Lembah Refleksi bergetar hebat saat Lin Feng melangkah turun. Setiap pijakan kakinya menghancurkan batuan granit menjadi debu halus. Di bawah sana, sepuluh ribu kultivator Aliansi Langit berdiri dengan senjata terhunus, namun Lin Feng tidak melihat mereka sebagai ancaman. Ia melihat mereka sebagai pola.
Retakan Memori dan Dejavu Berdarah saat itu terasa nyata.
Lin Feng menerjang maju. Saat pedang pertama dari musuh mengarah ke lehernya, tubuhnya bergerak secara otomatis sebelum otak menyadarinya. Ia memiringkan kepala hanya satu milimeter presisi yang mustahil.
Slash!
Ia membalas dengan satu ayunan telapak tangan yang membelah zirah musuh menjadi dua. Tiba-tiba, jantungnya berdenyut kencang. "Aku pernah melakukan ini sebelumnya," bisiknya dalam hati.
Setiap kilatan pedang, setiap mantra api yang dilemparkan musuh, hingga aroma darah yang bercampur salju terasa sangat akrab.
" Benar... ini pernah terjadi!"
Lin Feng merasa seperti sedang membaca buku yang sudah ia hafal setiap hurufnya. Ia bergerak di antara ribuan prajurit bagai hantu, menebas dan menghancurkan dengan efisiensi yang mengerikan.
Saat ia menghantam dada seorang jenderal Aliansi, sebuah fragmen memori meledak di kepalanya.
Bukan di sini. Bukan melawan mereka. Atau Aku memang pernah melawan mereka. Aku pernah bertarung di antara bintang-bintang yang runtuh.
Kebangkitan Kesadaran Multiverse. " Apakah ini ulah Kai dengan sistemnya?"
Sistem di depan matanya mendadak glitch.
Layar transparan itu retak, memperlihatkan kode-kode emas yang mengalir cepat.
[KESALAHAN SISTEM: Loop Memori Terdeteksi...]
[Status: Reinkarnator Multiverse Tahap Akhir Teraktivasi]
Lin Feng berhenti di tengah medan laga. Ribuan pedang musuh terhenti di udara, tertahan oleh tekanan Qi yang tiba-tiba meluap hingga mencapai level kosmik.
Lin Feng memejamkan mata, dan saat ia membukanya kembali, pupil matanya telah berubah menjadi peta galaksi yang berputar.
Ia ingat sekarang. Perang klan ini, mutasi Tianyang, hingga kedatangan Fang Yuan semuanya hanyalah sebuah simpul kecil dalam jaring takdir yang jauh lebih besar. Ia adalah sang Penjaga, yang sengaja menekan ingatannya untuk mendidik "Senjata-Senjata Manusia" (Tianyang dan murid elit) demi menghadapi musuh yang sebenarnya: Para Pemakan Bintang (Star Devourers).
Pertemuan di Sela Portal Kai dan Gandron
"Cukup sandiwaranya, Lin Feng!" sebuah suara menggelegar dari dimensi lain.
Lin Feng mengangkat tangannya, lalu merobek ruang kosong di depannya seolah-olah itu adalah selembar kertas. Sebuah portal spiral berwarna perak-violet terbuka lebar di tengah medan pertempuran Aliansi Langit. Dari dalam portal itu, memancar aura yang begitu beringas hingga membuat seluruh prajurit Aliansi langsung pingsan karena tekanan jiwa.
Di sela-sela dimensi yang bergejolak, dua sosok legendaris muncul.
Kai – Sang Dewa Perang Multiverse:
Ia berdiri dengan zirah hitam yang terbuat dari material bintang mati. Di pundaknya bersandar sebuah pedang raksasa yang bisa membelah planet. Tatapannya tajam, penuh dengan bekas luka pertempuran antargalaksi.
"Kau terlalu lama bermain rumah-rumahan di dunia kecil ini, Lin Feng," ucap Kai dengan suara yang dalam.
"Musuh sudah mulai melahap konstelasi Andromeda. Bumi akan menjadi hidangan penutup mereka jika kau tidak segera bergerak."
