Thousand Sunny membelah ombak Grand Line yang mendadak berubah menjadi anomali. Lautan di sekitar mereka tidak lagi berwarna biru, melainkan perak metalik, memantulkan cahaya bintang-bintang yang seharusnya tidak terlihat di siang hari.
Di atas dek, ketegangan antara entitas kosmik dan kru bajak laut mulai mencair menjadi sebuah kerja sama yang teknis dan mendalam.
Simfoni Arkeologi dan Arsitektur Dimensi menyatu.
Di sudut dek yang tenang, Nico Robin duduk bersila berhadapan dengan Gandron.
Di antara mereka, jasad misterius itu terbaring, kulitnya berpendar semakin terang setiap kali kapal melewati koordinat tertentu.
Nico Robin menyentuh permukaan tato di dada mayat itu dengan lembut, menggunakan kemampuannya Hana Hana no Mi untuk memunculkan mata-mata kecil di setiap inci kulit mayat guna melihat detail mikro yang tidak tertangkap mata manusia.
"Gandron-san," ucap Robin dengan nada tenang namun serius. "Garis-garis ini... mereka bukan sekadar jalur laut. Ini adalah susunan Poneglyph yang tidak dipahat di batu, melainkan di anyam dalam struktur DNA manusia ini. Ini menceritakan tentang 'Abad Kekosongan' yang terjadi di luar planet ini."
Gandron menggerakkan jemarinya di udara, memunculkan proyeksi holografik berbentuk jam pasir kosmik.
"Tepat, Nona Robin. Lihat pola ini. dengan data sejarah multiverse, mayat ini adalah sebuah 'Jangkar Waktu'. Tanda X itu adalah titik di mana waktu berhenti mengalir. Kita sedang menuju ke sebuah pulau yang secara fisik ada, namun secara waktu, ia berada di masa depan dan masa lalu secara bersamaan."
Robin menunjuk ke sebuah simbol berbentuk spiral di leher mayat. "Ini adalah kunci terakhir untuk rute ini. Kita harus menyinkronkan detak jantung kapal ini dengan frekuensi pulau tersebut. Pulau itu disebut 'Echo of Raftel', sebuah bayangan dari Laugh Tale yang terlempar ke dimensi lain saat Pemakan Bintang pertama kali menyentuh atmosfer dunia ini."
Kesadaran Qin Tianyang – Sang Murid Multiverse
Sementara itu, di haluan kapal, Qin Tianyang berdiri diam, menatap samudera yang bergejolak.
Angin laut menerpa wajahnya, namun ia tidak lagi merasa dingin. Mutasi dalam tubuhnya Dantian Hitam yang diberikan sistem mulai bereaksi dengan aura "Kebebasan" yang terpancar dari kru Topi Jerami.
Qin Tianyang mulai mengerti.
Dulu, ia hanya peduli pada balas dendam klan dan kekuatan murni. Namun, melihat Luffy yang tertawa meski menghadapi kiamat, melihat Zoro yang terus berlatih meski di depan Dewa Penulis (Kai), Tianyang menyadari sesuatu yang fundamental tentang kultivasi.
"Kekuatan sejati bukan untuk mendominasi, tapi untuk melindungi ruang bagi mereka yang ingin tertawa," batin Tianyang.
Ia melihat ke telapak tangannya. Aura ungu kehitaman yang tadinya beringas dan tak terkendali, perlahan mulai memadat dan menjadi stabil. Ia tidak lagi membiarkan "Void" memakannya; ia mulai memerintah "Void" tersebut. Kesadarannya meluas, ia bisa merasakan setiap papan kayu Thousand Sunny, ia bisa merasakan detak jantung kru, dan ia bisa merasakan... ancaman dari kedalaman.
Serangan Monster Laut Purba – Kraken Kehampaan
Tiba-tiba, laut perak di depan mereka meledak. Sebuah tentakel raksasa yang tidak terbuat dari daging, melainkan dari energi hitam pekat yang mirip dengan aura Pemakan Bintang, muncul dari kedalaman.
