kecepatan cahaya. Tekanan air yang luar biasa justru terbelah di depannya.
"Dia... dia baru saja menciptakan jalan setapak di dasar laut tanpa kapal?" Kai melongo dari atas dek melihat air laut terbelah seperti di zaman Nabi Musa.
Di dasar palung yang gelap, hiduplah Kraken Emas, monster gurita raksasa yang tugasnya menjaga harta karun para dewa. Di antara tumpukan emasnya, terdapat sebuah sendok perak kecil yang bersinar terang.
"Siapa yang berani mengganggu tidurku?!" geram Kraken itu, suaranya menggetarkan air laut.
Saitama muncul dari kegelapan, masih mengenakan kostum pahlawannya yang sekarang basah kuyup. "Aku butuh sendok itu untuk sereal cokelat ku. Cepat berikan."
Kraken itu tertawa, delapan tentakelnya bergerak untuk meremukkan Saitama. "Kau pikir kau bisa...."
Saitama tidak memukul Kraken itu. Dia merasa kasihan karena melihat gurita itu terlihat lelah. "Kau kelihatannya butuh pijatan," ucap Saitama.
Saitama menggunakan "Consecutive Normal Massages" pada tentakel Kraken itu. Dalam hitungan detik, Kraken yang tadinya ganas langsung lunglai, wajahnya berubah menjadi sangat rileks, dan dia tertidur pulas sambil mendengkur.
Saitama mengambil sendok itu. "Akhirnya."
Begitu dia menyentuh sendok itu, cahaya biru meledak. Kai yang baru saja sampai di bawah menggunakan gelembung bersama Luffy dan Zoro berteriak, "Hati-hati, Saitama! Itu Sendok Poseidon! Kekuatannya bisa mengendalikan seluruh samudera!"
Saitama kembali ke permukaan dengan satu lompatan besar. Dia duduk di depan mangkuk serealnya, mencelupkan sendok itu, dan...
ZRAAAAAASSSHHH!
Setiap kali Saitama menyendok serealnya, air laut di seluruh Grand Line ikut terangkat mengikuti gerakan sendoknya. Saat dia mengangkat sendok ke mulut, sebuah tsunami setinggi 100 meter muncul di belakang kapal.
"SAITAMA! HENTIKAN!"
teriak Nami sambil berpegangan pada tiang kapal. "Kau akan menenggelamkan seluruh dunia cuma buat makan sereal!"
Saitama berhenti sejenak, susu sereal menetes dari dagunya. "Tapi sendok ini enak dipakai. Pegangannya pas."
Zoro mencoba merebut sendok itu. "Berikan padaku! Aku akan memotong kekuatan sihir sendok ini!"
KLING!
Bukannya sihirnya hilang, sendok itu justru menyerap pedang Zoro dan mengubahnya menjadi Garpu Raksasa.
"SEKARANG AKU PUNYA DUA PEDANG DAN SATU GARPU?! APA-APAAN INI?!" Zoro berteriak frustrasi sambil menatap senjata barunya.
Akhirnya, Kai menggunakan kekuatan "Editor"-nya untuk memberikan revisi pada sendok tersebut.
"REVISI: SENDOK INI HANYA BOLEH MEMILIKI KEKUATAN SIHIR JIKA DIGUNAKAN UNTUK MAKAN SOP, BUKAN SEREAL."
Seketika, laut menjadi tenang. Saitama bisa makan serealnya dengan damai.
"Masalah selesai," ucap Saitama sambil menyendok sereal terakhirnya. "Tapi sekarang aku ingin sop."
Sanji menendang udara karena kesal. "KAU BARU SAJA MENGHABISKAN SEREALNYA, BOTAK!"
Semua bermula saat Rayleigh berkunjung ke Sunny untuk mengantar surat dari Shakky. Sambil menyesap sake, Rayleigh melirik Saitama yang sedang melakukan pemanasan aneh (jongkok sambil menguap).
"Aku dengar kau pria tercepat di dunia, Botak," ucap Rayleigh dengan senyum tipisnya yang karismatik. "Bagaimana kalau kita balapan melintasi tembok raksasa Red Line itu? Dari sini sampai ke sisi lain."
Saitama menatap dinding merah raksasa yang menjulang ke langit. "Males ah. Capek."
