Cherreads

Chapter 181 - BAB 172: KESALAHAN

​Saitama baru saja menapakkan satu kakinya di lantai apartemennya yang berdebu. Ia sudah memegang kantong sampah plastiknya, siap berlari menuju truk sampah yang hampir menjauh. "Tunggu! Pak Sopir! Jangan jalan duluuu...."

​Tiba-tiba, udara di belakangnya berbunyi 'POP!' seperti suara balon pecah. Sebuah tangan digital biru muncul dari lubang wc-nya, mencengkeram jubah kuning Saitama, dan menariknya kembali dengan kecepatan yang melampaui logika fisik.

​"EH?! LAGI-LAGI?!" teriak Saitama sebelum tubuhnya terhisap masuk ke dalam pipa pembuangan yang mendadak berubah menjadi portal dimensi.

​Di atas Thousand Sunny, Tianyang baru saja akan melepaskan pelukan ibunya saat sebuah ledakan air terjadi di tengah dek. Saitama terlempar keluar dari portal air, mendarat dengan posisi wajah duluan di atas sisa piring daging.

​"Aduh... kepalaku..." Saitama bangkit, wajahnya penuh saus barbekyu. Ia menoleh ke arah Luffy, Zoro, dan yang lainnya. "Oi! Untung kalian masih di sini! Cepat, buka portalnya lagi! Aku hampir ketinggalan truk sampah!"

​Namun, suasana hening.

Luffy memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. "Eh? Paman Botak... kau siapa? Apa kau anggota baru bajak laut matahari?"

​Zoro menghunus pedangnya sedikit. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa mendarat di kapal kami tanpa kami sadari?"

​Saitama mematung. Matanya yang datar berkedip berkali-kali. "Hah? Ini aku, Saitama! Kita baru saja makan daging bersama! Kau yang elastis, kau yang tukang sasar, dan kau koki mesum!"

​Sanji menyipitkan mata. "Tukang masak mesum? Jaga bicaramu, Botak! Aku tidak pernah melihatmu seumur hidupku!"

Arsitek yang Menyerah

​Gandron (Sang Arsitek) muncul dari bayangan, memegang tongkatnya yang kini bergetar hebat. Ia melihat ke arah langit di mana layar sistem biru menari-nari dengan lincah, menampilkan emoji tertawa [HA-HA-HA!].

​"Ini... ini mustahil," gumam Gandron, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat pucat. "Sistem tidak hanya menariknya kembali, tapi ia melakukan 'Temporal Amnesia'. Ia menghapus memori setiap makhluk di dimensi ini tentang keberadaan Saitama, tapi membiarkan memori Saitama tetap utuh agar dia merasa tersiksa secara mental."

​"Bisakah kau memperbaikinya, Pak Tua Arsitek?" tanya Kai yang juga ikut lupa siapa Saitama (meski ia merasa ada yang aneh dengan naskahnya).

​Gandron mengangkat tangannya, mencoba memanipulasi kode di sekitar Saitama, namun tangannya justru tersengat listrik biru.

"Aku angkat tangan! Kekonyolan ini berada di luar hukum arsitektur multiverse! Sistem ini sedang bermain-main dengan 'Logika Kartun'. Aku tidak bisa melawan sesuatu yang tidak memiliki aturan tetap!"

Sang Pahlawan

​Saitama berjalan ke arah Nami. "Nami! Kau ingat kan? Kau memukul kepalaku sampai benjol tadi! Lihat, ini bekasnya masih ada!"

​Nami menatap benjol di kepala Saitama dengan tatapan jijik. "Aku? Memukul orang asing sampai benjol? Meskipun aku galak, aku tidak akan memukul orang tak dikenal tanpa alasan... kecuali kau mencoba mencuri uangku!"

​Saitama beralih ke Tianyang. "Tianyang! Ibumu! Aku yang membantu membukakan jalan agar kau bisa memeluknya!"

​Li Sheng yang asli menatap Saitama dengan lembut namun penuh keraguan. "Maaf, Tuan Botak... aku rasa aku tidak pernah melihatmu di portal tadi. Mungkin kau salah orang?"

​Saitama terduduk di dek, memegang kepalanya yang botak. "Ini gila... ini lebih buruk daripada monster tingkat God. Aku tahu semua nama kalian, aku tahu rahasia kalian, tapi kalian melihatku seperti aku adalah orang gila yang nyasar dari pasar."

​Tiba-tiba, layar sistem biru muncul di depan mata Kai.

