Cherreads

Chapter 170 - BAB 161: WANITA MISTERIUS

​.

​Sinkronisasi Terlarang

​Saat kedua artefak itu bersentuhan, sebuah ledakan informasi menghantam pikiran mereka bertiga.

Luo Xuanyin memegangi kepalanya, rambut peraknya berkibar tertiup angin spiritual.

​Luo Xuanyin (Gemetar)

​"Tianyang! Aku melihatnya! Aku melihat benang-benang yang mengikat tubuh kita ke singgasana Lin Feng! Mereka... mereka bukan hanya energi, mereka adalah rantai!"

​"Ye Chen, gunakan kemampuan manipulasimu. Alihkan laporan sistem. Buat seolah-olah Mata Langit ini meledak karena serangan Luo Xuanyin yang tidak terkendali!"

​Ye Chen segera bergerak. Jarinya menari di atas panel kontrol kuno di kuil, meretas aliran data yang terhubung ke klan pusat.

​Ye Chen (Sambil menyeringai licik)

​"Laporan dikirim Subjek Luo Xuanyin kehilangan kontrol esensi, Mata Langit hancur berkeping-keping.

Misi gagal sebagian, namun subjek Qin Tianyang berhasil mengamankan sisa-sisa energi. Lin Feng akan marah, tapi dia tidak akan curiga kalau kita menyimpan intinya."

​Deteksi Sang Pengawas

​Tiba-tiba, suhu di dalam kuil turun drastis. Bukan karena es Luo Xuanyin, melainkan karena kehadiran yang dingin secara digital. Sebuah proyeksi Kai muncul di tengah altar, namun gambarnya sedikit terdistorsi (glitch).

​Kai (Suaranya terdengar seperti rekaman yang rusak)

​"Ye... Chen... kenapa... status... kematian... keluarga... Ye... berubah menjadi... 'Aktif: Pemberontak'?"

​Ye Chen membeku, tapi ia tidak lari. Ia justru berdiri di depan Qin Tianyang, melindungi rekannya itu.

​"Karena skripmu sudah usang, Kai! Pergi dan katakan pada Lin Feng bahwa anjing-anjingnya sudah mulai menggigit balik!"

​Ye Chen membanting Lonceng Hitamnya ke tanah, menciptakan gelombang statik yang memutus proyeksi Kai secara paksa.

​"Kerja bagus, Ye Chen. Sekarang kita punya waktu sangat sedikit sebelum Lin Feng datang sendiri ke sini. Kita harus pergi ke lokasi Gerbang Ketiga sebelum mereka menyadari penipuan ini."

​Mereka akan pergi selanjutnya Ke "Hutan Keheningan" tempat Jian Wushuang berada, kendali sistem di bawah tanah klan? Menuju Hutan Keheningan

​Langkah mereka terburu-buru meninggalkan Lembah Penyesalan.

Di belakang mereka, kuil keluarga Ye mulai runtuh akibat sabotase sistem yang dilakukan Ye Chen. Qin Tianyang menatap cakrawala, tempat pepohonan raksasa berwarna kelabu berdiri kaku tanpa suara sedikit pun.

​"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Qin Tianyang sambil melirik bayangannya. "Lin Feng akan segera menyadari bahwa laporanmu hanyalah tumpukan sampah digital."

​Ye Chen (Sambil mengusap darah di tangannya)

​"Dia tidak hanya akan marah, Tianyang. Dia akan mengerahkan seluruh kekuatan Klan Surgawi Penempa Jiwa (Soul Forging Celestial Clan).

Nama klan kita bukan sekadar gelar; itu adalah peringatan.

Lin Feng menempa jiwa kita untuk menjadi bahan bakar ambisinya."

​"Klan Surgawi Penempa Jiwa... sebuah pabrik monster. Dan sekarang, kita akan mencari monster terkuatnya."

