Transisi dari seorang "Dewa Penulis" yang mengamati dari balik layar menjadi kru yang harus mencuci piring dan berjaga malam adalah kejutan budaya terbesar bagi Kai. Namun, bagi Saitama, kehilangan sedikit kekuatan justru menjadi awal dari petualangan sensorik yang aneh.
"Juru Tulis dan Pengatur Takdir"
Sudah satu minggu sejak pertempuran melawan armada sistem. Kai kini memiliki rutinitas baru. Setiap pagi, ia tidak lagi terbangun di depan layar komputer, melainkan oleh teriakan Luffy yang meminta sarapan.
"Kai! Tuliskan agar ikan-ikan Sea King ini langsung melompat ke dek!" teriak Luffy sambil memegang pancingan.
Kai, yang masih mengenakan perban di dadanya, tersenyum kecut. "Luffy, aku sudah bilang, setiap baris kalimat yang kutulis memakan umurku. Kau ingin aku mati hanya demi ikan?"
"Eeeh?! Pelit sekali!" Luffy memanyunkan bibirnya.
Meskipun Kai tidak bisa sembarangan mengubah realitas, ia beradaptasi dengan cara lain. Ia menjadi Log-Keeper resmi. Dengan pena emas di telapak tangannya, ia mencatat setiap petualangan mereka. Ajaibnya, apa pun yang ia catat dengan jujur di buku jurnalnya, akan memberikan "Buff" kecil bagi kru. Jika ia menulis bahwa 'Semangat Zoro hari ini sangat membara', maka latihan Zoro akan dua kali lebih efektif.
Di sudut lain dek, Saitama sedang melakukan shadow boxing yang lambat. Ia tampak sangat bingung. Ia memandangi tangannya yang biasanya mati rasa terhadap segala hal.
"Oi, Penulis," panggil Saitama. "Ada yang aneh. Tadi saat koki mesum itu mencoba menendangku karena aku mencuri kentang goreng, aku merasakannya."
"Merasakan apa? Tendangannya sakit?" tanya Kai heran.
"Bukan sakit... tapi aku 'melihat' arah tendangannya sebelum dia bergerak. Ada semacam garis hitam yang muncul di kepalaku. Dan tanganku... rasanya kesemutan," Saitama mengepalkan tinjunya.
Tiba-tiba, lengan Saitama berubah menjadi hitam mengkilap. Bukan karena debu, tapi karena Busoshoku Haki yang bangkit secara spontan akibat sel-sel tubuhnya yang kini "melemah" hingga bisa beresonansi dengan energi dunia One Piece.
"Wah! Tangan Paman Botak jadi seperti besi!" seru Chopper sambil menyentuhnya. "Dingin sekali!"
Zoro yang melihat fenomena itu langsung mendekat dengan wajah serius. "Itu Haki, Saitama. Sepertinya karena kekuatanmu turun, tubuhmu mulai mengkompensasi dengan menyerap energi dari alam sekitar.
Kau baru saja membangkitkan Kenbunshoku (penglihatan) dan Busoshoku (pengerasan) secara bersamaan."
Saitama menggaruk kepalanya. "Haki ya? Jadi ini alasan kenapa kalian bisa memukul orang tanpa menghancurkan seluruh pulau? Kalau aku pakai ini, apa aku bisa memukul nyamuk tanpa merusak tembok?"
Zoro menyeringai. "Mungkin saja. Kau ingin mencoba berduel?"
"Boleh," jawab Saitama datar. "Tapi jangan salahkan aku kalau pedangmu jadi bengkok."
Kai juga harus belajar bela diri dasar dari Sanji karena ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan pena emasnya.
"Dengar, Kai," ucap Sanji sambil mengaduk sup. "Pena itu adalah kartu as-mu. Tapi di lautan ini, kau butuh kaki dan tangan untuk bertahan hidup saat kau sedang tidak ingin 'menulis'. Cobalah iris bawang ini dengan kecepatan konstan."
Kai menyadari bahwa hidup di Thousand Sunny adalah tentang keseimbangan. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan bersama Robin, mencoba meneliti tentang "Origin" yang sempat disebutkan sistem.
"Kai," Robin berbisik sambil membalik halaman buku tua. "Tato di tanganmu... polanya mirip dengan simbol yang ditemukan di Poneglyph tersembunyi. Sepertinya 'Origin' yang mencarimu bukan berasal dari duniamu, tapi dari pencipta awal dunia ini sendiri."
