Perubahan Takdir yang Tiba-tiba
Cahaya fajar yang hangat seketika tertutup oleh bayangan raksasa. Dari ufuk cakrawala, puluhan burung tunggangan bersayap lebar menukik tajam, membawa prajurit dengan zirah perak yang berkilau. Di dada zirah mereka, terukir lambang matahari terbenam simbol Klan Wang, musuh bebuyutan Lin Feng.
Empat murid di belakang Qin Tianyang termasuk Ye Chen seketika memasang posisi siaga. Senjata mereka terhunus, namun jantung mereka berdegup kencang. Bagaimana mungkin pasukan sebesar ini bisa melacak mereka secepat ini?
Seorang pria tua dengan jubah mewah melangkah turun dari burung tunggangan terdepan. Alih-alih menyerang, ia justru berlutut dengan khidmat di hadapan Qin Tianyang.
"Tuan Muda Kedua," suara pria tua itu menggelegar, penuh haru. "Akhirnya kami menemukan Anda."
Keterkejutan yang Mendalam
Keempat murid itu terpaku. Ye Chen hampir menjatuhkan belatinya karena terkejut. "Tuan Muda... Kedua? Apa maksudnya ini?"
Pria tua itu mengabaikan mereka dan terus menatap Qin Tianyang dengan tatapan setia. "Dunia mengira Anda hanyalah bidak dalam eksperimen gila ini. Namun, darah yang mengalir di tubuh Anda adalah darah murni pemimpin Klan Wang.
Anda adalah putra dari Selir Agung yang dulu dibuang karena fitnah keji, namun tetap setia menjaga garis keturunan ini di pengasingan."
Ia kemudian menunjuk ke arah barisan pasukan yang tertata rapi. "Klan Wang kini telah bangkit. Kami telah menghancurkan semua klan saingan yang dulu menindas ibu Anda. Sekarang, seluruh kekuatan klan ini kekayaan, pasukan, dan wilayah adalah milik Anda, Tuan Muda Qin Tian."
Reaksi Tak Terduga
Suasana menjadi hening. Empat murid yang baru saja ingin "menulis cerita sendiri" kini menyadari bahwa takdir Qin Tianyang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Ye Chen hanya bisa menyeringai kecut, menyadari bahwa orang yang baru saja ia ikuti sebagai pelarian, kini adalah penguasa salah satu kekuatan terbesar di wilayah ini.
Xuanyin menatap anjing anomali di kakinya, yang anehnya terlihat tenang, seolah sudah tahu bahwa "tuannya" memang ditakdirkan untuk memimpin.
Qin Tianyang menatap tangannya sendiri, lalu menatap cakrawala. Kebebasan yang ia dambakan baru saja berubah menjadi tanggung jawab yang tak terelakkan.
Langkah kaki pasukan Klan Wang mengguncang tanah yang dulunya merupakan markas besar sekte Lin Feng. Panji-panji lama dirobek dan digantikan oleh bendera matahari terbenam Klan Wang. Dalam sekejap, tempat yang dulunya sakral itu berubah menjadi puing-puing kekalahan.
Kehancuran Sang Legenda
Keempat murid yang tadinya berharap akan petualangan baru, kini tertunduk dengan tangan terikat rantai Spirit-Suppression.
Semula mereka mencoba melawan dan bertarung secara ksatria. namun sekuat apapun mereka melawan semua esensi ilmu yang mereka pelajari tiba tiba selalu patah di tangan dingin, tangan emas Qin Tianyang.
mereka harus menghadapi hasil akhir dari setiap pergumulan yang timpang. karena hasil akhirnya adalah mereka harus kalah dari pertempuran melawan Qin. Qin dengan licik telah mempelajari setiap kelemahan dari teman mereka.
Menyimpannya untuk hari ini. hari kekalahan klan.
Mereka diseret melewati aula utama yang kini bersimbah debu dan reruntuhan. Di sekeliling mereka, para prajurit Klan Wang berjaga dengan tombak beraliran listrik statis yang membuat sirkulasi qi mereka tersumbat total.
Mereka dilemparkan ke dalam penjara bawah tanah terdalam, yang kini dilapisi oleh Formasi Pelindung Sembilan Lapisan. Kekuatan formasi ini begitu masif hingga udara di dalamnya terasa berat dan menyesakkan.
Jangankan untuk melarikan diri, untuk menggerakkan jari pun mereka harus berjuang keras.
