Tangisan Sang Pencipta
Saat dinding realitas hancur, Kai tidak menemukan singgasana emas. Ia justru melihat sosok pria paruh baya yang tadi menggambar Sang Pencipta sedang menangis. Pria itu menatap tangannya yang gemetar, penuh dengan noda tinta yang melambangkan air mata ribuan pembaca yang hilang.
"Mereka pergi, Kai..." bisik Sang Pencipta. "Setiap kali Sistem (The Origin) mencampuri ceritaku, jiwa-jiwa yang menonton kita dari dimensi lain mulai menghilang. Dunia ini akan runtuh jika tidak ada lagi yang melihatnya."
Luffy berhenti tertawa. Ia menatap tangannya yang mulai transparan. "Eh? Jadi kalau tidak ada yang melihat kami... kami akan hilang?"
Amarah Saitama pada Penjaga Statistik
Saitama menatap ke arah langit yang kini penuh dengan angka-angka merah yang terus menurun. Angka 180 melayang besar di atas pulau Logue, melambangkan jumlah saksi yang tersisa.
"Jadi kau bilang, eksistensi teman-temanku bergantung pada sebuah angka?" suara Saitama terdengar sangat dingin. Ia menatap Architect Prime yang tertawa di kejauhan.
"Benar, Botak!" raung Architect. "Semakin sedikit yang melihat, semakin lemah kalian! Aku akan menghapus kalian dengan cara membuat kalian menjadi BOSAN!"
Saitama mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di kepalanya menonjol.
"Membuat mereka bosan? Kau sengaja merusak alur cerita ini agar mereka pergi? Kau... benar-benar sampah yang tidak layak menjadi editor."
Kai berdiri di antara Sang Pencipta dan kehampaan. Ia mengambil selembar Kertas Kosong yang diberikan oleh Sang Pencipta.
"Jika mereka ingin sesuatu yang tidak membosankan... akan kuberikan sesuatu yang akan mengguncang jiwa mereka!" Kai menatap kru Topi Jerami, matanya emas membara. "Teman-teman, maafkan aku. Aku akan menuliskan sebuah tragedi yang akan memaksa seluruh alam semesta menoleh kembali ke sini!"
Kai menuliskan kalimat terakhir dengan darahnya sendiri di kertas kosong itu:
"KORBANKAN SEGALANYA UNTUK SATU MOMEN KEJAYAAN. BIARKAN DUNIA MELIHAT KEMATIAN SEORANG LEGENDA UNTUK MEMBANGKITKAN SEJUTA HARAPAN!"
Seketika, laut di sekitar Pulau Logue meledak. Garou yang tadinya berkeliling dunia, mendadak muncul dari celah dimensi, namun ia tidak sendirian. Ia telah bergabung dengan sisa-sisa energi Sistem yang ia murnikan, berubah menjadi bentuk Cosmic Fear: Awakened Mode.
"Kai! Aku mendengar panggilanmu!" terung Garou.
Pertempuran terakhir dimulai. Bukan lagi tentang menang atau kalah, tapi tentang menarik perhatian takdir. Saitama melesat maju, bukan dengan pukulan biasa, tapi dengan "SENSATIONAL PUNCH" setiap hantamannya menciptakan efek visual yang begitu indah hingga ruang dan waktu seakan membeku.
Kai duduk sendirian di pinggir dek Thousand Sunny. Ia tidak memegang pena emasnya, melainkan sebuah pensil kayu biasa yang sudah tumpul.
Saitama datang membawa dua cup mie instan (entah dari mana dia dapat di dunia Logue ini). "Oi, Penulis. Kau terlihat seperti orang yang habis dikejar penagih utang."
Kai menghela napas, menatap laut yang masih sedikit glitch. "Aku merasa gagal, Saitama. Aku punya kekuatan Editor, aku punya kalian... tapi aku merasa kehilangan koneksi dengan mereka yang melihat kita."
Saitama menyeruput mienya dengan berisik. "Dengar ya, aku ini pahlawan karena hobi. Kau menulis karena hobi, kan? Kalau kau menulis cuma buat nyenengin 'angka' di langit itu, kau bakal jadi seperti robot-robot Sentinel tadi. Tulis saja apa yang ingin kau lihat. Aku ingin lihat kita makan besar, bukan cuma berantem sama konsep abstrak terus."
Kai memandang Luffy yang sedang berusaha memancing ikan yang wujudnya masih kotak-kotak (pixel).
"Luffy!" panggil Kai. "Apa kau tidak marah? Hidupmu diatur oleh takdir, oleh sistem, dan sekarang oleh penaku?"
Luffy menoleh, tersenyum lebar dengan gigi putihnya yang khas. "Kenapa harus marah? Selama ada daging, teman-teman, dan petualangan, aku tidak peduli siapa yang menulisnya! Tapi Kai... kalau kau lelah, istirahatlah. Jangan menulis sambil menangis. Tulisanmu jadi terasa asin kalau kebanyakan air mata!"
Kai tertegun. Ia sadar selama ini ia terlalu terobsesi pada "Sistem" dan "Origin" sampai lupa pada esensi petualangan Topi Jerami: Kebebasan dan Kebahagiaan.
