RAJA IBLIS YANG SUPER TEGA: TAK ADA KATA AMPUN
BAB 11: AWAL PERUBAHAN
Setelah Darmud menghilang, Zarakiel tetap berdiri di atas takhta dengan pikiran yang berantakan. Kata-kata nenek moyangnya terus bergema di benaknya: "Kekejamanmu telah membuatmu terlupakan tujuan sebenarnya dari kepemimpinan—melindungi rakyatmu dan menjaga keseimbangan."
Dia berjalan keluar ke teras istana, menyaksikan rakyatnya yang sibuk dengan aktivitas pagi hari. Kali ini, matanya yang biasanya penuh dengan kekerasan mulai melihat hal yang berbeda. Dia melihat seorang ibu muda yang menangis sambil merawat anaknya yang sakit, seorang ayah yang bekerja ekstra keras untuk mencari makanan, dan sekelompok anak-anak yang bermain di sudut jalan tanpa memperhatikan bahaya yang pernah mengancam mereka.
"Sangat banyak kesusahan yang aku abaikan," gumamnya pelan.
Pada hari yang sama, dia memanggil Kael, kepala pasukannya. "Hentikanlah pemberlakuan hukuman mati untuk pelanggaran kecil seperti pencurian makanan atau keluar dari wilayah tanpa izin," perintahnya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Kael terkejut namun segera mengangguk. "Yang Mulia, apa ada hal tertentu yang membuatmu mengubah kebijakan?"
Zarakiel menoleh ke arah kejauhan. "Aku mulai menyadari bahwa kekerasan tidak selalu menjadi jawaban. Namun ingat—untuk kejahatan besar seperti pengkhianatan atau serangan terhadap kerajaan, hukum tetap harus ditegakkan. Hanya saja, sekarang kita akan mencari cara lain untuk memberi kesempatan kepada mereka yang benar-benar menyesal."
BAB 12: PROGRAM PEMULIHAN
Beberapa hari kemudian, Zarakiel mengumumkan pembentukan Program Pemulihan bagi mereka yang pernah melanggar hukum namun ingin memperbaiki diri. Tempat penjara bawah tanah yang dulunya penuh dengan kegelapan mulai diubah menjadi tempat pembelajaran dan pelatihan keterampilan.
Dia memanggil Varian dan anggota dewan yang pernah dikirim ke wilayah terpencil. "Aku meminta maaf karena terlalu cepat menyalahkan kalian," ujar Zarakiel dengan tatapan yang jujur. "Kalian adalah bagian penting dari kerajaan ini, dan aku butuh nasihat kalian untuk membuat sistem yang lebih baik."
Varian merasa terkejut dan segera berlutut. "Yang Mulia, kami juga menyesal karena tidak berbicara secara terbuka denganmu."
Bersama-sama, mereka merencanakan berbagai program: pelatihan pertanian untuk meningkatkan pasokan makanan, kelas keterampilan untuk membuat barang dagangan, dan sistem mediasi untuk menyelesaikan konflik antar rakyat tanpa harus menggunakan kekerasan.
Saat program mulai berjalan, Zarakiel sering keluar dari istana untuk melihat langsung perkembangannya. Dia melihat seorang mantan pencuri yang kini menjadi tukang kayu yang handal, dan seorang wanita yang pernah membangkang kini menjadi pemimpin kelompok pertanian yang sukses. Senyum kecil muncul di wajahnya—sesuatu yang jarang terjadi selama ini.
BAB 13: KEMBALINYA LIRA
Suatu pagi, Lira muncul di depan gerbang istana tanpa pengawal atau senjata. Dia telah keluar dari penjara setelah berhasil menyelesaikan program pemulihan dengan baik, dan kini datang dengan tujuan khusus.
Saat dia dibawa menghadap Zarakiel, dia tidak menunjukkan rasa benci seperti dulu. "Yang Mulia, aku datang untuk memberi tahu bahwa program pemulihan telah mengubah hidupku," ujarnya dengan hormat. "Aku juga ingin mengusulkan agar kita membuat sistem yang memungkinkan rakyat untuk menyampaikan keluhan mereka secara langsung kepada Anda."