​Rahasia di Hutan Keheningan

​Tujuan mereka adalah Hutan Keheningan, wilayah yang dijaga oleh Jian Wushuang. Hutan ini adalah tempat di mana suara tidak bisa merambat, sebuah zona vakum audio yang dirancang untuk mengasah insting membunuh melalui getaran jiwa saja.

​Di sana tersimpan artefak ketiga: "Pedang Pemutus Takdir".

​Luo Xuanyin (Berkomunikasi melalui transmisi mental karena suara mulai hilang saat mereka memasuki batas hutan)

​[Tianyang, aku merasakan aura pedang yang sangat tajam. Tapi... auranya bercampur dengan kesedihan. Jian Wushuang tidak sedang menjaga pedang itu. Dia sedang bertarung dengannya.]

​Pertemuan dengan Sang Pendekar Tunggal

​Di tengah hutan, mereka menemukan sebuah kliring. Jian Wushuang berdiri di sana, dikelilingi oleh ribuan pedang esensi yang tertancap di tanah. Matanya tertutup, namun tangannya menggenggam gagang sebuah pedang berkarat yang memancarkan energi hitam yang sangat kontras dengan kemurnian Pedang Intent-nya.

​Begitu merasakan kehadiran Qin Tianyang, Ye Chen, dan Luo Xuanyin, Jian Wushuang membuka matanya. Tidak ada kejutan di sana, hanya haus darah yang murni.

​Jian Wushuang (Menggunakan getaran pedangnya untuk berbicara)

​"Kalian datang sebagai utusan Lin Feng untuk mengambil pedang ini... atau kalian datang sebagai mayat yang ingin menambah koleksiku di Klan Surgawi Penempa Jiwa?"

​Ye Chen (Maju selangkah, menunjukkan sumpah darahnya)

​"Kami datang untuk menghancurkan klan itu, Wushuang! Lin Feng telah membohongi kita semua. Lihat apa yang dibawa Tianyang!"

​Qin Tianyang menunjukkan Mata Langit dan Jantung Bumi yang asli. Resonansi ketiga artefak itu membuat Pedang Pemutus Takdir di tangan Jian Wushuang bergetar hebat, mencoba melepaskan diri dari karatnya.

​Tawaran yang Tak Terelakkan

​Jian Wushuang menatap artefak-artefak itu, lalu menatap Luo Xuanyin yang kini memancarkan aura Dewi Es yang begitu kuat hingga membekukan udara hampa di sekitar mereka.

​"Mata Langit untuk melihat kebohongan... Jantung Bumi untuk merasakan denyut realitas... Jika aku memberikan Pedang Pemutus Takdir ini, apa jaminannya bahwa kalian tidak akan menjadi Lin Feng yang baru?"

​Qin Tianyang ​"Jaminannya adalah kematian kami. Jika kami gagal, sistem Kai akan menghapus kita semua. Jika kami menang, tidak akan ada lagi klan Surgawi Penempa Jiwa. Hanya ada pendekar yang bebas memilih jalannya sendiri."

​Tiba-tiba, dari kegelapan hutan, muncul ribuan bayangan mekanis milik Kai dan pasukan penegak hukum klan. Lin Feng tidak datang sendiri, tapi ia mengirimkan Protokol Pembersihan.

​Kai (Suaranya menggema di pikiran mereka semua secara serentak)

​[DETEKSI PENGKHIANATAN MASSAL. MEMULAI PROSES PENGHAPUSAN DATA: JIAN WUSHUANG, YE CHEN, QIN TIANYANG, LUO XUANYIN.]

​Suasana di Hutan Keheningan semakin mencekam. Pasukan bayangan mekanis Kai mulai mengepung kliring, mata merah mereka berpijar di tengah kegelapan kabut vakum.

Namun, Jian Wushuang seolah mengabaikan ancaman kematian yang mengepung mereka. Ia justru melangkah maju, membiarkan ujung pedang berkaratnya menyeret tanah, menciptakan percikan api spiritual.

