Cherreads

Chapter 182 - Bab 173: THE ORIGIN

Suasana di atas Thousand Sunny menjadi sangat menyesakkan. Atmosfernya terbelah menjadi dua.

kehangatan palsu antara Luffy dan Garou, serta kemurkaan murni dari kru lainnya. Kai hanya bisa terpaku melihat bagaimana sistem mempermainkan kerinduan terdalam seseorang.

​Garou terdiam saat Luffy merangkul bahunya. Di dunianya, ia selalu menjadi "Monster" yang diburu, orang buangan yang hanya mengenal kebencian. Namun di sini, di bawah pengaruh sistem, Luffy menatapnya dengan binar mata yang sama seperti saat Luffy menatap Ace atau Sabo.

​"Jadi begini rasanya... punya seseorang yang memanggilmu 'Kakak' tanpa rasa takut?" batin Garou. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini adalah manipulasi sistem.

Namun, kekosongan di hatinya selama bertahun-tahun membuat Garou egois. Ia tidak ingin melepaskan perasaan ini.

​"Siapa pun yang mengganggu adikku..."

Garou mengangkat wajahnya, auranya berubah menjadi biru kosmik yang menekan seluruh dek. "...akan kuhapus dari peta bintang ini."

​"LUFFY! SADARLAH!" teriak Zoro sambil melesat maju.

​Zoro melapisi ketiga pedangnya dengan Haoshoku Haki tingkat tinggi. Udara di sekitarnya berderit hitam. "Santoryu: Ichidai Sanzen Daiten Sekai!"

​Namun, sebelum serangan itu sampai, Luffy melompat ke depan Garou untuk melindunginya. Luffy menggunakan Gear 4: Snakeman. "Gomu Gomu no... Jet Culverin!"

​BOOOOOM!

​Tinju Luffy beradu dengan pedang Zoro. Ledakan energi itu membuat kapal berguncang hebat. Zoro terlempar ke belakang, matanya penuh rasa tidak percaya.

"Kau... kau benar-benar memukulku demi monster itu, Luffy?!"

​"Dia bukan monster! Dia saudaraku!" raung Luffy, matanya berkaca-kaca namun tatapannya kosong, ciri khas seseorang yang jiwanya sedang dikunci oleh sistem.

​Saitama berdiri di tengah kekacauan, memperhatikan Garou. Ia bisa melihat Garou sedang "menikmati" peran ini.

​"Oi, Garou," ucap Saitama dengan suara datarnya yang tiba-tiba terasa sangat berat. "Kau tahu ini bohong. Kau tahu kau sedang mencuri kasih sayang yang bukan milikmu. Apa kau benar-benar serendah itu sampai butuh sihir sistem untuk punya teman?"

​Garou menggertakkan gigi. "Diam kau, Botak! Kau tidak pernah tahu rasanya dibenci oleh seluruh dunia!"

​Garou melesat ke arah Saitama dengan kecepatan cahaya. "All Life Eradication Fist!"

​Saitama tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, menahan tinju kosmik Garou dengan telapak tangan terbuka.

Dampaknya menciptakan gelombang kejut yang membelah lautan Grand Line hingga bermil-mil jauhnya.

​Kai melihat bahwa setiap kali Luffy menyerang teman-temannya, layar sistem di depan mata Kai memberikan skor [SYNC: 90%]. Jika mencapai 100%, Luffy akan selamanya menjadi "Adik" Garou dan memori aslinya akan terhapus total.

​"Aku harus melakukan sesuatu... tapi pena kayuku mati!" Kai menoleh ke arah Tianyang. "Tianyang! Gunakan kekuatan Void-mu untuk menciptakan ruang hampa di sekitar Luffy! Kita harus memutus sinyal sistem yang masuk ke otaknya!"

​Tianyang mengangguk, ia menghunus pedangnya. "Void Domain: Silence!"

​Sebuah kubah hitam menyelimuti Luffy dan Garou. Di dalam kubah itu, suara dan sinyal sistem mendadak statis

​Di dalam domain Void, pengaruh sistem sedikit melemah. Luffy memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. "Ugh... Kakak Garou... kenapa... kenapa Zoro menyerangku?"