Tentakel itu dipenuhi dengan mata-mata merah yang berkedip.
"Monster itu! Dia tertarik pada aroma Void milikmu, Nak!" teriak Kai yang masih memegang pena energinya.
"Semuanya, bersiap untuk bertarung!" perintah Luffy, namun ia berhenti saat melihat Tianyang melangkah maju melampaui pagar kapal.
"Biar aku, Kapten Luffy,"
ucap Tianyang. Suaranya kini tenang, tanpa beban emosional yang meledak-ledak. "Ini adalah frekuensi yang aku kenal."
Detail Pertarungan: Teknik Void Resonance
Tianyang tidak mencabut pedangnya. Ia hanya merentangkan tangan.
Ia menyelaraskan frekuensi Dantian Hitamnya dengan energi tentakel tersebut.
Beringasnya Teknik Saat tentakel itu menghantam, Tianyang tidak menghindar. Ia menciptakan sebuah Singularitas kecil di telapak tangannya. Tentakel raksasa itu bukannya menghancurkan kapal, justru tersedot masuk ke dalam telapak tangan Tianyang seperti air yang masuk ke lubang pembuangan.
Dampak Lautan di sekitar kapal bergetar hebat. Tianyang melakukan Ekstraksi Jiwa pada monster laut purba tersebut secara instan, mengubah seluruh massa otot monster itu menjadi energi murni yang ia alirkan kembali ke lambung kapal Thousand Sunny melalui kakinya.
"Oooooh! Kapal kita jadi bersinar!" teriak Chopper kegirangan.
Teka-Teki Kunci Ketiga: Nyanyian Mayat
Setelah monster itu lenyap, mayat di atas dek mendadak bergetar.
Mulutnya terbuka sedikit, mengeluarkan uap dingin yang membentuk sebuah melodi.
Nami tersentak. "Itu dia! Nyanyian pulau itu! Robin, Gandron, lihat petanya!"
Tanda X di dada mayat itu kini meledak menjadi cahaya terang yang menyorot ke arah cakrawala.
Namun, cahayanya tidak lurus; ia berbelok-belok mengikuti pola rasi bintang yang diproyeksikan Gandron.
"Kita harus mengikuti jalur cahaya itu!" teru Nami. "Luffy, pegang kemudinya! Jika kita keluar jalur satu inci pun, kita akan terlempar ke luar angkasa!"
Kai mulai menuliskan detail baru di bukunya dengan sangat cepat: 'Dan di tengah badai dimensi, para bajak laut dan para dewa bersatu untuk membuka pintu yang selama ini terkunci oleh ketakutan...'
Namun, di tengah keriuhan itu, Tianyang menyadari sesuatu yang aneh. Mata mayat itu... perlahan mulai terbuka. Pupilnya tidak memiliki warna, melainkan menampilkan pantulan wajah Lin Feng di masa lalu.
"Guru..." bisik Tianyang, menatap Lin Feng. "Mayat ini... dia mengenalmu. Dia memanggil namamu di dalam kepalaku."
Apa yang akan terjadi saat mereka sampai di titik X?
Penyatuan Kekuatan Luffy menggunakan Gear 5 untuk menarik "Pulau Waktu" tersebut keluar dari dimensi persembunyiannya sementara Tianyang menahan tekanan atmosfernya.
Kebenaran Lin Feng Mayat itu bangkit dan mengungkapkan bahwa Lin Feng sebenarnya adalah orang yang membunuhnya jutaan tahun lalu untuk menciptakan sistem ini.
Penyergapan Aliansi Kosmik Utusan Pemakan Bintang muncul tepat saat gerbang menuju titik X terbuka, memicu pertempuran besar di atas dek Thousand Sunny.
Thousand Sunny kini melesat di atas jalur cahaya berkelok yang membelah samudera perak. Di depan mereka, realitas seakan terkelupas, memperlihatkan sebuah massa raksasa yang terperangkap dalam gelembung waktu Pulau Waktu: Chronos Raftel.