​Jian Wushuang (Melalui getaran pedang yang menggetarkan tulang belakang semua orang)

​"Pemberontakan membutuhkan pemimpin dengan pedang yang tidak pernah ragu. Lin Feng telah menempamu menjadi murid yang brutal, tapi apakah jiwamu sudah cukup tajam untuk memutus takdir?"

​Ye Chen (Panik melihat Protokol Pembersihan Kai mulai mengisi energi serangan)

​"Wushuang! Jangan gila! Pasukan klan sudah di depan mata! Berikan pedang itu sekarang!"

​Jian Wushuang

​"Diam, Ye Chen! Jika dia tidak bisa melewati pedangku, dia hanya akan menjadi debu di tangan Kai.

Qin Tianyang! Angkat senjatamu. Tunjukkan padaku 'kematangan' yang membuat Bunga Es dan Jantung Bumi memilihmu!"

​Duel di Tengah Pengepungan

​Qin Tianyang menyadari bahwa bagi seorang maniak pedang seperti Jian Wushuang, tidak ada aliansi tanpa pembuktian kekuatan.

Ia menarik napas dalam, membiarkan esensi dari dahi dan Jantung Bumi di bayangannya mengalir ke lengannya.

​ ​"Jika satu tebasan adalah harganya, maka aku akan membayarnya!"

​ZAP!

​Jian Wushuang melesat. Gerakannya begitu cepat hingga hukum fisika di Hutan Keheningan seolah tertekuk. Ia melepaskan "Tebasan Kehampaan" sebuah serangan mengincar fisik, juga mengincar garis takdir lawan.

​Qin Tianyang tidak menghindar. Dengan bimbingan Mata Langit yang ia pegang, ia bisa melihat lintasan "skrip" serangan Jian Wushuang. Ia mengangkat pedang pendeknya, melapisinya dengan esensi pembeku waktu milik Luo Xuanyin.

​BENTRUKAN!

​Dunia di sekitar mereka mendadak kehilangan warna. Getaran dari benturan itu begitu kuat hingga beberapa robot protokol Kai yang mendekat langsung hancur berkeping-keping hanya karena terkena gelombang kejutnya.

​Jian Wushuang menekan pedangnya lebih keras, menatap langsung ke mata Qin Tianyang yang kini memancarkan cahaya biru dan keemasan. Ia melihat sebuah tekad yang bukan lagi milik seorang murid Klan Surgawi Penempa Jiwa, melainkan milik seseorang yang sudah berada di luar skrip.

​Jian Wushuang (Sambil menyeringai tipis, pertama kalinya ia tersenyum)

​"Cukup. Pedangmu tidak bergetar karena takut, tapi karena haus akan kebebasan. Ambil ini... dan tebaslah wajah sombong Lin Feng dengan tanganku!"

​Jian Wushuang melepaskan gagang Pedang Pemutus Takdir. Karat yang menyelimuti pedang itu rontok seketika, memperlihatkan bilah hitam legam yang mampu menyerap cahaya di sekitarnya.

​Begitu tangan Qin Tianyang menyentuh pedang itu, tiga artefak Jantung Bumi, Mata Langit, dan Pedang Pemutus Takdir beresonansi secara sempurna.

Sebuah gelombang energi raksasa meledak dari tubuh Qin Tianyang, menghantam seluruh pasukan Kai di hutan itu hingga terlempar menjadi rongsokan besi.

​Perlawanan Dimulai

​Kai (Suaranya terdistorsi hebat melalui sisa-sisa mesin yang hancur)

​[ERROR... ERROR... SISTEM MENDETEKSI 'PENGHAPUS DATA' LEVEL SSS. MELAPORKAN PADA ANAK ILAHI LIN FENG: SUBJEK TELAH BERGABUNG.]

​Ye Chen: (Tertawa liar)

​"Sudah terlambat, Kai! Sekarang kita punya sang Pendekar Tunggal di pihak kita!"

