Cherreads

Chapter 6 - Chapter VI Awestern III

Bab 6

​Surat dengan segel mawar es itu mengubah segalanya. Menunggu Duchess Charlotte Holtingster datang ke Vesthall dalam tiga hari sama saja dengan mengantarkan leher ke pisau jagal.

Dalam ingatan game Aeon, Charlotte tidak pernah bergerak tanpa niat melenyapkan pion yang tidak berguna.

​Jika Aeon ingin mengubah takdir kematiannya, dia harus mengambil inisiatif. Dia harus mendatangi sang pemangsa di sarangnya sendiri.

​

​Sebelum fajar menyingsing, Aeon langsung merombak total rencananya. Perburuan Dire Wolves diserahkan sepenuhnya kepada Sir Tyeo, sementara Jenn diperintahkan untuk mengawasi para pekerja yang mulai bergerak menuju tambang tua.

​Dengan hanya dikawal oleh Escarlate dan dua ksatria berkuda, Aeon naik ke dalam kereta kuda sederhana tanpa lambang kebesaran.

Roda kereta berderit keras, membelah kabut pagi saat mereka meninggalkan gerbang perbatasan Vesthall menuju arah utara.

​"Anda sedang melakukan perjudian besar, My Lord," ujar Escarlate di dalam kereta, matanya menatap cemas ke arah Aeon.

"Mendatangi Duchess Charlotte di wilayahnya sama saja dengan berjalan ke dalam gua naga."

​"Jika naga itu berniat membakar rumahmu, Esca," jawab Aeon tenang, sambil menatap keluar jendela, "pilihan terbaikmu adalah menjinakkan naga itu sebelum dia sempat mengepakkan sayapnya."

​Setelah perjalanan melelahkan selama satu setengah hari, siluet Kota Holt akhirnya muncul di balik perbukitan.

Kontras dengan Vesthall yang kelabu dan miskin, Holt adalah kota metropolitan utara yang megah.

Ditopang oleh dinding batu putih yang menjulang tinggi, spanduk-spanduk kain sutra biru dengan lambang mawar es berkibar di setiap sudut jalan.

​Udara di sini jauh lebih dingin, membekukan napas menjadi uap putih. Jalur jalanan dipenuhi oleh para bangsawan berbulu tebal dan prajurit berzirah perak mengkilap.

​Kereta Aeon berhenti di depan gerbang Kastil Holtingster, sebuah mahakarya arsitektur gotik yang berdiri angkuh di puncak tertinggi kota.

Tanpa sambutan karpet merah, Aeon langsung digiring oleh para pengawal pribadi Duchess menuju ruang audiensi utama yang dilapisi marmer hitam.

​

​Di ujung ruangan, di atas takhta yang dipahat dari batu kristal es, duduklah sang Ice Duchess.

Charlotte Holtingster.

​Wajahnya secantik boneka porselen, dengan rambut pirang pucat yang jatuh sempurna di bahunya. Sepasang matanya yang berwarna biru safir menatap Aeon dengan pandangan merendahkan yang sanggup membekukan darah pria biasa.

​"Kau terlihat berbeda, Lord Awestern," suara Charlotte mengalun dingin, bergema di ruangan yang sunyi.

"Biasanya kau akan berlutut dan memohon keringanan pajak sambil menangis. Apakah luka bakar di wajahmu itu juga menghanguskan rasa takutmu?"

​Aeon tidak gentar. Dia melangkah maju, berhenti tepat di jarak yang ditentukan, lalu membungkuk hormat tanpa menunjukkan sedikit pun kelemahan.

​"Saya datang bukan untuk meminta belas kasihan, Duchess. Saya datang untuk menawarkan aliansi yang akan menyelamatkan faksi barat," ujar Aeon tegas.

​Charlotte tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar seperti pecahan es.

"Menyelamatkan barat? Dengan wilayahmu yang sekarat dan ladangmu yang membusuk?"

​"Vesthall memang sedang terluka, tetapi posisinya adalah kunci," Aeon mengeluarkan selembar peta wilayah barat daya dan membentangkannya di meja negosiasi.

"Tiga bulan dari sekarang, kerajaan akan menghadapi Musim Dingin Monster yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Dan Vesthall adalah gerbang alami bagi gelombang monster dari pegunungan liar."

​Alis Charlotte terangkat. Informasi tentang Monster Winter berskala besar adalah rahasia kuno yang bahkan belum terdeteksi oleh para penyihir menara ibu kota. Dia tidak tahu bahwa Aeon memiliki pengetahuan masa depan dari game.

​Aeon memanfaatkan keterkejutan sesaat itu untuk mengajukan penawarannya.

​

"Saya ingin anda menerima rakyat Awestern yang terusir nantinga."

​

​Charlotte menyandarkan punggungnya ke takhta, menopang dagunya dengan jemari yang lentik.

Matanya menyipit, menatap Aeon seolah sedang melihat mainan baru yang menarik. Sifat apatis dan penakut dari Lord Aeon yang dia kenal telah lenyap, digantikan oleh pria berwajah cacat yang penuh perhitungan taktis.

​"Rencana yang sangat berani, Aeon. Menjadikan wilayahmu sebagai tameng besi untuk barat," ucap Charlotte, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang berbahaya.

​Dia berdiri dari takhtanya, melangkah pelan mendekati Aeon. Aroma parfum mawar es yang pekat kembali menusuk hidung Aeon. Charlotte menunduk sedikit, menatap langsung ke dalam mata Aeon yang tak berkedip.

​"Aku bisa memberikan izin teritorial itu, dan aku bisa menjamin pasokan gandum cadangan untuk rakyatmu yang kelaparan selama musim dingin..." Charlotte berbisik, namun nadanya mendadak berubah menjadi penuh tuntutan yang mutlak.

​"...Tapi jangan mengira informasi ramalanmu itu gratis, Lord Awestern. Sebagai gantinya, aku menginginkan hak mutlak atas tujuh puluh persen dari seluruh pendapatan tambang yang baru saja kau buka kembali di Vesthall."

Aeon mengangguk, "saya terima, Duchess."

Di dalam kereta perjalanan pulang ke Awestern, Escarlate tidak berhenti menatap tajam Aeon.

"Anda sudah gila, My Lord. Mengorbankan tambang yang baru kita temukan?"

"Tidak, Scarlet. Rakyat Awestern lebih penting, ingat berapa korban dari musim dingin monster tahun lalu?"

Escarlate menunduk, "dua ribu jiwa melayang, My Lord."

"Ya, dan itu juga setengah dari populasi rakyat Awestern. Maka aku membuat rencana ini demi menghindari korban jiwa tidak perlu."

"Saya mengerti, My Lord."

Bersambung.

More Chapters