"Pulau itu... dia tidak mau keluar!" teriak Nami sambil mencengkeram erat Log Pose yang jarumnya berputar hingga patah. "Tekanan atmosfernya terlalu besar! Kita akan hancur sebelum sempat mendarat!"
Luffy menatap pulau yang berkedip di antara dimensi itu dengan seringai lebar. "Shishishi! Kalau dia tidak mau keluar, aku yang akan menariknya!"
Luffy melompat tinggi ke udara. Jantungnya mulai berdetak dengan irama yang aneh Drums of Liberation.
Rambut dan pakaian Luffy berubah menjadi putih bersih, dikelilingi oleh uap yang melayang seperti awan surgawi. Matanya bersinar dengan kegembiraan yang tak masuk akal.
[Gomu Gomu no Gigant - Multiverse Pull]: Luffy menjadi raksasa, tangannya membesar hingga seukuran gunung. Ia memukul pulau itu, mencengkeram udara di sekitar gelembung waktu tersebut seolah-olah itu adalah karet fisik.
"Heeee-up!" Luffy menarik napas dalam, otot-otot imajinasinya bekerja. Ia mulai menarik paksa Pulau Waktu itu keluar dari lipatan dimensi.
Namun, tekanan balik dari pulau itu begitu beringas. Arus kronos mencoba menghancurkan tangan Luffy menjadi debu.
"Tianyang! Sekarang!" teriak Lin Feng.
Qin Tianyang melesat ke sisi Luffy. Ia mengaktifkan [Void Domain] tingkat maksimal. Tubuh mutasinya memancarkan aura ungu-hitam yang membentuk jaring pelindung di sekitar tangan Luffy.
Sinergi Teknik Tianyang menelan tekanan waktu yang mencoba menghancurkan Luffy, sementara Luffy menggunakan kekuatan "kebebasan"-nya untuk meniadakan logika fisika yang menahan pulau tersebut.
BOOOOOM!
Sebuah ledakan cahaya putih membutakan semua orang saat Pulau Waktu itu terseret masuk ke realitas Grand Line dengan suara hantaman yang mengguncang dasar samudera.
Di tengah dek yang masih bergetar, mayat misterius itu mendadak bangkit. Tubuhnya tidak lagi pucat; tato di dadanya menyala dengan api biru yang membakar kain kafannya. Matanya terbuka lebar, menampilkan pupil putih yang memancarkan proyeksi memori langsung ke udara.
Semua orang terdiam. Bahkan Luffy kembali ke bentuk aslinya, terengah-engah namun penasaran.
Mayat itu menoleh perlahan ke arah Lin Feng. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam jiwa mereka semua, seperti suara ribuan lonceng yang retak.
"Lama... tidak... bertemu... Sang Arsitek Kehampaan..."
Kai sang Dewa Penulis menjatuhkan penanya. "Kau... Kau adalah Aethelgard, Penjaga Inti Pertama yang seharusnya sudah musnah saat penciptaan sistem."
Aethelgard menunjuk Lin Feng dengan jarinya yang kaku. "Tanyakan padanya... tanyakan pada gurumu, Tianyang. Mengapa aku harus menjadi mayat yang mengambang di antara dimensi?"
Proyeksi memori di udara memperlihatkan kejadian jutaan tahun lalu di Titik Nol. Di sana, terlihat sosok Lin Feng muda dengan mata yang jauh lebih dingin dari sekarang sedang menghujamkan pedang ke jantung Aethelgard.
"Sistem ini membutuhkan bahan bakar, Aethelgard," suara Lin Feng di masa lalu bergema dalam memori itu. "Satu jiwa murni harus dikorbankan untuk menciptakan algoritma yang bisa menahan Pemakan Bintang. Dan jiwamu adalah yang terkuat."
Lin Feng di masa kini hanya berdiri diam, wajahnya tidak menunjukkan emosi, namun tangannya terkepal sangat erat hingga darah menetes dari telapak tangannya.
