Suasana di penjara bawah tanah begitu mencekam. Tuan Wang berjalan dengan langkah berat dan napas yang sesak, didampingi oleh Qin Tianyang yang memegangi lengannya seolah-olah menjadi putra paling berbakti di dunia. Di belakang mereka, barisan pengawal berjaga dengan senjata terhunus.
Di dalam sel yang gelap dan dingin, Wang Shuo terkapar di lantai dengan pakaian yang robek. Ia mendongak, matanya merah menatap ayahnya yang berdiri di balik jeruji besi.
Konfrontasi Ayah dan Anak
Tuan Wang mencengkeram jeruji besi hingga berderit. Wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat mengerikan di bawah cahaya obor.
"Kenapa, Shuo'er?" suara Tuan Wang bergetar karena amarah dan rasa sakit yang menusuk dadanya. "Aku memberimu segalanya. Jabatan, kemewahan, dan posisi sebagai pewaris utama. Kenapa kau begitu tidak sabar sampai tega meracuni ayahmu sendiri?"
Wang Shuo merangkak mendekat, suaranya parau. "Ayah, ini fitnah! Aku tidak pernah menyentuh racun itu! Aku tidak tahu bagaimana benda itu ada di kamarku!"
"Cukup!" bentak Tuan Wang sambil terbatuk hebat, memuntahkan darah hitam tepat di hadapan Wang Shuo. "Botol itu ditemukan di kamarmu! Catatan dosis racun itu ada di meja kerjamu! Apakah kau akan mengatakan bahwa benda-benda itu jatuh dari langit?!"
Muslihat Terakhir Qin Tianyang
Qin Tianyang maju selangkah, menatap kakak tirinya dengan ekspresi yang sangat sedih, namun tangannya terus memijat punggung Tuan Wang sebenarnya ia sedang menekan titik saraf tertentu untuk mempercepat penyebaran racun saat ayahnya emosi.
"Kakak Besar," ucap Qin Tianyang dengan suara lirih. "Katakan saja yang sejujurnya pada Ayahanda. Mungkin jika Kakak mengaku, Ayahanda akan memberikan pengampunan. Apakah... apakah Kakak merasa terancam sejak Ayahanda mulai mempercayai hamba?"
Pertanyaan "polos" dari Qin Tianyang ini seperti menyiramkan bensin ke dalam api. Tuan Wang langsung teringat betapa Wang Shuo sering mengeluhkan kehadiran Qin Tianyang belakangan ini.
"Itu dia!" geram Tuan Wang. "Kau takut aku akan membagi warisan untuk adikmu, bukan? Kau ingin aku mati cepat agar kau bisa menguasai seluruh klan dan menyingkirkan Tian'er!"
Kesadaran yang Terlambat
Wang Shuo menatap Qin Tianyang. Di balik keremangan penjara, ia melihat Qin Tianyang tersenyum sangat tipis sebuah senyum kemenangan yang hanya bisa dilihat olehnya. Saat itulah, petir kesadaran menyambar pikiran Wang Shuo.
"Bukan aku... Ayah, lihat dia!" Wang Shuo menunjuk dengan jari gemetar ke arah Qin Tianyang. "Dia yang melakukan ini! Dia yang menjebak ku! Dia bukan anjing peliharaanmu, dia adalah ular yang melilit lehermu!"
Tuan Wang justru tertawa pahit, tawa yang berakhir dengan rintihan kesakitan. "Ular? Ular yang kau sebutkan itu adalah satu-satunya yang menjagaku saat kau berusaha membunuhku! Dia yang membawakan obat penenang untukku setiap malam!"
Tuan Wang berbalik, tidak mau lagi melihat putra sulungnya. "Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia mati dulu. Aku ingin dia melihat bagaimana klan ini tumbuh jauh lebih besar di bawah tangan adik yang paling ia benci."
Tatapan dari Sel Sebelah
Saat Tuan Wang dan Qin Tianyang pergi, suasana kembali sunyi. Namun, dari sel sebelah, Ye Chen dan ketiga murid lainnya yang sedang memakan makanan mewah mereka, menatap Wang Shuo dengan tatapan mengejek.
"Selamat datang di neraka, Tuan Muda Wang," bisik Ye Chen sambil mengunyah daging panggangnya.
"Ternyata kursi kekuasaan tidak seempuk yang kau bayangkan, ya?"
