Cherreads

Chapter 186 - BAB 177: KEKUATAN UNTUK KAI

Oke, ini akan menjadi momen yang ikonik. Kai akan menggambarkan Saitama dalam puncak absurd nya seorang pahlawan yang bisa menghancurkan apapun tapi prioritas utamanya adalah makanan di tangannya.

Elegansi high-octane bertemu dengan kekonyolan yang mendalam.

​Pintu dapur Sunny meledak ke dalam. ledakan dahsyat, keretakan halus yang meluas, mengubah kayu menjadi serpihan piksel yang menghilang. Di ambang pintu, berdirilah Architect Prime, sebuah entitas yang kini mengambil wujud manusia, namun tubuhnya terbuat dari rangkaian kode hitam dan putih yang bergerak konstan.

Matanya adalah dua kursor merah yang berkedip ganas.

​"Kalian tidak bisa menulis ulang apa yang telah ditakdirkan!" raung Architect, suaranya seperti glitch mesin. "Pulau ini, kapal ini, kalian semua akan dihapus!"

​Kai berdiri di samping Sanji, tangannya mencengkeram erat pena emas. Wajahnya tegang, namun ia bisa merasakan garis pertahanan yang telah ia tuliskan di dapur itu masih utuh. Aroma kari udang Sanji masih kuat, menjadi perisai tak terlihat.

​Saitama hanya mendengus. Di tangannya, ia memegang mangkuk nasi kari udang yang mengepul hangat.

"Bisakah kau menunggu sebentar?" ucapnya datar. "Kariku dingin kalau terlalu banyak bicara."

​Architect Prime membeku. Dia tidak bisa memproses reaksi seperti itu. Dia meluncurkan serangan: ribuan bilah error code tajam melesat dari tubuhnya, mencoba mengiris Saitama menjadi data yang terpisah.

​Swoosh!

​Saitama tidak bergerak. Tubuhnya, dengan kecepatan yang tak terlihat, hanya sedikit miring, menghindari setiap bilah kode itu. Dia bahkan tidak menjatuhkan mangkuk nasinya. Dengan tenang, dia menyuapkan sesendok nasi kari ke mulutnya. Kunyahannya terdengar pelan di tengah kekacauan.

​Architect Prime terperangah. "Bagaimana... kau menghindari serangan ku sambil makan?!"

​"Aku kan pahlawan," jawab Saitama, mengunyah perlahan. Dia menatap Architect dengan ekspresi paling datar di dunia. "Ini hanya rutinitas pagiku. Terutama kalau sarapanku enak."

​Tiba-tiba, bilah kode terakhir melesat ke arah mangkuk nasi Saitama.

​Mata Saitama sedikit melebar. Itu adalah satu-satunya reaksi yang ia tunjukkan. Tanpa sadar, tangannya yang kosong bergerak.

​"SERIOUS SERIES: ANTI-DISTRACTION PUNCH!"

​Satu pukulan sederhana. Tidak?? ledakan. Gelombang kejut. Hanya sebuah kepalan tangan yang bersentuhan dengan udara, tepat di depan bilah kode terakhir.

​Namun, bilah kode itu tidak hanya hancur. Seluruh tubuh Architect Prime yang terbuat dari error code mendadak bergetar hebat. Seperti sebuah program yang terkena virus fatal, tubuhnya mulai terurai. Kode-kode hitam dan putihnya pecah menjadi piksel-piksel kecil yang berkedip-kedip, lalu perlahan menghilang ke dalam kehampaan.

​Plop.

​Saitama dengan santai menelan suapan nasi terakhirnya. Dia menatap kehampaan tempat Architect Prime berdiri, lalu beralih ke mangkuk nasinya yang kini sudah kosong.

​"Yah," gumam Saitama. "Setidaknya karinya enak."

​Di belakangnya, Luffy, Zoro, dan Sanji hanya bisa melongo.