Di samping Kai, berdiri Gandron, sosok berjubah putih dengan tangan yang terus memutar bola energi kronos. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh kabut cahaya.
"Ingatanmu kembali tepat waktu," desis Gandron. "Portal ini tidak akan bertahan lama.
Sistem yang kau gunakan hanyalah 'kandang' untuk menahan kekuatanmu agar tidak menghancurkan planet ini saat kau bermeditasi."
Lin Feng menatap kedua rekannya itu. Rasa dejavu itu kini berubah menjadi realitas yang kokoh. Ia ingat saat mereka bertiga berdiri di atas bangkai Naga Kosmik, bersumpah untuk melindungi inti dari semua kehidupan.
"Di mana Tianyang?" tanya Kai, melirik ke arah lembah yang hancur. "Anak itu memiliki potensi Void yang kita butuhkan untuk menyegel Pemakan Bintang."
"Ibunya membawanya pergi," jawab Lin Feng, suaranya kini kembali datar namun memiliki gema otoritas dewa. "Dia ingin anaknya menjadi manusia, bukan senjata."
"Manusia tidak akan ada jika bumi ini ditelan," balas Gandron dingin. "Bawa dia. Kita harus menuju Titik Nol sekarang."
Lin Feng berbalik menatap dunia kecil yang selama ini ia tempati. Ia melihat Li Sheng yang sedang menangis di kejauhan, mencoba menyelamatkan putranya.
Ada sedikit kesedihan di matanya, namun ia tahu, kasih sayang seorang ibu tidak akan cukup untuk menghentikan kiamat bintang.
"Maafkan aku, Li Sheng," gumam Lin Feng.
Dengan satu jentikan jari, Lin Feng menarik paksa Tianyang dari pelukan Li Sheng melintasi ruang. Tubuh Tianyang yang termutasi melayang masuk ke dalam portal bersama Kai dan Gandron.
"Ayo," ajak Lin Feng. "Saatnya mengingatkan multiverse mengapa mereka harus takut pada kita."
Lin Feng, Kai, dan Gandron bertempur melawan entitas raksasa seukuran bulan di ruang angkasa.
Tianyang akhirnya menyadari takdirnya dan bergabung dengan trio legendaris ini sebagai "Pedang Keempat".
Tianyang tersentak dari pelukan ibunya, ditarik paksa oleh kekuatan yang tak terlihat. Ia berteriak, namun suaranya tertelan oleh pusaran portal perak-violet yang membawanya melintasi dimensi. Di dalam portal itu, ia melihat bayangan kabur ibunya yang menjerit, sebelum semua lenyap dalam kilatan cahaya kosmik.
Pedang Keempat dan Debu Bintang
Ketika Tianyang membuka matanya, ia tidak lagi melihat salju atau pegunungan. Ia melihat bintang-bintang. Ribuan bintang berputar di sekelilingnya, membentuk spiral galaksi yang memukau sekaligus menakutkan.
Di depannya, berdiri tiga sosok megah, Lin Feng, Kai sang Dewa Perang, dan Gandron sang Arsitek Ruang-Waktu.
"Kau terlalu lama bermain di duniamu, Penjaga," ucap Kai, menunjuk ke arah gumpalan energi gelap yang melahap nebula di kejauhan.
"Mereka adalah Pemakan Bintang. Jika kau tidak segera menghentikannya, galaksi ini akan menjadi bangkai dingin."
Tianyang menatap Lin Feng, mata merahnya memancarkan kebingungan. "Guru... ini... apa semua ini?"
Lin Feng menempatkan tangannya di bahu Tianyang. "Kau adalah Pedang Keempat, Tianyang.
Takdirmu bukan untuk menjaga klan kecil di sebuah planet. Takdirmu adalah untuk menjaga tanah airmu, bumi, dan bintang-bintang lain dari kepunahan total."
Mendengar kata "tanah air", sesuatu dalam diri Tianyang bergejolak. Rasa sakit karena ditarik dari ibunya masih terasa, namun ia teringat wajah ibunya, klan yang ia coba lindungi.
Ia tahu bahwa semua itu tidak akan ada jika semesta ini hancur. Sebuah kebanggaan yang belum pernah ia rasakan muncul di dalam dadanya. Bukan kebanggaan seorang pangeran, melainkan kebanggaan seorang pejuang sejati.
