Cherreads

Chapter 18 - Bab 18: Pertemuan di Sektor 7 (Revisi)

Planet Vespera kini menjadi medan perang yang tak berujung. Asap hitam dari pabrik-pabrik senjata milik Baron Voltz menutupi langit, sementara pasukan Lord Malakor terus membombardir pemukiman penduduk yang tersisa.

Di atas kapal The Anomaly, Ija berdiri di dek observasi, menatap kekacauan itu dengan mata yang menyipit. Dia baru saja kembali dari dimensi Zero Space, dan mendapati dunia yang ia ciptakan sedang berada di ambang kehancuran.

"Mereka menggunakan kebebasan yang kuberi untuk menindas sesama," gumam Ija pelan, tangannya mengepal erat hingga mengeluarkan percikan statis.

"Itu konsekuensi dari memberikan kehendak bebas pada entitas yang tidak siap, Ija," sebuah suara dingin dan tajam tiba-tiba memecah keheningan kabin.

Ija berbalik. Di ambang pintu ruangan, berdiri seorang wanita dengan armor perak yang sudah usang namun masih tampak kokoh. Rambut pirangnya terikat kencang, dan matanya memancarkan aura prajurit yang dingin. Dia adalah Vera, mantan Jenderal Pasukan Arsitek yang selama ini bersembunyi di pinggiran galaksi setelah sistem pusat runtuh.

Ija tidak terkejut. Dia sudah merasakan keberadaan wanita ini sejak masuk ke Sektor 7. "Jadi, Sang Jenderal yang hilang akhirnya menampakkan diri."

Vera melangkah masuk. Setiap langkah kakinya bergema di lantai logam kapal. "Aku tidak di sini untuk berteman. Aku di sini untuk menghentikan Malakor. Dia telah mencuri fragmen data yang seharusnya menjadi milik para jenderal lama. Data itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih hidup."

Ija menatap Vera dari atas ke bawah. Dia bisa melihat luka-luka di armor Vera, tanda dari pertempuran panjang yang dia lalui sendirian. "Kenapa aku harus membantumu, Vera? Kau adalah sisa-sisa sistem lama."

Vera mendengus, lalu menghunuskan pedang laser yang cahayanya mulai meredup. "Karena jika kau tidak menghentikan Malakor, dia akan menggunakan fragmen data itu untuk memicu ledakan void yang akan menghapus seluruh sektor ini. Kau mungkin Administrator sekarang, tapi kau tidak bisa menghentikan ledakan void tanpa bantuan orang yang mengerti cara kerjanya."

Ija diam sejenak, menimbang kebenaran kata-kata Vera. Setelah hening yang cukup lama, Ija tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan rasa penasaran. "Menarik. Kau punya nyali untuk menantang penguasa realitas ini."

Ija berjalan mendekat ke arah Vera hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Dia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata biru jernih milik sang Jenderal.

"Baiklah, Jenderal. Aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan nilaimu. Tapi sebagai gantinya, jika kita menang, kau harus berhenti bersembunyi dan bergabung dengan kruku."

Vera menatap Ija dengan tajam, namun perlahan raut wajahnya melunak. "Aku tidak pernah tunduk pada siapa pun, Ija. Tapi... untuk saat ini, kurasa aku butuh seorang mitra yang gila sepertimu."

Ija menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap, ia memulihkan energi armor Vera dengan sedikit sentuhan data emasnya. Armor perak itu kembali bersinar terang, dan bekas luka di wajah Vera perlahan memudar.

Vera terkesiap, merasakan aliran energi baru yang belum pernah dia rasakan sejak sistem Arsitek masih berkuasa. "Apa yang kau lakukan?"

"Hanya memberikan sedikit 'pembaruan' pada asetku yang baru," Ija menyeringai, kembali ke mode santainya yang provokatif. "Sekarang, Jenderal, apakah kau sudah siap untuk memimpin serangan di bawah komandoku?"

Vera memasukkan kembali pedangnya, ekspresinya kini berubah menjadi lebih stabil dan berwibawa. "Tunjukkan jalannya, Administrator. Tapi ingat, jangan harap aku akan menuruti perintahmu jika itu terdengar bodoh."

Ija tertawa renyah, lalu menoleh ke Xora. "Siapkan unit tempur. Kita akan turun ke Vespera. Hari ini, kita akan menunjukkan pada Malakor bahwa kebebasan punya harga yang sangat mahal."

Vera berdiri di samping Ija, kini menjadi bagian dari tim yang akan mengubah takdir sektor tersebut. Pertemuan mereka bukanlah kebetulan, melainkan awal dari aliansi yang akan mengguncang seluruh galaksi.

More Chapters