Malam itu, saat Kai sedang berjaga di menara pengawas, langit yang bertabur bintang mendadak berubah menjadi kertas putih yang kosong. Sebuah suara tanpa emosi bergema langsung di pikiran Kai.
"Penulis Gadungan... Kau telah mencuri tinta dari keabadian untuk menyelamatkan mainanmu (Garou). Kembalikan pena itu, atau kami akan menghapus warna dari dunia ini."
Tiba-tiba, separuh dari Thousand Sunny berubah menjadi hitam-putih, kehilangan semua warnanya. Luffy yang sedang tidur mendadak terlihat seperti gambar sketsa kasar.
"Saitama! Zoro! Bangun!" teriak Kai.
Saitama melompat ke atas menara pengawas dengan kecepatan yang kini lebih "terukur" namun lebih presisi berkat Haki-nya. Ia menatap langit yang putih. "Oi, siapa yang mematikan warnanya? Aku sedang bermimpi makan udang tempura yang sangat merah!"
Saitama memukul udara kosong dengan tangan hitam Haki-nya. "HAKIIII... PUNCH!"
KRAAAKKKK!
Langit yang putih itu retak, memperlihatkan mata raksasa yang sedang mengintip dari dimensi lain. Itulah salah satu dari The Origin.
Saitama menyadari bahwa dengan Haki, ia bisa memukul benda-benda abstrak seperti "Konsep" atau "Suara".
Kai harus menulis sesuatu yang berbahaya untuk mengembalikan warna dunia, namun risikonya ia akan jatuh koma.
Suasana di atas Thousand Sunny menjadi sangat surealis dan mengerikan. Dunia yang tadinya penuh warna cerah khas Grand Line kini berubah menjadi sketsa pensil yang kasar. Lautan tidak lagi biru, melainkan hanya arsiran garis-garis hitam yang dingin.
Luffy menatap tangannya yang memudar menjadi abu-abu. "Kai... rasanya aneh. Aku tidak merasa lapar lagi. Aku tidak merasa... ingin jadi Raja Bajak Laut."
Kai menyadari bahayanya.
The Origin tidak hanya menghapus warna secara fisik, mereka menghapus "Semangat" (Vibrancy) dari setiap karakter. Jika dibiarkan, kru Topi Jerami akan menjadi gambar mati yang diam di atas kertas.
"Mereka mencuri esensi cerita ini," bisik Kai. Ia melihat pena emas di telapak tangannya berdenyut dengan cahaya merah peringatan.
Gandron memegang bahu Kai. "Jangan, Kai! Jika kau menulis untuk melawan The Origin, kau tidak hanya memberikan energi, kau memberikan 'Kesadaran'-mu. Kau akan terjebak dalam tidur panjang tanpa akhir!"
"Jika aku tidak melakukannya, mereka semua akan menjadi coretan tak bermakna!" balas Kai. Ia menatap Saitama yang juga mulai kehilangan warna kuning pada jubahnya.
Saitama mengepalkan tinjunya yang kini dilapisi Haki hitam pekat. "Oi, Kai. Aku bisa memukul mata raksasa di langit itu, tapi aku tidak bisa mengembalikan warna mereka. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu saat kau melakukannya."
Terlarang: "Re-Coloring the World"
Kai menggigit jarinya hingga berdarah, lalu mencampurkan darahnya dengan cahaya emas dari penanya. Ia mulai menulis di udara, namun kali ini bukan di atas dek, melainkan langsung pada "Kenyataan" yang sedang memudar.
"DUNIA INI BUKANLAH KERTAS KOSONG. IA ADALAH LUKISAN ABADI YANG DIWARNAI OLEH DARAH, KERINGAT, DAN IMPIAN. KEMBALIKAN WARNA PADA MEREKA YANG BERANI BERMIMPI!"
Setiap kata yang ditulis Kai terasa seperti menarik paksa saraf-saraf di otaknya. Penglihatannya mulai menggelap. Ia bisa merasakan jiwanya tersedot masuk ke dalam tinta emas tersebut.
Ledakan Spektrum
Tiba-tiba, dari ujung pena Kai, meledaklah spektrum warna yang luar biasa dahsyat. Warna merah tua menyambar jubah Luffy, hijau zamrud kembali ke rambut Zoro, dan kuning terang menghantam Saitama.
Mata raksasa di langit menjerit dengan suara frekuensi tinggi yang memecahkan kaca-kaca di kapal. Gelombang warna itu menghantam dimensi The Origin, memaksa mereka mundur kembali ke kegelapan.