"Sial..." gumam Ye Chen, wajahnya yang penuh seringai kini pucat pasi. "Kita keluar dari mulut harimau, malah masuk ke sarang naga."
Tawa Sang Pemenang
Suara langkah kaki yang berat bergema di lorong penjara. Pintu besi raksasa terbuka, menampakkan sosok Tuan Besar Wang yang berjalan dengan penuh kemenangan. Ia menatap ke arah sel dengan mata yang berkilat senang.
"Lihatlah pemandangan ini!" seru Tuan Wang sambil tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar di ruang sempit itu. "Wilayah Lin Feng yang diagungkan, runtuh hanya dalam satu malam. Dan yang paling manis dari semuanya... klan ini hancur bukan karena perang besar, tapi karena manipulasi cerdik dari seorang anak belasan tahun."
Ia menoleh ke arah Qin Tianyang yang berdiri di sampingnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tuan Wang menepuk bahu Qin Tianyang dengan keras.
"Putraku, kau benar-benar mewarisi kecerdikan ibumu. Dengan memanfaatkan statusmu sebagai 'subjek eksperimen gagal', kau berhasil menghancurkan pertahanan mereka dari dalam. Kini, wilayah Klan Wang meluas dua kali lipat!"
Pengkhianatan atau Rencana?
Keempat murid itu menatap Qin Tianyang dengan tatapan tidak percaya. Rasa dikhianati menyelimuti mereka. Jadi, pelarian mereka, kata-kata tentang "menulis cerita sendiri", semuanya hanyalah bagian dari skenario untuk membawa pasukan Klan Wang ke jantung pertahanan musuh?
"Qin Tian..." Xuanyin berbisik dengan suara bergetar. "Apakah semuanya hanya bohong?"
Qin Tianyang tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin ke balik jeruji besi, sementara Tuan Wang terus tertawa, merayakan kemenangan atas kehancuran sebuah klan besar yang dimanipulasi oleh tangan seorang remaja.
Penderitaan keempat murid di dalam penjara saat mereka mencoba mencari celah di formasi pelindung tersebut?
Di dalam kegelapan penjara bawah tanah yang lembap, keempat murid itu mulai merasakan siksaan yang sebenarnya. Formasi Pelindung Sembilan Lapisan bukan sekadar dinding fisik; formasi itu bekerja seperti lintah yang perlahan-lahan menyedot sisa-sisa qi dari inti sel mereka.
Penderitaan di Balik Jeruji
Xuanyin tergeletak lemas di sudut sel, napasnya tersengal-sengal. "Rantai ini... rasanya seperti membakar pembuluh darahku," rintihnya. Setiap kali mereka mencoba meraba celah pada segel energi di jeruji besi, kejutan listrik spiritual menghantam tubuh mereka hingga terpental.
Ye Chen, yang biasanya penuh tipu daya, kini hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dinding batu yang dingin. Seringainya telah hilang sepenuhnya. "Dia memainkan kita semua," desis Ye Chen dengan suara parau. "Kita bukan penyintas eksperimen... kita hanya alat transportasi baginya untuk sampai ke kursi kekuasaan ini."
Mereka mencoba bermeditasi untuk mencari titik lemah formasi tersebut, namun setiap kali mereka fokus, bayangan Qin Tianyang yang berdiri di samping Tuan Wang kembali menghantui pikiran mereka. Rasa sakit fisik tidak seberapa dibanding rasa dikhianati oleh sosok yang mereka anggap sebagai harapan baru.
Bisikan Sang Penasehat
Sementara itu, di balkon tinggi yang menghadap ke wilayah taklukan yang baru, Qin Tianyang berdiri menatap sisa-sisa api yang masih berkobar di kejauhan.
Di belakangnya, muncul Penasehat Mo, pria tua bertubuh bungkuk dengan mata yang selalu terlihat seperti sedang menghitung mangsa.
Mo mendekat, suaranya pelan namun tajam seperti sembilu. "Tuan Muda Qin Tian... Anda telah melakukan tugas yang luar biasa. Klan ini hancur berkat tangan dingin Anda."
Ia berhenti sejenak, lalu melirik ke arah aula utama di mana Tuan Wang sedang berpesta pora merayakan kemenangan.
"Namun, apakah Anda akan puas hanya menjadi bayang-bayang ayah Anda?" tanya Mo dengan nada menghasut. "Tuan Besar Wang adalah pria yang serakah. Baginya, Anda hanyalah senjata. Begitu dia merasa kekuasaan ini stabil, dia akan memandang Anda sebagai ancaman bagi takhtanya sendiri."
