Cherreads

Chapter 84 - Penebusan Dimulai di Tengah Reruntuhan

Raphael membeku. Wajahnya terdistorsi oleh gejolak batin, mata yang tadinya tajam kini berkabut oleh air mata. Kebencian yang selama ini menopangnya perlahan runtuh, digantikan rasa bersalah dan duka yang tak pernah benar-benar sembuh.

"Kau tidak tahu… aku membakar mereka. Anak-anak itu… yang tak bersalah. Aku membiarkan mereka mati…"

Kaivan tidak mengalihkan pandangan. Tidak ada penghakiman di matanya, hanya pengertian yang dalam dan tanpa kata. Ia mengendurkan rantai itu sedikit, memberi Raphael ruang untuk bernapas.

"Kita semua pernah menodai tangan kita," ucapnya lembut, setiap katanya jatuh berat. "Kita semua pernah gagal. Tapi kegagalan bukan akhir. Kau masih bisa berubah. Kau tidak harus sendirian."

Ledakan lain mengguncang lorong, namun tak satu pun dari mereka bergerak. Hanya dua jiwa berdiri di atas puing-puing, mempertaruhkan segalanya demi secercah cahaya.

Kaivan melangkah satu langkah mendekat. Suaranya rendah, namun mengandung kekuatan yang tenang.

"Ikutlah denganku. Akan kutunjukkan bagaimana rasanya hidup kembali. Aku akan jadi orang pertama yang melihatmu, bukan sebagai teroris, bukan sebagai senjata… tapi sebagai manusia."

Napas Raphael tercekat. Matanya bergetar antara penolakan dan kerinduan. Lalu, hampir tak terdengar, ia berbisik:

"Kenapa aku?"

Pertanyaan rapuh itu memuat bertahun-tahun luka, harapan yang memudar, dan kerinduan sunyi untuk dipeluk oleh dunia yang lama ia tolak.

Kaivan menatapnya. Dalam diam itu, ia teringat setiap halaman Tome Omnicent, kisah tentang bocah terabaikan yang belajar membenci karena cinta tak pernah datang. Dan pada saat itu, Kaivan mengerti, jika Raphael masih bisa diselamatkan… maka mungkin dunia pun masih bisa.

"Karena kau harus menebus penyesalanmu," ujar Kaivan tegas namun lembut, keyakinan menyala dalam suaranya. "Ada kekuatan dalam dirimu yang bisa mengubah segalanya. Aku percaya padamu, Raphael."

Kata-kata itu menghancurkan dinding di hati Raphael seperti badai yang memecah kaca. Sebelum ia sempat menjawab, ledakan dahsyat merobek fondasi bangunan. Tanah bergetar, puing dan pecahan kaca berjatuhan, api menjalar di langit-langit. Waktu hampir habis.

Di luar, Felicia bergerak secepat angin tajam. Matanya menyipit menembus asap saat ia berlari di antara reruntuhan. "Cari Kaivan!" teriaknya di tengah gemuruh api dan baja yang runtuh. Napasnya tersengal, tetapi tekadnya tak goyah.

Kaivan tahu tak ada waktu lagi. Ia meraih lengan Raphael. "Kita keluar sekarang!" desisnya. Rasa sakit merobek lengannya yang terluka, darah menetes di setiap gerakan, namun ia tetap menarik Raphael menuju celah sempit, satu-satunya jalan keluar.

Raphael mengikuti dalam diam. Tubuhnya menurut, tetapi pikirannya berputar tanpa henti. Mengapa Kaivan menyelamatkannya? Mengapa ia masih percaya? Di dalam dirinya, rasa bersalah dan malu mulai menelan amarah yang dulu menjadi bahan bakarnya.

Felicia menerobos asap dan balok yang berjatuhan. Di tengah kekacauan, satu nama menggema di dadanya, Kaivan. Ia mencapai ambang pintu yang hampir runtuh, tubuhnya dipenuhi abu dan debu, jantungnya berdentam keras oleh ketakutan.

Lalu debu itu terbelah.

Dalam cahaya api berdiri Kaivan, berlumur darah dan luka, namun tetap tegak. Di sampingnya, Raphael menopangnya, wajahnya kosong namun tegar.

Felicia berlari mendekat, tersandung puing. Matanya melebar, dipenuhi lega dan air mata. "Kaivan! Apa yang terjadi padamu?!" serunya, jemari gemetarnya menyentuh darah di lengannya.

