Cherreads

Chapter 39 - Kesetiaan yang Ditulis dengan Luka

"Jadi… siapa sebenarnya Felicia? Kenapa dia bisa seperti ini?" gumam Kaivan, nada suaranya terjalin urgensi.

Tome itu bergetar di tangannya. Lalu halaman-halamannya berbalik sendiri, berhenti ketika kata-kata terukir perlahan di permukaannya.

Felicia adalah manusia yang dibentuk oleh gelombang emosi yang rumit. Ia berasal dari garis keturunan kuno yang pernah disentuh oleh sebuah Tome, makhluk-makhluk yang bertahan hidup dengan mengikat makna melalui hubungan. Ia mencari jangkar agar bisa terus bertahan, dan ia memilih untuk melayani sosok yang ia tetapkan.

Kaivan terdiam. Pandangannya jatuh, bahunya merosot perlahan. Felicia yang ia kira kuat dan tak tergoyahkan ternyata dipahat oleh takdir yang rapuh dan dalam. Namun satu pertanyaan masih tertinggal, menusuk dadanya.

"Lalu… kenapa setiap kali dia menyentuhmu, kepalanya sakit?" bisiknya, ketegangan merayap di tiap kata.

Tinta kembali merembes di atas halaman.

Felicia terikat pada inti kekuatan murni. Saat ia menyentuh sesuatu yang tidak sejalan dengan jiwanya, energi akan saling bertabrakan. Rasa sakit itu adalah gema konflik yang dirasakan tubuhnya.

Kaivan membaca perlahan, membiarkan kebenaran itu meresap. "Tapi kenapa… kenapa hanya karena dia bukan pemilik yang sah?" Tatapannya mengeras, menolak membiarkan satu celah pun tersisa.

Tome semacam ini hanya menolak mereka yang tidak terpilih. Jiwa yang murni namun tidak dipilih akan terpental energinya. Felicia menderita karena ikatan darahnya sendiri.

Kaivan menarik napas berat. Setiap jawaban menekan hatinya semakin dalam, namun satu pertanyaan terakhir masih bertahan.

"Kalau begitu… kenapa dia memilih Julian?"

Halaman-halaman itu kembali bergerak, kata-kata terbentuk dengan bobot yang disengaja.

Felicia adalah yang sulung. Ia membesarkan adik-adiknya setelah pengkhianatan menghancurkan rumah mereka. Luka terdalamnya adalah ditinggalkan. Bagi Felicia, meninggalkan pilihan pertamanya sama artinya dengan pengkhianatan. Kesetiaan, bahkan pada kesalahan, adalah kepercayaan terakhir yang ia genggam.

Kaivan memejamkan mata. Rasa nyeri perlahan menekan dadanya. Ia teringat tatapan Felicia pada Julian, dingin dan tak tergoyahkan. Bukan cinta, melainkan prinsip yang lahir dari luka, bukan dari harapan.

Tangannya mengepal, bukan karena amarah, melainkan kehampaan yang pilu. Kini ia mengerti. Kesetiaan Felicia bukanlah pilihan hati, melainkan tulisan luka. Dan luka tidak selalu bisa disembuhkan, bahkan oleh kasih sayang.

Namun Tome itu belum selesai. Baris-baris lain muncul, tanpa ampun membongkar kebenaran yang tersembunyi.

Julian, licik, melihat luka itu dan memanfaatkannya. Ia menjanjikan Felicia kepastian, ikatan yang ia dambakan. Namun ia memperingatkan, "Tetaplah di sisiku, atau aku akan mencari orang lain untuk menggantikanmu."

Badai menyala di dalam diri Kaivan. Tinju tangannya mengencang, tubuhnya menegang, mata membara oleh amarah yang tertahan. Selama ini, kekuatan Felicia hanyalah topeng untuk melindungi luka yang terus Julian koyak.

"Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut," sumpah Kaivan lirih. Pandangannya tertancap pada Tome Omnicent. Ini bukan sekadar misi. Ini tentang menyelamatkan seseorang, meski ia harus menanggung rasa sakit itu sendiri.

Tiba-tiba, di sebuah ruangan remang yang hanya diterangi lampu gantung yang bergoyang, keheningan pecah oleh suara setajam pisau.

"KAIVAN! KELUAR SEKARANG! APA KAU BENAR-BENAR TAK PEDULI PADA GADIS INI?!"

Teriakan Julian menghantam udara, penuh ancaman dan tekanan. Bayangan dari cahaya yang bergetar menari di dinding retak, mengubah ruangan itu menjadi ruang hukuman.

Dari kegelapan, Kaivan melangkah maju. Gerakannya kaku namun mantap, setiap otot menegang seperti busur yang siap putus. Tatapannya membeku pada pemandangan yang menghantam dadanya dengan kejam. Julian mencengkeram rambut Thivi, gadis itu terikat dengan tali kasar. Wajahnya lebam, air mata mengalir membentuk garis pucat di pipinya.

"Lepaskan dia!" raung Kaivan, suaranya rendah dan menggelegar. Di dalam getarnya berdiam amarah, tekad, dan ketakutan mentah kehilangan seseorang yang berharga.

Julian hanya tertawa, kasar dan dingin, lalu menarik rambut Thivi lebih keras. Tubuh Thivi terhuyung menahan sakit. "Kalau kau ingin dia tetap utuh, serahkan buku tua itu sekarang juga!"

Kaivan memejamkan mata sejenak, berjuang menenangkan badai di dadanya. Tome Omnicent berada dalam genggamannya. Lebih dari sekadar artefak, ia adalah saksi, penuntun, satu-satunya hal yang menariknya keluar dari kehampaan. Kini, ia dihadapkan pada pilihan paling kejam, menyerahkan kekuatannya atau kehilangan seseorang yang tak tergantikan.

Julian menyeret Thivi ke tengah ruangan. Cengkeramannya menguat, suaranya membeku seperti es. "Kau pikir kau punya pilihan? Kau hanya pengecut yang bersembunyi di balik teman-temanmu, Kaivan."

More Chapters