Cherreads

Chapter 172 - BAB 163: KARAKTER LEGENDARIS TERDETEKSI

Kai akan menyusun adegan latihan yang sangat teknis, brutal, dan penuh detail gerakan (choreography), bukan sekadar narasi.

​Membuat Tempaan Neraka di Lembah Refleksi jurang.

​Malam di Lembah Refleksi Jiwa tidak memiliki cahaya. Udara di sini terasa berat, bukan karena gravitasi, melainkan karena tekanan mental yang merembes keluar dari dinding batu.

​"Formasi!" perintah Lin Feng. Suaranya tidak keras, namun memotong kesunyian seperti pisau bedah.

​Tianyang, Wushuang, Ye Chen, Xuanyin, dan Mo Li berdiri di tengah lingkaran yang dikelilingi oleh patung-patung batu tanpa wajah. Tiba-tiba, patung-patung itu bergerak. Ini bukan sihir biasa; ini adalah Proyeksi Bayangan Karma yang dibuat lin feng menjadi formasi brutal untuk latihan tak biasa.

​Jian Wushuang diserang lebih dulu. Bayangan itu bergerak dengan kecepatan yang sama persis dengannya. Wushuang mengayunkan pedangnya, Teknik Pedang Angin Puyuh, namun bayangan itu menangkisnya dengan presisi yang mengerikan.

​Clang! Logam bertemu energi. Wushuang merasakan getaran merambat dari gagang pedang ke tulang lengannya.

Ia memutar pergelangan tangannya, mengubah sudut tebasan menjadi Horizontal Moon Slice. Ia bisa merasakan gesekan udara yang terbakar di sekitar mata pedangnya.

Namun, bayangan itu membalas dengan tendangan ke arah ulu hati. Wushuang harus menarik napas dalam, mengalirkan Qi ke diafragma untuk menahan benturan yang membuat paru-parunya serasa meledak.

​"Jangan hanya menyerang bayangannya!" seru Lin Feng dari tepi lembah. "Rasakan aliran Qi yang menggerakkannya. Potong jalurnya, bukan senjatanya!"

​Di sisi lain, Mo Li sedang bertarung dengan tinju kosong. Lawannya adalah raksasa energi setinggi tiga meter. Mo Li merendahkan kudanya, kakinya mencengkeram tanah hingga retak.

Ia memusatkan seluruh Internal Qi ke tangan kanannya hingga kulitnya memerah dan mengeluarkan uap panas Teknik Tinju Penghancur Gunung.

​BOOM! Saat tinjunya menghantam dada raksasa itu, detail serangannya sangat nyata udara di sekitar titik kontak terkompresi hingga membentuk gelombang kejut transparan.

Mo Li merasakan sendi-sendi tangannya berderit di bawah beban tonase energi tersebut. Ia tidak mundur; ia memutar pinggulnya, menambah daya dorong dari otot punggungnya, memaksa energi lawan hancur dari dalam.

​Sementara itu, Luo Xuanyin si gadis es yang berjuang penuh di udara.

Setiap kali ia menarik tali busur, benang spiritualnya mengiris ujung jarinya hingga berdarah harga yang harus dibayar untuk memanggil Panah Penembus Langit. Ia harus mengatur detak jantungnya agar sinkron dengan getaran tali busurnya. Mata kirinya terpejam, mata kanannya melihat bukan pada target fisik, melainkan pada titik simpul energi di udara.

​Qin Tianyang berdiri di tengah, mengawasi semua. Ia menyadari bahwa latihan ini bukan untuk membunuh musuh, tapi untuk menghancurkan batas fisik mereka sendiri.

Ia memanggil Pedang Surgawi-nya, yang kini bergetar hebat. Energi keemasan mulai meluap dari pori-pori kulitnya, membakar jubahnya menjadi abu.

​"Guru," bisik Tianyang, keringat mengalir masuk ke matanya yang memerah. "Aku merasakan 'Pintu Ketujuh' dalam aliran darahku... itu ingin meledak."

​"Ledakkan!" balas Lin Feng, matanya berkilat tajam. "Jika kau mati di sini, berarti kau memang tidak layak memimpin klan ini menghadapi Utara!"