​Luo Xuanyin: (Melangkah ke samping Qin Tianyang, auranya kini tenang namun mencekam)

Gema Pedang dan Angin Spiritual

​Pertempuran di aula utama berkobar dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Udara dipenuhi kilatan energi spiritual, auman kemarahan, dan jeritan kesakitan.

​Lin Feng melesat seperti bayangan, berhadapan langsung dengan Tetua Agung. Aura spiritual Tetua Agung meledak, memanggil pusaran angin tajam yang mengiris udara. "Lin Feng, kau akan mati di sini! Keangkuhanmu akan mengakhiri dirimu dan murid-murid sesatmu!"

​"Keangkuhan?" Lin Feng tertawa dingin. "Atau mungkin keadilan yang kau takutkan, Tetua Agung?"

​Pedang Lin Feng melintas, memancarkan cahaya keperakan yang membelah pusaran angin. Serangannya presisi dan mematikan, menembus pertahanan Tetua Agung yang kokoh. Tetua Agung terpaksa mundur, terkejut dengan kekuatan Lin Feng yang jauh melampaui dugaannya. Ia telah meremehkan guru yang satu ini terlalu lama.

​Sementara itu, di medan pertempuran lain, empat pilar kekuatan bergerak dengan mematikan:

​Jian Wushuang bergerak bagai hantu, pedangnya menari-nari dalam tarian maut. Setiap tebasan memancarkan energi pedang yang tajam dan tidak terlihat, membelah formasi pertahanan para pengawal klan yang setia pada Tetua. Ia adalah manifestasi dari kecepatan dan presisi mematikan yang diajarkan Lin Feng. Dua pengawal kuat jatuh dengan luka sayatan yang nyaris tak terlihat, sebelum mereka bahkan menyadari apa yang menyerang mereka.

​Ye Chen, dengan kultivasi spiritualnya yang mendalam, adalah badai energi. Ia melancarkan mantra-mantra elemen tanah dan api secara bersamaan. Dinding bumi tiba-tiba muncul, menjebak beberapa lawan, sebelum api spiritual meledak, melahap siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Wajahnya tenang, tapi setiap gerakannya adalah bencana bagi musuhnya.

​Luo Xuanyin, yang mengkhususkan diri pada serangan jarak jauh, melayang di udara dengan elegan. Panah-panah spiritualnya ditembakkan secara beruntun, masing-masing membawa daya ledak yang luar biasa. Ia menargetkan para penyalur energi spiritual di barisan belakang musuh, membuat mereka tidak dapat memberikan dukungan, melumpuhkan strategi pertempuran lawan.

​Mo Li, dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa dan teknik tempur jarak dekat yang brutal, adalah gelombang penghancur. Tinju dan tendangannya memancarkan aura kehancuran, menghancurkan perisai spiritual dan menghancurkan tulang. Ia menyerbu maju tanpa rasa takut, mengambil beban serangan musuh, dan membalas dengan kekuatan dahsyat yang tak tertandingi.

​Para murid elit lainnya, yang juga dilatih Lin Feng, bertarung dengan semangat membara. Mereka membentuk formasi tempur yang solid, saling melindungi, dan melumpuhkan musuh satu per satu. Aula itu dipenuhi raungan kemenangan dan dentingan senjata, ketika perlawanan Tetua Agung dan pengikutnya mulai runtuh di bawah gelombang pasang pemberontakan yang dipimpin oleh Lin Feng dan para muridnya.

​Dari balkon, Ibu Qin menatap Qin Tianyang. "Mereka lebih kuat dari yang kubayangkan," bisiknya, takjub.

​"Lin Feng tidak pernah melatih murid biasa, Ibu," jawab Tianyang, senyum puas tersungging di bibirnya. "Dia melatih legenda."

