Cherreads

Chapter 14 - Chapter 14

Hutan di perbatasan Veridia dan wilayah netral memiliki reputasi sebagai "Hutan Tanpa Kembali". Namun, sejauh ini, satu-satunya hal yang tidak kembali adalah rasa kenyangku. Sudah enam jam kami berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi akar-akar raksasa, dan perutku sudah berbunyi dengan irama death metal.

"Nona Elena," keluhku sambil menyingkirkan ranting pohon dari wajah. "Apakah kita yakin arah ini benar? Lila bilang dia melihat tanda peradaban di peta, tapi yang kulihat sejauh ini hanya tupai yang menatapku dengan tatapan menghina."

Elena, yang berjalan di depan sebagai pembuka jalan, tidak menoleh. "Berhenti mengeluh, Rian. Peta Lila digambar dengan krayon di atas serbet makan, jadi akurasinya memang meragukan. Tapi instingku mengatakan ada sesuatu di depan sana."

"Sesuatu itu makanan atau monster?" tanyaku penuh harap.

"Semoga makanan," sahut Lila yang duduk di pundakku (ya, aku bergantian menggendong Lila karena kakinya yang pendek tidak kuat menanjak). "Aku mau ayam go-leng!"

Lady Seraphina berjalan di sampingku, tampak anggun meski bajunya kotor. "Ayahku pernah bercerita tentang sebuah desa tersembunyi di lembah ini. Desa Seruni. Katanya, itu adalah surga bagi para pelarian. Tempat di mana tidak ada kesedihan."

"Tidak ada kesedihan?" Aku mendengus. "Biasanya tempat seperti itu punya biaya masuk yang mahal. Atau mereka sekte sesat jilid dua."

Namun, skeptisismeku runtuh saat kami menembus dinding semak belukar terakhir.

Di hadapan kami, terhampar sebuah lembah hijau yang bermandikan cahaya matahari sore yang keemasan. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah desa yang... sempurna. Terlalu sempurna.

Rumah-rumahnya terbuat dari kayu mahoni yang dipoles mengkilap, dengan atap jerami yang tersusun rapi tanpa ada satu pun helai yang mencuat. Jalanannya terbuat dari batu putih bersih, tanpa sebutir pun debu atau kotoran kuda. Bunga-bunga bermekaran di setiap jendela dengan warna-warni yang sangat cerah, seolah-olah saturasi warnanya dinaikkan hingga 100%.

"Wow..." Lila melongo. "Cantik sekali!"

"Aneh," gumam Elena, tangannya secara refleks menyentuh gagang pedang. "Di tengah hutan monster, ada desa tanpa pagar pertahanan? Ini mencurigakan."

Kami berjalan turun menuju gerbang desa. Tidak ada penjaga. Hanya ada seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang berdiri di sana sambil tersenyum lebar. Dia memakai jubah putih bersih.

"Selamat datang, Wahai Pengelana!" sapanya dengan suara yang ramah dan hangat. "Kalian pasti lelah. Selamat datang di Desa Seruni, tempat di mana kebahagiaan adalah hukum mutlak."

[Sistem Alert: Zona Baru Ditemukan.] [Nama: Desa Seruni (Beta Version).] [Populasi: 50 Jiwa.] [Tingkat Bahaya: ??? (Data Corrupted).] [Saran: Jangan makan buah apel sembarangan.]

"Data Corrupted?" batinku waspada.

"Terima kasih, Pak Tua," jawab Elena sopan namun dingin. "Kami hanya ingin menumpang istirahat dan membeli perbekalan. Kami punya uang."

Pria tua itu yang memperkenalkan diri sebagai Kepala Desa Banyu tertawa renyah. "Uang? Oh, tidak, tidak. Di sini kami tidak menggunakan uang. Semua yang ada di desa ini adalah milik bersama. Kalian adalah tamu kami. Silakan masuk, kami sudah menyiapkan pesta penyambutan."

"Pesta?" Aku menyela. "Kalian tahu kami akan datang?"

"Kami selalu siap menyambut tamu," jawabnya dengan senyum yang tidak berubah sedikit pun, bahkan matanya tidak berkedip.

Kami saling berpandangan. Seraphina mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa kita tidak punya pilihan lain karena hari mulai gelap.

Kami dibawa ke sebuah penginapan besar di pusat desa. Interiornya sangat mewah untuk ukuran desa terpencil. Kasurnya empuk, airnya hangat, dan aroma masakan lezat langsung menyerbu hidung kami.

Malam harinya, sebuah meja panjang digelar di alun-alun desa. Penduduk desa pria, wanita, dan anak-anak semuanya berkumpul. Mereka semua cantik dan tampan, dengan pakaian bersih tanpa noda. Mereka tersenyum pada kami. Terus tersenyum.

Di atas meja, tersaji ayam panggang utuh, sup jagung kental, roti yang masih mengepul, dan buah-buahan segar.

"Silakan, Pahlawan!" seru Kepala Desa Banyu. "Makanlah sepuasnya!"

Lila sudah siap menerjang paha ayam, tapi aku menahan tangannya. "Tunggu."