Kaivan tersenyum tipis, menahan rasa sakit. "Hanya terkena sedikit dampaknya," gumamnya pelan, lalu melirik Raphael. "Tapi dia kembali… dan membantuku."

Felicia menoleh pada Raphael. Sesaat tatapannya waspada, lalu melunak. "Terima kasih," ucapnya tulus dan lirih.

Raphael tak menjawab. Kata-kata itu menyambar seperti kilat di kehampaan hatinya yang membeku. Mengapa Kaivan melindunginya? Mengapa menyembunyikan perannya dalam ledakan itu?

Ledakan lain mengguncang tanah. Mereka mulai berlari. Panas menjilat punggung mereka saat api meledak dari dinding, mengejar melalui asap dan abu yang berjatuhan.

Raphael menoleh sekali. Tatapannya kosong namun dalam, suara Kaivan masih terngiang di benaknya: kau harus menebus penyesalanmu. Beban yang ia pikul bukan hanya luka di tubuhnya, tetapi jiwa yang perlahan mencair di dalam dadanya.

Dari kejauhan, melalui kabut api dan debu, sesosok pria tinggi muncul. Kehadirannya menyatu dengan bayangan. Setiap langkahnya sunyi dan terukur, membelah kekacauan seperti bilah tajam.

Ia berhenti, matanya menyapu reruntuhan seolah membaca pesan yang ditulis dalam asap dan darah.

"Jika ini ulah pengguna Tome lain," gumamnya dingin, "berarti sudah tiga… dalam satu negara."

Sementara dunia luar gempar oleh laporan dari lokasi ledakan, media memutar kisah mereka sendiri: Teror di Gedung Terbengkalai, Markas Teroris Meledak Sendiri. Judul-judul itu mencengkeram publik, terombang-ambing antara rasa ingin tahu dan ketakutan. Ketidakpastian menyebar seperti asap, menyelimuti masyarakat dalam kabut spekulasi.

Di ruang rapat remang yang dipenuhi asap rokok, para pejabat menatap layar proyektor dalam diam. Foto-foto reruntuhan memenuhi dinding, salah satunya menampilkan wajah Kaivan, muda, lelah, namun bermata tajam. Ia bukan sekadar anak biasa. Kehadirannya mengguncang ruangan, memaksa para birokrat mengubah nada pembicaraan. Namanya merayap dalam setiap laporan, membisikkan pertanyaan yang sama: siapa dia sebenarnya?

Senja menyambut Kaivan dan timnya di sebuah bengkel tua yang tersembunyi di pegunungan Bandung. Tempat itu usang, dikelilingi hutan lebat dan kota yang mulai berkelip cahaya di kejauhan. Langit terbakar dalam warna ungu dan jingga. Meski sederhana, bengkel itu menawarkan perlindungan, seperti luka yang dirawat diam-diam.

Zinnia berdiri di dekat pintu. Rambut ungunya berkilau samar diterpa cahaya senja. Lengannya terlipat, sikapnya tegap, tatapannya setajam pisau. Ia tak berkata apa-apa, namun kegelisahannya jelas. Ujung kakinya mengetuk pelan, seperti detak jam perang yang tak pernah berhenti.

Di dalam, Frans duduk santai di kursi reyot. Tangannya yang terampil memainkan baut kecil, tetapi matanya tak pernah lepas dari pintu. Ia membaca setiap wajah yang masuk, Kaivan, Raphael, Felicia, seolah membalik halaman buku berlumur darah penuh rahasia. Tak seorang pun berbicara. Semua tahu, badai belum usai.

"Jadi," ujar Frans ringan, "bagaimana perjalanan kecil kalian?" Nadanya terdengar santai, seperti obrolan senja. Namun matanya tajam, menuntut jawaban lebih dari sekadar basa-basi.

Radit melangkah maju dengan senyum setengah lelah. "Ah, kau tahu... sedikit keributan. Dan beberapa ledakan," katanya dengan tawa kecil yang tak sampai ke matanya. Gerak tangannya berbicara lebih banyak daripada ucapannya, ada ketegangan yang belum reda.

Frans langsung menegakkan tubuh. "Ledakan?" Nadanya bukan pertanyaan. Itu tuntutan akan kejujuran.

Langkah Zinnia bergema pelan di lantai beton, tenang namun berat. Tatapannya menembus dua sosok asing yang berdiri di belakang Kaivan. "Siapa mereka?"

 

More Chapters