Cherreads

Chapter 184 - BAB 175: SEMPURNA

Perjalanan menuju Pulau Logue dari Kehampaan adalah tentang persiapan. Kai menyadari bahwa kekuatan "Editor" memiliki potensi besar, namun juga risiko. Sementara itu, Saitama yang kebosanan mulai memikirkan "Atasan" yang mengawasi mereka.

​Di tengah laut yang tenang, Kai duduk bersila di dek, tangannya memegang pedang pena emasnya. Ia menatap Zoro yang sedang berlatih menebas air laut.

​"Zoro, aku ingin mencoba sesuatu," ucap Kai. "Aku akan mencoba 'mengedit' kekuatanmu agar kau bisa menebas dimensi. Ini akan sangat berguna jika kita menghadapi dinding yang tidak bisa ditembus."

​Zoro menyeringai. "Kedengarannya keren. Lakukan saja, tapi jangan sampai aku berubah jadi monyet."

​Kai berkonsentrasi, menuliskan kode-kode emas di udara di sekitar Zoro. "Zoro's Dimensional Slash: Unlock!"

​Seketika, aura Haki Zoro berubah menjadi ungu keperakan. Ia mengayunkan pedangnya. Fwuuuush! Sebuah celah dimensi terbuka di udara, menampakkan pemandangan sejenak dari sebuah kedai ramen di Tokyo! Aroma kaldu miso langsung menyeruak memenuhi dek.

​"Wah! Ramen!" teriak Luffy.

​"Tunggu! Itu belum selesai!" Kai panik.

​Alih-alih menutup celah dimensi, Zoro justru tidak bisa mengendalikan "pintu" dimensi itu. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, celah dimensi baru terbuka dengan efek samping yang... menggelikan.

​SREEEET! Celah dimensi kedua terbuka, memperlihatkan Sanji muda yang sedang belajar menari balet di dapur Baratie. Sanji di dunia nyata langsung pingsan karena malu.

​SREEEET! Celah dimensi ketiga terbuka, menampakkan Nami yang sedang menimbun tumpukan emas di gua rahasia. Nami langsung mengamuk dan mengejar Zoro.

​"Sial! Aku tidak bisa mengendalikannya!" teriak Zoro sambil berlari menghindari Nami. "Setiap tebasan membuat pintu ke memori-memori tersembunyi kita!"

​Kai menghela napas. "Oke, efek sampingnya adalah... kau tidak bisa menebas dimensi secara acurat. Kau hanya bisa membuka 'Jendela Menuju Ingatan Tak Sadar' kru!"

​"ITU JUSTRU LEBIH PARAH, BODOH!" teriak Zoro yang kini dikejar oleh sebuah Sea King yang entah dari mana muncul karena celah dimensi yang terbuka ke zaman purba.

​Sementara kru lain panik, Saitama duduk sendirian di haluan kapal, memegang surat dari "Atasan" yang ia terima tadi.

​"Atasan ya..." gumam Saitama. "Aku tidak peduli kau siapa, tapi kau mengganggu jam tidurku dan merusak suasana hati si kacamata. Itu tidak keren."

​Saitama melompat ke udara, memusatkan Haki di tangannya. Ia mencoba "merasakan" sinyal pengirim pesan itu. Dengan kekuatan Haki-nya yang kini bercampur dengan energi emas, ia bisa merasakan 'Aliran Konsep' dari pesan itu.

​"Sinyalnya... berasal dari 'awal' dari semua ini. Tempat yang sangat kuno. Rasanya seperti... sebuah laptop raksasa yang sudah berumur ribuan tahun," pikir Saitama.

​Saitama mengepalkan tinjunya yang dilapisi Haki emas. Ia tidak akan memukul "Atasan" itu secara fisik. Ia akan memukul "Konsep" dari pesan itu sendiri.

​"SERIOUS SERIES: CONCEPT BREAKER!"

​Saitama melancarkan pukulan ke udara kosong. Pukulan itu tidak menciptakan gelombang kejut, melainkan gelombang 'Gangguan Logika'.

​Di suatu dimensi lain, di sebuah ruangan yang megah dan penuh dengan layar-layar kuno, seorang entitas berjubah putih yang disebut 'The Architect Prime' (Atasan dari The Origin) sedang memantau segala sesuatu.

​Tiba-tiba, pesan yang ia kirimkan ke Kai mendadak berubah menjadi: "Selamat atas promosi jabatanmu, Editor. Tapi ingat, setiap editor punya pisang yang bisa dimakan sewaktu-waktu."

​Architect Prime terdiam. "Apa? Pisang? Aku tidak menulis itu!"

Gangguan Jaringan Kosmik

​Di Thousand Sunny, Saitama menghela napas. "Nah, itu seharusnya bisa mengganggu jaringannya sebentar."

​"Saitama! Lihat!" teriak Nami sambil menunjuk ke arah langit.

​Seluruh jaringan komunikasi The Origin mendadak kacau. Pesan-pesan yang mereka kirimkan ke agen-agennya di berbagai dimensi berubah menjadi resep masakan, lirik lagu anak-anak, atau bahkan daftar belanjaan Sanji.

​"Haha! Pesan mereka jadi kacau balau!" Usopp tertawa terbahak-bahak.

​Kai tersenyum. "Kerja bagus, Saitama! Kau baru saja mengirimkan 'bug' ke sistem pusat The Origin!"

