Cherreads

Chapter 171 - BAB162: RUNTUHNYA SANG TIRANI

​ Runtuhnya Sang Tirani

​Tuan Wang mencoba mengangkat wajahnya, bibirnya bergetar seolah ingin membela diri, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Melihat tatapan Qin Tianyang yang dingin dan tak tergoyahkan, ia menyadari bahwa putra yang dulu ia remehkan kini telah menjelma menjadi sosok yang jauh lebih menakutkan daripada dirinya di masa jaya.

​"Kalian... kalian tidak akan bisa mengelola klan ini sendirian," bisik Tuan Wang dengan suara serak, sebuah upaya terakhir untuk mempertahankan relevansinya. "Para tetua... mereka tidak akan pernah tunduk pada seorang pemuda dan wanita yang..."

​"Para tetua sudah memilih sisi, Ayahanda," potong Qin Tianyang dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Mereka lebih takut pada kehancuran klan daripada takut pada Anda. Dan saat ini, saya adalah satu-satunya orang yang memegang kunci masa depan mereka."

​Ia beralih menatap ibunya, sorot matanya melembut seketika. "Ibu, apakah Ibu ingin mengatakan sesuatu padanya? Sebelum kita memindahkan 'Tuan Besar' ke kediaman barunya di paviliun belakang?"

​Sang Ibu, yang sejak tadi hanya diam dengan keanggunan yang menyakitkan, akhirnya melangkah maju. Ia berdiri tepat di depan suaminya.

Tidak ada amarah di wajahnya, hanya kehampaan yang dalam.

​"Wang," ucapnya pelan. "Dulu aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Tapi hari ini, aku bahkan tidak membencimu. Karena benci adalah sebuah perasaan, dan bagiku, kau sudah mati sejak belasan tahun yang lalu."

​Ia berbalik tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Tuan Wang yang mematung dalam kehampaan.

​"Bawa dia pergi," perintah Qin Tianyang kepada para pengawal yang sudah menunggu di balik pintu. "Pastikan dia mendapatkan perawatan medis terbaik. Saya ingin dia tetap sehat untuk menyaksikan setiap detik kejayaan yang akan kita bangun di atas puing-puing kesalahannya."

​Saat Tuan Wang diseret keluar dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur, Qin Tianyang menarik napas dalam. Udara di ruangan itu terasa lebih ringan

, namun ia tahu ini barulah permulaan.

​Musuh Eksternal ada klan pesaing yang mencoba memanfaatkan ketidakstabilan internal ini untuk menyerang.

​Transformasi Qin Tianyang

ketegangan politik dengan aksi pertempuran saat Lin Feng membebaskan para murid elit.

​ Fajar Pemberontakan

​Suasana di aula utama klan masih mencekam saat Qin Tianyang dan Ibunya berdiri di balkon, menatap halaman luas yang biasanya tenang. Namun, ketenangan itu pecah oleh suara ledakan dari arah bawah tanah wilayah penjara besi tempat para murid elit dikurung selama ini.

​"Itu dimulai," gumam Tianyang, matanya berkilat.

​Di kedalaman penjara, debu mengepul hebat. Pintu jeruji baja setebal sepuluh sentimeter itu hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang hancur, berdiri Lin Feng. Jubahnya sedikit tercoreng jelaga, namun auranya memancar kuat. Di tangannya, ia memegang kunci-kunci spiritual yang telah ia rebut dari penjaga tingkat tinggi.

​"Bangun, kalian semua!" suara Lin Feng menggelegar, bergema di sepanjang lorong sel yang gelap. "Tuan Wang telah jatuh! Hari ini, kalian tidak lagi menjadi tahanan dari ketakutan. Hari ini, kalian adalah pedang yang akan membersihkan klan ini!"

​Satu per satu, murid-murid elit yang selama ini disiksa dan ditekan mulai melangkah keluar. Mata mereka, yang tadinya redup oleh keputusasaan, kini menyala dengan amarah yang murni. Di antara mereka adalah Ye Chen, murid terkuat di generasinya, yang langsung berlutut di hadapan Lin Feng.

​"Guru Lin... apakah ini saatnya?" tanya Ye Chen dengan suara parau.

​"Ini saatnya," jawab Lin Feng sambil melemparkan sebilah pedang pusaka kepada Ye Chen. "Ambil senjata kalian. Para tetua yang korup sedang menunggu di aula.

Tunjukkan pada mereka apa artinya mengkhianati potensi masa depan klan!"