​Garou melihat Luffy yang kesakitan. Hati nuraninya mulai berperang. Jika ia membiarkan ini berlanjut, Luffy akan menjadi boneka demi kebahagiaan semu Garou.

​"Luffy..." Garou berbisik, suaranya kembali normal. "Aku bukan kakakmu. Aku adalah monster yang seharusnya kau kalahkan."

​Tepat saat itu, layar sistem di depan Kai berubah menjadi merah membara.

​[PERINGATAN! GAROU MENCOBA MEMUTUSKAN IKATAN! MENGAKTIFKAN PROTOKOL: "PENGHANCURAN SAUDARA"!]

Pilihan Terakhir Garou

​Sistem memaksa tubuh Garou untuk menyerang Luffy secara otomatis. Tangan Garou yang dilapisi energi nuklir bergerak sendiri menuju dada Luffy.

​"TIDAK! BERHENTI!" teriak Kai.

​Saitama melihat itu. Ia tahu ia tidak bisa memukul Garou (karena ancaman apartemennya), tapi ia bisa menjadi tameng. Saitama melesat di depan Luffy, membiarkan serangan nuklir Garou menghantam punggungnya tepat sasaran.

​DUUUUUUUUUMMMMM!

​Asap mengepul hebat. Jubah pahlawan Saitama hancur total, namun punggungnya tidak tergores sedikit pun.

​"Garou," Saitama menoleh sedikit ke belakang. "Jika kau benar-benar ingin menjadi kakaknya"

​Garou terpana. Ia melihat ke arah langit, ke arah layar sistem yang hanya dilihat oleh Kai. Tiba-tiba, Garou melepaskan seluruh energi kosmiknya ke arah langit secara acak.

​"SISTEM BRENGSEK! AMBIL KEMBALI KEKUATANMU! AKU TIDAK BUTUH SURGA PALSU!" raung Garou.

​Garou kembali menjadi manusia biasa dan pingsan. Luffy tersadar namun ia sangat sedih karena ia "merasakan" kehilangan seorang saudara meskipun itu palsu.

​Karena Garou memberontak, sistem menggabungkan tubuh Garou dan Luffy menjadi satu entitas monster raksasa yang tidak terkendali!

​Pena Kayu Kai Bangkit, Melihat pengorbanan Garou, pena Kai berubah menjadi emas. Kai kini bisa menuliskan "Takdir Baru" untuk Garou di dunia One Piece.

Pemandangan di atas Thousand Sunny mendadak menjadi sangat sakral. Cahaya perak dari energi kosmik Garou yang meledak ke langit perlahan memudar, namun sisa-sisanya justru terserap ke dalam pena kayu di tangan Kai.

​Pena itu mulai bergetar hebat, mengeluarkan kerak-kerak kayu lamanya hingga memperlihatkan lapisan emas murni yang berpendar terang. Kai merasakannya kekuatan untuk benar-benar melawan otoritas Sistem.

​[NOTIFIKASI SISTEM: PERINGATAN! DETEKSI INSTRUMEN LEVEL ILIAD! USER KAI TELAH MENCAPAI TAHAP "PENULIS SEJATI"!]

[SISTEM: KAI, JANGAN LAKUKAN ITU! JIKA KAU MENULIS TAKDIR BARU UNTUK GAROU, KAU AKAN MEMUTUSKAN RANTAI LOGIKA MULTIVERSE!]

​"Aku sudah muak dengan rantaianmu, Sistem!" teriak Kai. Ia mengangkat pena emasnya tinggi-tinggi. "Garou memberikan segalanya untuk melepaskan kebahagiaan semunya demi Luffy. Sekarang, giliranku memberikan tempat yang layak untuknya!"

​Kai mulai menulis di udara, bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan benang-benang cahaya emas yang menjahit robekan realitas di sekitar kapal.

​Kai menuliskan kalimat-kalimat yang bergetar dengan kekuatan penciptaan.

