Cherreads

Chapter 13 - Penjaga puncak

Suara langkah dari tangga semakin dekat.

TAP… TAP… TAP… TAP…

Bukan dua kaki.

Bukan empat.

Terlalu banyak untuk dihitung.

Raka menatap ke arah tangga dengan napas tertahan.

Lalu sesuatu muncul dari kegelapan.

Sebuah tangan panjang merayap keluar lebih dulu.

Kulitnya pucat seperti mayat.

Kukunya panjang dan hitam.

Kemudian tangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Dan akhirnya seluruh tubuh makhluk itu muncul ke lorong menara.

Raka langsung membeku.

Makhluk itu tinggi hampir menyentuh langit-langit lorong.

Tubuhnya kurus dan bengkok.

Namun yang paling mengerikan adalah jumlah lengannya.

Delapan lengan panjang menjulur dari punggungnya seperti kaki laba-laba.

Kepalanya miring aneh.

Matanya kosong.

Namun mulutnya terbuka terlalu lebar.

Seolah-olah rahangnya pernah patah dan disatukan kembali secara salah.

Makhluk itu berhenti tepat di ujung tangga.

Kemudian kepalanya perlahan menoleh ke arah Raka.

KREEEK…

Suara tulang lehernya berderit.

Tiba-tiba tanda hitam di telapak tangan Raka menyala terang.

Makhluk itu langsung berhenti bergerak.

Semua matanya menatap tangan Raka.

Beberapa detik lorong itu sunyi.

Lalu Aldren tertawa pelan.

"Menarik."

Ia menepuk dinding batu dengan santai.

"Sepertinya dia mengenalimu."

Raka tidak menjawab.

Matanya masih terpaku pada makhluk itu.

Makhluk tersebut perlahan menurunkan tubuhnya.

Seperti sedang… membungkuk.

Namun tiba-tiba…

Makhluk itu mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya.

Suara yang terdengar seperti banyak orang berbicara sekaligus.

"Pewaris…"

Raka merinding.

Makhluk itu merangkak maju perlahan.

"Jantung… menunggu…"

Aldren langsung berdiri tegak.

Matanya menyipit.

"Hmm…"

"Dia tidak pernah bicara sebelumnya."

Raka merasakan jantungnya berdetak keras.

"Kenapa dia memanggilku?"

Aldren tersenyum tipis.

"Karena menara memilihmu."

Makhluk itu berhenti tepat di depan Raka.

Delapan lengannya menempel di dinding lorong.

Matanya yang kosong menatap wajah Raka.

"Naik…"

bisiknya.

"Naik… ke puncak…"

Tiba-tiba menara bergetar sangat kuat.

BOOOOM!

Dari atas menara terdengar suara sesuatu retak.

Aldren langsung menoleh ke arah tangga.

Ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya…

Raka melihat ketakutan di mata monster itu.

Aldren berbisik pelan.

"Itu tidak mungkin…"

Raka menatapnya.

"Apa yang terjadi?"

Aldren perlahan menoleh kembali ke arah Raka.

Wajahnya kini tidak lagi tersenyum.

"Jantung menara…"

Ia menatap ke atas dengan mata merah menyala.

"…baru saja mulai pecah."

More Chapters