​Pertempuran di Aula Utama

​Sementara itu, di aula pertemuan, para Tetua Klan sedang berkumpul dengan wajah pucat. Mereka baru saja mendengar kabar bahwa Tuan Wang telah ditumbangkan oleh Tianyang, namun mereka tidak menyangka bahwa ancaman yang lebih besar sedang bergerak dari bawah.

​Tetua Agung, seorang pria tua dengan janggut putih panjang, memukul meja dengan keras. "Ini pemberontakan! Tianyang sudah keterlaluan! Siapa yang berani melepaskan para murid elit itu?!"

​BRAKK!

​Pintu aula besar itu ditendang hingga jebol. Lin Feng masuk paling depan, diikuti oleh puluhan murid elit yang memancarkan niat membunuh yang luar biasa.

​"Aku yang melepaskan mereka, Tetua Agung," ucap Lin Feng dengan nada dingin yang menusuk tulang.

​Para Tetua bangkit, mengeluarkan senjata dan energi spiritual mereka. "Lin Feng! Kau hanyalah guru rendahan! Beraninya kau menghasut murid-murid ini!"

​"Guru rendahan inilah yang akan mengajari kalian satu pelajaran terakhir," balas Lin Feng. Ia memberi isyarat tangan ke belakang.

"Murid-murid... serang!"

​Pertempuran pecah seketika di dalam aula yang megah itu. Dentingan pedang dan ledakan energi spiritual menghancurkan pilar-pilar marmer. Para murid elit bertarung seperti singa yang baru lepas dari kandang, melampiaskan dendam bertahun-tahun atas ketidakadilan yang mereka terima di bawah rezim Tuan Wang.

​Dari atas balkon, Qin Tianyang menyaksikan pemandangan itu. Ia tahu, klan ini memang harus hancur terlebih dahulu agar bisa dibangun kembali dari abu pembakaran.

​ Tetua Agung melawan secara langsung.

​Kekacauan Qin Tianyang turun tangan saat salah satu murid elit hampir kalah.

Saat pertempuran berakhir dan para murid menuntut keadilan pada para tetua yang tersisa.

pertarungan sengit di aula yang dulu megah kini mulai hancur berkeping keping. tembok dinding, dengan Lin Feng berhadapan langsung dengan Tetua Agung, dan empat murid elit tangguh.

Jian Wushuang, Ye Chen, Luo Xuanyin, serta Mo Li menunjukkan kultivasi tak terkalahkan mereka.

​ Gema Pedang dan Angin Spiritual

​Pertempuran di aula utama berkobar dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Udara dipenuhi kilatan energi spiritual, auman kemarahan, dan jeritan kesakitan.

​Lin Feng melesat seperti bayangan, berhadapan langsung dengan Tetua Agung. Aura spiritual Tetua Agung meledak, memanggil pusaran angin tajam yang mengiris udara. "Lin Feng, kau akan mati di sini!

Keangkuhanmu akan mengakhiri dirimu dan murid-murid sesatmu!"

​"Keangkuhan?" Lin Feng tertawa dingin. "Atau mungkin keadilan yang kau takutkan, Tetua Agung?"

​Pedang Lin Feng melintas, memancarkan cahaya keperakan yang membelah pusaran angin. Serangannya presisi dan mematikan, menembus pertahanan Tetua Agung yang kokoh. Tetua Agung terpaksa mundur, terkejut dengan kekuatan Lin Feng yang jauh melampaui dugaannya.

Ia telah meremehkan guru yang satu ini terlalu lama.

​Sementara itu, di medan pertempuran lain, empat pilar kekuatan bergerak dengan mematikan.

​Jian Wushuang bergerak bagai hantu, pedangnya menari-nari dalam tarian maut. Setiap tebasan memancarkan energi pedang yang tajam dan tidak terlihat, membelah formasi pertahanan para pengawal klan yang setia pada Tetua. Ia adalah manifestasi dari kecepatan dan presisi mematikan yang diajarkan Lin Feng. Dua pengawal kuat jatuh dengan luka sayatan yang nyaris tak terlihat, sebelum mereka bahkan menyadari apa yang menyerang mereka.

​Ye Chen, dengan kultivasi spiritualnya yang mendalam, adalah badai energi. Ia melancarkan mantra-mantra elemen tanah dan api secara bersamaan. Dinding bumi tiba-tiba muncul, menjebak beberapa lawan, sebelum api spiritual meledak, melahap siapa saja yang terperangkap di dalamnya.

Wajahnya tenang, tapi setiap gerakannya adalah bencana bagi musuhnya.