​ Ada rasa sakit (paru-paru meledak), suara (logam beradu), dan visual (uap panas dari kulit).

​Mekanika Kultivasi sengaja Kai buat menyebutkan "Pintu Ketujuh", "Internal Qi", dan "Simpul Energi".

​Pertaruhan (Stakes) Lin Feng tidak lagi bersikap manis. Ia kejam, dan risiko kematian itu nyata.

Pembaca, Kai melihat monitor pembaca yang naik turun, kai merasa gelisah, ia berpikir harus mengadopsi elemen-elemen dari novel kultivasi paling laris di dunia (seperti Cradle, Reverend Insanity, atau Against the Gods).

​Pembaca saat ini sangat menyukai sistem kultivasi yang logis, brutal, dan memiliki visualisasi yang megah.

​Rahasia Kultivasi "Laris Manis" yang Akan Kita Terapkan.

​Detail Mikroskopis Energi Jangan hanya bilang "ia mengeluarkan tenaga dalam".

Kai menggambarkan Qi itu mengalir melalui meridian, membakar pembuluh darah, dan memadat di pusat Dantian.

​Pertarungan Berbasis Teknis (Choreography) Setiap gerakan harus punya konsekuensi fisik. Jika pedang beradu, jelaskan getaran yang menghancurkan tulang atau percikan api spiritual yang membakar udara.

​Tingkatan Kekuatan yang Jelas (Power Scaling) Pembaca suka melihat progres yang terukur namun sulit dicapai.

​Resonansi Tulang Giok dibuat kai untuk gejotan novelnya (Lanjutan Lembah)

​Di bawah pengawasan tajam Lin Feng, Mo Li meraung.

Ia baru saja mencapai puncak Tahap Pemurnian Tulang, namun Lin Feng memaksanya untuk menghancurkan tulangnya sendiri agar bisa disusun kembali menjadi "Tulang Giok Surgawi".

​"Tekan Qi-mu ke dalam sumsum, Mo Li!" perintah Lin Feng. "Jangan biarkan ia meluap, biarkan ia meledak di dalam!"

​Mo Li merasakan sakit yang tak terlukiskan. Di bawah kulitnya, energi berwarna perunggu gelap berdenyut liar. Setiap kali ia melayangkan tinju ke arah bayangan karma, udara di depannya meledak karena kompresi tekanan tinggi.

​KRETEK! Suara retakan tulang bahu Mo Li terdengar jelas di keheningan lembah. Bukannya mundur, ia justru memutar tubuhnya, menggunakan momentum rasa sakit itu untuk melepaskan serangan "Tinju Sembilan Getaran".

Pukulan pertama menghantam udara, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan lantai batu. Pukulan kedua menghantam bayangan, menembus pertahanan energi lawan dengan frekuensi getaran yang menghancurkan molekul udara.

Walau membuatnya frustasi tapi ia harus berkembang.

​Sementara itu, Qin Tianyang sedang melakukan hal yang lebih gila. Ia duduk bersila di atas aliran lava spiritual. Ia tidak menggunakan pedangnya, melainkan mencoba melakukan "Manunggal Pedang dan Jiwa".

​"Pedangmu bukan benda mati, Tianyang," bisik Lin Feng yang tiba-tiba muncul di belakangnya tanpa suara. "Rasakan aliran karbon dalam bajanya, rasakan haus darah di matanya. Jika kau tidak bisa menjadikannya bagian dari sistem sarafmu, kau akan mati saat Dewa Perang Utara tiba."

​Tianyang memejamkan mata. Tiba-tiba, penglihatannya berubah. Ia tidak lagi melihat dengan mata, melainkan dengan Sense Spiritual. Ia bisa melihat setiap pori-pori di kulitnya yang mengeluarkan uap hitam limbah kotoran dari kultivasi masa lalunya yang tidak sempurna.

​Tiba-tiba, dari kejauhan, sebuah tombak es raksasa meluncur dari langit, membelah awan dan mengincar jantung Tianyang. Itu bukan serangan dari bayangan, melainkan serangan jarak jauh dari Panglima Perang Utara yang mulai merasakan kebangkitan energi di lembah tersebut.