"Spektrum". Gunakan bahasa sehari-hari yang lebih nendang.
Pagi itu, Thousand Sunny tidak terasa seperti medan perang digital, melainkan sebuah rumah. Aroma tumisan bawang putih yang gurih bercampur dengan harum mentega cair mulai merayap keluar dari dapur Sanji, menusuk hidung siapa pun yang lewat. Ada bau daging panggang yang juicy dan sedikit aroma rempah laut yang segar tipe masakan yang membuat perut keroncongan seketika.
Tuk... Tuk... Sring...
Suara langkah kaki berat Zoro terdengar berirama di atas kayu dek yang sudah tua. Setiap langkahnya disertai suara gesekan ringan dari tiga sarung pedangnya yang saling beradu. Kayu dek itu sedikit berderit di bawah beban latihan beban Zoro, memberikan kesan nyata bahwa ini adalah kapal kayu yang hidup, bukan sekadar kode.
Di pojok kapal, Saitama duduk bersandar. Matanya setengah tertutup, kelopak matanya berkedut bosan. Di depannya, seorang musuh dari The Origin sedang berpidato panjang lebar tentang kehancuran dunia. Saitama hanya menguap lebar, menopang dagunya dengan tangan, dan mulai mengupil dengan jari kelingking. Wajahnya begitu datar hingga terlihat seperti telur rebus yang diberi mata titik.
Kai ingin membuktikan bahwa dia adalah "Editor" yang handal. "Tenang semuanya," ucap Kai penuh percaya diri sambil mengangkat pena emasnya. "Aku akan mengedit musuh ini agar dia kehilangan senjatanya dan menjadi tidak berbahaya!"
Kai dengan cepat menulis di udara: "HAPUS PEDANG MUSUH DAN BERIKAN DIA SESUATU YANG TIDAK BISA MELUKAI SIAPA PUN."
PING!
Terjadi kilatan cahaya emas. Namun, karena tangan Kai gemetar (akibat kurang tidur dan terlalu banyak minum kopi dari dapur Sanji), dia melakukan kesalahan penulisan yang fatal. Kata "PEDANG" (Sword) secara tidak sengaja terhapus sebagian, dan kata "SESUATU" menjadi terlalu spesifik karena pikirannya sedang melantur ke arah sarapan.
Hasilnya?
Pedang besar milik musuh itu memang hilang, tapi sebagai gantinya, musuh itu kini memegang sepotong roti tawar raksasa yang sangat lembut dan empuk. Dan yang lebih parah, baju zirah baja milik musuh itu berubah menjadi kostum ayam berwarna merah muda (pink) yang sangat ketat.
Kegagalan yang Menghibur
Musuh itu terdiam. Luffy, Zoro, dan Sanji juga terdiam.
"Kai..." Zoro menatap musuh berbaju ayam itu dengan tatapan kosong. "Kenapa kau membuatnya jadi paha ayam berjalan?"
"Aku... aku tadi salah tulis!" Kai panik, wajahnya memerah padam. Ia mencoba menghapus tulisannya, tapi pena emasnya mendadak 'macet' dan mengeluarkan suara printer yang sedang kehabisan tinta.
"BWAHAHAHA!" Luffy meledak dalam tawa sampai berguling-guling di dek. "Kai! Dia terlihat sangat lucu! Ayo kita jadikan dia maskot!"
Saitama, yang tadinya hampir tertidur, tiba-tiba matanya berbinar melihat roti tawar raksasa itu. "Oi, roti itu terlihat enak. Boleh aku minta sedikit?"
Kai menepuk jidatnya sendiri. Kekuatan "Editor"-nya gagal total secara konyol. Alih-alih pertempuran epik, dek kapal kini dipenuhi dengan suara tawa dan seorang musuh yang menangis tersedu-sedu karena harga dirinya hancur dalam balutan kostum ayam pink.
yang bisa lelah dan salah, bukan "Dewa" yang selalu benar.
Dapur Sanji beruap. Aroma kari udang yang tajam memenuhi ruangan. Tapi Kai tidak duduk untuk makan. Dia berdiri di depan tumpukan piring kotor setinggi gunung.
"Editor atau bukan, di kapal ini yang salah tulis tetap harus cuci piring," kata Sanji sambil mengisap rokoknya.
Kai menghela napas, tangannya yang tadi memegang pena sakti sekarang penuh busa sabun. "Sial... busanya masuk ke mata."
Saitama masuk, diam-diam mengambil sisa potongan wortel di meja. "Kau tahu, Kai? Mencuci piring itu melatih kesabaran. Kalau kau bisa sabar cuci piring, tulisanmu nanti nggak bakal belepotan lagi."
Luffy melongok dari pintu, nyengir lebar. "Kai! Setelah ini ayo mancing! Tapi jangan tulis ikan yang bisa bicara ya, aku jadi nggak tega makannya!"
Kai cuma bisa tertawa kecil. Ternyata jadi manusia biasa di kapal ini jauh lebih asyik daripada jadi dewa yang sendirian.