Aku mengeluarkan panci hitamku. Panci itu masih dalam mode Semi-Sentient.

"Cek dulu, Sobat," bisikku pada panci.

Aku menyentuhkan pantat panci ke permukaan sup. Tidak ada reaksi. Panci itu tidak bergetar marah, tidak berubah warna.

[Analisis Panci: Makanan Aman. Tidak ada racun. Tidak ada sihir tidur. Tingkat kelezatan: Standar Pabrik.]

"Aman," kataku. "Serbu."

Kami makan dengan lahap. Rasanya enak. Sangat enak. Daging ayamnya empuk, bumbunya pas. Tapi... entah kenapa, lidahku yang berstatus "Koki Isekai" merasa ada yang kurang.

"Bagaimana, Rian?" tanya Elena sambil mengunyah roti. "Enak kan? Kau curiga berlebihan."

"Enak sih," jawabku pelan. "Tapi rasanya... datar. Seperti makan replika makanan yang terbuat dari lilin, tapi bisa dimakan. Tidak ada 'jiwa' dalam masakan ini. Tidak ada cacat sedikit pun. Bahkan tidak ada bagian yang gosong atau kurang garam."

"Kau ini, dikasih enak malah protes," cibir Elena.

Saat kami makan, aku memperhatikan penduduk desa. Mereka tidak makan. Mereka hanya berdiri mengelilingi meja kami, tersenyum, dan bertepuk tangan setiap kali kami mengambil lauk baru.

"Enak? Enak?" tanya seorang wanita muda pada Lila. "Enak!" jawab Lila.

Lima menit kemudian, wanita itu bertanya lagi dengan nada dan intonasi yang persis sama. "Enak? Enak?"

Lila mengernyit. "Iya, Tante. Tadi kan sudah tanya."

Wanita itu terdiam sejenak, matanya kosong, lalu tersenyum lagi. "Enak? Enak?"

Lila merinding dan bergeser mendekatiku. "Kak Lian... Tante itu lusak ya?"

Aku meletakkan sendokku. Insting gamer-ku menjerit. Pola berulang. Dialog repetitif. "Elena, Seraphina," bisikku. "Jangan buat gerakan mendadak. Tapi perhatikan orang yang menyapu di dekat sumur itu."

Mereka melirik. Seorang pria sedang menyapu halaman. Dia menggerakkan sapunya ke kiri, ke kanan, lalu berhenti, melihat ke langit, lalu menyapu lagi. Gerakannya kaku dan berulang setiap 10 detik. Persis sama.

"Dia... seperti boneka yang diputar kuncinya," bisik Seraphina ngeri.

"Sistem," tanyaku dalam hati. "Tempat apa ini sebenarnya?"

[Analisis Mendalam Sedang Berjalan...] [Hasil: Zona ini adalah "Recycle Bin" (Tempat Sampah) dari dunia Aethoria.] [Entitas 'Penduduk Desa' adalah NPC gagal yang dibuang oleh Dewa Pencipta karena bug atau cacat kepribadian.] [Mereka tidak memiliki jiwa. Mereka hanya menjalankan skrip terakhir mereka sebelum dihapus.]

Aku merinding. Kami sedang makan malam di tengah-tengah kuburan data.

Tiba-tiba, Kepala Desa Banyu mendekat. Senyumnya melebar hingga batas yang tidak wajar, hampir menyentuh telinga. "Apakah para tamu sudah kenyang? Jika sudah, saatnya untuk 'Penyatuan'."

"Penyatuan apa?" Elena berdiri, tangannya meraih gagang pedang.

"Agar kami menjadi sempurna," kata Banyu. "Kami butuh variabel baru. Kami butuh jiwa kalian untuk menambal kode kami yang rusak."

Serentak, seluruh penduduk desa berhenti tersenyum. Wajah mereka menjadi datar. Mata mereka berubah menjadi statis seperti layar TV rusak.

"Jiwa... berikan jiwa..." gumam mereka serempak. Suaranya bukan suara manusia, tapi suara dengungan digital yang menyakitkan telinga.

"Lila! Bom Asap!" teriak Elena.

"Sudah habis, Kak!" Lila panik.

Penduduk desa mulai bergerak mendekat. Gerakan mereka patah-patah (glitching). Tangan mereka memanjang secara tidak wajar, berubah menjadi piksel-piksel tajam yang siap mencabik kami.

"Rian! Panci!" Elena mencabut pedangnya, menebas seorang warga yang menerjang. Tapi pedang Elena menembus tubuh warga itu seolah menebas udara. Tidak ada darah. Tubuh warga itu hanya berkedip sebentar, lalu utuh kembali.

"Serangan fisik tidak mempan!" teriak Elena. "Mereka tidak nyata!"

"Kita harus menyerang sumbernya!" seruku. "Sistem! Di mana Core atau Inti dari zona bug ini?!"

[Lokasi Inti: Sumur di tengah alun-alun.] [Saran: Hancurkan server lokalnya.]

"Ke sumur!" teriakku.