"DAPAT KAU!" teriak Saitama. Dengan bantuan warna yang dikembalikan Kai, Saitama bisa melihat "Fisik" dari entitas tersebut. Ia melompat tinggi, melapisi seluruh tubuhnya dengan Haki yang kini bercampur dengan aura emas sisa tulisan Kai.
"SERIOUS SERIES: COLORFUL IMPACT!"
Pukulan Saitama bukan lagi sekadar tekanan udara, tapi ledakan realitas yang menutup lubang dimensi tersebut secara paksa.
Saat warna kembali sempurna ke seluruh Grand Line, Kai ambruk. Pena emas di tangannya meredup hingga menjadi warna perak mati. Matanya terbuka, namun pupilnya putih tanpa ekspresi.
"Kai!" Tianyang menangkapnya. Ia memeriksa napas Kai. "Dia masih hidup... tapi jiwanya tidak ada di sini. Dia terjebak di dalam 'Ruang Penulisan' miliknya sendiri."
Chopper berlari membawakan peralatan medis, namun ia menggeleng lemah. "Ini bukan luka fisik. Dia sedang koma secara eksistensial. Aku tidak tahu kapan dia akan bangun... atau apakah dia bisa bangun."
Luffy berdiri di samping tempat tidur Kai di ruang medis. Wajahnya serius, tidak ada tawa. Ia meletakkan topi jeraminya di atas dada Kai sebentar, seolah memberikan kekuatannya.
"Dia sudah menyelamatkan kita berkali-kali," ucap Luffy. "Sekarang, kita yang akan menjaganya. Kita akan terus berlayar, dan kita akan menemukan cara untuk menjemput jiwanya kembali."
Saitama bersandar di pintu, menatap tangannya yang kini memiliki sisa-sisa pola emas. "Aku bisa merasakan sedikit sisa kesadarannya di sini. Dia bilang... 'Teruslah berjalan'."
Tidur Panjang Sang Arsitek Takdir
Thousand Sunny kembali membelah ombak. Namun kini, ada kursi kosong di dek tempat biasanya Kai duduk menulis.
Di dalam dunia bawah sadarnya, Kai terbangun di sebuah perpustakaan tanpa batas. Di sana, ia melihat Garou yang sedang duduk menunggunya di salah satu meja.
"Jadi, kau akhirnya sampai di sini juga, Penulis," ucap Garou dengan tenang. "Selamat datang di ruang antara realitas. Sepertinya kita punya banyak waktu untuk merencanakan bagaimana cara menghancurkan The Origin yang sebenarnya."
Saitama sebagai "Juru Bicara": Karena memiliki sisa energi emas, hanya Saitama yang bisa mendengar bisikan Kai dari dunia koma.
Kembalinya Garou di dunia
Pemandangan di balik pintu memori ini benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah dilihat oleh Robin dan Zoro. Tidak ada lautan biru, tidak ada kapal, dan tidak ada keajaiban. Yang ada hanyalah sebuah kamar sempit yang remang-remang, penuh dengan tumpukan mie instan kosong dan kaleng kopi.
Robin melangkah dengan hati-hati ke dalam ruangan itu. Di sana, seorang pria Kai dalam versi manusia biasa sedang duduk membungkuk di depan sebuah layar bercahaya. Matanya merah karena kurang tidur, dan jari-jarinya bergerak dengan kecepatan gila di atas papan ketik.
"Itu... Kai?" bisik Zoro, tangannya yang secara insting memegang pedang perlahan mengendur. Ia melihat Kai yang asli tampak sangat rapuh. Tidak ada pena emas, tidak ada kekuatan arsitek. Hanya seorang pria yang tampak kelelahan.
Mereka melihat ke layar laptop Kai. Di sana, baris-baris kalimat muncul:
"Zoro tidak akan menyerah di sini. Dia akan bangkit kembali, karena dia adalah pendekar pedang terkuat..."
"Luffy harus menang, demi senyum teman-temannya..."
"Dia sedang... menciptakan kita?" gumam Robin, matanya berkaca-kaca. Ia melihat bagaimana Kai di dunia nyata itu terbatuk, memegangi dadanya yang sakit, namun tetap menolak untuk berhenti menulis.
Dalam memori itu, mereka melihat Kai yang asli berbicara pada dirinya sendiri: "Sedikit lagi... aku harus membuat akhir yang bahagia untuk mereka. Aku tidak peduli jika aku tidak tidur tiga hari, mereka harus selamat dari Sistem itu."
