Cherreads

Chapter 16 - Jantung yang terbuka

Cahaya merah dari puncak menara semakin terang.

Lorong batu berubah seperti disinari darah yang berdenyut.

DUM…

DUM…

DUM…

Suara detak itu sekarang sangat jelas.

Bukan lagi seperti gema.

Tapi benar-benar seperti jantung raksasa yang berdetak di atas mereka.

Raka menatap tangga yang retak.

Cahaya merah keluar dari celah batu seperti napas makhluk hidup.

Pria berambut putih itu tersenyum kecil.

"Dengar itu?"

"Menara sedang memanggilmu."

Raka mengepalkan tangannya.

Tanda hitam di telapak tangannya bersinar semakin kuat.

"Kenapa aku?"

Pria itu menuruni satu anak tangga lagi.

Langkahnya tetap tenang.

"Karena menara membutuhkan pemilik."

"Dan pemilik sebelumnya…"

Ia melirik ke arah Aldren.

"…gagal."

Aldren menggeram keras.

Suara geramannya mengguncang dinding lorong.

"Aku tidak gagal!"

Tubuh besarnya bergerak maju.

Cakar panjangnya mencengkeram batu hingga retak.

"Aku hampir menguasai menara!"

Pria berambut putih itu tertawa pelan.

"Hampir… bukan berarti berhasil."

Tiba-tiba Aldren melompat.

BOOM!

Tubuh besarnya menghantam lantai lorong tepat di depan tangga.

Cakarnya langsung menyerang pria itu.

Namun—

Pria berambut putih itu hanya mengangkat satu tangan.

Udara di lorong langsung terasa berat.

Gerakan Aldren tiba-tiba berhenti di tengah udara.

Seolah tubuh raksasanya ditahan oleh kekuatan tak terlihat.

Mata Aldren melebar.

"Apa…?!"

Pria itu menatapnya dengan tenang.

"Menara ini… masih mendengarkanku."

Tangannya sedikit menutup.

KRAAAK

Tubuh Aldren langsung terhempas ke dinding lorong.

Batu pecah di belakangnya.

Raka terkejut.

Monster sebesar itu dipukul mundur hanya dengan satu gerakan.

Pria berambut putih itu kembali menatap Raka.

"Sekarang…"

Ia menunjuk ke arah tangga menuju puncak.

"Naiklah."

Raka tidak bergerak.

"Kalau aku menyentuh jantung menara…"

Ia teringat kata-kata pria yang dirantai tadi.

"…jiwaku akan dimakan."

Pria itu tersenyum.

"Tidak selalu."

Raka menatapnya tajam.

"Maksudmu?"

Pria itu mendekat sedikit.

Matanya yang hitam seperti lubang tanpa dasar.

"Jika jantung menara menerimamu…"

"kau akan menjadi penguasa."

"Namun jika tidak…"

Ia menunjuk ke arah Aldren yang masih berusaha bangkit dari puing-puing.

"…kau akan menjadi seperti dia."

Tiba-tiba makhluk penjaga yang memiliki delapan lengan menundukkan tubuhnya.

Semua lengannya menyentuh lantai.

Seperti memberi jalan.

"Pewaris…"

bisiknya.

"Waktu… habis…"

Detak jantung dari puncak semakin cepat.

DUM!

DUM!

DUM!

Retakan besar muncul di tangga.

Cahaya merah semakin menyilaukan.

Pria berambut putih itu berbisik pelan.

"Jika kau tidak naik sekarang…"

"menara akan memilih orang lain."

Di belakang Raka—

Aldren bangkit dengan mata merah penuh amarah.

Dan ia mulai merangkak menuju tangga.

Dengan satu tujuan.

Mencapai jantung menara lebih dulu.

More Chapters