Transformasi [The Void Emperor's Blade]
Garis-garis hitam di kulit Tianyang tidak lagi terlihat sebagai kutukan, melainkan sebagai tato energi yang berdenyut selaras dengan denyut bintang. Matanya kini memancarkan cahaya ungu-hitam yang mampu melihat kelemahan struktural pada objek kosmik sekalipun.
Kekuatan Pedang emasnya, yang tadinya hanya sebilah senjata, kini menyerap energi void dari alam semesta.
Setiap ayunannya mampu membelah ruang dan menelan bintang-bintang kecil menjadi ketiadaan. Tianyang telah menjadi senjata hidup yang mengerikan, siap bertarung untuk rumahnya di antara bintang-bintang.
"Aku siap, Guru," ucap Tianyang. Suaranya kini lebih dalam dan penuh tekad.
Anomali Sistem yang Baru Portal ke Dunia Bajak Laut
Tepat saat mereka berempat akan menerjang ke medan perang bintang, sistem Lin Feng kembali berkedip merah.
[PERINGATAN SISTEM: ANOMALI DIMENSI BARU TERDETEKSI!]
[Penyebab: Interferensi Kausalitas – Jalur Takdir Berubah Drastis]
[Fitur Baru Dibuka: Jump Point Multiverse – Destinasi: Dunia Bajak Laut 'One Piece']
[Misi: TIDAK ADA. Akses ke Dunia Baru Terbuka Bebas.]
Sebuah portal aneh, berwarna biru laut dan beraroma asin, tiba-tiba terbuka di tengah pusaran kosmik. Kali ini, tidak ada perintah atau misi. Ini adalah sebuah anomali murni.
Dari dalam portal itu, terdengar suara tawa riang yang sangat familiar.
"Wahahahaha! Lihatlah kerumunan orang aneh di langit!"
Monkey D. Luffy muncul, melambaikan tangannya dengan ceria. Ia melompat keluar dari portal, tanpa rasa takut sedikit pun terhadap ancaman Pemakan Bintang di belakangnya.
Di belakangnya, tampak laut biru yang luas.
Lin Feng, Kai, Gandron, dan Tianyang terdiam. Medan perang bintang dan ancaman kiamat kosmik seolah-olah lenyap sejenak.
Luffy mendarat di atas asteroid yang melayang, menggaruk kepalanya. "Kalian semua terlihat seperti tersesat! Kenapa tidak ikut denganku saja? Baru saja aku menemukan mayat yang mengambang di laut! Di dadanya ada tato peta harta karun bertanda X!"
Luffy menyeringai lebar, menunjuk ke arah mayat yang mengambang dari portal di belakangnya. "Wahahaha! Akan sangat menyenangkan mencari harta karun itu bersamaku! Aku Kapten Monkey D. Luffy! Apa kalian mau jadi kru-ku?"
Kebingungan Kosmik dan Tawaran Bajak Laut
Lin Feng, Kai, Gandron, dan Tianyang saling pandang. Mereka adalah entitas transenden yang bertarung melawan kiamat multiverse, dan sekarang mereka diundang oleh seorang pemuda konyol untuk mencari "harta karun" di dada mayat.
Wajah Kai yang selalu serius kini sedikit berkerut kebingungan. Gandron menghentikan putaran bola kronos di tangannya. Bahkan Tianyang yang bermutasi pun terlihat linglung.
Ini adalah anomali sistem yang paling tidak terduga, membuka jalur takdir mereka ke sebuah petualangan yang sama sekali berbeda. Perang bintang mendadak harus tertunda demi... peta harta karun bajak laut?
Lin Feng harus memutuskan apakah akan mengikuti Luffy ke dunia bajak laut untuk mencari tahu mengapa sistem mengarahkan mereka ke sana, atau tetap fokus pada Pemakan Bintang.
Luffy mencoba merekrut mereka dengan paksa, menyebabkan bentrokan awal antara kelompok Lin Feng dan Luffy yang berakhir dengan kesalahpahaman.
