Cherreads

Chapter 6 - Chapter 6 – Nggak Dicari

Beberapa hari terakhir, Rafi mulai berhenti nunggu.

Biasanya sebelum istirahat dia bakal nengok ke depan, nunggu Maya noleh duluan.

Sekarang nggak.

Bel istirahat bunyi, dia langsung berdiri.

Hari itu dia sengaja jalan ke kantin lebih dulu.

Meja ujung masih kosong. Dia duduk. Pesan minum. Diam.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Nggak ada suara "Raf!" dari belakang.

Ponselnya getar.

Maya:

Raf kamu di mana?

Rafi baca tanpa ekspresi.

Rafi:

Kantin.

Balasan agak lama.

Maya:

Oh. Aku di belakang sekolah. Sama Arsen. Nanti aja ya.

Nanti aja.

Rafi tatap layar itu lama.

Dulu nggak ada "nanti".

Dulu selalu bareng.

Dia kunci ponsel, masukin ke saku. Minumnya belum disentuh.

Tiba-tiba ada yang duduk di depannya.

Nadira.

"Kok sendirian terus?" tanyanya pelan.

Rafi angkat bahu. "Emang kenapa?"

Nadira nggak langsung jawab. Dia lihat gelas Rafi yang masih penuh.

"Kamu nungguin orang ya?"

Rafi hampir bilang enggak.

Tapi dia capek bohong.

"Biasanya iya."

Nadira mengangguk kecil. "Sekarang nggak?"

Rafi senyum tipis. "Sekarang orangnya sibuk."

Nadira nggak komentar. Cuma geser minumannya sendiri ke tengah meja, kayak ngajak berbagi ruang.

Mereka duduk dalam diam beberapa detik.

Aneh.

Diamnya nggak bikin sesak.

Berbeda banget sama diam yang akhir-akhir ini dia rasain waktu bareng Maya dan Arsen.

Di kelas, keadaan makin jelas.

Maya makin sering duduk di depan. Kalau pun nengok ke belakang, cuma sebentar. Senyum kecil. Habis itu balik lagi ngobrol.

Hari itu, waktu pelajaran kosong, Rafi sengaja keluar kelas. Duduk di tangga dekat lapangan.

Dia butuh tempat sepi.

Beberapa menit kemudian, ada langkah pelan mendekat.

Nadira lagi.

"Kamu sering banget ngilang," katanya.

Rafi ketawa kecil. "Ngilang dari mana?"

"Dari tempat yang biasanya."

Rafi tahu maksudnya.

Dari samping Maya.

Dia nggak jawab.

Nadira duduk di sebelahnya, nggak terlalu dekat.

"Aku boleh jujur nggak?" tanya Nadira.

Rafi nengok sedikit. "Apa?"

"Aku pertama kali lihat kamu… kamu lagi lihat dia."

Jantung Rafi berhenti sepersekian detik.

Nadira lanjut pelan, "Tatapan kamu beda."

Rafi langsung buang muka. "Kamu salah lihat."

"Enggak," Nadira geleng kecil. "Aku tahu bedanya orang yang cuma lihat sama orang yang berharap."

Kalimat itu kena.

Karena itu tepat banget.

Rafi diam lama.

"Capek ya?" tanya Nadira pelan.

Dan entah kenapa, pertanyaan sederhana itu hampir bikin Rafi kehilangan kontrol.

Bukan karena dramatis.

Tapi karena selama ini nggak ada yang nanya itu ke dia.

Yang semua orang tahu cuma Maya yang capek. Maya yang bingung. Maya yang sedih.

Nggak ada yang pernah nanya Rafi.

"Iya," jawabnya akhirnya. Pelan banget.

Angin sore lewat. Suara anak-anak dari lapangan terdengar jauh.

Nadira nggak kasih nasihat. Nggak bilang harus gimana.

Dia cuma bilang, "Kalau suatu hari kamu berhenti nunggu… itu bukan berarti kamu jahat."

Rafi nunduk.

Kalimat itu sederhana.

Tapi rasanya kayak izin.

Izin untuk lelah.

Izin untuk nggak selalu ada.

Dari kejauhan, suara Maya manggil namanya.

"Raf!"

Refleks Rafi berdiri.

Nadira juga berdiri.

Maya datang sendirian kali ini.

"Kamu di sini ternyata," katanya sambil senyum. "Aku nyariin."

Rafi lihat dia.

Dulu satu panggilan kayak gitu cukup bikin dia senang seharian.

Sekarang rasanya… biasa aja.

"Ada apa?" tanya Rafi.

"Enggak. Cuma mau cerita."

Rafi diam sepersekian detik.

Biasanya dia langsung bilang, "Cerita aja."

Sekarang dia sadar Nadira masih berdiri di sampingnya.

Dan untuk pertama kalinya, dia nggak langsung memilih posisi lama itu.

"Aku lagi ngobrol," katanya pelan.

Maya terdiam sebentar.

"Oh… yaudah. Nanti aja."

Nada suaranya nggak marah. Cuma sedikit kaget.

Maya pergi lagi.

Rafi berdiri di situ, ngerasa sesuatu di dalam dirinya benar-benar geser.

Bukan hilang.

Belum.

Tapi mulai berubah.

Dan untuk pertama kalinya, dia nggak merasa bersalah karena nggak langsung lari setiap kali Maya manggil.

More Chapters