​[NOTIFIKASI SISTEM: MISI "ORANG ASING YANG MENYEDIHKAN".]

[TUGAS: SAITAMA HARUS MEYAKINKAN KRU TOPI JERAMI UNTUK MENERIMANYA KEMBALI SEBAGAI ANGGOTA, TAPI IA DILARANG MENGGUNAKAN KEKUATAN FISIKNYA. JIKA IA MEMUKUL SATU ORANG PUN, APARTEMENNYA DI DUNIA ASLI AKAN DIHANCURKAN TOTAL!]

​"APA?!"Kai berteriak ke langit. "KAU MAU MENGHANCURKAN APARTEMEN?! ITU SATU-SATUNYA TEMPAT TINGGAL SAITAMA YANG MURAH!"

​Usopp menarik ketapelnya, membidik Saitama. "Luffy! Orang botak ini bicara sendiri ke arah langit! Dia pasti mata-mata gila yang dikirim Angkatan Laut!"

​"Tunggu, tunggu!" Saitama mengangkat tangannya. "Aku bukan mata-mata! Aku... aku adalah..." Saitama berpikir keras, "...aku adalah pelawak yang ingin melamar jadi kru kalian!"

​Luffy matanya mendadak berubah menjadi bintang. "PELAWAK?! Wah, kita memang butuh pelawak di kapal ini! Shishishi!"

​ Ujian Masuk yang Absurd

​Luffy melompat ke depan Saitama. "Baiklah! Jika kau pelawak, buat kami tertawa! Jika tidak, Zoro akan melempar mu kembali ke laut!"

​Saitama berkeringat dingin. Dia adalah pahlawan yang bisa menghancurkan meteor, tapi dia tidak pernah bisa melucu. "E-eh... kenapa ayam menyeberang jalan? Karena... karena di seberang sana ada obral daging?"

​Hening. Angin laut bertiup melewati mereka dengan suara gagak 'gak... gak... gak...'.

​Zoro menarik pedangnya. "Itu tidak lucu sama sekali. Sanji, siapkan papan untuk membuang orang ini."

​"TUNGGU!" teriak Saitama. "Aku punya bakat lain! Aku bisa... aku bisa membersihkan dek kapal ini dalam 0,01 detik tanpa alat pel!"

​Saitama bergerak secepat kilat (tanpa menimbulkan ledakan angin sesuai perintah sistem). Dalam sekejap, seluruh dek Thousand Sunny berkilau seperti berlian, bahkan bayangan Nami terpantul jelas di lantai kayu.

​Nami terpana. "Wow... kapal ini tidak pernah sebersih ini. Luffy, mungkin kita bisa menyimpannya sebagai tukang bersih-bersih?"

​Luffy tertawa. "Oke! Kau diterima! Siapa namamu tadi?"

​"Saitama..." jawab Saitama lemas. "Panggil saja aku Saitama si Tukang Pel."

​Saitama harus melakukan pekerjaan rumah tangga yang mustahil (seperti menangkap ikan Sea King dengan tangan kosong tanpa membunuhnya) demi poin "Ingatan".

​Kai Mencurigai Sesuatu, Kai mulai merasa ada 'lubang' di ingatannya setiap kali melihat Saitama. Apakah ia akan menulis naskah rahasia untuk memulihkan ingatan kru?

Sistem ternyata merencanakan sesuatu yang lebih besar; ia akan menukar Saitama dengan musuh bebuyutannya, Garou, di tengah kapal!

​Lanjut ke "Aksi Tukang Pel Terkuat di Dunia"?

Pahami, ini akan membuat Kai berada dalam posisi yang sangat tertekan karena hanya dialah yang memegang rahasia gila ini sementara yang lain bertarung dalam kegelapan.

​Di tengah kekacauan di atas Thousand Sunny, hanya Kai yang mendadak merasakan matanya terbakar. Di depannya, langit tidak hanya berwarna ungu, tapi tertutup oleh ribuan baris kode bercahaya yang tidak bisa dilihat oleh Luffy, Zoro, maupun Garou.

​[HANYA UNTUK MATA PENULIS: OPERASI "PEMAIN PENGGANTI".]

[KETERANGAN: SAITAMA TELAH DIHAPUS DARI MEMORI SEMUA ORANG KECUALI KAU, KAI. JIKA KAU MEMBERITAHU MEREKA SIAPA DIA SEBENARNYA, SISTEM AKAN MENGHAPUS DUNIA ASALMU SEKARANG JUGA!]