Pertarungan Saitama sangat singkat, tapi intensitas dan kekonyolannya justru yang membuat Kai berkesan.

​ Dunia yang dibangun dari data dan imajinasi, sebuah kehampaan (void) justru jauh lebih berbahaya daripada seorang musuh yang memiliki wujud.

​Debu piksel dari tubuh Architect masih melayang di udara, namun suasana di dapur Thousand Sunny mendadak menjadi sangat berat. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tidak lagi cerah; warnanya memucat, seolah-olah dunia kehilangan kontrasnya.

​Kai menatap telapak tangannya. Tato pena emasnya bergetar hebat, mengeluarkan bunyi denging frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.

​"Belum selesai," bisik Kai. Suaranya kering. "Saitama baru saja menghancurkan 'Wajah' dari sistem ini, tapi dia tidak menghancurkan 'Sumber' kodenya."

​Tiba-tiba, suara tawa yang halus seperti gesekan kertas terdengar dari segala arah. Bukan dari luar kapal, tapi dari dalam kepala mereka masing-masing.

​ masakan Sanji, hingga keringat di dahi Zoro mulai menghilang. Dunia sedang berubah menjadi Kertas Kosong.

​"Oi, Kai! Kenapa kakiku jadi seperti sketsa pensil lagi?!" teriak Luffy. Ia melihat tangannya kehilangan warna, menyisakan garis-garis hitam yang tipis.

​Dari tengah kehampaan itu, muncul sebuah entitas tanpa bentuk. Ia tidak memiliki mata, tidak memiliki tubuh. Ia hanya berupa gumpalan tinta hitam yang terus bergerak, membentuk huruf-huruf yang tidak terbaca. Inilah "The Blank Page"entitas purba yang mewakili akhir dari setiap cerita yang ditinggalkan pembacanya.

​"Architect Prime hanyalah penjaga gerbang," suara entitas itu bergema, hampa dan tanpa emosi. "Aku adalah kenyataan yang sebenarnya. Saat tidak ada lagi yang membaca, saat 180 saksi terakhirmu menutup mata... dunia ini akan kembali menjadi putih."

​Kai jatuh berlutut. Ia merasa beban seluruh dunia One Piece menekan pundaknya. Tanpa "Saksi" (Pembaca), kekuatannya sebagai Editor tidak berarti apa-apa. Ia tidak bisa mengedit sesuatu yang sudah dianggap "Tamat" oleh alam semesta.

​Saitama melangkah maju, mangkuk nasinya yang kosong sudah ia letakkan di meja. Ia mengepalkan tinjunya, tapi kali ini wajahnya tampak gelisah. "Oi, benda hitam ini... aku tidak bisa merasakan 'niat' bertarungnya. Bagaimana cara memukul sesuatu yang bahkan tidak ada?"

​"Kau tidak bisa memukulnya dengan kekuatan fisik, Saitama!" teriak Kai sambil terengah-engah. "Dia adalah Kebosanan. Dia adalah Pengabaian. Dia hanya bisa dilawan dengan sesuatu yang membuat dunia ini layak untuk dilihat kembali!"

​Zoro mencabut pedangnya, berdiri di samping Kai yang gemetar. "Jadi, kita harus menjadi begitu 'liar' sampai orang-orang tidak bisa memalingkan mata mereka, begitu?"

​Kai menatap teman-temannya. Ia melihat Luffy yang tetap tersenyum meski tubuhnya memudar, Zoro yang siap menebas kehampaan, dan Saitama yang berdiri tegak melawan takdir.

​"Aku mengerti sekarang," ucap Kai. Ia mengambil pena emasnya dan menusukkannya langsung ke telapak tangannya sendiri. Tinta emas bercampur dengan darah merahnya.

​"Jika dunia ini butuh alasan untuk tetap ada, maka aku akan memberikan alasan yang paling gila!"