"DI DUNIA INI, GAROU BUKANLAH MONSTER. IA ADALAH 'SANG PENGEMBARA LANGIT' SEORANG MANUSIA YANG MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MELINDUNGI MEREKA YANG TERBUANG. IA TIDAK TERIKAT OLEH SISTEM, TIDAK TERIKAT OLEH KEBENCIAN. IA ADALAH JIWA BEBAS DI BAWAH BENDERA KEADILANNYA SENDIRI."

​Seketika, aura ungu gelap yang menyiksa tubuh Garou lenyap. Tubuhnya yang tadinya retak karena tekanan kosmik mulai menyatu kembali, namun kali ini terlihat lebih manusiawi. Zirah kosmiknya hancur, menyisakan pakaian beladiri hitam yang sederhana namun elegan.

​Efek dari tulisan Kai langsung menghantam Luffy. Ikatan saudara palsu yang dipaksakan sistem pecah seperti kaca. Luffy terhuyung, memegangi kepalanya, lalu menatap Garou yang tergeletak lemas di dek...

​"Kakak... eh, bukan," Luffy berkedip, ingatannya kembali jernih. "Garou! Kau... kau tadi mencoba menyelamatkanku dari benda biru itu?"

​Garou membuka matanya perlahan. Ia merasa ringan. Beban kebencian dari dunianya dan manipulasi dari sistem telah hilang. Ia menatap Kai dengan tatapan penuh tanya. "Apa yang kau lakukan pada tubuhku, Penulis?"

​"Aku memberimu kesempatan," jawab Kai sambil mengatur nafasnya yang tersengal. "Di dunia One Piece ini, kau punya identitas baru. Kau bukan lagi Pemburu Pahlawan. Kau adalah dirimu sendiri."

​ Pahlawan ​Saitama berjalan mendekat, ia memungut kain pelnya yang sempat ia lempar. "Yah, sepertinya kau sudah lebih baik, Garou. Wajahmu tidak lagi terlihat seperti pantat panci yang gosong."

​Garou berdiri dengan tenang. Ia merasakan kekuatannya masih ada, namun bukan lagi kekuatan nuklir yang merusak, melainkan kekuatan murni bela diri yang selaras dengan alam Grand Line.

​"Luffy!" Zoro mendekat, pedangnya sudah disarungkan namun matanya tetap waspada. "Apa kau sudah sadar sepenuhnya?"

​"Shishishi! Maaf semuanya! Tadi rasanya seperti sedang bermimpi indah tapi mencekam," Luffy tertawa lebar, lalu menoleh ke arah Garou. "Hei, Garou!

Meskipun kau bukan kakakku secara ajaib, kau tetap orang yang hebat! Bagaimana kalau kau ikut berlayar bersama kami sebentar?"

​ Aliansi Terkuat Terbentuk

​Tiba-tiba, suara Gandron (Sang Arsitek) memecah suasana. "Jangan bersenang-senang dulu.

Kata Kai Sistem tidak akan membiarkan 'kesalahan' sebesar ini terjadi tanpa pembersihan total. Lihat ke arah Horizon!"

​Di ufuk laut, ribuan kapal perang Angkatan Laut muncul, namun mereka tidak membawa bendera Pemerintah Dunia. Mereka membawa bendera Sistem Biru. Para Marine di atasnya telah berubah menjadi zombi digital tanpa jiwa yang dikendalikan langsung oleh pusat data sistem.

​"Mereka datang untuk menghapus kita secara fisik," ucap Tianyang, berdiri di samping ibunya.

​Kai menatap pena emasnya yang masih bersinar. "Saitama, Garou, Luffy, Tianyang...

​"Satu pertanyaan terakhir," ucap Saitama. "Jika aku menghancurkan semua kapal itu, apakah apartemenku tetap aman?"

​"Tentu saja!" teriak Kai. "Karena aku sudah menuliskan bahwa apartemenmu adalah 'Zona Terlarang' bagi Sistem!"

​"Bagus," Saitama menyeringai tipis. "Ayo kita selesaikan ini dalam satu detik."