Sanji meletakkan secangkir kopi hitam di meja kayu yang penuh noda tinta. Asapnya mengepul tipis, membawa aroma kacang panggang yang berat.
"Berhenti memeras otakmu, Kai," gumam Sanji. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru ombak di luar. "Kau mulai terlihat seperti mayat hidup."
Kai tidak menjawab. Matanya terpaku pada jurnal emasnya. Di sana, sebuah kalimat tampak berantakan karena goresan penanya meleset.
Gara-gara satu kesalahan tulis kemarin, musuh mereka berubah jadi ayam pink
sebuah lelucon yang hampir merenggut nyawa mereka semua.
"Aku cuma ingin memastikan segalanya sempurna," bisik Kai, suaranya parau.
Di sudut ruangan, Saitama sedang sibuk menyeimbangkan sendok di atas hidungnya karena bosan. Tanpa menoleh, dia berucap, "Kau tahu kenapa pukulanku selalu berhasil? Karena aku tidak pernah berpikir apakah itu akan terlihat keren atau tidak. Aku cuma memukul."
Zoro lewat di depan pintu dapur, langkahnya berat dan mantap. Tap. Tap. Tap. Dia berhenti sejenak, melirik Kai dengan satu matanya yang tajam. "Pedang yang terlalu tajam malah mudah patah, Penulis. Biarkan alurnya mengalir sedikit berantakan. Itu yang membuatnya terasa nyata."
Kai terdiam. Dia mengambil cangkir kopi itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangan. Dia sadar, selama ini dia terlalu sibuk menjadi "Tuhan" bagi kru ini, sampai lupa menjadi "Teman".
Dia menutup jurnalnya. Brak.
"Sanji," panggil Kai. "Masih ada sisa roti ayam pink kemarin? Aku lapar."
Sanji menyeringai tipis. "Sudah kubuatkan sandwich. Makanlah, sebelum Luffy menghisapnya lewat hidung."
Kenapa gaya ini lebih "Pro"?
Show, Don't Tell: Saya nggak bilang "Kai sedang stres", tapi saya gambarkan dia "terpaku pada jurnal" dan "suaranya parau".
Atmosfer: Fokus pada detail kopi, asap, dan suara langkah kaki.
Saitama bicara filosofis dengan gaya konyol (menyeimbangkan sendok), Zoro bicara singkat tapi nendang.
Langit di atas Grand Line mendadak berubah warna menjadi abu-abu logam, dingin dan berat. Tapi di dapur Sunny, suasananya kontras. Bunyi pisau Sanji yang beradu cepat dengan talenan tak-tak-tak-tak terdengar seperti irama perkusi yang menenangkan. Bau jahe dan kaldu ikan yang gurih menyelimuti ruangan, menciptakan benteng kenyamanan di tengah lautan yang mulai tidak bersahabat.
Kai duduk di barisan kursi kayu, jemarinya memutar-mutar pena emas dengan gelisah. Matanya menatap jendela yang berembun. Di luar sana, di cakrawala yang samar, ia bisa merasakan 'Garis Kehampaan' mulai mendekat sebuah "penghapusan" massal yang dikirim oleh Sang Architect.
"Zoro, kau dengar itu?" bisik Kai tanpa menoleh.
Di sudut gelap ruang makan, Zoro sedang duduk bersila, mengasah Shusui dengan batu asah. Suara gesekan logamnya sring... sring... terasa tajam, memotong keheningan. "Suara laut yang berhenti bernapas?" sahut Zoro datar. "Ya. Sesuatu yang besar sedang mengincar kita."
Ketegangan itu merayap di lantai kapal seperti es, tapi Luffy justru sedang sibuk mencoba mencuri potongan daging dari piring Sanji, bergerak lincah seperti karet yang melenting menghindari tendangan sang koki.
Saitama, yang duduk di sebelah Kai, hanya menopang dagu dengan wajah sangat malas. "Oi, Kai. Apa pun yang datang nanti, pastikan mereka tidak merusak aroma masakan ini. Aku belum sempat makan siang."
Kai menarik napas dalam, aroma kaldu Sanji masuk ke paru-parunya, memberi sedikit keberanian. Ia membuka jurnalnya. Tangannya tidak lagi gemetar. Kali ini, ia tidak akan menuliskan strategi perang yang rumit.
"Apapun yang terjadi, dapur ini tidak boleh dingin."
Tepat setelah titik terakhir ditulis, sebuah ledakan sunyi menghantam lambung kapal. Warna-warna di luar jendela mendadak hilang, berubah menjadi putih total. Musuh telah tiba, namun kru Topi Jerami tetap pada posisinya.
Sanji masih memotong bawang. Zoro masih mengasah pedang. Dan Saitama... Saitama baru saja mengambil sumpitnya.
"Waktunya makan," gumam Saitama sambil berdiri perlahan, matanya menatap pintu yang perlahan mulai retak oleh kekuatan dimensi. "Dan setelah itu, aku akan menghapus siapa pun yang mengganggu waktu makanku."
Mencampur bau masakan (nyaman) dengan ancaman penghapusan dimensi (gelisah).
