Cherreads

Chapter 2 - Ch 2. Tamu dari Langit Perak

Matahari di sistem bintang ini sudah lama padam, menyisakan langit yang senantiasa berwarna ungu tua yang pekat. Di atas puing-puing planet yang kini hanya berupa dataran batu merah yang gersang, Momodongga duduk dengan satu tangannya bersandar dilutut.

​Rambutnya yang merah-orange bersinar redup di kegelapan, seperti bara api terakhir di tengah padang salju. Ia sedang memperhatikan butiran debu yang melayang di telapak tangannya. Dengan satu tiupan kecil, debu itu hancur menjadi partikel subatomik.

​"Membosankan," bisiknya. Suaranya kecil, namun bergema di kesunyian planet mati itu.

​Tiba-tiba, sebuah garis cahaya perak membelah langit ungu. Cahaya itu meluncur deras, menembus awan debu kosmik, dan menghantam daratan hanya beberapa ratus meter dari tempat Momodongga berada.

​BOOM!

​Debu merah beterbangan. Momodongga tidak berkedip. Ia hanya menoleh pelan, menatap kawah yang baru saja tercipta. Dari balik kabut debu, muncul sebuah siluet tinggi. Sosok itu melangkah keluar dengan tenang. Sayap naga hitam yang besar terlipat di punggungnya, dan sepasang tanduk melengkung menghiasi rambut peraknya yang bersinar.

​Itu adalah Rey.

​"Jadi, ini dia sang 'Penelan Bintang' yang melegenda itu?" Rey berbicara dengan nada santai, seolah ia hanya sedang menyapa tetangga lama, bukan entitas yang baru saja memusnahkan satu peradaban.

​Momodongga berdiri. Aura merah mulai meluap dari tubuh kecilnya, membuat tanah di bawah kakinya retak dan meleleh. "Siapa? Naga? Kamu datang untuk mati juga?"

​Rey tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar tulus namun penuh percaya diri. Mata kuningnya yang tajam seperti kucing menatap langsung ke mata merah Momodongga yang kosong.

​"Aku datang bukan untuk bertarung, meski aku tahu kamu sangat menginginkannya," ujar Rey sambil melangkah mendekat. "Aku datang karena aku melihat matamu dari kejauhan. Kamu tidak terlihat seperti monster yang haus darah. Kamu hanya terlihat seperti anak kecil yang tersesat di ruangan yang terlalu luas."

​Langkah Rey terhenti tepat di batas aura penghancur Momodongga. Panas yang luar biasa mulai membakar ujung jubahnya, namun ia tidak mundur.

​"Ikutlah denganku, Momodongga," lanjut Rey, suaranya melembut. "Aku tahu rasanya menjadi yang terkuat dan berakhir sendirian. Aku tahu rasanya memiliki kekuatan yang hanya bisa menghancurkan apa yang ingin kamu sentuh. Aku punya cara agar kamu bisa melihat dunia tanpa harus mengubahnya menjadi abu."

​Momodongga tertegun. Untuk pertama kalinya, seseorang tidak lari darinya. Seseorang tidak menatapnya dengan ketakutan, melainkan dengan pengertian. Di dalam benaknya, sebuah memori samar tentang seseorang dari masa lalunya yang sudah lama tiada tiba-tiba terlintas.

​"Kenapa..." suara Momodongga bergetar kecil, "Kenapa kamu peduli?"

​Rey menyeringai, menunjukkan taring kecilnya. "Karena galaksi ini terlalu membosankan jika aku menjelajahinya sendirian. Dan kurasa, kamu butuh seseorang yang cukup kuat untuk menahan tanganmu saat kamu ingin meledakkan sesuatu."

​Rey mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh ke arah Momodongga. Di pergelangan tangan Rey, sebuah sisik naga mulai bersinar merah redup, siap untuk diubah menjadi janji yang akan mengikat mereka selama ribuan tahun ke depan.

More Chapters