​Luo Xuanyin, yang mengkhususkan diri pada serangan jarak jauh, melayang di udara dengan elegan. Panah-panah spiritualnya ditembakkan secara beruntun, masing-masing membawa daya ledak yang luar biasa.

Ia menargetkan para penyalur energi spiritual di barisan belakang musuh, membuat mereka tidak dapat memberikan dukungan, melumpuhkan strategi pertempuran lawan.

​Mo Li, dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa dan teknik tempur jarak dekat yang brutal, adalah gelombang penghancur. Tinju dan tendangannya memancarkan aura kehancuran, menghancurkan perisai spiritual dan menghancurkan tulang.

Ia menyerbu maju tanpa rasa takut, mengambil beban serangan musuh, dan membalas dengan kekuatan dahsyat yang tak tertandingi.

​Para murid elit lainnya, yang juga dilatih Lin Feng, bertarung dengan semangat membara.

Mereka membentuk formasi tempur yang solid, saling melindungi, dan melumpuhkan musuh satu per satu. Aula itu dipenuhi raungan kemenangan dan dentingan senjata, ketika perlawanan Tetua Agung dan pengikutnya mulai runtuh di bawah gelombang pasang pemberontakan yang dipimpin oleh Lin Feng dan para muridnya.

​Dari balkon, Ibu Qin menatap Qin Tianyang. "Mereka lebih kuat dari yang kubayangkan," bisiknya, takjub.

​"Lin Feng tidak pernah melatih murid biasa, Ibu," jawab Tianyang, senyum puas tersungging di bibirnya. "Dia melatih legenda."

​Namun, pertempuran belum berakhir. Tetua Agung, melihat pasukannya hancur, mengeluarkan artefak kuno dari balik jubahnya.

Sebuah permata merah darah mulai bersinar, memancarkan energi yang mengancam. "Kalian semua akan menyesali ini!" raungnya.

​Lin Feng menghadapi artefak, Lin Feng harus menggunakan teknik pamungkas untuk menghentikan Tetua Agung.

​Murid elit ikut campur Jian Wushuang dan yang lainnya menggabungkan kekuatan untuk menetralkan artefak.

​ Artefak itu memiliki efek samping yang mengejutkan, atau seseorang dari luar klan ikut campur.

Tetua Agung merogoh sesuatu dari balik jubahnya yang koyak sebuah permata berbentuk jantung yang berdenyut dengan cahaya merah tembaga yang mengerikan. Itulah "Jantung Karat Sang Leluhur", artefak terkutuk yang selama ratusan tahun dianggap hanya mitos pengantar tidur bagi anak-anak klan.

​"Jika klan ini harus runtuh, maka kalian semua akan menjadi fondasi bagi kuburanku!" raung Tetua Agung. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman parau yang dipenuhi kebencian murni.

​Ia menghancurkan permata itu dalam genggamannya.

​Seketika, realitas di dalam aula seolah terdistorsi. Alih-alih ledakan energi yang menghancurkan fisik, sebuah gelombang keheningan yang menyesakkan menyapu seluruh ruangan.

Detik berikutnya, dinding-dinding marmer yang megah mulai berkarat dan melapuk dalam hitungan detik. Senjata-senjata baja milik para pengawal biasa hancur menjadi abu kelabu.

​Namun, efek yang paling mengerikan adalah pada jiwa. Artefak itu tidak menyerang raga, melainkan menarik keluar seluruh penyesalan dan kegelapan dari masa lalu siapa pun yang menghirup udaranya.

​Manifestasi Jiwa Ujian Terakhir

​Aula berubah menjadi ruang hampa yang dipenuhi kabut merah. Para murid elit yang tadi tak terkalahkan, tiba-tiba terhenti.

​Jian Wushuang melihat pedangnya berubah menjadi ribuan tangan yang memohon ampun arwah dari mereka yang pernah ia tebas dalam tugas dinginnya dulu. Ye Chen dikelilingi oleh api yang tidak panas, namun membisikkan kegagalan-kegagalannya. Luo Xuanyin melihat busurnya melilit lehernya seperti ular, sementara Mo Li merasakan beban ribuan ton menekan pundaknya, manifestasi dari rasa bersalah atas kekuatan penghancurnya.

​"Kultivasi kalian mungkin tak terkalahkan oleh baja," desis Tetua Agung yang kini tubuhnya mulai membusuk akibat kutukan artefak itu sendiri, "tapi kalian tak akan pernah bisa menang melawan diri kalian sendiri!"