Zarakiel berdiri dan mendekat padanya. "Aku tahu bahwa aku telah menyakiti kamu dan keluargamu. Apakah kamu benar-benar bisa memaafkanku?"
Lira mengangguk perlahan. "Aku tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi, namun aku melihat bahwa Anda sedang berusaha untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Itu sudah cukup bagi ku untuk memberimu kesempatan."
Setelah itu, Zarakiel mengangkat Lira sebagai kepala Badan Komunikasi Rakyat—suatu jabatan baru yang bertugas menghubungkan dia dengan rakyatnya. Dengan bantuan Lira, banyak keluhan dan masukan yang bisa sampai ke telinganya dengan cepat, sehingga dia bisa mengambil tindakan yang tepat tanpa harus menggunakan kekerasan.
BAB 14: PESAN DARI SURGAWI
Tak lama setelah itu, Raphael datang kembali ke Kerajaan Kayangan Gelap—namun kali ini dia datang dengan damai. Dia membawa pesan dari pemimpin surgawi yang ingin menjalin kerja sama dengan Zarakiel.
"Kami telah mendengar tentang perubahan yang terjadi di kerajaan ini," ujar Raphael dengan tatapan yang lebih hormat. "Pemimpin surgawi ingin mengajak Anda untuk bekerja sama menjaga keseimbangan alam semesta."
Zarakiel menerima pesan itu dengan tangan terbuka. "Aku menyadari bahwa aku telah membuat kesalahan di masa lalu. Jika surgawi bersedia memberikan kesempatan, aku siap bekerja sama dengan kalian."
Mereka sepakat untuk membentuk dewan kerja sama antar alam yang bertugas menangani masalah yang melibatkan lebih dari satu kerajaan. Zarakiel bahkan mengizinkan beberapa malaikat surgawi untuk datang mengajar di sekolah baru yang dibangun untuk rakyatnya, khususnya tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.
Saat Raphael pergi, dia tersenyum dan berkata, "Sepertinya raja iblis yang super tega kini telah menemukan hati yang lebih bijaksana."
BAB 15: HARI BESAR KERAJAAN
Untuk merayakan perubahan positif di kerajaan dan mempererat hubungan dengan rakyatnya, Zarakiel mengadakan Hari Besar Kerajaan—suatu acara tahunan yang akan diadakan setiap tahun. Acara ini diisi dengan berbagai perlombaan, pameran hasil kerja rakyat, dan acara makan bersama yang dihadiri oleh semua lapisan masyarakat, termasuk dia sendiri.
Pada hari itu, Zarakiel berdiri di atas panggung yang dibangun di tengah kota. Dia melihat wajah-wajah rakyatnya yang penuh dengan senyum dan kegembiraan—sesuatu yang jarang dia lihat selama ini.
"Rakyatku yang terkasih," ujarnya dengan suara yang jelas terdengar ke seluruh penjuru kota. "Aku telah banyak salah dalam cara memimpin kalian. Aku pernah berpikir bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menjaga kedamaian, namun aku salah besar. Dengan bantuan banyak orang di sini, kita telah membangun kerajaan yang lebih baik—tempat di mana setiap orang punya kesempatan untuk berkembang dan hidup dengan damai."
Suara tepuk tangan yang meriah menggema ke seluruh kota. Zarakiel melihat ibunya, Sylvana, yang datang menyaksikan acara itu dari kejauhan dengan wajah yang penuh dengan kebanggaan. Dia juga melihat Darmud yang berdiri di atas bukit jauhnya, mengangguk dengan puas sebelum menghilang lagi.
Meskipun masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi di masa depan, Zarakiel tahu bahwa dia telah mengambil langkah yang benar. Perubahan kecil yang dia mulai lakukan telah membawa dampak besar bagi kerajaan dan rakyatnya. Dan meskipun dia masih dikenal sebagai raja iblis yang tega, kini orang juga mengenalnya sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh perhatian terhadap rakyatnya.
Nak suka dengan kelanjutannya gak nih? Atau kamu mau cerita kita lanjutkan lagi dengan konflik baru yang lebih seru? 😊