Wang Shuo hanya bisa berteriak frustrasi, sementara di lorong penjara yang gelap, Qin Tianyang berjalan dengan tenang, mengetahui bahwa kini hanya tinggal selangkah lagi sebelum seluruh klan jatuh ke tangannya.
Langkah kaki Nyonya Mei terdengar ringan namun berirama, suara gesekan kain sutranya di lantai penjara yang kotor menciptakan kontras yang mengerikan. Di belakangnya, dua pelayan membawa kotak kayu hitam berisi berbagai botol kecil dan jarum perak yang berkilau dingin di bawah cahaya obor.
Kunjungan Sang Ibu Suri
Nyonya Mei berhenti tepat di depan sel Wang Shuo. Wajahnya yang cantik dan tenang tidak memancarkan emosi sedikit pun, namun matanya menatap Wang Shuo seperti seorang ilmuwan yang menatap subjek eksperimen yang menarik.
"Keluar," perintah Nyonya Mei kepada para penjaga dengan suara yang lembut namun penuh wibawa. Karena Qin Tianyang kini memegang kendali penuh, tidak ada seorang pun yang berani membantah ibunya.
Setelah lorong sepi, Nyonya Mei memberi isyarat agar sel dibuka. Ia melangkah masuk ke dalam ruang sempit yang berbau darah dan keringat itu.
Interogasi Tanpa Suara
Wang Shuo mencoba bangkit, wajahnya penuh kebencian. "Kau... selir rendahan! Beraninya kau masuk ke sini! Saat aku bebas nanti, aku akan memastikan kau dan anak harammu itu dibakar hidup-hidup!"
Nyonya Mei hanya tersenyum tipis. Ia mengambil sebatang jarum panjang dari kotaknya dan mencelupkannya ke dalam cairan berwarna ungu pekat.
"Anakku, Tian'er, terlalu baik padamu, Shuo'er," ucap Nyonya Mei sambil mendekat. "Dia hanya menjebak mu secara politik. Tapi aku? Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan selama belasan tahun di pengasingan rasa sakit yang tidak membunuhmu, tapi membuatmu memohon untuk mati."
Tanpa peringatan, dengan gerakan yang sangat cepat, Nyonya Mei menusukkan jarum itu ke titik saraf di leher Wang Shuo.
"AARRGGHH!"
Wang Shuo berteriak, namun suaranya segera hilang. Jarum itu telah melumpuhkan pita suaranya, sementara racun di ujung jarum mulai menyulut rasa terbakar di seluruh pembuluh darahnya.
Siksaan yang Elegan
Nyonya Mei berjongkok di samping Wang Shuo yang kini mengejang hebat di lantai. Ia membisikkan sesuatu tepat di telinga pemuda itu.
"Kau ingin tahu siapa yang sebenarnya meracuni ayahmu? Aku yang meraciknya. Tian'er yang menyajikannya. Dan kau... kau yang menjadi kambing hitamnya. Sempurna, bukan?"
Ia kemudian mengeluarkan botol lain. "Ini adalah ekstrak Sorrow-Leaf. Ini akan membuatmu terus terjaga. Kau tidak akan bisa tidur, kau akan terus merasakan sakit ini setiap detik, sementara kau melihat dari balik jeruji ini bagaimana anakku menduduki singgasana yang kau dambakan."
Penonton di Kegelapan
Dari sel sebelah, Ye Chen dan murid-murid lainnya terdiam membeku. Mereka sering melihat kekejaman Lin Feng, namun melihat ketenangan Nyonya Mei saat menyiksa seseorang dengan pengetahuan medisnya memberikan kengerian yang berbeda.
"Wanita itu..." bisik Xuanyin dengan wajah pucat. "Dia jauh lebih menakutkan daripada Qin Tianyang."
Nyonya Mei berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu keluar dari sel tanpa menoleh lagi.
Wang Shuo dibiarkan dalam keadaan lumpuh, mata melotot, dan seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, namun ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara untuk meminta pertolongan.
Lankah cepat dan teriakan histeris terdengar dari depan pintu penjara. ia memerintahkan pengawal membuka pintu penjara untuknya.
Suasana di istana mencapai titik didihnya. Nyonya Besar Wang, istri sah Tuan Wang sekaligus ibu kandung Wang Shuo, berhasil menembus penjagaan penjara bawah tanah dengan paksa. Saat ia melihat putra kebanggaannya tergeletak seperti onggokan daging tak bernyawa mata melotot namun tak bisa bicara, tubuh mengejang namun tak bisa bergerak ia menjerit histeris.