​Teknik Cahaya Murni Lin Feng

​Di tengah kekacauan mental itu, Lin Feng tetap berdiri tegak. Matanya tidak menatap pada kabut merah, melainkan pada titik tak terlihat di udara. Ia tidak menggunakan tenaga dalam, melainkan sebuah teknik yang melampaui logika kultivasi tradisional "Sutra Hati Tak Bertepi".

​"Wushuang! Ye Chen! Xuanyin! Mo Li!" Suara Lin Feng terdengar jernih, membelah kabut merah seperti lonceng kuil di pagi hari. "Pedang bukan tentang siapa yang kau bunuh, tapi tentang siapa yang kau lindungi.

Jangan menatap bayangan di bawah kaki kalian, tataplah fajar yang sedang kita bangun!"

​Mendengar suara gurunya, energi spiritual para murid elit itu mulai bermutasi.

Mereka tidak lagi melawan kabut itu, melainkan menyerapnya, mengubah kegelapan menjadi bahan bakar tekad mereka.

​Serangan Gabungan yang Indah

​Jian Wushuang adalah yang pertama bergerak.

Ia tidak lagi mengayunkan pedang untuk membunuh, melainkan untuk membelah dimensi ilusi. Tebasannya menciptakan garis cahaya putih yang merobek kabut merah.

​Luo Xuanyin menarik tali busurnya yang kini bercahaya keemasan. Ia melepaskan satu anak panah yang bukan terbuat dari energi, melainkan dari harapan murni. Anak panah itu terbang, meninggalkan jejak bunga-bunga cahaya di udara yang membusuk.

​Ye Chen dan Mo Li menggabungkan kekuatan mereka. Ye Chen menciptakan pusaran angin yang memurnikan udara, sementara Mo Li menghantam lantai aula dengan tinjunya, mengalirkan energi kehidupan yang menghentikan proses perkaratan pada bangunan tersebut.

​Tamu Tak Diundang Sang Penenun Takdir

​Tepat saat serangan gabungan mereka hampir menghancurkan Tetua Agung, atap aula terbuka secara perlahan,

​Seorang wanita misterius dengan gaun yang terbuat dari jalinan benang-benang perak turun dari langit dengan anggun.

Di tangannya, ia memegang sebuah alat tenun kecil yang terus berputar.

​"Cukup," ucap wanita itu. Suaranya membawa wibawa yang membuat energi spiritual di seluruh ruangan mendadak sujud, tak terkecuali milik Lin Feng.

​Ia adalah Sang Penenun Takdir, sosok dari klan tersembunyi yang menjaga keseimbangan dunia persilatan. Ia menatap Lin Feng dengan tatapan penuh selidik yang tajam namun indah.

​"Klan Wang hanyalah debu di bawah kakiku," ucap wanita itu sambil melirik Tetua Agung yang kini hanya tinggal tulang belulang yang bergetar. "Tapi kau, Lin Feng... kau telah menciptakan sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Murid-murid dengan jiwa yang melampaui batas manusia."

​Ia mengibaskan tangannya, dan artefak "Jantung Karat" yang hancur itu berubah menjadi debu bintang yang melayang ke arahnya.

​"Dunia luar telah mencium aroma kekuatan baru ini. Lin Feng, kemenanganmu atas klan ini barulah undangan untuk perjamuan maut yang lebih besar.

Para Dewa Perang dari wilayah Utara mulai bergerak karena merasa terancam oleh keberadaan murid-muridmu."

​Wanita itu menghilang dalam pusaran benang perak, meninggalkan aula dalam keheningan yang mencekam. Kemenangan sudah di tangan, namun bayangan musuh yang jauh lebih kuat kini menghantui ufuk timur.

​Kejar Sang Penenun Lin Feng mencoba mencari tahu siapa wanita itu dan mengapa dia tertarik pada murid-muridnya.

​Konsolidasi Kekuasaan Qin Tianyang mulai memimpin klan yang hancur di bawah bimbingan Lin Feng sambil mempersiapkan diri dari serangan wilayah Utara.

​Perjalanan Baru Lin Feng membawa keempat murid elitnya keluar dari klan untuk menempa kekuatan mereka di tempat-tempat terlarang sebelum Dewa Perang tiba.

Debu pertempuran mulai mengendap, meninggalkan aroma logam dan sisa-sisa energi spiritual yang bergetar di udara. Aula Besar yang dulunya merupakan simbol kesombongan Tuan Wang, kini hanyalah reruntuhan megah yang saksi bisu atas lahirnya sebuah era baru.