Suasana di atas Thousand Sunny yang tadinya penuh semangat tempur mendadak berubah menjadi kepanikan moral. Di tengah gempuran armada sistem yang mendekat, Kai jatuh berlutut. Kulitnya pucat pasi, dan pembuluh darah di tangannya yang memegang pena emas mulai terlihat berwarna emas redup sebuah tanda bahwa pena itu bukan sekadar menguras energi, tapi sedang "memakan" jiwa sang penulis untuk mempertahankan realitas baru Garou.

​"Kai!" Tianyang adalah yang pertama menangkap tubuh Kai sebelum menghantam dek. "Hentikan! Kau memaksakan kehendakmu pada hukum alam semesta! Pena itu... dia menghisap hidupmu!"

​Kai terbatuk, darah berwarna emas menetes dari bibirnya. Ia menatap pena emas di tangannya yang masih bersinar terang. "Jika aku... berhenti sekarang... tulisan itu akan terhapus. Garou akan kembali menjadi monster... dan Sistem akan menang. Aku harus... menyelesaikannya..."

​Gandron mendekat dengan wajah muram. "Menulis takdir baru bagi entitas sekuat Garou membutuhkan energi yang setara dengan penciptaan bintang. Kai, kau manusia biasa. Kau tidak akan bertahan sampai armada itu hancur."

Kemarahan Pahlawan Terkuat

​Saitama berhenti berjalan menuju haluan kapal. Ia menoleh dan melihat Kai yang sekarat. Wajah datar Saitama menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang jarang ia perlihatkan.

​"Oi, Penulis," suara Saitama berat dan bergema. "Jangan mati dulu. Kau belum melihatku membuang sampah, kan?"

​Saitama menatap armada kapal sistem di cakrawala. Ribuan kapal perang itu kini melepaskan tembakan laser biru secara bersamaan, mengubah langit menjadi jaring kematian.

​"Luffy! Garou! Anak Pedang!" Saitama berteriak tanpa menoleh. "Lindungi si kacamata ini. Jangan biarkan satu pun serangan menyentuhnya. Aku akan menyelesaikan ini... secepat mungkin."

​"Serahkan pada kami, Paman Botak!" Luffy masuk ke mode Gear 5, melompat ke udara dan berubah menjadi raksasa yang menutupi matahari. Ia menangkap tembakan-tembakan laser diperintah sistem seolah-olah itu adalah kembang api, lalu melemparkannya kembali ke arah armada.

​Garou berdiri di sisi Kai, melakukan kuda-kuda Water Stream Rock Smashing Fist yang kini menyatu dengan aliran energi alam Grand Line. Setiap serangan yang lolos dari Luffy ditangkis oleh Garou dengan gerakan melingkar yang sempurna, menciptakan perisai energi yang tak tertembus di sekitar Kai.

​"Kau berhutang nyawa padaku, Penulis," gumam Garou sambil menghancurkan proyektil sistem yang mendekat. "Jadi, tetaplah bernapas!"

​Kai merasakan kesadarannya mulai memudar. Di penglihatannya yang kabur, ia melihat Li Sheng mendekat dan meletakkan tangannya di dahi Kai. Musik kecapinya yang lembut mencoba menahan sisa-sisa jiwa Kai agar tidak tercerai-berai.

​"Kenapa kau melakukannya, Kai?" bisik Li Sheng. "Kau bisa saja pulang dan hidup kaya raya."

​Kai tersenyum lemah, matanya menatap Luffy yang sedang tertawa sambil menghancurkan kapal perang. "Karena... seorang penulis sejati... tidak menulis untuk uang. Dia menulis agar karakter yang dia cintai... bisa tersenyum. Aku ingin melihat... akhir yang bahagia... dengan mataku sendiri..."

​Tiba-tiba, pena emas di tangan Kai bergetar untuk terakhir kalinya. Layar sistem muncul di depan Kai, kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

​[PERINGATAN KRITIS: USER KAI BERADA DI AMBANG KEMATIAN. JIKA USER MATI SAAT PROSES PENULISAN, SELURUH DIMENSI INI AKAN MENGALAMI KERUNTUHAN TOTAL!]