​Namun, pertempuran belum berakhir. Tetua Agung, melihat pasukannya hancur, mengeluarkan artefak kuno dari balik jubahnya. Sebuah permata merah darah mulai bersinar, memancarkan energi yang mengancam. "Kalian semua akan menyesali ini!" raungnya.

​Apa yang harus terjadi selanjutnya dengan Tetua Agung dan artefak kuno itu?

​Lin Feng menghadapi artefak: Lin Feng harus menggunakan teknik pamungkas untuk menghentikan Tetua Agung.

​Murid elit ikut campur: Jian Wushuang dan yang lainnya menggabungkan kekuatan untuk menetralkan artefak.

Tetua Agung merogoh sesuatu dari balik jubahnya yang koyak sebuah permata berbentuk jantung yang berdenyut dengan cahaya merah tembaga yang mengerikan. Itulah "Jantung Karat Sang Leluhur", artefak terkutuk yang selama ratusan tahun dianggap hanya mitos pengantar tidur bagi anak-anak klan.

​"Jika klan ini harus runtuh, maka kalian semua akan menjadi fondasi bagi kuburanku!" raung Tetua Agung. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman parau yang dipenuhi kebencian murni.

​Ia menghancurkan permata itu dalam genggamannya.

​Seketika, realitas di dalam aula seolah terdistorsi. Alih-alih ledakan energi yang menghancurkan fisik, sebuah gelombang keheningan yang menyesakkan menyapu seluruh ruangan. Detik berikutnya, dinding-dinding marmer yang megah mulai berkarat dan melapuk dalam hitungan detik. Senjata-senjata baja milik para pengawal biasa hancur menjadi abu kelabu.

​Namun, efek yang paling mengerikan adalah pada jiwa. Artefak itu tidak menyerang raga, melainkan menarik keluar seluruh penyesalan dan kegelapan dari masa lalu siapa pun yang menghirup udaranya.

​Manifestasi Jiwa: Ujian Terakhir

​Aula berubah menjadi ruang hampa yang dipenuhi kabut merah. Para murid elit yang tadi tak terkalahkan, tiba-tiba terhenti.

​Jian Wushuang melihat pedangnya berubah menjadi ribuan tangan yang memohon ampun arwah dari mereka yang pernah ia tebas dalam tugas dinginnya dulu. Ye Chen dikelilingi oleh api yang tidak panas, namun membisikkan kegagalan-kegagalannya. Luo Xuanyin melihat busurnya melilit lehernya seperti ular, sementara Mo Li merasakan beban ribuan ton menekan pundaknya, manifestasi dari rasa bersalah atas kekuatan penghancurnya.

​"Kultivasi kalian mungkin tak terkalahkan oleh baja," desis Tetua Agung yang kini tubuhnya mulai membusuk akibat kutukan artefak itu sendiri, "tapi kalian tak akan pernah bisa menang melawan diri kalian sendiri!"

​Teknik Cahaya Murni Lin Feng

​Di tengah kekacauan mental itu, Lin Feng tetap berdiri tegak. Matanya tidak menatap pada kabut merah, melainkan pada titik tak terlihat di udara. Ia tidak menggunakan tenaga dalam, melainkan sebuah teknik yang melampaui logika kultivasi tradisional: "Sutra Hati Tak Bertepi".

​"Wushuang! Ye Chen! Xuanyin! Mo Li!" Suara Lin Feng terdengar jernih, membelah kabut merah seperti lonceng kuil di pagi hari. "Pedang bukan tentang siapa yang kau bunuh, tapi tentang siapa yang kau lindungi. Jangan menatap bayangan di bawah kaki kalian, tataplah fajar yang sedang kita bangun!"

​Mendengar suara gurunya, energi spiritual para murid elit itu mulai bermutasi. Mereka tidak lagi melawan kabut itu, melainkan menyerapnya, mengubah kegelapan menjadi bahan bakar tekad mereka.