​ Arsitek di Atas Puing-Puing

​Qin Tianyang melangkah di antara pilar-pilar yang retak. Jubahnya yang bersih kini ternoda jelaga, namun matanya memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya.

Di sampingnya, Lin Feng berjalan dengan tenang, tangannya terlipat di belakang punggung, seolah-olah kekacauan yang baru saja terjadi hanyalah riak kecil di permukaan telaga yang tenang.

​"Kekuasaan bukan tentang siapa yang berlutut di hadapanmu, Tianyang," suara Lin Feng bergema pelan namun otoritatif. "Tetapi tentang berapa banyak nyawa yang bisa kau sandarkan di pundakmu tanpa membuatmu patah."

​Tianyang berhenti di depan takhta kayu cendana yang kini miring. Ia tidak duduk di sana. Sebaliknya, ia menyentuh ukiran naga yang patah itu dengan ujung jarinya. "Guru, klan ini telah busuk hingga ke akarnya. Memperbaikinya akan lebih sulit daripada menghancurkannya."

​"Maka jangan perbaiki," balas Lin Feng datar. "Tanamlah benih baru di atas tanah yang sudah dibersihkan oleh api pertempuran tadi."

​Mobilisasi Kekuatan Baru

​Di bawah bimbingan Lin Feng, Tianyang mulai menyusun strategi konsolidasi yang radikal. Ia menghapus kasta-kasta rendah yang selama ini menindas murid luar, membuka akses perpustakaan rahasia bagi siapa saja yang memiliki bakat dan loyalitas, serta mengganti para tetua korup dengan individu-individu yang teruji dalam pertempuran.

​Jian Wushuang diangkat menjadi Panglima Penjaga Gerbang, mengubah gaya pertahanannya yang liar menjadi formasi pedang yang mustahil ditembus.

Luo Xuanyin mendirikan menara-menara pemantau spiritual yang menggunakan benang-benang energi untuk mendeteksi penyusup dari jarak puluhan mil.

Ye Chen dan Mo Li bertanggung jawab atas pelatihan intensif para murid baru, menanamkan filosofi "Kultivasi Tanpa Batas" yang diajarkan oleh Lin Feng.

​Namun, di balik pembangunan itu, awan gelap dari Utara mulai mendekat.

​Ancaman dari Wilayah Utara

​Kabar tentang jatuhnya Tuan Wang dan munculnya "Empat Monster Elit" di bawah asuhan seorang guru misterius telah mencapai telinga Klan Vajra dari Utara.

Mereka adalah bangsa pejuang yang memuja kekuatan fisik dan dikenal memiliki kulit sekeras baja serta teknik penghancur gunung.

​"Mereka tidak akan mengirim utusan untuk bernegosiasi," Lin Feng memperingatkan saat mereka berada di puncak menara tertinggi klan, menatap pegunungan bersalju di ufuk Utara yang kini mulai memerah oleh cahaya senja yang aneh.

​"Mereka akan mengirim Legiun Penghancur Tulang," lanjut Lin Feng. "Bagi mereka, keberadaan murid-muridmu adalah ancaman bagi dominasi absolut mereka atas wilayah ini. Mereka menganggap teknik yang kuberikan pada kalian sebagai bid'ah yang harus dimusnahkan."

​Tianyang mengepalkan tinjunya. "Kita hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan sebelum salju pertama turun. Di saat itulah mereka biasanya menyerang."

​Persiapan Tak Terduga

​Lin Feng menatap muridnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Satu bulan? Terlalu lama. Aku ingin kau dan keempat murid elit itu memasuki Lembah Refleksi Jiwa malam ini juga."

​Tianyang tertegun. Lembah itu adalah tempat terlarang yang konon bisa menghancurkan kewarasan seseorang hanya dalam satu jam.

​"Jika kalian ingin memenangkan perang melawan Utara, kalian tidak boleh hanya menjadi kuat secara fisik," Lin Feng berbalik, jubahnya berkibar ditiup angin dingin. "Kalian harus menjadi abadi dalam tekad. Aku akan menempa kalian di sana, sementara klan ini akan aku serahkan pada sistem pertahanan otomatis yang telah aku siapkan."

​Malam itu, di bawah sinar bulan yang pucat, lima sosok bayangan bergerak menuju kegelapan lembah. Di belakang mereka, klan yang baru bangkit itu tampak seperti mercusuar kecil di tengah lautan kegelapan yang siap ditelan oleh badai dari Utara.

More Chapters