​ Pukulan Pemutus Takdir Kai

​Mendengar peringatan sistem yang menggema di seluruh area, Saitama tidak lagi menahan diri. Ia tidak hanya melompat, ia seolah-olah menghilang dari realitas dan muncul tepat di tengah-tengah pusat armada sistem.

​"Kalian mengganggu teman-temanku," ucap Saitama. "Kalian menyiksa orang yang sudah menuliskan takdir baik untuk kami."

​Saitama menarik tinjunya, bukan untuk Serious Punch biasa. Ia memusatkan seluruh emosinya.

​"SERIOUS SERIES: ABSOLUTE EXTERMINATION!"

​Pukulan itu tidak menciptakan ledakan api, melainkan sebuah gelombang kejut murni yang menghapus kode-kode digital sistem dari atom udara. Ribuan kapal perang itu hancur menjadi debu dalam satu detik. Tekanan udaranya bahkan membuat laut Grand Line terbelah hingga memperlihatkan dasar bumi.

​Setelah armada hancur, Saitama kembali ke dek dalam sekejap mata. Ia melihat Kai yang sudah menutup matanya, pena emasnya mulai meredup.

​"Oi, jangan mati," Saitama memegang tangan Kai yang dingin.

​Tiba-tiba, Nami berteriak sambil menunjuk ke arah pena emas itu. "Lihat! Pena itu... dia tidak hanya mengambil energi, dia meminta sesuatu yang lain!"

​Gandron menyadari sesuatu. "Pena itu butuh 'Saksi'. Kai sekarat karena dia memikul beban penulisan sendirian. Jika kita semua meletakkan tangan kita pada pena itu, beban energinya akan terbagi!"

​Satu per satu, kru Topi Jerami, Tianyang, Li Sheng, Garou, dan terakhir Saitama, meletakkan tangan mereka di atas tangan Kai yang masih memegang pena.

​"TULISKAN AKHIRNYA, KAI!" teriak mereka bersamaan.

​Cahaya emas meledak dari Thousand Sunny, membubung tinggi hingga menembus awan dan menghapus layar sistem biru untuk selamanya. Energi kehidupan dari persahabatan mereka mengalir balik ke tubuh Kai, memompa jantungnya yang sempat berhenti.

​ Sebagai gantinya, Saitama menyadari kekuatannya berkurang 1% tapi baginya, itu adalah berkah karena ia mulai bisa merasakan sedikit rasa sakit dan tantangan lagi.

​Perpisahan Garou: Garou memutuskan untuk pergi berkeliling dunia One Piece sendirian untuk mencari arti keadilannya yang baru, namun berjanji akan kembali jika Kai memanggilnya.

​ Setelah ledakan cahaya emas itu mereda, atmosfer di atas Thousand Sunny menjadi sangat tenang. Armada Sistem telah lenyap, menyisakan butiran cahaya digital yang jatuh seperti salju dan langsung larut di air laut.

​Namun, di tengah dek, Kai masih terbaring. Meskipun jantungnya kembali berdenyut berkat bantuan energi dari teman-temannya, ada sesuatu yang berubah secara drastis pada dirinya.

​Kai perlahan membuka matanya. Matanya tidak lagi berwarna cokelat biasa, melainkan berwarna emas murni yang berpendar redup. Namun, saat ia mencoba berdiri, ia terjatuh karena kakinya terasa sangat lemah.

​"Kai!" Nami membantunya duduk. "Kau baik-baik saja?"

​Kai menatap tangannya. Pena emas itu telah menyatu ke dalam telapak tangan kanannya, membentuk tanda tato berbentuk bulu pena yang melingkar. Ia mencoba berbicara, namun suaranya terdengar jauh lebih berat, seolah-olah setiap katanya kini memiliki bobot realitas.

​Gandron mendekat dan memeriksa denyut nadi Kai. Ia menghela napas panjang. "Kai bertahan hidup, tapi dia tidak akan pernah sama lagi. Harga yang ia bayar untuk menulis ulang takdir Garou adalah 'Keterikatan Abadi'. Kai tidak bisa lagi meninggalkan dunia One Piece. Dia telah menjadi bagian dari naskah dunia ini secara permanen."