​Lin Feng tidak bergerak. Ia ingin melihat apakah didikan "brutal"-nya membuahkan hasil.

​Tianyang tidak membuka mata. Tangannya bergerak secepat kilat, menangkap udara kosong. Namun, tiba-tiba pedang emasnya muncul di genggamannya dalam sekejap mata sebuah teknik Spatial Displacement tingkat tinggi.

​SLASH!

​Tombak es seukuran pohon raksasa itu terbelah menjadi dua secara vertikal, menguap menjadi kabut sebelum sempat menyentuh permukaan lava.

​Kai Membuat Ini Semakin Menarik.

​Visual yang kuat Ada tulang yang retak, lava spiritual, dan tombak es raksasa.

​Istilah Teknis Baru "Tulang Giok Surgawi", "Sembilan Getaran", "Spatial Displacement".

​Ketegangan (Suspense) Musuh sudah mulai menyerang dari jarak jauh, menandakan perang sudah sangat dekat.

​Malam itu, salju tipis mulai turun, membungkus pondok kayu Lin Feng dalam selimut putih yang sunyi. Di tengah keheningan pegunungan yang dingin, sesosok wanita dengan jubah tipis mendaki jalan setapak yang terjal. Li Sheng sampai di depan pintu pondok dengan napas yang tersenggal dan jemari yang membiru karena kedinginan.

Ia tidak lagi membawa kemegahan seorang istri pemimpin klan; yang tersisa hanyalah seorang ibu yang hancur, mencari sisa-sisa kehidupan di tengah badai.

​Pintu kayu tua itu berderit terbuka bahkan sebelum Li Sheng sempat mengetuknya. Di ambang pintu, berdiri Lin Feng. Ia tidak mengenakan jubah tebal, namun hawa dingin seolah enggan menyentuh tubuhnya.

Matanya yang biasanya tajam dan sedalam samudera, kini melunak saat menatap wanita yang berdiri gemetar di hadapannya.

​Pertemuan Dua Jiwa yang Terluka

​"Dunia luar terlalu luas untuk jiwa yang sedang mencari arah, Li Sheng," ucap Lin Feng dengan suara rendah yang menenangkan.

"Masuklah. Api di dalam sudah menunggu."

​Li Sheng melangkah masuk. Di sudut ruangan, ia melihat Qin Tianyang sedang bermeditasi dalam posisi teratai, tubuhnya memancarkan uap tipis akibat sirkulasi energi yang intens. Tianyang tidak membuka matanya, namun air mata mengalir di pipinya; ia tahu ibunya telah datang, ia merasakan kehadiran wanita itu melalui ikatan darah yang kini diperkuat oleh indra spiritualnya.

​Li Sheng bersimpuh di depan perapian, membiarkan kehangatan api menjilat kulitnya yang pucat. Ia menatap Lin Feng yang sedang menyeduh teh dengan gerakan yang begitu tenang, seolah-olah waktu tidak berlaku bagi pria itu.

​"Kenapa kau membiarkannya kembali ke sini, Master Lin?" tanya Li Sheng dengan suara parau yang nyaris pecah.

"Takhta itu adalah haknya. Keamanan istana adalah miliknya. Di sini... di sini hanya ada penderitaan dan bahaya yang lebih besar."

​Kebenaran di Balik Penderitaan, terasa menyakitkan jika bisa membangun yang di impikan.

​Lin Feng menyerahkan cangkir tanah liat berisi teh hangat. "Takhta yang kau maksud adalah penjara berlapis emas, Li Sheng. Aku tidak melatih putra Anda untuk menjadi sipir di penjara itu.

Aku melatihnya untuk menjadi elang yang membelah langit."

​Lin Feng duduk di hadapannya, tatapannya mengunci mata Li Sheng. "Kau merasa hampa karena selama ini identitasmu dibangun di atas rasa sakit yang diberikan orang lain.

Sekarang, setelah sumber rasa sakit itu hilang, kau merasa kehilangan diri sendiri. Namun lihatlah putramu..."