Amarah Sang Permaisuri yang terlihat sangat terluka tak dapat di bendung.
Tanpa peduli pada martabatnya, Nyonya Besar berlari menuju aula utama tempat Tuan Wang sedang beristirahat dengan napas yang semakin berat.
Di sana, Qin Tianyang sedang duduk di samping ayahnya, seolah-olah menjadi perawat yang setia.
"PENGKHIANAT!
PEMBUNUH!"
teriak Nyonya Besar sambil menunjuk ke arah Qin Tianyang. "Suamiku, lihatlah! Ini semua adalah jebakan ular kecil ini! Anakku Shuo'er disiksa di penjara oleh ibunya yang terkutuk itu!
Mereka menjebaknya agar anak haram ini bisa berkuasa!"
Tuan Wang mencoba duduk, wajahnya menghitam karena racun yang bereaksi terhadap emosi.
"Diam kau, perempuan jalang! Buktinya sudah jelas di kamar Shuo'er!"
Rahasia Kelam yang Terungkap
Nyonya Besar kehilangan akal sehatnya karena melihat anaknya hancur.
Dalam amarah yang meledak-ledak, ia mulai meracau dan meneriakkan kebenaran yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Buktinya? Aku yang lebih tahu soal bukti! Dulu, aku jugalah yang menaruh bukti palsu di kamar Mei agar kau membuangnya ke pengasingan! Aku yang memfitnahnya berselingkuh agar anak haramnya ini tidak pernah menyentuh harta klan!"
Ia tertawa gila, air mata mengalir di wajahnya yang penuh bedak.
"Aku melakukannya untuk Shuo'er! Dan sekarang, kau membiarkan anak dari wanita yang aku hancurkan itu menghancurkan putraku sendiri?
Kau bodoh, Wang! Kau tertipu oleh wajah polos anak ini, sebagaimana kau tertipu oleh fitnah ku belasan tahun yang lalu!"
Keheningan yang Mematikan
Seluruh aula seketika menjadi sunyi senyap. Para pengawal menundukkan kepala, tidak berani mendengar rahasia kotor keluarga penguasa. Tuan Wang terpaku, matanya menatap istrinya dengan rasa tidak percaya yang mendalam.
Hatinya hancur dua kali; sekali oleh pengkhianatan anaknya (yang ia kira nyata), dan sekali lagi oleh kenyataan bahwa ia telah membuang wanita yang ia cintai (Nyonya Mei) karena fitnah keji istrinya sendiri.
"Jadi..." suara Tuan Wang terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Selama ini... Mei tidak pernah mengkhianati aku? Dan kau... kau menghancurkan hidupku dan anakku hanya demi ambisimu?"
"Ya! Dan aku akan melakukannya lagi!" teriak Nyonya Besar, tidak menyadari bahwa ia baru saja menggali kuburannya sendiri.
Seketika ia tersadar, kini wajahnya berubah. Dari wajah penuh murka karena luka teramat dalam untuk anaknya. kini wajahnya menunjukkan rasa tak menyangka, pucat pasi karena ia dengan lugunya dibalut amarahnya yang tak dapat di redam tiba tiba mengatakan sendiri rencana licik ya dulu pada Mei ibunya Qin Tianyang.
Seolah Wang harus tahu mereka kini memutar balikkan fakta untuk membalas dirinya.
Hukuman Sang Harimau yang Terluka
Tuan Wang bangkit berdiri, didorong oleh amarah murni yang membakar sisa-sisa energinya. Ia mencengkeram leher istrinya dengan tangan yang gemetar.
"Kau telah meracuni pikiranku selama belasan tahun..." desis Tuan Wang. "Dan sekarang, kau berani mengakui kebusukan mu di depanku?!"
" Wang suamiku.... A... aku... aku...."
Dengan satu hentakan tenaga dalam yang tersisa, Tuan Wang menghempaskan istrinya ke lantai hingga pingsan.
"SERET DIA!
Masukkan dia ke sel yang sama dengan anaknya! Biarkan dia melihat hasil dari ambisinya!"
Setelah istrinya diseret pergi, Tuan Wang jatuh terduduk di singgasananya, memuntahkan darah segar yang banyak. Ia menoleh ke arah Qin Tianyang dengan mata yang sayu dan penuh penyesalan.
"Tian'er... maafkan ayahmu ini..." rintihnya.
