Ledakan cahaya merah itu tidak hanya menghancurkan retakan di langit.
Ia menyapu seluruh dunia.
Menara-menara yang berdiri di berbagai benua menyala bersamaan seperti bintang yang bangun dari tidur panjang.
Energi yang mengalir melalui jaringan menara berhenti bergetar.
Perlahan… semuanya menjadi tenang.
Langit yang tadinya retak kini kembali utuh.
Tidak ada lagi mata raksasa.
Tidak ada lagi tangan hitam dari luar dunia.
Hanya awan gelap yang perlahan memudar.
Di puncak menara—
debu dan pecahan batu berjatuhan pelan.
Monster raksasa penghancur menara terbaring tak bergerak.
Tubuhnya yang besar kini retak di mana-mana.
Puluhan matanya satu per satu padam.
Makhluk dari jantung menara juga jatuh berlutut.
Tubuhnya kembali mengecil.
Energi hitam di tubuhnya hampir habis.
Ia menatap langit yang kini kosong.
"...Dia benar-benar melakukannya."
Penjaga pertama berdiri dengan susah payah.
Tubuh batunya hampir runtuh.
Namun matanya menatap satu tempat di udara.
Tempat di mana Raka berdiri tadi.
Aldren berlari ke sana.
"Raka!"
Namun tidak ada siapa pun di sana.
Hanya cahaya merah kecil yang melayang seperti bara api.
Aldren berhenti.
Napasnya berat.
"Dia… pergi?"
Pria berambut putih menutup matanya perlahan.
"Ketika seseorang menjadi inti jaringan menara…"
"...tubuhnya tidak lagi berada di dunia ini."
Aldren menatapnya dengan mata penuh kemarahan.
"Maksudmu dia mati?!"
Pria itu menggeleng pelan.
"Bukan mati."
Ia menunjuk ke langit.
"Dia menjadi sesuatu yang menjaga dunia dari balik menara."
Penjaga pertama berlutut.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun—
ia menundukkan kepala.
"Kami… berterima kasih padamu, Penjaga Baru."
Angin lembut berhembus di puncak menara.
Cahaya merah kecil tadi perlahan naik ke langit.
Lalu menghilang di antara awan.
Keheningan jatuh.
Namun tiba-tiba—
makhluk dari jantung menara tertawa kecil.
Aldren langsung menoleh tajam.
"Apa yang lucu?!"
Makhluk itu berdiri perlahan.
Wajahnya masih pucat.
Namun matanya penuh sesuatu yang aneh.
"Kalian semua terlalu cepat merayakan kemenangan."
Penjaga pertama menatapnya.
"Apa maksudmu?"
Makhluk itu menunjuk langit.
"Retakan itu memang tertutup."
"Tapi sesuatu dari luar sudah melihat dunia ini."
Pria berambut putih langsung menegang.
Makhluk itu tersenyum tipis.
"Dan makhluk seperti itu…"
"...tidak pernah datang sendirian."
Tiba-tiba—
salah satu menara jauh di cakrawala menyala merah terang.
Lalu menara lain menyala.
Satu.
Dua.
Sepuluh.
Seratus.
Seluruh jaringan menara kembali bergetar.
Namun kali ini—
bukan karena Raka.
Penjaga pertama menatap langit dengan wajah berubah.
"Itu bukan energi dunia ini."
Aldren menggenggam pedangnya.
"Apa lagi sekarang?"
Di langit yang tampak tenang—
tiba-tiba muncul bintik hitam kecil.
Lalu bintik lain.
Dan yang lain lagi.
Jumlahnya semakin banyak.
Seperti bintang.
Namun bintang yang jatuh.
Makhluk dari jantung menara berbisik pelan.
"Oh…"
"Sepertinya perang yang sebenarnya baru saja dimulai."
Penjaga pertama mengangkat kepalanya.
"Apa itu?"
Makhluk itu tersenyum.
"Para pemburu."
Bintik-bintik hitam itu semakin besar saat mendekat.
Kini semua orang bisa melihat bentuknya.
Makhluk.
Ratusan makhluk dari luar dunia.
Datang menuju bumi seperti meteor.
Aldren menatap langit dengan napas tertahan.
"Raka…"
Di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun—
di dalam jaringan menara yang menyelimuti seluruh dunia—
cahaya merah kecil menyala.
Dan sebuah suara pelan bergema.
"Aku masih di sini."
Langit mulai dipenuhi api dari meteor yang jatuh.
Dan perang baru untuk dunia—
baru saja dimulai.