Qin Tianyang tetap diam, namun jemarinya mengepal kuat di pagar balkon.
"Jika Anda ingin benar-benar bebas," lanjut Penasehat Mo sambil tersenyum tipis, "Anda harus menguasai klan ini sepenuhnya. Biarkan ayah Anda 'pensiun' selamanya. Dunia ini terlalu kecil untuk dua harimau, Tuan Muda.
Mungkin sudah saatnya Tuan Besar Wang beristirahat... atau mati di tangan putra yang dulu ia buang, sebagai bukti bahwa Anda telah melampaui dia."
Langkah Berikutnya
Mata Qin Tianyang berkilat dingin. Di bawah sana, di penjara terdalam, keempat temannya masih menderita, sementara di atas sini, sebuah rencana pengkhianatan yang lebih besar mulai tumbuh.
Rencana besar mulai tersusun di balik topeng kepatuhan. Qin Tianyang tahu bahwa untuk menjatuhkan pohon besar seperti ayahnya, ia tidak bisa menggunakan kapak yang tumpul. Ia harus menjadi rayap yang memakan fondasi kekuasaan Tuan Wang dari dalam, tanpa suara dan tanpa peringatan.
Si Musang Berbulu Domba
Sejak hari penaklukan itu, Qin Tianyang berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Ia menanggalkan keangkuhannya dan tampil sebagai putra yang paling berbakti. Di setiap perjamuan, ia adalah orang pertama yang menuangkan arak ke cawan ayahnya, bersujud dengan dahi menyentuh lantai setiap kali Tuan Wang memasuki ruangan.
"Ayahanda, kemenangan ini hanyalah awal," ucap Qin Tianyang dengan nada rendah yang penuh hormat saat mereka berada di aula utama. "Hamba akan memastikan setiap sudut wilayah ini tunduk di bawah kaki Ayahanda. Katakan saja siapa yang harus hamba singkirkan, maka hamba akan melakukannya."
Tuan Wang tertawa terbahak-bahak, merasa jemawa karena akhirnya memiliki "anjing peliharaan" yang paling mematikan sekaligus paling penurut. Ia mulai memberikan akses kepada Qin Tianyang untuk memeriksa gudang persenjataan, catatan pajak, hingga rahasia teknik kultivasi keluarga.
Tanpa disadari, Qin Tianyang sedang mencatat setiap celah pertahanan dan kelemahan fisik ayahnya yang mulai melambat karena usia dan keserakahan.
Kepulangan Sang Ibu
Sebagai hadiah atas loyalitasnya, Tuan Wang membuat keputusan besar.
Ia memerintahkan pasukannya untuk menjemput ibu Qin Tianyang selir yang dulu dibuang untuk tinggal di istana utama klan yang baru direbut.
Ketika kereta kencana tiba, Qin Tianyang menyambut ibunya di depan gerbang.
Namun, saat mata mereka bertemu, ada kilatan kepedihan yang dalam. Ibunya melihat kemewahan di sekelilingnya, namun ia juga melihat rantai tak terlihat yang melilit leher putranya.
"Tian'er..." bisik ibunya dengan suara bergetar.
"Ibu, selamat datang di rumah baru kita," jawab Qin Tianyang sambil mencium tangan ibunya dengan sopan. Di balik senyum itu, Qin Tianyang membatin: 'Ibu, aku membawamu ke sini bukan untuk menjadi selir lagi, tapi untuk menjadi Ibu Suri dari klan yang akan aku rebut.'
Di Balik Bayangan Penjara
Sementara itu, di penjara bawah tanah, penderitaan keempat murid mencapai puncaknya. Dari balik jeruji, mereka mendengar kabar tentang betapa "setianya" Qin Tianyang kepada ayahnya.
"Dia benar-benar sudah menjual jiwanya," desis Ye Chen, tubuhnya kini kurus kering karena energinya terus terserap formasi. "Dia membawa ibunya ke sini hanya untuk pamer kekuasaan."
Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang penjaga penjara secara misterius menjatuhkan sebuah bungkusan kecil berisi obat pemulih qi dan sebuah pesan singkat tanpa nama:
"Bertahanlah sedikit lebih lama. Harimau tidak menerkam saat ia lapar, tapi saat mangsanya merasa paling aman."