​"Maksudmu... Kai tidak bisa pulang ke dunianya?" tanya Chopper dengan mata berkaca-kaca.

​"Benar," jawab Gandron. "Dan setiap kali ia menggunakan kekuatan pena emas itu lagi, usianya akan berkurang secara nyata. Dia adalah Penjaga Realitas sekarang, tapi dia terikat oleh hukum dunia yang ia ciptakan sendiri."

​Di sisi lain dek, Garou berdiri tegak. Ia menatap laut lepas dengan pandangan yang jauh lebih tenang. Ia bukan lagi monster yang haus darah, namun kekuatannya tetap terasa agung.

​Ia berjalan mendekati Kai yang masih lemas. Garou berlutut di depan sang penulis, sebuah tanda penghormatan yang tidak pernah ia berikan kepada siapa pun sebelumnya.

​"Kau memberiku kehidupan yang tidak pernah kubayangkan, Penulis," ucap Garou dengan suara rendah. "Dunia ini luas, dan aku merasakan ada banyak ketidakadilan yang perlu diluruskan dengan cara yang berbeda. Aku tidak bisa tinggal di kapal ini. Aku harus menemukan jalanku sendiri."

​Luffy mendekat, menepuk bahu Garou. "Jadi kau benar-benar pergi, Kakak Perak? Shishishi, kalau kau bosan, carilah kami! Kita akan pesta daging lagi!"

​Garou tersenyum tipis senyuman tulus pertamanya. "Aku bukan kakakmu, Bocah Karet. Tapi jika suatu saat nanti sistem itu kembali, atau jika kau dan teman-temanmu berada dalam bahaya yang tidak bisa diselesaikan oleh pukulan Si Botak itu..." Garou melirik Saitama. "...panggil namaku. Aku akan membelah langit untuk sampai ke sini."

​Garou melompat ke arah air terjun raksasa di kejauhan, ia berlari di atas air dengan kecepatan yang luar biasa, meninggalkan jejak cahaya perak sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala Grand Line.

​Saitama berdiri di samping Kai, memperhatikan kepergian Garou. "Dia sudah berubah. Terkadang, memiliki tujuan baru jauh lebih baik daripada memiliki kekuatan tanpa batas."

​Saitama kemudian menatap Kai. "Jadi, kau terjebak di sini selamanya ya? Maaf soal itu. Tapi hei, setidaknya di sini tidak ada tagihan apartemen atau jadwal buang sampah yang rumit."

​Kai tertawa kecil, meski dadanya masih terasa sesak. "Ya, Saitama. Sepertinya aku harus mulai menulis bab baru tentang kehidupanku sendiri di kapal ini. Dan mungkin... aku akan menuliskan cara agar kau bisa mendapatkan daging diskon di setiap pulau yang kita kunjungi."

​ Penulis yang Menjadi Nyata

​Kai mencoba menggunakan pena di telapak tangannya untuk menulis di udara. Sebuah kalimat muncul dan langsung menjadi fisik: "ANGIN BURITAN YANG SEMPURNA."

​Seketika, layar Thousand Sunny mengembang dengan tenaga penuh, membawa mereka melesat menuju pulau berikutnya dengan kecepatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

​Zoro tersenyum sambil menyarungkan pedangnya. "Nah, itu baru berguna. Kita punya penulis yang bisa mengatur arah angin sekarang."

​Namun, di kedalaman pikiran Kai, ia melihat sebuah notifikasi terakhir .

​[NOTIFIKASI TERAKHIR: SISTEM BIRU TELAH HANCUR, TAPI 'ORIGIN' TELAH MENYADARI KEBERADAANMU, KAI. MEREKA AKAN DATANG UNTUK MENGAMBIL KEMBALI PENA EMAS ITU.]

​Kai mengepalkan tangannya. Ia melihat Luffy yang berteriak gembira di depan haluan kapal, melihat Saitama yang sedang mengajari Chopper cara melakukan push-up, dan melihat Tianyang yang duduk tenang bersama ibunya.

​"Biarkan mereka datang," bisik Kai.

More Chapters