"Jadi..." suara Tianyang bergetar, pedangnya berdenting pelan karena amarah yang mulai memuncak. "Sistem yang memberiku kekuatan, sistem yang membuatku menjadi monster... semuanya dibangun di atas pembunuhan seorang sahabat? Kau menciptakan 'Bencana' untuk menghentikan 'Kiamat', Guru?"
"Itu adalah pilihan yang logis saat itu," ucap Lin Feng akhirnya. Suaranya datar, tanpa pembelaan. "Tanpa pengorbanan Aethelgard, multiverse ini sudah lama menjadi kotoran di perut Pemakan Bintang."
"Logis?!" teriak Nami, air mata kemarahan muncul di matanya. "Kau membunuh temanmu sendiri dan menjadikannya kompas selama jutaan tahun hanya karena hitungan matematika?!"
Luffy melangkah maju, wajahnya tertutup bayangan topi jeraminya. Atmosfer di Thousand Sunny berubah menjadi sangat berat. "Paman Lin Feng... aku tidak mengerti hal-hal rumit. Tapi orang yang membunuh temannya sendiri demi alasan apa pun... adalah orang yang paling tidak bebas di dunia ini."
Aethelgard mulai tertawa suara yang menyayat hati. "Dan sekarang, tanda X di dadaku telah sampai. Pulau ini bukan tempat harta karun, Lin Feng. Pulau ini adalah Penjara Jiwaku. Dan saat kakimu menginjakkan kaki di sini, algoritma sistemmu akan runtuh. Pemakan Bintang tidak akan tertahan lagi."
Tiba-tiba, dari arah Pulau Waktu, sebuah raungan kosmik terdengar. Langit Grand Line terbelah, memperlihatkan ribuan mata merah raksasa yang menatap turun. Pemakan Bintang telah menemukan pintu masuknya.
Penebusan Lin Feng Lin Feng harus mengorbankan dirinya sendiri untuk menggantikan posisi Aethelgard di inti sistem agar pulau itu tetap tersegel.
Tianyang yang merasa dikhianati memutuskan untuk menyerang Lin Feng di tengah kepungan Pemakan Bintang yang mulai turun
Ide Gila Luffy muncul dibenaknya, Luffy
menganggap "Sistem" itu sebagai borgol dan mengajak semua orang untuk menghancurkan sistem tersebut dan melawan Pemakan Bintang dengan kekuatan murni persahabatan.
Suasana di atas dek Thousand Sunny meledak dalam ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di satu sisi, langit Grand Line runtuh, memperlihatkan rahang raksasa Pemakan Bintang yang siap mengunyah realitas. Di sisi lain, sebuah pengkhianatan kuno terungkap, menghancurkan fondasi kepercayaan antara guru dan murid.
Kebebasan Manusia
Qin Tianyang melangkah maju, aura ungu kehitamannya tidak lagi stabil. Ia merasakan getaran kemarahan yang selaras dengan rintihan jiwa Aethelgard. "Jadi, selama ini aku hanya bagian dari tinju berdarahmu, Guru? Kau melatihku bukan untuk menjadi manusia, tapi untuk menjadi baterai baru bagi sistemmu?!"
Lin Feng menatap langit yang terbelah, mengabaikan pedang Tianyang yang sudah mengarah ke lehernya.
"Tianyang, emosi adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh penjaga multiverse. Aku melakukan apa yang harus dilakukan."
PLAK!
Suara tamparan keras menggema. Bukan dari Tianyang, melainkan dari Luffy. Tangan karetnya kembali mengecil, namun tatapannya seberat gunung.
"Berhenti bicara omong kosong tentang 'harus'!" raung Luffy. Wajahnya yang biasa konyol kini dipenuhi kemurkaan yang murni. "Kau bilang temanmu adalah bahan bakar? Kau bilang muridmu adalah senjata? Paman Lin Feng, kau adalah orang paling bodoh yang pernah kutemui!"
Luffy berbalik menghadap Pulau Waktu yang berdenyut-denyut. Ia mengepalkan tinjunya, memicu detak jantung Drums of Liberation hingga terdengar seperti guntur yang mengguncang samudera.