​Kai jatuh terduduk, memegangi kepalanya. "Sialan... Jadi hanya aku yang tahu?!"

​Ia melihat Garou berdiri dengan aura kosmik yang menghancurkan, sementara Luffy dan Tianyang bersiap menyerang sosok yang mereka anggap sebagai "Musuh Tak Dikenal". Di pojok dek, Saitama yang baru jatuh dari retakan langit terlihat seperti orang asing yang malang di mata kru Topi Jerami.

​"Kai! Apa yang kau lihat?!" teriak Gandron sambil menahan getaran kapal. "Kenapa kau gemetar begitu? Katakan sesuatu!"

​Kai menatap Gandron, lalu menatap Saitama yang sedang memegang kain pel. Ia ingin berteriak: "Itu Saitama! Dia pahlawan terkuat! Dia yang menolong kita!", tapi tenggorokannya terasa seperti dicekik oleh rantai tak kasat mata.

​"Aku... aku tidak bisa mengatakannya," bisik Kai dengan air mata mengalir. "Jika aku bicara, semuanya berakhir."

​[SISTEM: BAGUS, KAI. TERUSLAH MENJADI PENONTON YANG BAIK SAAT KARAKTERMU SALING MEMBANTAI.]

​Karena ingatan mereka dihapus, Luffy melihat Saitama sebagai penyusup yang mencurigakan yang muncul bersamaan dengan monster kosmik Garou.

​"Kalian berdua! Pergi dari kapalku!" raung Luffy. Ia melesat, tapi bukan ke arah Garou, melainkan ke arah Saitama. "Gomu Gomu no... Jet Pistol!"

​Saitama hanya memiringkan kepalanya sedikit, serangan Luffy lewat begitu saja. "Oi, Anak Karet! Ini aku! Kenapa kau menyerangku?!"

​"Aku tidak kenal orang botak sepertimu!" balas Luffy.

​Garou tertawa melihat kekacauan itu. "Menarik! Kau diserang oleh orang yang kau selamatkan, Botak? Biar kubantu mempercepat kematian mereka!"

​Garou meluncurkan gelombang Gamma Ray Burst ke arah kru Topi Jerami.

​Saitama ingat ancaman sistem: Jika dia memukul seseorang, apartemennya hancur. Maka, dia harus melindungi kru yang sedang menyerangnya tanpa boleh membalas dengan pukulan.

​"Aduh, merepotkan sekali!" Saitama berlari dengan kecepatan tinggi. Ia tidak memukul Garou, tapi ia menggunakan kain pelnya yang basah untuk menangkis serangan energi nuklir Garou.

​SREEEEET!

​Kain pel itu berputar seperti perisai, membelokkan radiasi kosmik Garou ke langit luas.

​"Apa?!" Garou terbelalak. "Kau menangkis teknik kosmikku dengan alat pembersih lantai?!"

​Sanji yang melihat itu dari jauh berteriak, "Siapa sebenarnya si Botak itu?! Dia bergerak lebih cepat dari cahaya tapi hanya menggunakan kain pel!"

​Kai menyadari bahwa meski dia tidak bisa bicara, dia masih bisa menulis. Namun, sistem langsung memblokir pena kayunya.

​[SISTEM: JANGAN MENCOBA MENULISKAN NAMA SAITAMA, KAI. ATAU KAU TAHU AKIBATNYA.]

​Kai berpikir keras. "Kalau aku tidak bisa menulis namanya, aku akan menuliskan 'Perasaan'!"

​Kai menggunakan jarinya yang berdarah untuk menulis di lantai dek (yang baru saja dipel Saitama). Bukan kata-kata, tapi sebuah simbol hati dan simbol persahabatan yang pernah mereka lalui.

​Tiba-tiba, Nami yang melihat tulisan itu merasakan kepalanya berdenyut.

"Simbol ini... kenapa rasanya sangat akrab? Kenapa saat aku melihat si Botak itu, hatiku terasa ingin memarahinya tapi juga ingin memberinya daging?"

​Garou yang mulai emosi melancarkan serangan bertubi-tubi. Saitama tetap pada posisinya. Ia mulai melakukan gerakan mengepel yang sangat cepat hingga menciptakan pusaran angin vakum.

​"Teknik Rahasia Vacuum Mop!"

​Pusaran itu menghisap seluruh aura radiasi Garou, memadatkannya ke dalam ember pel milik Saitama.