​Lin Feng menunjuk ke arah Tianyang. "Dia tidak menduduki takhta ayahnya bahkan ia telah lama tak memiliki marga ayahnya.

karena dia tahu bahwa musuh sejati bukanlah manusia yang bisa dipenjara, melainkan kelemahan diri sendiri. Dia kembali ke sini bukan untuk menderita, tapi untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi wanita yang harus menangis di paviliun dingin seperti yang Anda alami selama belasan tahun."

​Mendengar itu, pertahanan Li Sheng runtuh. Ia terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Isak tangisnya adalah pelepasan dari belenggu trauma yang selama ini ia kunci rapat-rakan.

Pelampiasan ​Sumpah di Bawah Langit Malam

​Tianyang tiba-tiba berdiri. Dalam sekejap mata sebuah gerakan yang nyaris tak tertangkap mata manusia ia sudah berada di samping ibunya, memeluk bahu wanita itu dengan tangan yang kini kuat dan kokoh.

​"Ibu," bisik Tianyang, suaranya mengandung resonansi kekuatan yang menggetarkan ruangan.

"Takhta Wang itu kotor. Aku akan membangunkan istana baru untuk Ibu di puncak tertinggi pegunungan ini, di mana cahaya matahari akan menyentuh Ibu pertama kali setiap pagi.

Tapi sebelum itu, izinkan aku menghancurkan badai yang datang dari Utara."

​Lin Feng berdiri, berjalan menuju jendela yang terbuka, menatap ke arah cakrawala utara di mana cahaya merah mulai berpendar di balik awan salju.

​"Malam ini, beristirahatlah," ucap Lin Feng dengan nada yang kembali dingin dan penuh otoritas. "Karena mulai besok, latihan Tianyang akan memasuki Tahap Penghancuran Diri. Dan kau, Li Sheng... kau akan belajar bagaimana menjadi pilar kekuatan bagi legenda yang sedang tumbuh ini.

Tidak ada lagi air mata di pondok ini, hanya ada baja yang ditempa."

​Saat salju semakin lebat, Panglima Perang Utara, Gorgos sang Penghancur Baja, telah sampai di kaki gunung. Ia membawa pasukan elit yang mengendarai serigala es raksasa.

Kai dengan santainya menggariskan formasi​Strategi Gerilya, Bagaimana keempat murid elit (Jian Wushuang, dll) melakukan penyergapan mematikan di celah gunung dengan teknik delta.

​Duel Pembuka bagi Lin Feng mengizinkan Tianyang menghadapi jenderal pertama Utara sendirian untuk menguji teknik "Tubuh Tanpa Wujud"?

​Persiapan Mistis disergap Lin Feng membimbing Li Sheng untuk menggunakan kekuatan musik (kecapi) sebagai pendukung spiritual bagi para murid.

Menggunakan elemen "Sistem" telah menarik karakter legendaris dari semesta novel kultivasi lain adalah tren yang sangat populer (genre Crossover atau Multi-World).

​Kai akan memasukkan Han Li dari A Will Eternal atau Record of a Mortal's Journey to Immortality (yang terkenal sangat hati-hati dan licin) atau Shi Hao dari Perfect World. Namun, untuk dampak paling dahsyat, kita akan memanggil Fang Yuan dari Reverend Insanity atau Li Qiye dari Emperor's Domination.

SISTEM, Kai gunakan Fang Yuan sebagai sosok misterius yang ditarik oleh sistem, namun dengan karakteristik aslinya, dingin, kalkulatif, dan tidak memihak.

​ Anomali Sistem – Kedatangan Sang Iblis Abadi

​Di tengah dentuman musik kecapi Li Sheng dan hawa dingin Gorgos, tiba-tiba langit di atas Lembah Refleksi terbelah. Bukan oleh tebasan pedang, melainkan oleh retakan hitam pekat yang memancarkan aura kuno yang menyesakkan.

​[PEMBERITAHUAN SISTEM: Sinkronisasi Multisemesta Berhasil...]

[Karakter Legendaris Terdeteksi: Fang Yuan (The Great Love Immortal Venerable)]

[Status: Proyeksi Jiwa Sementara – Target: Netral/Anomali]

​Lin Feng menghentikan langkahnya. Matanya yang biasanya tenang kini menyipit tajam. Di hadapannya, dari dalam retakan itu, muncul seorang pria berjubah hitam dengan rambut panjang yang terurai. Matanya sedalam jurang maut, tidak memancarkan emosi sedikit pun.