Qin Tianyang mendekat, wajahnya tetap terlihat sedih, namun di dalam hatinya, ia merasa puas. Segalanya berjalan lebih cepat dari rencananya. Sang musuh (Nyonya Besar) baru saja menghancurkan dirinya sendiri dengan mulutnya sendiri.
Suasana di penjara bawah tanah kini benar-benar menjadi gambaran neraka bagi keluarga Wang. Nyonya Besar Wang, Nyonya Lin seng yang biasanya tampil anggun dengan pakaian sutra berlapis emas, kini diseret kasar oleh para penjaga dan dilemparkan ke dalam sel yang lembap.
Histeria di Balik Jeruji
"Lepaskan aku! Aku adalah permaisuri klan ini! Kalian semua akan mati di tanganku!" teriak Nyonya Besar sambil mencakar-cakar jeruji besi. Rambutnya yang tertata rapi kini acak-acakan, wajahnya penuh dengan debu dan sisa air mata.
Saat ia melihat ke sudut sel, ia melihat putranya, Wang Shuo, masih dalam keadaan kaku dan menderita akibat siksaan Nyonya Mei.
"Shuo'er! Anakku!" ia meraung, mencoba memeluk tubuh anaknya yang tidak bisa merespons. "Ini tidak adil! Harusnya jalang itu yang membusuk di sini, bukan kita!"
Dari sel sebelah, Ye Chen dan murid-murid lainnya menonton dengan tatapan dingin. "Dunia memang berputar, ya?" gumam Ye Chen. "Siapa sangka wanita yang mengirim Nyonya Mei ke pengasingan, sekarang berada di tempat yang sama, bahkan lebih buruk."
Tawa histeris Nyonya Besar memenuhi lorong penjara, berpadu dengan jeritan frustrasi yang tak kunjung usai, menciptakan simfoni kehancuran bagi mereka yang dulu berkuasa dengan kelicikan.
Momen Pembalasan Nyonya Mei
Sementara itu, di aula utama yang megah, Qin Tianyang berdiri dengan tenang. Ia memberikan isyarat kepada seorang pelayan kepercayaan. "Panggil Ibunda. Katakan padanya, waktu penantian belasan tahun telah berakhir."
Tak lama kemudian, Nyonya Mei melangkah masuk ke aula. Ia mengenakan pakaian putih yang sangat sederhana namun terlihat sangat bermartabat, kontras dengan Tuan Wang yang kini terpuruk di lantai, memegangi dadanya yang sesak karena racun dan rasa bersalah.
Saat melihat Nyonya Mei, Tuan Wang mencoba merangkak. Air mata mengalir di wajahnya yang kini terlihat sangat tua.
"Mei... Mei-er..." rintih Tuan Wang. Dengan sisa tenaganya, ia berlutut di hadapan mantan selir yang dulu ia buang. "Aku telah menjadi orang paling bodoh di dunia. Aku percaya pada ular itu dan membuang mu... membuang anak kita... Maafkan aku... kumohon, maafkan aku."
Nyonya Mei berhenti tepat di depan Tuan Wang. Ia tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak. Ia hanya menatap pria itu dengan tatapan kosong, seolah-olah pria di hadapannya bukan lagi suaminya, melainkan hanya puing dari masa lalu yang menyakitkan.
"Dulu, saat aku diseret keluar dari gerbang ini, aku memohon padamu untuk mendengarkanku satu kali saja," ucap Nyonya Mei dengan suara tenang namun menusuk. "Tapi kau bahkan tidak mau melihat mataku. Sekarang, kau berlutut memohon maaf bukan karena kau benar-benar menyesal, tapi karena kau sadar kau tidak punya siapa-siapa lagi selain anak yang kau sebut 'anak haram' ini."
Qin Tianyang berdiri di belakang ibunya, meletakkan tangan di bahunya, memberikan dukungan visual yang sangat kuat. Ia menatap ayahnya yang sedang memohon dengan perasaan puas yang mendalam.
"Ayahanda," sela Qin Tianyang dengan lembut, "Maaf saja tidak akan bisa mengembalikan belasan tahun yang hilang. Tapi jangan khawatir... hamba akan memastikan Ayahanda tetap 'hidup' cukup lama untuk melihat bagaimana hamba dan Ibu mengubah klan ini menjadi sesuatu yang tidak pernah Ayah bayangkan."
Tuan Wang hanya bisa tertunduk lesu, hancur secara fisik dan mental di hadapan dua orang yang paling ia sakiti.