​"Nah," ucap Saitama sambil membuang air pel yang kini berwarna ungu kosmik ke arah laut. "Sekarang deknya bersih lagi. Garou, kalau kau mau berkelahi, pergi ke bulan sana! Jangan mengotori kapal yang sudah susah payah aku bersihkan!"

​Luffy berhenti menyerang, ia terpana melihat kekuatan Saitama. "Paman Botak... kau... kau sebenarnya orang baik ya?"

​Saitama menghela nafas. "Akhirnya kau sadar juga, meski kau masih belum ingat namaku."

​Tepat saat suasana sedikit mereda, layar sistem muncul di depan Kai lagi.

​[NOTIFIKASI SISTEM: KAI, KARENA KAU BERHASIL MEMBERI PETUNJUK LEWAT TULISAN DARAH, AKU AKAN MEMBERI HADIAH LAGI.]

[HADIAH: SAITAMA AKAN DIINGAT KEMBALI OLEH SEMUA ORANG, TAPI SEBAGAI GANTINYA, GAROU AKAN MENJADI ANGGOTA TETAP TOPI JERAMI DAN LUFFY AKAN MENGANGGAPNYA SEBAGAI SAUDARA TERBAIKNYA!]

​Kai membelalakkan mata. "Apa?! Itu artinya Luffy akan berada di bawah pengaruh monster itu selamanya?!"

​"Kai! Katakan sesuatu!" teriak Tianyang. "Kenapa wajahmu terlihat seperti melihat kiamat?!"

​Kai melihat Luffy yang mulai berjalan ke arah Garou dengan senyuman lebar. "Hei, Kakak Berambut Perak! Kau hebat sekali! Maukah kau jadi saudaraku?"

​Saitama yang mendengar itu langsung menjatuhkan kain pelnya. "OI! ITU POSISIKU!"

Ini adalah momen puncak di mana Kai harus memikul beban mental yang luar biasa sendirian, sementara Zoro mulai mencium bau busuk di balik "takdir" yang sedang dimainkan sistem.

​Kai menatap layar emas yang melayang di depan matanya. Pilihan yang diberikan sistem benar-benar kejam: Kembalikan ingatan mereka tentang Saitama, tapi serahkan Luffy ke dalam pelukan Garou, sang monster kosmik.

​"Jika aku setuju," pikir Kai dengan tangan gemetar, "Saitama akan kembali menjadi teman kami. Tapi Luffy... Luffy akan menganggap monster yang ingin menghancurkan alam semesta ini sebagai saudaranya. Hubungan mereka akan menjadi racun!"

​[SISTEM: WAKTU TERSISA 30 DETIK, KAI. LIHATLAH LUFFY, DIA SUDAH MULAI MEMELUK GAROU. PILIH: SAITAMA YANG KESEPIAN, ATAU LUFFY YANG TERSESAT?]

​Kai melihat Saitama yang berdiri lesu memegang kain pel, lalu melihat Luffy yang tertawa lebar sambil merangkul bahu Garou yang dingin dan mematikan. Air mata Kai jatuh ke lantai dek. Ia merasa seperti pengkhianat, apa pun yang ia pilih.

​Di tengah tawa Luffy yang tidak alami, Zoro tidak ikut berpesta. Ia menyandarkan punggungnya di tiang kapal, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Garou, lalu beralih ke Kai yang tampak hancur.

​Zoro berjalan perlahan mendekati Kai, mengabaikan keributan di sekitarnya. "Oi, Penulis," suara Zoro rendah dan mengancam. "Kau menyembunyikan sesuatu, bukan?"

​Kai tersentak, mencoba menghapus air matanya. "Zoro... aku..."

​"Jangan bohong padaku," potong Zoro, tangannya sudah memegang gagang Wado Ichimonji. "Luffy memang bodoh, tapi dia punya insting. Dia tidak akan pernah menganggap orang dengan aura haus darah seperti pria perak itu sebagai 'saudara' dalam hitungan detik. Dan si Botak tukang pel itu... setiap kali aku melihatnya, tanganku terasa gatal ingin mengajaknya berduel, seolah-olah jiwaku mengenalnya."

​"Zoro, aku tidak bisa bicara!" bisik Kai dengan suara parau. "Ada sesuatu yang mengawasi setiap kata-kataku. Jika aku mengatakannya, dunia ini akan dihapus!"