​"Tempat ini... energinya terlalu rendah," ucap Fang Yuan dengan nada datar yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Ia menatap Gorgos sang Penghancur Baja seolah-olah pemimpin Utara itu hanyalah seekor semut di pinggir jalan.

​Gorgos yang merasa terhina melepaskan teknik pamungkasnya, "Zirah Es Absolut: Nol Mutlak". Seluruh area dalam radius satu mil membeku seketika, mengunci molekul udara dan waktu.

​Namun, Fang Yuan hanya menjentikkan jarinya. "Terlalu banyak gerakan yang sia-sia."

​Seketika, es yang membeku itu berbalik arah, menyerang pasukan Utara sendiri. Ini bukan sihir, melainkan manipulasi jalur Refinement yang sangat teknis. Fang Yuan tidak melawan energi Gorgos; ia "memurnikan" kembali energi musuh menjadi miliknya.

​Tianyang melihat ini dan terpana. Lin Feng berbisik di sampingnya, "Jangan hanya melihat hasilnya, Tianyang. Perhatikan bagaimana dia menggerakkan Will (Kehendak) tanpa membuang satu tetes pun Qi. Itulah puncak dari efisiensi."

​Pertempuran Murid Elit menjadi Pengepungan Serigala Es.

​Sementara itu, di lereng bawah, Jian Wushuang, Ye Chen, Luo Xuanyin, dan Mo Li menghadapi ribuan pasukan serigala es. Di sini, detail pertarungan menjadi sangat brutal.

​Mo Li mengaktifkan Sembilan Getaran. Saat ia menghantam tanah, getaran itu merambat melalui struktur tulang serigala es, menghancurkan organ dalam mereka tanpa merusak bulu luarnya. jantung makhluk itu pecah akibat resonansi frekuensi tinggi.

​Luo Xuanyin berdiri di puncak karang. Ia menarik busurnya hingga otot lengannya menegang dan urat-uratnya terlihat jelas. Setiap anak panahnya membawa teknik "Hujan Partikel Cahaya", yang saat meledak, akan mengirimkan ribuan jarum mikro yang menembus titik syaraf musuh dengan presisi bedah.

​Jian Wushuang bergerak bagai tarian maut. Detail gerakannya: ia memutar pedangnya 360 derajat dalam 0,1 detik, menciptakan vakum udara yang menarik musuh mendekat sebelum menebas leher mereka secara bersamaan.

​Peran Li Sheng Dirigen Kematian

​Li Sheng, di bawah bimbingan instingtif dari aura Fang Yuan yang tiba-tiba hadir, mengubah temponya. Musiknya kini menjadi gelap dan penuh intimidasi.

Ia memainkan teknik "Simfoni Keputusasaan".

​Setiap nada tinggi yang ia petik menyebabkan kavaleri Utara kehilangan keseimbangan.

Kuda-kuda mereka mendadak lumpuh karena musik Li Sheng menyerang cairan di telinga dalam (keseimbangan) mereka.

​"Siapa... siapa orang itu?" tanya Li Sheng dengan napas terengah, menatap Fang Yuan.

​"Dia adalah pengingat," jawab Lin Feng, "bahwa di atas langit masih ada langit. Dan hari ini, Tianyang akan belajar teknik terakhir darinya sebelum dia kembali ke dunianya."

​Fang Yuan menatap Tianyang. "Bocah, perhatikan baik-baik. Aku hanya akan menunjukkan 'Jalan Keuntungan Abadi' ini sekali. Jika kau gagal menangkapnya, kau tidak layak memegang pedang."

​Crossover: dari SISTEM Memasukkan Fang Yuan (tokoh paling ikonik dari Reverend Insanity) akan memicu diskusi panas di kolom komentar.

​ Kai merasakan Resonansi, Vakum Udara, hingga Sistem Keseimbangan Telinga.

Sistem tiba-tiba menarik karakter dari buku lain?

More Chapters