​Kai mulai menulis di udara, namun kali ini tulisannya tidak rapi. Ia menuliskan sebuah PLOT TWIST yang akan merobek logika multiverse:

​"DUNIA INI BUKANLAH MILIK SISTEM, BUKAN MILIK ARSITEK. DUNIA INI ADALAH MIMPI YANG SALING BERSILANGAN! SETIAP PUKULAN SAITAMA, SETIAP SENYUM LUFFY, ADALAH TINTA YANG TIDAK AKAN PERNAH KERING!"

​Seketika, aura emas dan merah meledak dari tubuh Kai. Warna-warna mulai kembali secara paksa. Namun, di balik The Blank Page, sebuah ancaman baru yang lebih personal mulai terbentuk. Seseorang dari masa lalu Kai di dunia nyata muncul sebagai antagonis baru di dunia One Piece.

​ Saitama mulai merasakan lapar yang tidak bisa dipuaskan, pertanda dia mulai terikat sepenuhnya pada hukum biologi dunia One Piece.

​Di tengah kekacauan dimensi, sebuah suara keroncongan yang sangat keras mengguncang dek Thousand Sunny. Itu bukan suara monster, melainkan perut Saitama.

​Saitama memegangi perutnya, wajahnya yang datar mendadak pucat. "Oi, Sanji... kenapa rasanya ada lubang hitam di perutku? Aku baru saja makan kari, tapi sekarang rasanya aku bisa memakan seluruh kapal ini."

​Kai tersentak. "Saitama... kau mulai terikat hukum biologi dunia ini. Kekuatanmu tidak lagi 'gratis'. Semakin besar pukulanmu, semakin besar energi yang kau butuhkan. Kau menjadi nyata, Saitama. Kau bukan lagi sekadar karakter gag yang tak terkalahkan."

​Belum sempat Sanji menjawab, sebuah meja kayu jati yang mewah mendadak muncul di tengah kehampaan putih. Di balik meja itu, duduk seorang pria berkacamata tipis dengan ekspresi wajah yang sangat meremehkan. Di depannya terdapat tumpukan kertas bertuliskan: "REJECTED" (Ditolak).

​"Cerita yang buruk," ucap pria itu. Suaranya dingin, seperti es yang menyentuh kulit. "Protagonis yang terlalu kuat, alur yang berantakan, dan penulis yang tidak tahu arah. Kai, kau tidak layak berada di kontes ini."

​Kai gemetar. Pria itu adalah Mr. V, editor dari dunia nyata yang dulu pernah menolak naskah pertama Kai dengan kata-kata paling kasar.

​"Kau?" Kai mundur selangkah. "Bagaimana kau bisa ada di sini?"

​"Sistem The Origin memanggilku sebagai 'Antibodi'," jawab Mr. V sambil membenarkan kacamata. "Aku adalah perwujudan dari keraguanmu. Selama aku di sini, setiap serangan teman-temanmu akan dianggap sebagai 'Plot Hole' yang tidak masuk akal. Dan kau tahu apa yang terjadi pada plot hole?"

​Mr. V mencoret sebuah kertas. Seketika, pedang Zoro menjadi tumpul seperti kayu mainan.

​"Zoro tidak bisa memotong besi sekeras itu tanpa penjelasan ilmiah yang jelas. Coret!" ucap Mr. V.

​Luffy mencoba menyerang dengan Gomu Gomu no Mi, tapi tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku. "Manusia tidak bisa memanjang seperti itu tanpa tulang yang hancur. Coret!"

​Satu per satu kekuatan kru Topi Jerami dinonaktifkan oleh logika dingin Sang Kritikus. Hanya Saitama yang tersisa, berdiri dengan perut keroncongan di depan meja Mr. V.

​"Dan kau, si Botak," Mr. V menatap Saitama. "Pukulan satu kali menang itu sangat membosankan. Itu adalah kesalahan penulisan terbesar—"

​Brak!

