Cherreads

Chapter 2 - Wadah iblis

Throne yang melihat orang tuanya dimakan monster, langsung mengambil pisau dan membunuh mereka dengan hawa dendam.

"Tidak...!" teriak Throne.

Ia menyerang para monster dengan nafsu membunuh yang sangat besar.

Shing... Shing!

"Aku akan membunuh para monster itu!" kata Throne.

Setelah membunuh semua monster dengan penuh dendam, tiba-tiba muncul monster tingkat menengah level 4.

"Hahaha...! Bocah kau memang hebat, tapi hidupmu sampai di sini saja!" kata monster itu.

"Awas kau! Aku akan membunuhmu!" ujar Throne dengan penuh dendam.

Monster tingkat menengah level 4 itu tertawa melihat Throne yang berani melawannya.

"Kau terlalu naif, bocah," ujarnya.

"Walau aku mati, aku akan membalaskan dendam untuk seluruh warga desa dan orang tuaku!" kata Throne.

Throne merasa sangat lelah setelah membunuh banyak monster.

"Iaaaaaah! Aku akan membunuhmu juga, bajingan!" teriaknya.

"Cukup sudah bermain-main, bocah. Aku akan membunuhmu di sini!" kata monster sambil tertawa.

Throne tertusuk dan berlumuran darah di mana-mana.

Srrrk!

"Bocah kau sudah hampir mati tapi masih bersikeras melawan," ujar monster itu.

Apakah aku akan mati di sini...? Jika diberi kesempatan hidup lagi, aku akan membunuh semua monster, isi hati Throne.

Monster itu membuang Throne ke jurang. Meski sudah sekarat, ia mencoba berlari namun kehabisan tenaga.

"Bocah, hidupmu sampai di sini saja!" ujar monster sambil tertawa.

Walau aku mati, setidaknya aku sudah membunuh banyak monster, itu kata-kata terakhir Throne sebelum menyadari dirinya sudah terluka parah dan berlumuran darah.

Tiba-tiba muncul sosok iblis dengan aura yang sangat kuat. Ia memasuki kesadaran Throne dan mengaku sebagai iblis bernama Malphas.

"Hahaha...! Akhirnya setelah seribu tahun disegel, aku bebas!" kata Malphas.

"Tubuh bocah ini memiliki aura yang sangat kuat. Akhirnya aku menemukan tubuh yang istimewa," ujar Malphas lagi.

Throne pun terbangun dalam kesadarannya dengan wajah penuh kebingungan—karena ia yakin sudah terbunuh oleh monster.

"Dimana ini...?" kata Throne.

Ia merasa hidup kembali dan merasakan aura yang sangat kuat.

"Hahaha... Throne, kau akan menjadi wadahku!" suara Malphas terdengar.

"Siapa kau...? Mau apa dengan aku?!" Throne mulai panik dan merasakan aura yang tidak dikenal.

Aura monster mana ini...? pikir Throne.

"Siapa kau?" tanya Throne lagi dengan tegas.

"Nama aku Malphas. Kau akan menjadi wadahku," jawab iblis itu.

"Apa yang terjadi sebenarnya? Tiba-tiba saja ada monster sepertimu muncul!" tanya Throne.

"Seribu tahun lalu terjadi perang besar antara manusia dan iblis. Banyak pihak yang gugur dalam perang itu. Aku datang untuk mencari lawan yang setara dan membantai banyak manusia, hingga muncul seorang manusia dengan aura sekuat aku. Kami bertarung habis-habisan—manusia itu akhirnya mati karena seranganku berkali-kali, tapi aku juga disegel selama seribu tahun," jelas Malphas sambil mengingat masa lalu.

"Akhirnya setelah seribu tahun, aku menemukan wadah yang sempurna," tambahnya.

"Kenapa aku harus jadi wadahmu...?" tanya Throne yang masih bingung.

"Bukankah kau berasal dari keluarga kerajaan? Karena tubuhmu memiliki aura yang sangat kuat," jawab Malphas.

"Aku hanya anak miskin biasa. Walau miskin, aku bersyukur punya orang tua yang baik," kata Throne.

Jadi bocah ini tidak tahu identitas sebenarnya, pikir Malphas.

"Baiklah. Kau akan jadi wadahku, dan dengan itu kau akan hidup kembali," ujar Malphas.

"Walau aku hidup kembali, aku akan kesepian—karena orang tuaku sudah dimakan monster," kata Throne dengan sedih.

"Aku akan membuat kontrak denganmu," kata Malphas.

"Kontrak apa?" tanya Throne.

"Kau harus menjadi wadahku, dan mencari pedang bernama Absorb Power," jelas Malphas.

"Baik," jawab Throne dengan tegas.

Sejak itu, Throne menjadi wadah bagi iblis yang tak terkalahkan, Malphas.

More Chapters