Cherreads

Chapter 2 - Chapter II Game I

Bab 2

Aroma lilin lebah yang terbakar dan wangi lavender yang pekat adalah hal pertama yang menyengat indra penciuman.

​Bukan bau pengap kubikel kantor, bukan pula aroma kopi instan murah yang biasa menemaninya lembur hingga larut malam.

​Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi justru merasakan gesekan kain beludru tebal yang asing di kulitnya. Ketika dia membuka mata, langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran kayu ek kuno menyambut pandangannya.

​"Dimana ini...?"

​Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar lebih berat, sedikit serak, dan sama sekali bukan suaranya.

​Jantung bertalu keras. Dia Refleks bangkit duduk, namun rasa perih yang luar biasa mendadak menyengat sisi kiri wajahnya. Jemarinya yang gemetar naik, menyentuh pipinya sendiri. Kulit di sana tidak lagi mulus. Teksturnya kasar, berkerut, dan melepuh kaku, bekas luka bakar yang luas.

​

Ia mencengkeram selimut sutra di bawahnya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Kepalanya mendadak dihantam gelombang informasi yang asing. Lembar demi lembar ingatan yang bukan miliknya berputar paksa di dalam benak: ksatria berbaju besi, dentang pedang, kobaran api yang melahap sebuah kastil, dan sebuah nama yang terukir dalam sejarah fiksi.

​Napasnya memburu saat dunianya seolah berputar. Lembar ingatan itu perlahan menyatu dengan memorinya sebagai seorang pekerja kantoran yang mati kelelahan di depan layar monitor.

​Lord Aeon Awestern. Lord of Vesthall.

​Aeon mengembuskan napas panjang yang gemetar, menatap kedua tangannya yang kini dipenuhi kapalan tipis bekas latihan pedang. Dia tahu nama itu. Sangat tahu. Itu adalah nama karakter figuran, karakter sampingan tanpa masa depan yang ditakdirkan mati di awal cerita dalam game RPG fantasi yang dia mainkan semalam sebelum kesadarannya hilang.

​Ketukan berirama di pintu ek tebal memecah keheningan kamar.

​"Tuan muda, Anda tidak apa-apa?"

​Aeon tersentak. Suara bariton yang lembut namun tegas itu memicu reaksi otomatis di otaknya. Tanpa perlu berpikir, sebuah nama langsung muncul di kepalanya.

​"Masuklah, Jenn. Aku baik-baik saja."

​Begitu kata-kata itu lolos dari bibirnya, Aeon mengumpat dalam hati. Sialan. Bagaimana bisa tubuh ini mengenali pemilik suara itu secara instan bahkan sebelum pintunya terbuka?

​Pintu berderit pelan, menampakkan sosok wanita dengan gaun pelayan bergaya klasika.

​Jenn melangkah masuk dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

Rambutnya yang berwarna merah kecoklatan diikat rapi di belakang kepala, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tenang namun waspada. Di tangannya, sebuah nampan perak berisi roti gandum hangat dan sup beraroma kaldu gurih tersaji.

​"Makanan Anda, My Lord," ucap Jenn, membungkuk hormat dengan sudut kemiringan yang sempurna.

​Aeon menekan rasa gugupnya. Dia memaksakan diri untuk berjalan menuju meja kerja mahoni yang dipenuhi tumpukan perkamen dan laporan wilayah. Dia duduk di kursi bersandaran tinggi, mencoba meniru wibawa seorang bangsawan yang terekam dalam ingatan tubuh ini.

​"Letakkan saja di meja," perintah Aeon, matanya berpura-pura sibuk memeriksa selembar kertas laporan pajak wilayah Vesthall yang buram.

​"Kalau begitu saya permisi, My Lord." Jenn meletakkan nampan dengan presisi, memberikan penghormatan terakhir sebelum berbalik arah.

​"Ya."

​Begitu pintu tertutup rapat dan langkah Jenn menjauh, Aeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia melepaskan helaan napas yang sudah ditahannya sejak tadi.

Wanita itu, cara jalannya, bahkan cara dia melirik dengan patuh namun dingin, semuanya benar-benar persis seperti visualisasi karakter game yang dia lihat di layar monitornya semalam. Hanya saja, kali ini semuanya nyata. Ada embusan napas, ada aroma makanan, dan ada rasa perih yang nyata di wajahnya.

​Aeon bangkit berdiri dan melangkah menuju jendela kaca besar yang mengarah ke luar kastil.

​Di bawah sana, terhampar pemandangan wilayah Vesthall.

Menara-menara batu abu-abu yang kokoh berdiri di balik kabut pagi, para prajurit yang berpatroli dengan baju zirah berdenting, dan hamparan hutan hijau yang membatasi wilayahnya.

​Inilah kehidupan barunya. Sebuah dunia di mana dia bukan lagi penonton, melainkan bidak yang harus bertahan hidup dari plot cerita yang mematikan.

​Keheningan Aeon tidak bertahan lama. Pintu ruang kerjanya kembali diketuk, kali ini dengan ketukan yang jauh lebih berat dan mendesak.

​Pintu terbuka bahkan sebelum Aeon memberi izin.

Seorang pria berbadan tegap dengan baju zirah yang dipenuhi goresan luka tempur melangkah masuk.

Sir Tyeo Veulfort. Pria itu adalah mantan tentara bayaran yang kini disumpah menjadi ksatria pelindung Vesthall. Aura intimidasi memancar dari tubuhnya yang jangkung, dan cara berjalannya yang condong ke depan menunjukkan bahwa dia adalah pria yang terbiasa hidup di ujung mata pedang.

​Tyeo tidak membungkuk serendah Jenn. Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit, sementara matanya yang tajam menatap langsung ke arah Aeon. Di tangannya, ada selembar surat dengan segel lilin yang sudah rusak.

​"My Lord," suara Tyeo berat, seperti gesekan batu.

"Salah satu gerobak pedagang kita baru saja dirampok di jalur hutan timur. Bandit-bandit itu menghabisi seluruh pengawal."

​Aeon terdiam. Jalur timur adalah urat nadi ekonomi Vesthall yang rapuh. Jika bandit mulai berani menyentuh para pedagang, itu berarti wibawa House Awestern sedang dipertanyakan.

Lebih dari itu, dalam ingatan game-nya, insiden di hutan timur adalah awal dari keruntuhan wilayah ini jika tidak ditangani dengan tegas.

​Aeon berjalan mendekat, sepasang matanya menatap lurus ke arah ksatria di depannya. Dia tahu masa lalu Tyeo sebagai tentara bayaran menjadikannya aset yang mematikan, sekaligus bom waktu jika kelayakannya tidak diuji.

​Aeon berhenti tepat dua langkah di depan Tyeo. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan.

​"Tunjukkan ketulusanmu, Sir Tyeo," bisik Aeon, suaranya dingin, menuntut kepatuhan mutlak yang tak bisa ditawar.

​Tyeo menatap mata Aeon selama beberapa detik, mencari keraguan di balik wajah yang rusak oleh api itu. Namun, yang dia temukan hanyalah tekad yang membeku. Perlahan, ksatria itu berlutut dengan satu kaki, mengepalkan tangan di dada zirahnya.

​"Dilaksanakan, My Lord."

Bersambung.

More Chapters