​Zoro menyipitkan mata. Ia melihat ke arah udara kosong di depan Kai, tempat di mana Kai sebenarnya sedang menatap layar sistem. "Jadi ada sesuatu di sana yang tidak bisa kulihat? Sialan. Aku selalu benci hal-hal yang tidak bisa ditebas dengan pedang."

​Zoro kemudian melakukan hal yang tak terduga. Ia menggambar sebuah lingkaran di lantai dengan ujung pedangnya, mengelilingi dirinya dan Kai. "Bicara sekarang. Jika 'sesuatu' itu ingin menyerangmu, dia harus melewati pedangku dulu."

​"Zoro, itu tidak berguna melawan sistem..." Kai mendesah. Namun, melihat tekad Zoro, Kai mendapatkan ide nekat.

​ "Komunikasi Lewat Luka"

​Kai menyadari sistem melarangnya berbicara atau menuliskan nama. Tapi sistem tidak melarangnya untuk menderita.

​Kai mengambil tangan Zoro dan meletakkannya di atas dadanya, tepat di mana jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. "Zoro... ingatlah rasa sakit saat kita melawan sistem biru di dimensi sebelumnya. Ingatlah siapa yang berdiri di samping Luffy saat kau hampir mati."

​Tiba-tiba, kilasan memori muncul di otak Zoro seperti sengatan listrik. Bayangan Saitama yang menahan serangan nuklir, bayangan Saitama yang memakan daging bersama mereka.

​"Si... Botak itu..." Zoro terhuyung, memegang kepalanya. "Namanya... Sai... Tama?"

​[SISTEM: PELANGGARAN DETEKSI! USER KAI MENCOBA MEMULIHKAN INGATAN LEWAT KONTAK FISIK! MENGAKTIFKAN HUKUMAN!]

Zoro mulai mengingat, sistem langsung memaksakan "Hadiah"-nya karena waktu habis.

​[SISTEM: WAKTU HABIS! PILIHAN DIAMBIL SECARA OTOMATIS!]

[KONDISI: INGATAN SEMUA ORANG TENTANG SAITAMA PULIH! TAPI GAROU RESMI MENJADI 'KAKAK' LUFFY!]

​"LUFFY! MENJAUH DARI DIA!" teriak Zoro yang baru saja tersadar sepenuhnya.

​"Eh? Zoro? Ada apa?" Luffy menoleh dengan wajah polos. "Lihat, ini Kakak Garou! Dia sangat kuat, dia bilang dia akan mengajariku cara menghancurkan bintang! Bukankah itu keren?"

​Saitama yang tadinya memegang pel, tiba-tiba melihat Nami, Sanji, dan Chopper berlari ke arahnya. "Saitama-san! Maafkan kami! Kami lupa siapa kau!" teriak Chopper sambil menangis.

​Saitama menghela nafas lega. "Akhirnya... kalian ingat juga." Namun, kelegaan itu hilang saat ia melihat Garou sedang mengelus kepala Luffy dengan senyum licik.

​"Oi, Garou," Saitama berjalan maju, wajahnya menjadi sangat serius. "Lepaskan tanganmu dari kepala bocah itu."

​Garou menatap Saitama, matanya bersinar dengan galaksi-galaksi kecil. "Kenapa, Saitama? Luffy sendiri yang memintaku menjadi saudaranya. Bukankah ini yang kau inginkan? Kedamaian?"

​"Ini bukan kedamaian, ini manipulasi!" Kai berteriak, ia berdiri di samping Zoro. "Luffy dipengaruhi oleh kode sistem! Garou, kau adalah parasit di kapal ini!"

​Luffy berdiri di depan Garou, memasang posisi bertarung melawan teman-temannya sendiri. "Jangan hina Kakak Garou! Jika kalian menyerangnya, kalian berurusan denganku!"

​Zoro mencabut ketiga pedangnya. Matanya merah karena amarah. "Luffy... aku tidak pernah menyangka hari di mana aku harus menghunuskan pedang padamu akan datang secepat ini."

​Saitama melemparkan kain pelnya ke laut. "Yah... kurasa aku tidak perlu mengepel lagi jika kapal ini akan hancur. Kai, tuliskan sesuatu untuk membangunkan bocah bodoh itu, atau aku terpaksa melakukan sesuatu yang kasar."

​ Kai harus mencari cara untuk menghancurkan "Ikatan Saudara" palsu tersebut tanpa membunuh Garou.

Ternyata Garou juga merasa ada yang salah, namun ia terlalu menikmati kasih sayang "saudara" yang tidak pernah ia miliki di dunianya.

More Chapters