Li Sheng (yang mungkin masih di Bumi) mendeteksi anomali di sistemnya yang berhubungan dengan peta harta karun, mencoba memperingatkan Lin Feng.
Lembah kosmik yang seharusnya menjadi palagan penghancuran bintang mendadak terdistorsi oleh aura yang begitu asing, ceria, dan sangat kontradiktif dengan kiamat yang sedang berlangsung.
Di atas sebuah asteroid yang melayang, sosok pemuda bertopi jerami itu jongkok dengan santai, seolah-olah kehampaan multiverse hanyalah taman bermain baginya.
Monkey D. Luffy memiringkan kepalanya, jemarinya mengorek hidung dengan gerakan yang sangat sembrono, sementara matanya yang bulat menatap tajam ke arah empat entitas transenden di depannya. Ia melompat turun dari asteroid, tubuhnya membal dengan elastisitas yang tidak masuk akal, melanggar semua hukum fisika ruang angkasa yang selama ini dipelajari oleh Gandron.
"Wahahahaha! Kenapa wajah kalian kaku sekali? Seperti orang yang belum makan daging selama sebulan!" Luffy tertawa lepas, suaranya bergema di frekuensi yang aneh, menembus kevakuman udara.
Ia berbalik, menarik sesosok jasad yang terbungkus kain kafan kuno yang basah oleh air laut sebuah anomali di tengah mereka. Jasad itu diletakkan di tengah-tengah mereka. Luffy dengan kasar menyibakkan kain di bagian dada mayat tersebut.
"Lihat ini! Lihat!" tunjuk Luffy penuh semangat.
Di atas kulit pucat mayat yang membeku itu, terdapat sebuah tato yang sangat detail. Bukan sekadar gambar, melainkan sebuah Peta Hidup. Garis-garis tato itu berdenyut dengan cahaya biru laut, membentuk kepulauan yang terus bergeser.
Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah tanda 'X' yang berwarna merah darah, namun di sekeliling tanda itu, terdapat deretan simbol kuno yang tampak seperti sandi biner dicampur dengan tulisan hieroglif.
Perdebatan di Antara Bintang
Kai sang Dewa Perang mengencangkan genggaman pada pedang bintang matinya. "Lin Feng, apa-apaan ini? Kita sedang menghadapi Pemakan Bintang, dan kau membiarkan seorang bocah karet menginterupsi kita dengan mayat busuk?"
Lin Feng tidak menjawab dengan cepat. Matanya yang merupakan peta galaksi menatap tato di dada mayat itu dengan sangat intens. "Tunggu, Kai. Lihat simbol di sudut peta itu. Itu bukan sekadar koordinat geografi... itu adalah Simpul Dimensi."
Gandron mendekat, jemarinya yang bercahaya menyentuh kulit mayat itu tanpa rasa jijik. "Ini mustahil. Struktur tato ini disusun menggunakan algoritma Time-Loop. Peta ini tidak menunjuk ke sebuah lokasi di dunia bajak laut ini, melainkan ke jantung dari sistem multiverse. Tanda 'X' ini... adalah titik di mana Pemakan Bintang lahir."
Qin Tianyang melangkah maju, aura ungu kehitamannya bergejolak. "Jadi, maksudmu mayat ini adalah kunci untuk menghentikan kiamat? Dan bocah ini menemukannya secara tidak sengaja?"
Luffy yang sejak tadi mendengarkan dengan wajah bingung, tiba-tiba memotong. "Aku tidak tahu apa itu 'algoritma' atau 'multi-multi' apa tadi! Yang aku tahu, peta ini menuju ke tempat yang baunya sangat enak! Seperti daging yang dipanggang dengan api abadi!"
Lin Feng berlutut di samping mayat. Ia menyadari bahwa untuk membaca peta ini, mereka harus berpikir melampaui logika kultivasi.
"Lihat simbol matahari di pojok kiri atas," ucap Lin Feng pelan. "Simbol itu memiliki dua belas sinar, tapi setiap sinar memiliki panjang yang berbeda. Ini adalah petunjuk waktu. Sinar pertama menunjuk ke arah utara, sinar kedua miring tiga derajat... jika kita menggabungkannya, ini membentuk angka [4-8-15-16-23-42]."