​Saitama menggebrak meja jati itu. Bukan dengan kekuatan super, tapi dengan amarah seorang pria yang lapar. "Aku tidak peduli tentang alur atau logika!" teriak Saitama. "Aku lapar! Dan kau menghalangi jalan koki kami ke dapur!"

​Saitama mengangkat tinjunya. Tapi kali ini, tinjunya tidak bercahaya emas. Tinju itu gemetar karena lapar dan emosi yang murni.

Membunuh dan Lapar yang Membakar

​Ruang Debug yang tadinya putih bersih kini berubah menjadi kantor editor yang menyesakkan. Bau kertas tua dan tinta kering menggantikan aroma masakan Sanji. Di balik meja jatinya, Mr. V terus mencoret-coret kertas dengan pena merah yang meneteskan cairan seperti darah.

​"Kenapa kalian masih mencoba?" Mr. V bertanya tanpa mengangkat pandangan. "Lihat angka di atas langit itu. 180. Hanya tersisa seratus delapan puluh pasang mata yang peduli pada nasib kalian. Saat angka itu menyentuh nol, dunia ini akan terhapus, dan kau, Kai, akan kembali menjadi pecundang di dunia nyata."

​Kai terengah-engah. Setiap kata dari Mr. V terasa seperti duri yang masuk ke jantungnya. Ia melihat Luffy terkapar, tidak bisa bergerak karena Mr. V baru saja menuliskan narasi bahwa 'Karet tidak memiliki energi untuk melawan gravitasi'.

Zoro juga berlutut, pedangnya patah menjadi serpihan kayu karena dianggap 'Mustahil secara metalurgi'.

​"Kau menggunakan logika untuk membunuh imajinasi," desis Kai. Ia mencoba menulis di udara, tapi pena emasnya mendadak berat seperti semen.

​"Aku menggunakan kenyataan untuk membunuh kegagalan," balas Mr. V. Ia menatap Saitama yang berdiri gemetar di depannya. "Dan kau, botak. Kau adalah anomali paling menjengkelkan. Kau kuat karena penulis malas memberikanmu batasan. Sekarang, aku berikan kau batasan: Lapar."

​Kruuukkk...

​Perut Saitama berbunyi begitu keras hingga menggetarkan ruangan. Pahlawan itu memegangi perutnya, keringat dingin mengucur di dahinya yang licin. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak meringis kesakitan.

​"Rasanya... seperti ada pisau yang mengiris lambungku," gumam Saitama. Pandangannya mulai kabur. Ini adalah pertama kalinya sejak ia mendapatkan kekuatannya, ia merasa sangat rapuh. Ia merasa menjadi manusia lagi manusia yang butuh makan, butuh istirahat, dan bisa mati.

​Mr. V tersenyum sinis. "Menyakitkan, bukan? Menjadi nyata itu menyakitkan. Aku akan menuliskan akhirmu sekarang: 'Saitama pingsan karena malnutrisi dan dilupakan sejarah'"

​"Tunggu dulu..."

​Saitama mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi kabur mendadak menatap tajam, bukan ke arah Mr. V, tapi ke arah mangkuk nasi kari udang milik Sanji yang tergeletak di lantai, hanya beberapa meter jauhnya. Mangkuk itu miring, dan sedikit kuahnya tumpah.

​"Sanji... memasak itu dengan susah payah," ucap Saitama. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang lapar. "Dia memilih bumbu, memotong sayur, dan memastikan kami semua kenyang. Dia tidak peduli soal logika atau angka di langit. Dia cuma ingin kami bahagia saat makan."

​Saitama melangkah maju. Setiap langkahnya membuat lantai kantor Mr. V retak.

​"Kau bilang 180 orang itu sedikit?" Saitama mengepalkan tinjunya. "Bagiku, jika ada 180 orang yang menunggu di rumah untuk makan bersama, aku akan berjuang sampai titik darah terakhir untuk sampai ke sana!"