​"Bug?" Saitama mengangkat bahu. "Aku hanya kesal karena dia mengganggu si kacamata dan aku tidak suka diganggu saat sedang tidur."

Kru Topi Jerami akhirnya mendarat di Pulau Logue dari Kehampaan, namun karena gangguan Saitama, pulau itu kini penuh dengan "Error" realitas.

​Kemarahan Atasan Architect Prime menyadari bahwa bukan Kai yang mengganggu jaringannya, melainkan Saitama, dan kini fokus utamanya beralih pada Saitama.

​Zoro tidak bisa menutup portal memori itu, menyebabkan anggota kru lainnya ikut melihat memori rahasia mereka sendiri.

Pendaratan di Pulau Logue dari Kehampaan seharusnya menjadi momen yang serius dan dramatis, namun berkat pukulan "Concept Breaker" milik Saitama, realitas pulau itu kini terlihat seperti gim video yang rusak parah.

"Glitch Island"

​Saat Thousand Sunny mendekati pantai, pemandangan di depan mereka benar-benar kacau. Pohon-pohon di pulau itu terlihat seperti gambar 8-bit yang berkedip-kedip. Air laut di sekitar dermaga berubah menjadi warna ungu neon dengan teks mengambang bertuliskan:

[WATER_TEXTURE_NOT_FOUND].

​"Apa-apaan ini?!" teriak Nami sambil memegang kepalanya. "Log Pose-ku berputar ke arah yang tidak masuk akal! Utara sekarang ada di bawah!"

​Kai mengaktifkan mata Editor-nya. Ia melihat barisan kode yang tumpang tindih di seluruh pulau. "Saitama... sepertinya pukulanmu tadi merusak server pusat pulau ini. Realitas di sini sedang mengalami error sistem yang masif."

​Menginjakkan kaki di pasir, sensasinya sangat aneh. Luffy mencoba melompat, tapi bukannya mendarat, ia justru melayang di udara dengan gerakan yang patah-patah.

​"Sugoiii! Aku terbang tanpa sayap!" seru Luffy.

​"Bukan terbang, Luffy! Itu namanya lag!" Kai memperingatkan. "Jangan bergerak terlalu cepat, atau kau bisa terlempar keluar dari peta!"

​Zoro, yang masih memegang pedang dimensi-nya, mencoba menebas semak-semak yang menghalangi jalan. Bukannya terpotong, semak-semak itu justru berubah menjadi tumpukan bantal empuk dengan suara efek "Boing!".

​"Kenapa pedangku jadi begini?!" Zoro frustrasi. "Aku ingin memotong, bukan membuat perlengkapan tidur!"

​ Di sana, mereka melihat sosok-sosok yang seharusnya merupakan penjaga dari The Origin. Namun, karena gangguan Saitama, para penjaga ini yang dikenal sebagai The Sentinels kini bertingkah sangat aneh.

​Salah satu Sentinel raksasa yang seharusnya menyerang mereka justru berdiri diam sambil melakukan tarian "Chicken Dance" secara berulang-ulang.

Sentinel lainnya mencoba berbicara,

​"Ini... menyedihkan," gumam Saitama sambil menatap musuh-musuhnya. "Aku datang ke sini untuk pertarungan serius, bukan untuk melihat robot joget."

​Tiba-tiba, langit di atas pulau itu terbelah. Sebuah kursor raksasa berwarna merah muncul dari awan, menunjuk langsung ke arah Saitama. Sebuah suara yang menggelegar dan sangat jengkel terdengar dari langit.

​[WARNING: ILLEGAL MODIFICATION DETECTED.]

[SENDER: THE ARCHITECT PRIME]

​"Saitama! Kau telah merusak draf suci kami dengan kekuatan kasarmu!" suara itu berteriak. "Pulau ini berisi sejarah asli dunia ini, dan kau mengubahnya menjadi taman bermain yang rusak!"

​Saitama menatap ke langit. "Oh, jadi kau 'Atasan' itu? Turunlah ke sini. Kita bicara soal kenapa kau terus mengirim pesan sampah ke teman-temanku."

Debug

​Architect Prime tidak turun secara fisik, melainkan ia memaksakan seluruh pulau untuk masuk ke "Debug Mode". Lingkungan sekitar mereka mendadak berubah menjadi ruang hitam hampa yang hanya berisi garis-garis kisi (grid) hijau.

​"Jika kalian ingin sejarah asli ini kembali," tantang Sang Architect, "Kalian harus mengalahkan 'The Final Draft' dari diri kalian sendiri!"

​Dari kegelapan muncul lima sosok bayangan yang merupakan versi "Sempurna" dari Luffy, Zoro, Sanji, Saitama, dan Kai versi di mana mereka tidak pernah memiliki kelemahan, namun sepenuhnya patuh pada sistem.

​"Kalian akan melawan diri kalian yang paling efisien," Architect Prime tertawa dingin.

​Saitama hanya mengepalkan tangannya. "Bagus. Aku paling benci melawan orang yang tidak punya emosi. Rasanya seperti memukul tembok."

​ Luffy harus membuktikan bahwa kreativitas dan kebodohannya lebih kuat daripada efisiensi sistem.

Kai mencoba "menghapus" musuh-musuh bayangan ini secara langsung, namun ia harus beradu cepat dengan kursor milik Architect.

Zoro secara tidak sengaja menebas "Draf Sejarah" dan melihat siapa sebenarnya yang menciptakan One Piece di dunia ini.

​SEMPURNA.

More Chapters