"Nami! Robin! Paman Penulis! Paman Arsitek!" teriak Luffy. "Aku tidak peduli dengan sistem atau algoritma kiamat itu! Jika sistem ini dibangun di atas penderitaan teman, maka sistem ini adalah borgol! Dan aku benci borgol!"
Kai (Dewa Penulis) tertegun. "Luffy, jika sistem ini dihancurkan, tidak akan ada yang menahan Pemakan Bintang. Multiverse akan musnah dalam hitungan detik!"
"Maka kita lawan mereka dengan tangan kita sendiri!" balas Luffy dengan senyum lebar yang menakutkan. "Kita tidak butuh mesin untuk melindungi rumah kita! Kita hanya butuh satu sama lain!"
Luffy menatap Tianyang. "Hei, Kakak Bermata Merah! Jangan biarkan orang ini mengatur takdirmu!
Hancurkan sistem di dalam tubuhmu! Kita buat dunia baru di mana tidak ada yang perlu dikorbankan!"
Tianyang merasakan dorongan tekad Luffy masuk ke dalam jiwanya. Ia melihat ke arah Lin Feng, lalu ke arah Aethelgard yang menderita. Dengan raungan yang membelah langit, Tianyang menusukkan tangannya sendiri ke dalam dadanya tepat ke pusat Dantian Hitam.
[System Collapse – Eternal Freedom]
Tianyang tidak lagi menyerap energi; ia meledakkannya dari dalam.
Ia menghancurkan kode-kode emas sistem yang ditanamkan Lin Feng di setiap sel tubuhnya.
Gelombang kejut hitam-emas menyapu Thousand Sunny. Rantai-rantai takdir yang mengikat Aethelgard hancur seketika.
Lin Feng terbelalak. "Apa yang kau lakukan?! Kau akan mati, Tianyang!"
"Aku lebih baik mati sebagai manusia bebas daripada hidup sebagai mesinmu, Guru!" teriak Tianyang.
Tiba-tiba, Gandron (Sang Arsitek) tertawa kecil. "Menarik. Logika baru telah tercipta. Lin Feng, lihatlah... emosi yang kau anggap kelemahan justru menciptakan frekuensi yang tidak bisa dimakan oleh Pemakan Bintang."
Takdir
Sistem Lin Feng secara resmi [CRASHED]. Layar transparan itu pecah menjadi ribuan fragmen cahaya yang kemudian diserap oleh kru Topi Jerami dan para murid elit.
Tanpa sistem, kekuatan mereka tidak berkurang, justru berlipat ganda karena tidak ada lagi limitasi.
Luffy melompat ke langit, berubah kembali menjadi Gear 5 Giant.
Tianyang melayang di sampingnya, sayap Void raksasa tumbuh dari punggungnya, murni dari kekuatannya sendiri.
Zoro dan Jian Wushuang berdiri berdampingan di dek, menyiapkan tebasan yang bisa memotong konsep waktu itu sendiri.
"Kai!" teriak Lin Feng, akhirnya tersenyum tipis sebuah senyum tulus yang pertama kali muncul setelah jutaan tahun. "Berhenti menulis sejarah. Mari kita buat kekacauan yang akan diingat oleh multiverse selamanya!"
Kai mengambil pena energinya dan mematahkannya. Ia mencabut pedangnya. "Setuju. Mari kita ajari monster-monster langit itu cara berteriak."
Luffy tertawa, tinjunya membesar hingga seukuran pulau, dilapisi dengan Haki dan energi Void Tianyang yang menyatu.
"Gomu Gomu no... MULTIVERSE BAJRANG GUN!!!"
BOOOOOOMMMMMM!
Tinju raksasa itu menghantam mata pertama Pemakan Bintang, memicu ledakan yang cahayanya bisa terlihat dari bumi, dari dunia kultivasi, hingga ke ujung penciptaan.
Terimakasih kawan setia nantikan terus cerita saya.