​"Mustahil! Kau tidak punya energi!" Mr. V berteriak, pena merahnya bergerak liar mencoret-coret udara. "Saitama kehilangan kekuatannya! Saitama lumpuh! Saitama mati!"

​Tapi tulisan merah itu mental sebelum menyentuh tubuh Saitama. Aura yang keluar dari tubuh Saitama bukan lagi emas, tapi merah membara warna dari tekad manusia yang paling dasar.

​"Kai!" teriak Saitama tanpa menoleh. "Jangan lihat angkanya! Tulis apa yang kau rasakan sekarang! Jika kau merasa jatuh, tuliskan tentang bagaimana rasanya bangkit dari jatuh itu!"

​Kai tersentak. Ia melihat Saitama yang menderita lapar tapi tetap maju. Ia melihat kru Topi Jerami yang tidak menyerah meski kekuatan mereka dihapus. Tiba-tiba, pena emas Kai menyala kembali, tapi cahayanya berbeda. Bukan lagi emas yang berkilau, tapi cahaya yang hangat seperti lampu rumah di malam hari.

​"Kau benar, Saitama," Kai berdiri tegak. "Persetan dengan statistik. Persetan dengan editor yang meremehkan. Aku menulis cerita ini bukan untuk menjadi tuhan, tapi untuk menceritakan tentang kalian yang tidak pernah menyerah!"

​Kai menggoreskan penanya di udara dengan kecepatan yang melampaui cahaya.

​"LOGIKA TIDAK BERLAKU DI SINI! KARENA DI DUNIA INI, SEMAKIN LAPAR KAMI, SEMAKIN KUAT KEINGINAN KAMI UNTUK HIDUP! SAITAMA: SERIOUS HUNGER MODE!"

​Saitama melesat.

Kecepatannya begitu dahsyat hingga meja jati Mr. V hancur berkeping-keping sebelum ia sempat bereaksi. Saitama tidak memukul dengan kekuatan penghancur planet. Ia memukul dengan seluruh rasa lapar, rasa lelah, dan rasa cintanya pada masakan Sanji.

​"SERIOUS SERIES: EMPTY STOMACH IMPACT!"

​BOOOOOOMMMMM!

​Seluruh kantor editor itu meledak dalam cahaya putih. Mr. V terlempar ke balik kegelapan, pena merahnya patah menjadi dua. Angka 180 di langit mendadak berkedip, berubah menjadi 181... 185... 200... dan terus merangkak naik seiring dengan emosi yang meledak dalam bab tersebut.

​Saitama berdiri di tengah reruntuhan, memegangi perutnya yang masih bunyi, namun ia berhasil mengambil mangkuk kari yang tersisa dan menjilati sisanya dengan senyum tipis.

​"Enak," gumamnya. "Kai, bab ini... rasanya sangat nyata."

​ "Break the Fourth Wall" (Menembus Dinding Keempat).

​Saitama's Feast: Sanji harus memasak masakan legendaris untuk memulihkan energi Saitama yang sekarang "manusiawi".

​ Kai menerima pesan dari "Pencipta " yang memberinya semangat untuk terus menulis.

​ Dengan surat dari sang maestro di tangan, Kai kini memegang kunci untuk fondasi dunia One Piece itu sendiri.

Kai masih terpaku menatap surat. Di bawah tanda tangan sang kreator, ada sebuah simbol kecil yang tampak seperti kunci yang dibentuk dari garis tinta hitam. Saat Kai menyentuh simbol itu, surat tersebut perlahan terurai menjadi partikel emas yang meresap ke dalam otaknya.

​[NOTIFICATION: AUTHOR'S PRIVILEGE ACTIVATED.]

[SECRET PLOT POINT UNLOCKED: "THE ARCHIVE OF THE UNBORN."]

​Tiba-tiba, pandangan Kai dipenuhi oleh ribuan draf yang tidak pernah dipublikasikan. Karakter-karakter yang dihapus sebelum lahir, pulau-pulau yang hanya menjadi sketsa, dan akhir-akhir alternatif yang terlalu berbahaya untuk diceritakan.