Gandron tersentak. "Itu bukan koordinat, itu adalah Frekuensi Getaran Jiwa. Peta ini hanya akan terbuka jika kita bisa menyelaraskan Qi kita dengan frekuensi tersebut secara bersamaan."
Luffy tiba-tiba menarik pipinya hingga sangat panjang.
"Ah! Aku tahu! Ini seperti teka-teki dari lelaki tua di bar dulu! Kalian harus menyanyi sesuai irama ketukan ini!" Luffy mulai memukul-mukul perutnya sendiri seperti gendang, menciptakan irama yang tidak beraturan namun memiliki pola matematis yang sangat rumit.
Dug... dug-dug... dug...
Anehnya, saat irama Luffy bergema, tato di dada mayat itu mulai berpendar hebat. Lautan yang tergambar di tato itu mulai bergerak, memperlihatkan sebuah gerbang raksasa di bawah samudera yang dijaga oleh monster laut bersayap.
Konflik dan Kesalahpahaman
"Cukup main-mainnya!" Kai kehilangan kesabaran. Ia merasa martabatnya sebagai Dewa Perang dilecehkan oleh tingkah konyol Luffy. "Bocah, serahkan mayat itu padaku. Kami akan membawa peta ini ke Titik Nol. Kau tidak punya tempat di sini!"
Kai mengayunkan tangannya, mencoba merebut mayat itu dengan kekuatan gravitasi yang sangat besar. Namun, dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, Luffy berubah menjadi mode Gear Second. Uap mengepul dari tubuhnya, kulitnya berubah kemerahan.
Sshhh—!
Luffy muncul di depan Kai dalam sekejap, menahan tangan raksasa Kai dengan satu tinju kecil yang mengeras seperti baja hitam (Busoshoku Haki).
"Jangan sentuh hartaku, Paman Berzirah!" wajah Luffy berubah serius, matanya menatap Kai dengan tekad yang bisa mengguncang lautan. "Aku yang menemukannya, aku yang akan memimpin jalannya! Jika kalian ingin tahu apa yang ada di tanda 'X' ini, kalian harus ikut kapalku!"
Bentrokan energi terjadi. Tekanan Qi dari Kai yang bersifat menghancurkan bintang bertabrakan dengan tekad murni (Haki) milik Luffy yang bersifat melindungi. asteroid di bawah kaki mereka retak menjadi ribuan keping.
Lin Feng berdiri di antara mereka, aura kosmiknya melerai keduanya. "Tenang! Jika kalian bertarung sekarang, mayat ini akan hancur dan kita kehilangan satu-satunya petunjuk untuk menghentikan Pemakan Bintang."
Lin Feng menatap Luffy, lalu beralih ke kawan-kawannya. "Sistem mengarahkan kita ke sini bukan tanpa alasan. Barangkali, logika kaku kita tidak bisa memecahkan kiamat ini. Barangkali, kita butuh 'kegilaan' dari bocah ini untuk menemukan pintu masuknya."
Keputusan Besar
Tianyang, yang paling muda di antara mereka, merasa ada sesuatu yang menarik dari Luffy. "Guru, dia benar. Peta itu bereaksi terhadap irama detak jantungnya. Kita tidak bisa membawanya tanpa dia."
Luffy kembali nyengir, amarahnya hilang secepat ia datang. "Nah, begitu dong! Namanya petualangan! Ayo, kapalku ada di sebelah sana!" Ia menunjuk ke arah portal biru laut.
Di dada mayat itu, tanda 'X' mulai berdenyut merah, mengeluarkan suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki jiwa transenden: "Hanya mereka yang berani tertawa di hadapan kematian yang bisa membuka kunci keabadian..."
Mereka berempat masuk ke dalam Thousand Sunny dan bagaimana interaksi serius mereka dengan kru bajak laut Luffy yang konyol?
Pemecahan Kunci Kedua Di dalam perjalanan laut, peta itu berubah lagi dan menuntut sebuah "pengorbanan memori" untuk menunjukkan pulau berikutnya.
Serangan Pemakan Bintang Entitas kosmik mulai mengirimkan utusan mereka ke dunia bajak laut untuk merebut mayat tersebut.