​Serangan Gabungan yang Indah

​Jian Wushuang adalah yang pertama bergerak. Ia tidak lagi mengayunkan pedang untuk membunuh, melainkan untuk membelah dimensi ilusi. Tebasannya menciptakan garis cahaya putih yang merobek kabut merah.

​Luo Xuanyin menarik tali busurnya yang kini bercahaya keemasan. Ia melepaskan satu anak panah yang bukan terbuat dari energi, melainkan dari harapan murni. Anak panah itu terbang, meninggalkan jejak bunga-bunga cahaya di udara yang membusuk.

​Ye Chen dan Mo Li menggabungkan kekuatan mereka. Ye Chen menciptakan pusaran angin yang memurnikan udara, sementara Mo Li menghantam lantai aula dengan tinjunya, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengalirkan energi kehidupan yang menghentikan proses perkaratan pada bangunan tersebut.

​Tamu Tak Diundang: Sang Penenun Takdir

​Tepat saat serangan gabungan mereka hampir menghancurkan Tetua Agung, atap aula terbuka secara perlahan, namun bukan karena hancur. Genteng-genteng itu seolah melipat diri seperti kertas origami.

​Seorang wanita misterius dengan gaun yang terbuat dari jalinan benang-benang perak turun dari langit dengan anggun. Di tangannya, ia memegang sebuah alat tenun kecil yang terus berputar.

​"Cukup," ucap wanita itu. Suaranya membawa wibawa yang membuat energi spiritual di seluruh ruangan mendadak sujud, tak terkecuali milik Lin Feng.

​Ia adalah Sang Penenun Takdir, sosok dari klan tersembunyi yang menjaga keseimbangan dunia persilatan. Ia menatap Lin Feng dengan tatapan penuh selidik yang tajam namun indah.

​"Klan Wang hanyalah debu di bawah kakiku," ucap wanita itu sambil melirik Tetua Agung yang kini hanya tinggal tulang belulang yang bergetar. "Tapi kau, Lin Feng... kau telah menciptakan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Murid-murid dengan jiwa yang melampaui batas manusia."

​Ia mengibaskan tangannya, dan artefak "Jantung Karat" yang hancur itu berubah menjadi debu bintang yang melayang ke arahnya.

​"Dunia luar telah mencium aroma kekuatan baru ini. Lin Feng, kemenanganmu atas klan ini barulah undangan untuk perjamuan maut yang lebih besar. Para Dewa Perang dari wilayah Utara mulai bergerak karena merasa terancam oleh keberadaan murid-muridmu."

​Wanita itu menghilang dalam pusaran benang perak, meninggalkan aula dalam keheningan yang mencekam. Kemenangan sudah di tangan, namun bayangan musuh yang jauh lebih kuat kini menghantui ufuk timur.

​Kejar Sang Penenun Lin Feng mencoba mencari tahu siapa wanita itu dan mengapa dia tertarik pada murid-muridnya.

​Konsolidasi Kekuasaan: Qin Tianyang mulai memimpin klan yang hancur di bawah bimbingan Lin Feng sambil mempersiapkan diri dari serangan wilayah Utara.

​Perjalanan Baru Lin Feng membawa keempat murid elitnya keluar dari klan untuk menempa kekuatan mereka di tempat-tempat terlarang sebelum Dewa Perang tiba.

​"Tianyang... aku merasakan Gerbang Ketiga mulai bergetar di pusat klan. Lin Feng sedang mempersiapkan ritual pemanggilan terakhir. Dia tahu kita akan datang."

​Qin Tianyang (Menghunus Pedang Pemutus Takdir yang baru saja ia dapatkan)

​"Bagus. Biarkan dia menunggu. Kita tidak akan datang sebagai muridnya yang matang... kita akan datang sebagai eksekutornya. Jian Wushuang, Ye Chen, bersiaplah. Kita akan menyerbu pusat Klan Surgawi Penempa Jiwa!"

More Chapters