Kami berlari menerobos kerumunan NPC hantu itu. Mereka mencoba meraih kami. Tangan piksel mereka merobek baju kami, meninggalkan rasa dingin yang membakar kulit. Rasanya seperti disentuh oleh ketiadaan.

Seraphina menjerit saat kakinya ditarik oleh seorang anak kecil yang wajahnya rata tanpa mata. "Tolong!"

Aku berbalik. Panci hitamku bergetar hebat. "Jangan sentuh teman-temanku, Glitch Sialan!"

Aku tidak memukul anak itu. Aku memukul tanah di depannya. [Skill Aktif: "System Override - Chef's Anger"] Aku menyalurkan sedikit energi korupsi dari dalam diriku ke panci. Gelombang kejut berwarna hitam kemerahan menyebar. Berbeda dengan pedang Elena, energiku ini bisa menyentuh mereka.

Anak kecil itu menjerit suara error komputer dan tubuhnya hancur menjadi serpihan cahaya biru.

"Rian! Kekuatanmu bisa melukai mereka!" Elena menyadari. "Kau satu-satunya yang bisa membuka jalan!"

"Bagus! Jadikan aku battering ram (pendobrak) lagi!"

Aku berlari di depan, mengayunkan panci ke kiri dan kanan seperti orang gila yang sedang mengusir lalat. Setiap hantaman menghapus keberadaan para NPC itu. DELETE! DELETE! DELETE!

Kami sampai di bibir sumur tua itu. Di dalamnya, bukan air, melainkan pusaran kode biner berwarna hijau dan hitam yang berputar liar.

"Hancurkan itu!" perintah Elena.

"Dengan apa? Bom Lila habis!"

Aku melihat ke dalam sumur. Lalu aku melihat ke sakuku. Masih ada satu item gacha yang belum pernah kupakai karena deskripsinya terlalu aneh.

[Item: "Ragi Pengembang Instan (Tipe Bencana)".] [Deskripsi: Membuat apa pun mengembang hingga 1000x lipat dalam 5 detik. Jangan digunakan pada perut buncit.]

"Ini dia!" Aku mengambil saset bubuk itu. "Kalian semua, mundur! Aku akan membuat desa ini 'kekenyangan'!"

Aku merobek saset itu dan menumpahkannya ke dalam sumur kode itu. "Makan ini, Bug!"

Selama satu detik, tidak terjadi apa-apa. Lalu, terdengar suara gemuruh dari dalam perut bumi. Sumur itu mulai meluap. Bukan meluap air, tapi meluap adonan putih raksasa yang terus membesar. Adonan itu menyebar dengan kecepatan kilat, menelan alun-alun, menelan rumah-rumah, dan menelan para NPC glitch itu.

"Lari ke bukit!" teriak Elena.

Kami berlari sekencang mungkin menaiki bukit di pinggir desa. Di belakang kami, gelombang adonan raksasa itu menelan seluruh Desa Seruni. Para NPC itu tidak bisa bergerak karena terjebak dalam adonan lengket yang terus mengembang.

"Tidaaakk... kami belum sempurnaaa..." suara Kepala Desa Banyu terdengar tenggelam dalam lautan ragi.

Kami sampai di puncak bukit, terengah-engah, menyaksikan pemandangan absurd di bawah sana. Sebuah lembah yang tadinya indah, kini penuh dengan adonan roti raksasa yang menutupi segalanya.

Lila menatap takjub. "Itu... loti telbesal di dunia..."

Elena menjatuhkan diri ke rumput, napasnya memburu. Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya. "Kau... kau menghancurkan desa hantu dengan ragi roti?"

"Hei, itu berhasil kan?" Aku nyengir, meski tanganku gemetar. Panci di tanganku terasa panas. Energi korupsi yang kugunakan tadi... rasanya nikmat. Terlalu nikmat. Itu membuatku khawatir.

Seraphina mendekat, melihat ke arah desa yang kini sunyi. "Mereka... jiwa-jiwa yang gagal. Setidaknya sekarang mereka bisa istirahat."

Aku mengangguk. Tapi di sudut mataku, aku melihat notifikasi sistem yang membuat darahku membeku.

[Quest Sampingan Selesai: Membersihkan Sampah Sistem.] [Hadiah XP: +2000.] [Efek Samping: Tindakan Anda menarik perhatian 'Admin' dunia ini.] [Corruption Meter: 0.60%]

Aku segera menutup notifikasi itu sebelum Elena melihatnya. "Ayo tidur," kataku cepat. "Besok kita harus mencari jalan lain. Dan tolong, jangan ada yang minta roti untuk sarapan besok. Aku muak melihat adonan."

Malam itu, kami tidur di bawah bintang-bintang, jauh dari kenyamanan palsu Desa Seruni. Tapi aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku merasa ada mata raksasa di langit yang sedang mengawasi kami mengawasi aku menunggu saat yang tepat untuk menekan tombol Delete.

Dan yang lebih parah, panciku mulai mengigau dalam tidurnya. Dia bergetar dan mengeluarkan suara clung-clung pelan, seolah sedang memimpikan memakan jiwa lebih banyak lagi.

More Chapters