Cherreads

Chapter 2 - Bab 2: Batu yang Tidak Pernah Bersinar

Kabut pagi belum sepenuhnya menghilang ketika suara lonceng menggema di Desa Qinghe.

GONG—!

Suara itu berat, mengguncang dada siapa pun yang mendengarnya. Semua warga berhenti dari pekerjaan mereka. Anak-anak berlarian, para orang tua berdiri dengan wajah tegang namun penuh harap.

"Hari pengujian akar spiritual…"

Li Yun berdiri di tepi kerumunan. Tangannya mengepal tanpa sadar.

Di tengah lapangan desa, sebuah batu hitam setinggi dada manusia diletakkan di atas altar kayu. Permukaannya dipenuhi retakan alami seperti urat naga itulah Batu Penguji Akar milik Sekte Langit Putih.

Tiga orang berjubah putih berdiri di sampingnya. Aura mereka tenang, namun menekan, membuat udara terasa berat.

"Mulai dari anak usia tujuh hingga lima belas," ujar salah satu murid sekte dengan suara datar. "Satu per satu."

Sorak kecil terdengar ketika anak pertama maju. Telapak tangannya menyentuh batu—dan cahaya biru lembut langsung menyala.

"Air tingkat rendah."

Tetap saja, orang tuanya menangis bahagia.

Satu demi satu anak maju. Ada yang memunculkan cahaya merah, kuning, bahkan hijau. Setiap kilatan cahaya seperti pisau kecil yang menusuk dada Li Yun.

Akhirnya—

"Li Yun."

Suara itu terdengar lagi.

Lapangan mendadak sunyi.

Beberapa warga saling pandang, sebagian menghela napas, sebagian lagi tersenyum sinis.

"Itu anak tanpa akar," bisik seseorang.

"Untuk apa dipanggil lagi?"

"Hanya buang waktu sekte…"

Li Yun melangkah maju. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah menolaknya. Ia berdiri di depan Batu Penguji, sama seperti bertahun-tahun lalu.

Tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan batu yang dingin.

Satu tarikan napas.

Dua.

Tidak ada apa-apa.

Tidak cahaya. Tidak getaran.

Seperti biasa.

Namun—

tepat ketika murid sekte hendak menarik tangannya—

RET....

Sebuah suara nyaris tak terdengar muncul dari dalam batu.

Li Yun merasakan panas lembut mengalir dari telapak tangannya ke jantungnya. Sangat singkat. Sangat halus.

Batu itu tetap gelap.

"Tidak memiliki akar spiritual," kata murid sekte dengan nada dingin. "Turun."

Kerumunan mulai bubar. Bagi mereka, ini hanyalah pengulangan takdir.

Tapi Li Yun masih berdiri diam.

Di dalam dadanya, sesuatu berdenyut.

Seperti napas.

Seperti makhluk yang baru terbangun.

Malam itu, hujan turun tanpa peringatan.

Li Yun duduk sendirian di belakang rumah, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Ia tidak sedih—hanya bingung.

"Apa sebenarnya aku ini…?"

Tiba-tiba, tanah di depannya retak.

Cahaya hijau giok memancar keluar, menerangi malam. Sebuah benda kecil muncul ke permukaan: sepotong batu giok retak, berdenyut pelan seperti jantung hidup.

Begitu Li Yun menyentuhnya—

BRUUM—!

Dunia seakan runtuh.

Sebuah suara kuno menggema langsung di dalam pikirannya:

"Pewaris Napas Langit… akhirnya kau bangun."

Li Yun terjatuh berlutut, napasnya terengah.

Dan jauh di gunung, lonceng Sekte Langit Putih berdentang liar—

pertanda sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul, telah terbangun.

More Chapters