Zoro terdiam. Selama ini ia mengira Kai hanyalah seorang rekan yang memiliki kekuatan aneh. Namun sekarang ia sadar, setiap kemenangan yang mereka raih, setiap luka yang sembuh, adalah hasil dari perjuangan mental Kai yang mempertaruhkan kesehatannya di dunia lain.
"Dia bukan hanya sekadar penulis," ucap Zoro dengan nada hormat yang dalam. "Dia adalah orang yang bertarung paling keras di antara kita semua, tanpa pernah mengangkat pedang."
Tiba-tiba, dinding kamar itu mulai retak. Warna-warna memori mulai memudar menjadi putih abu-abu. The Great Eraser (Penghapus Raksasa) telah menemukan lokasi memori inti ini dan mulai menghapus keberadaan "Kai Dunia Nyata".
"Tidak! Jangan biarkan memori ini hilang!" teriak Robin. Jika memori ini terhapus, identitas Kai sebagai manusia akan musnah, dan ia akan menjadi wadah kosong bagi The Origin.
Zoro mencabut pedangnya, namun pedangnya terasa sangat ringan, hampir transparan. "Sial! Di dunia ini, kekuatan fisikku tidak berguna!"
Tiba-tiba, suara Saitama bergema di seluruh ruangan, memancar dari telapak tangan Zoro yang masih memiliki sisa energi emas.
"Oi, Zoro! Robin! Jangan cuma berdiri di sana!" suara Saitama terdengar datar tapi mendesak. "Kai bilang... di dunia itu, kalian tidak butuh pedang besi. Kalian butuh 'Makna'. Jika kau menganggap pedangmu adalah 'Harapan Kai', maka dia akan bisa memotong apa saja!"
Zoro menyeringai. Ia memejamkan matanya, membayangkan semua kata-kata penyemangat yang pernah ditulis Kai untuknya. Pedangnya mulai berpendar dengan api emas yang membara.
"Begitu ya... Jadi ini adalah pedang yang ia berikan padaku," ucap Zoro. "Santoryu: Pen-Stroke Slasher!"
Melindungi Sang Pencipta
Zoro menebas udara, dan serangan itu bukan hanya memotong, tapi "menuliskan" kembali dinding-dinding memori yang sempat terhapus. Sementara itu, Robin menggunakan kekuatannya untuk memunculkan ribuan tangan yang memeluk sosok "Kai Dunia Nyata", melindunginya dari kehampaan.
"Kai," bisik Robin di telinga sosok memori itu. "Terima kasih telah menuliskan kami ke dalam hidupmu.
Sekarang, bangunlah. Kami di sini untuk membawamu pulang ke dunia yang penuh warna."
Di luar pintu, Luffy (dalam mode Gear 5) sedang menahan kaki besar sang Penghapus Raksasa agar tidak menginjak ruangan tersebut.
"CEPATLAH! AKU TIDAK BISA MENAHAN KARET PENGHAPUS INI SELAMANYA! DIA SANGAT KENYAL!"
Kai dunia nyata dan Kai dunia One Piece menyatu, memberikan kekuatan "Editor" kepada Kai untuk menghapus sang Penghapus secara permanen.
Kemunculan Origin Pertama Salah satu entitas The Origin turun langsung ke dunia bawah sadar untuk menghentikan mereka.
Sebelum mereka keluar, Kai memberikan sebuah rahasia kepada Robin tentang "Akhir dari Dunia One Piece" yang sebenarnya.
Di dalam kamar sempit di balik pintu memori itu, sebuah fenomena yang melampaui logika fiksi terjadi. Sosok Kai dunia nyata yang sedang duduk di depan laptop perlahan menoleh ke arah Robin dan Zoro. Saat mata mereka bertemu, sosok itu mulai bercahaya keemasan dan melayang, menembus dinding memori menuju pusat alam bawah sadar tempat raga Kai dunia One Piece terbelenggu.
"Aku adalah imajinasinya... dan dia adalah jiwaku," bisik kedua Kai secara bersamaan.
Saat kedua sosok itu bersentuhan, sebuah ledakan informasi yang murni menyapu seluruh ruang bawah sadar. Kai tidak lagi terlihat lemas. Ia berdiri tegak, mengenakan jubah putih panjang yang dipenuhi barisan kode emas yang mengalir. Di tangan kanannya, pena emas kini berubah bentuk menjadi sebilah pedang ramping berbentuk bulu pena The Editor's Blade.
