Cherreads

Chapter 72 - Kepercayaan yang Rapuh

Bersandar pada sepeda motornya, sosok Kaivan tampak kecil di bawah cahaya senja yang perlahan memudar. Jaketnya berkibar pelan tertiup angin; matanya, tajam namun letih, menatap permukaan danau seolah mencari makna di dalam pantulannya. Jemarinya mengerat pada setang—satu-satunya hal yang masih bisa ia genggam di dunia yang mulai retak.

Keheningan menyelimuti tempat itu.

Lalu, deru mesin dari kejauhan merobek sunyi. Dua sorot lampu membelah temaram, cahayanya bergetar di atas air yang memantul seperti cermin. Kaivan mengangkat wajahnya, menyipitkan mata. Detak jantungnya perlahan menyatu dengan irama mesin yang mendekat.

Senyum tipis terlukis di bibirnya.

"Radit... Felicia..."

Motor-motor itu berhenti tak jauh darinya. Radit turun lebih dulu—cepat dan lincah, seperti peluru yang belum sempat ditembakkan. Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan, kebiasaan lama yang tak pernah hilang sejak kecil.

Felicia menyusul. Langkahnya anggun; rambut hitam panjangnya bergoyang seperti bayangan yang hidup. Mata merahnya menyala lembut—tenang, namun tegang, laksana busur yang telah ditarik dan menunggu dilepaskan.

Kaivan menyambut mereka dengan anggukan kecil. Senyumnya yang tipis cukup untuk mencairkan dingin di udara.

"Selamat datang," ucapnya pelan, ketulusan tersembunyi di balik kalimat sederhana itu.

Sejenak, dunia yang retak di antara mereka terasa berhenti bergerak.

Radit menyeringai, kedua tangan masuk ke saku, bahunya terangkat santai seperti biasa. "Maaf telat," katanya, meski ada samar rasa bersalah yang terselip di nadanya.

Felicia mengangguk tipis. Suaranya tenang, setajam kaca. "Kami meninggalkan sesuatu."

Angin senja menyibakkan rambutnya saat tatapannya bertemu dengan Kaivan—bukan sekadar menyapa, melainkan menelusuri.

Kaivan mengembuskan napas pelan dan menggeleng. "Yang penting kalian datang."

Suaranya setenang danau di hadapan mereka, meski hatinya jauh dari kata tenang.

Tak jauh dari situ, Ethan bersandar pada motornya, tangan terlipat di dada, mata diam-diam mengamati setiap gerak. Ia tak berkata apa-apa, namun tatapannya seperti serigala yang mengukur medan sebelum berburu.

Radit menangkap ketegangan tipis di udara. Ia langsung bersuara, "Felicia bilang kamu kehilangan sesuatu? Jangan-jangan... Tome Omnicent?"

Nadanya terdengar santai, tetapi ujungnya terasa tajam.

Sekilas ia melirik Felicia, yang hanya mengangkat bahu. Namun mata Felicia beralih pada Ethan—tajam, menyelidik, seolah membedah setiap inci dirinya dengan pikiran.

Felicia sedikit mengangkat dagu. Suaranya dingin.

"Siapa dia?"

Kaivan menarik napas panjang. Jawabannya lugas.

"Ethan. Dia yang mengambil motorku. Uangku, ponselku... dan Tome Omnicent."

Keheningan berat menggantung di antara mereka, seperti kabut senja yang enggan tersibak cahaya. Radit mengernyit. Felicia tetap diam, tatapannya makin menajam, seakan mencoba membaca isi pikiran Ethan.

Ethan tahu dirinya sedang dinilai. Ia menghela napas, memasukkan tangan ke saku jaket, lalu memaksakan senyum miring—sebuah pembelaan yang terasa canggung.

"Heh, itu sudah lewat," katanya, berusaha terdengar santai. "Lagipula itu kerjaan teman-temanku. Aku cuma... ikut saja. Sekarang, aku benar-benar mau bantu kalian."

Tatapannya yang sedikit gelisah bertemu mata Kaivan yang tenang—mantap, namun belum sepenuhnya percaya.

Radit mendekat ke Felicia dan berbisik, "Kamu yakin kita bisa percaya sama dia?"

Kaivan menarik napas dalam, lalu menatap lurus ke arah Ethan.

"Bisa kami percaya padamu, Ethan?"

Ethan menegakkan tubuhnya. "Tentu saja bisa."

Kaivan langsung menoleh pada Radit dan Felicia.

"Kalian dengar sendiri. Jadi, aku akan mempercayainya."

Radit menggaruk kepala, terjebak antara kesal dan kagum.

"Aku nggak tahu lagi, Kaivan... kamu ini bodoh atau jenius?"

Felicia menggeleng pelan. Jawaban Kaivan terlalu sederhana—terlalu berisiko. Namun setelah hening sesaat, ia mengangguk, nadanya tegas.

More Chapters