"Pemenangnya boleh mengambil voucher belanja gratis di supermarket pusat Sabaody yang berlaku seumur hidup," tambah Rayleigh sambil membenarkan kacamata.
BOOM!
Mata Saitama berubah menjadi kotak-kotak. Dia sudah berdiri di garis start dengan posisi siap lari. "Kapan kita mulai, Kek?"
Menghancurkan Geografi
Nami bertindak sebagai juri dengan bendera kotak-kotak. "Siap... MULAI!"
WUSSSHHH!
Rayleigh melesat menggunakan Shave (Soru) tingkat tinggi yang dipadukan dengan Haoshoku Haki. Dia bergerak seperti kilat hitam, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah, melompat-lompat di dinding tegak lurus Red Line dengan keanggunan seorang legenda.
Sedangkan Saitama?
Dia tidak lari ke atas. Dia hanya menendang tanah dengan kaki kanannya untuk melompat.
KRAAAKKKK!
Lantai dermaga tempat mereka start hancur berkeping-keping. Tekanan udara yang dihasilkan lompatan Saitama menciptakan gelombang kejut yang membuat kapal Sunny terombang-ambing seperti mainan plastik. Saitama melesat ke atas seperti peluru kendali, meninggalkan suara ledakan sonik, BOOM!
Rayleigh yang sudah berada di tengah ketinggian Red Line menoleh ke bawah. "Cepat juga dia. Tapi di ketinggian ini, oksigen mulai menipis dan tekanan udara bisa menghancurkan paru-paru manusia biasa."
Rayleigh menggunakan Busoshoku Haki untuk melapisi tubuhnya, menembus awan dengan kecepatan konstan. Dia melihat Saitama menyalipnya dengan gaya yang sangat tidak elegan Saitama lari di udara dengan menendang molekul oksigen teknik Moon Walk (Geppo) tapi versi kasar.
"Oi, Kek!" teriak Saitama sambil menyalip Rayleigh. "Kau tahu di mana bagian bumbu dapur? Aku lupa beli kecap tadi!"
Rayleigh tertegun. "Dia... dia bicara dengan santai di kecepatan Mach 5?"
Saat mereka mencapai puncak Red Line yang datar dan luas, Rayleigh mengeluarkan kartu as-nya. Dia menggunakan Haki pengamat (Kenbunshoku) untuk memprediksi setiap gerakan angin, meluncur seperti seluncuran es.
Namun, di tengah jalan, sandal jepit Saitama putus.
"AH! SANDALKU!" teriak Saitama panik.
Karena kehilangan keseimbangan di kecepatan tinggi, Saitama mulai berguling-guling seperti bola bowling raksasa. Bukannya melambat, putaran tubuhnya justru menciptakan angin puting beliung yang menyedot batu-batu di Red Line.
Rayleigh mencoba menghindar, tapi Saitama yang berguling meluncur melewatinya dengan kecepatan yang merobek ruang dan waktu.
ZRAAAKKKK!
Saitama mendarat di sisi lain Red Line lebih dulu. Tapi dia tidak mendarat dengan kaki. Dia mendarat dengan wajah, menciptakan kawah sedalam sepuluh meter tepat di depan garis finish.
Rayleigh mendarat dengan tenang beberapa detik kemudian. Dia mengatur napasnya yang sedikit memburu, lalu menatap kawah tempat Saitama berada.
Saitama merangkak keluar dari tanah, wajahnya penuh debu, dan dia memegang sandal jepitnya yang putus dengan raut muka sedih. "Kek... sandalku rusak. Berarti voucher belanjanya buat beli sandal baru ya?"
Kai dan Luffy yang mengikuti dari jauh menggunakan gelembung udara mendarat di sana.
"Kalian gila ya?!" teriak Kai. "Kalian baru saja membuat retakan besar di Red Line! Dunia bisa gempa kalau kalian balapan lagi!"
Rayleigh tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. "Luar biasa. Aku tidak pernah merasa sesegar ini sejak terakhir kali bertarung dengan Roger. Ambil vouchernya, Botak. Kau memang lebih cepat."
Saitama melihat voucher di tangannya. Matanya mendadak gelap. "Tunggu... 'Voucher ini hanya berlaku untuk pembelian produk sayuran hijau'?"
Saitama jatuh berlutut. "AKU MAU DAGING! KEMBALIKAN TENAGAKU!"