[STATUS: PENYATUAN SEMPURNA.]
[OTORITAS BARU: "EDITOR MODE" AKTIF. ANDA KINI MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MENGHAPUS APA PUN YANG TIDAK RELEVAN DALAM NARASI INI.]
Di luar, Luffy hampir kehabisan napas menahan tekanan The Great Eraser yang raksasa. "Ugh! Aku merasa... kakiku mulai hilang!" teriak Luffy saat bagian bawah tubuhnya berubah menjadi sketsa pensil.
Tiba-tiba, Kai muncul di atas kepala Luffy. Wajahnya sangat tenang, matanya berwarna perak cemerlang.
"Kau bukan bagian dari cerita yang aku tulis," ucap Kai dengan suara yang bergema seperti ribuan narator. "Penghapus, aku menyatakanmu sebagai 'Kesalahan Tipografi'."
Kai menggerakkan jarinya secara horizontal di udara, seolah sedang memblok teks di layar komputer. Muncul barisan kotak biru transparan yang menyelimuti raksasa penghapus itu.
"DELETE."
SREEEET!
Tanpa ledakan, tanpa suara, raksasa penghapus itu terurai menjadi abu digital dan menghilang selamanya dari pikiran Kai. Realitas di sekitar mereka mendadak kembali berwarna dan stabil.
Di atas Thousand Sunny, raga Kai yang tadinya kaku mendadak menarik napas panjang. Mata emasnya terbuka lebar, mengeluarkan gelombang kejut yang membuat seluruh kapal berguncang pelan.
Saitama yang sedang memegang dahi Kai segera menarik tangannya. "Wah, si kacamata bangun dengan gaya yang sangat keren. Oi, Kai, apa kau sudah sadar?"
Kai duduk perlahan, menatap telapak tangannya. Kekuatan "Editor" masih berdenyut di sana. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang baru saja kembali dari dunia astral ke raga mereka masing-masing.
"Terima kasih, semuanya," ucap Kai dengan senyum yang jauh lebih dewasa. "Kalian menyelamatkanku dari diriku sendiri."
"The World Script"
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Kai menatap ke arah laut lepas. Dengan kekuatan Editor-nya, ia kini bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain: Garis Takdir. Ia melihat bahwa di setiap pulau yang akan mereka kunjungi, sudah ada "Naskah" yang disiapkan oleh The Origin untuk menghancurkan mereka.
"Luffy," panggil Kai. "Mulai sekarang, petualangan kita tidak akan sama lagi. Kita tidak hanya melawan bajak laut atau pemerintah dunia. Kita akan melawan 'Alur Cerita' itu sendiri."
Luffy memiringkan kepalanya, lalu tertawa lebar. "Melawan naskah? Kedengarannya seperti petualangan yang sangat bebas! Shishishi!"
Misi Pertama Sang Editor
Kai menggunakan kekuatannya untuk memunculkan sebuah peta baru di meja navigasi Nami. Peta itu tidak statis; gambarnya terus berubah-ubah sesuai dengan "Editan" Kai.
"Tujuan kita berikutnya adalah Pulau Logue dari Kehampaan," ujar Kai. "Di sana, The Origin menyimpan 'Draf Asli' dari dunia ini. Jika kita bisa mengubah draf itu, kita bisa membebaskan dunia One Piece dari kendali siapa pun, termasuk sistem."
Saitama menguap sambil meregangkan ototnya. "Jadi, intinya kita pergi ke sana untuk menghajar orang-orang yang mengatur hidup kita?
Kedengarannya simpel. Aku ikut."
Tiba-tiba, dari kejauhan, sebuah burung merpati pengantar berita mendarat. Namun, berita di dalamnya bukan tentang bounty, melainkan sebuah pesan singkat yang hanya bisa dibaca oleh Kai:
"Selamat atas promosi jabatanmu, Editor. Tapi ingat, setiap editor punya atasan yang bisa memecatnya sewaktu-waktu."
Pulau Logue dari Kehampaan ternyata berisi "Versi Alternatif" dari kru Topi Jerami yang jahat.
Kai mencoba "mengedit" kekuatan Zoro agar bisa menebas dimensi, namun ada efek samping yang lucu.
Saitama mulai bosan dan mencoba mencari tahu siapa "Atasan" yang mengirim pesan tersebut.