​"Ini... ini adalah ide-ide yang dianggap 'terlalu bebas' oleh editor dunia nyata," gumam Kai. Ia menyadari bahwa ia baru saja diberi akses ke kekuatan yang melampaui kanon aslinya. Ia bukan lagi sekadar mengikuti alur; ia bisa memanggil Elemen yang Tak Pernah Ada.

​"Oi, Kai! Kenapa wajahmu jadi aneh begitu?" Luffy mendekat, memiringkan kepalanya. Tubuhnya sudah kembali normal, jantungnya berdetak kencang, penuh semangat.

​"Luffy," Kai menatapnya dengan serius. "Kita sudah sampai di ujung. The Origin bukan lagi sekadar sistem. Dia adalah Akar Kehampaan yang mencoba memakan semua imajinasi manusia karena dia iri pada kreativitas kita. Jika kita tidak menghancurkannya sekarang, dunia ini akan benar-benar membeku

​Saitama, yang baru saja bersendawa keras setelah menghabiskan masakan Sanji, berdiri perlahan. "Jadi, kita harus memukul 'Pusat' dari segalanya? Di mana dia?"

​Kai menunjuk ke arah cakrawala, di mana langit tampak pecah menjadi retakan-retakan hitam yang besar. "Di sana. Di Titik Nol. Tempat di mana pena pertama kali menyentuh kertas."

​ Realitas ​Kapal Thousand Sunny mulai meluncur di atas laut yang kini tidak lagi berupa air, melainkan aliran tinta yang berkilauan. Mereka bergerak menuju pusaran raksasa yang menyedot segala warna di sekitarnya.

​Zoro mencabut ketiga pedangnya, tapi kali ini pedangnya tidak bercahaya. Pedang-pedang itu justru menyerap bayangan di sekitarnya. "Aku merasa... pedangku bisa memotong sesuatu yang bahkan tidak terlihat."

​"Itu karena Kai baru saja memberikan 'Plot Armor' yang sebenarnya pada kita!" seru Sanji yang kini kakinya membara dengan api biru yang belum pernah terlihat sebelumnya Hell's Kitchen Blue Flame.

​Saat mereka memasuki pusat pusaran, sosok The Origin yang sebenarnya muncul. Ia bukan lagi kursor atau editor, melainkan sesosok raksasa tanpa wajah yang memegang Penghapus Dunia. Setiap kali ia bergerak, sebagian dari sejarah One Piece hilang.

​"Hentikan!" teriak Kai. Ia melompat dari dek kapal, melayang di udara dengan jubah Editornya yang kini bersinar putih cemerlang.

​The Origin mengayunkan penghapusnya, mencoba menghapus keberadaan Saitama. Namun, Saitama hanya meninju udara dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang tusuk gigi.

​"NORMAL SERIES: IMAGINARY FRICTION!"

​Pukulan Saitama menciptakan panas yang begitu hebat hingga penghapus sistem itu mulai meleleh. "Kau tahu," ucap Saitama dengan nada bosan yang mematikan, "Penghapusmu itu hanya bekerja kalau orang-orang percaya bahwa mereka bisa dihapus. Tapi temanku di sini... dia percaya kami abadi."

​Kai menggunakan kekuatan dari surat Oda. Ia mulai menuliskan plot point rahasia itu:

"PLOT TWIST: SANG PENULIS ADALAH BAGIAN DARI CERITA! KAI BUKANLAH TAMU, DIA ADALAH SAUDARA YANG HILANG!"

​Seketika, seluruh dunia One Piece memberikan kekuatannya pada Kai. Luffy masuk ke mode Gear 5: Final Draft, di mana ia bisa mengubah seluruh lingkungan menjadi kartun yang tidak bisa dihancurkan oleh sistem.

More Chapters