Cherreads

Chapter 31 - Pagi yang Seharusnya Tidak Terjadi

Thivi akhirnya berbicara, wajahnya diterangi cahaya bulan. "Hari ini menyenangkan," ucapnya pelan, suaranya bening dipenuhi kebahagiaan yang tenang. "Aku tidak menyangka kunjungan pertamaku ke Bandung akan terasa seistimewa ini."

Ia menyalakan sebatang rokok, memperhatikan asapnya membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang melayang, lalu lenyap tertiup angin malam. Damai. Bagi Thivi, momen sederhana itu terasa lebih berharga daripada apa pun.

Felicia menyusul, suaranya lembut namun sarat makna. "Aku juga. Ini pertama kalinya aku menginap seperti ini. Bertemu kalian berdua… di waktu yang sama sekali tak terduga… rasanya seperti aku akhirnya diberi tempat untuk pulang. Terima kasih, Kaivan."

Kaivan tidak langsung menjawab. Ia duduk diam, menatap kejauhan, mengembuskan asap rokok yang menari lalu memudar di udara malam. Di dalam dadanya, berbagai perasaan berkelindan—hangat, syukur, dan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Pikirannya melayang kembali pada Tome Omnicent. Buku tua itu telah mengubah hidupnya, mempertemukannya dengan orang-orang ini. Tanpanya, malam ini takkan pernah ada. Ia menarik napas panjang, membiarkan rasa terima kasih tumbuh diam-diam di dadanya, di bawah langit terbuka, bersama pertemanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Duduk berdampingan di atap, waktu seakan berhenti. Hanya desah angin yang lembut melintas, melengkapi malam yang penuh keajaiban sunyi. Di atas mereka, bintang-bintang bersinar tenang, seolah menjadi saksi atas kebenaran yang tak terucap—tentang hidup, tentang pertemuan tak disengaja, dan tentang takdir yang mengikat mereka.

Kaivan menghela napas dalam, menatap luasnya langit. Takdir ini terasa aneh, pikirnya. Buku itu… beban yang kupikul… justru menuntunku pada mereka. Bukan sekadar petualangan, tapi juga menghadiahkanku teman-teman yang tak pernah kusangka akan kutemukan.

Di bawah taburan bintang, ketiganya larut dalam pikiran masing-masing. Momennya sederhana, namun terasa seperti simpul yang mengikat mereka bersama. Tak satu pun tahu apa yang akan dibawa esok hari. Namun malam itu, mereka memahami satu hal: mereka tidak sendirian. Dan bagi mereka, itulah anugerah terbesar.

Asap rokok berputar, berpilin sebelum menghilang ke dalam malam. Angin terus menyenandungkan lagu lirihnya, dan di dalam setiap hati, sebuah kenangan yang tak terhapus mulai terbentuk—tentang malam yang hangat dan hening, tentang kebersamaan yang tenang dan pasti, serta tentang rasa syukur yang terlalu dalam untuk diberi nama.

Pagi datang dengan lembut. Cahaya matahari menyelinap melalui kabut tipis, mengusir dingin dari jendela kamar Kaivan. Burung-burung mulai berkicau, dan udara segar masuk perlahan, membawa aroma embun.

Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Kaivan, yang biasanya terbangun dalam keheningan, membuka mata dengan sedikit kebingungan. Tubuhnya masih terbaring di sofa ruang tamu. Ia berkedip, membiarkan pandangannya menjelajah, lalu tertegun melihat pemandangan di depannya.

Thivi dan Felicia sudah bangun. Mereka bergerak dengan tujuan yang tenang, membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan. Thivi, rambutnya masih sedikit berantakan namun matanya bersinar, menyapu lantai sambil bersenandung pelan. Felicia bekerja di sampingnya dengan gerakan lembut, menata piring dan peralatan makan dengan ketelitian yang menenangkan. Senyum tipis terukir di wajahnya.

Kaivan tetap terdiam, berbaring sambil memperhatikan mereka. Badanku pegal… apa aku benar-benar akan tidur di sini selama seminggu? pikirnya.

Namun rasa pegal itu segera kalah oleh hangatnya suasana. Sebuah pagi yang tak ia duga. Sebuah rumah yang tak lagi terasa kosong. Dua orang yang mengisi ruang sunyi yang bahkan tak pernah ia sadari keberadaannya.

Beberapa menit berlalu, hingga keheningan rumah terpecah oleh langkah kaki di luar. Sebuah ketukan terdengar di pintu, tegas dan penuh semangat. Radit, sahabat lama Kaivan, datang menjemputnya untuk workshop. Namun saat pintu terbuka, yang menyambutnya justru pemandangan tak biasa.

Thivi, mengenakan pakaian cerah dan penuh energi pagi, berdiri di ambang pintu. Keterkejutan melintas di wajah Radit—biasanya Kaivan sendiri yang membukakan pintu. Alisnya mengernyit sejenak sebelum ia menutupi keterkejutannya dengan senyum agak canggung.

Dengan sopan dan nada santai, Radit menyapa, "Oh, kamu yang buka pintunya. Ngomong-ngomong, Kaivan di mana?"

Menangkap kebingungan Radit, Thivi menjawab dengan nada ringan, hampir menggoda. "Kaivan masih di dalam. Masuk saja, Radit, kami lagi menyiapkan sarapan." Suaranya ceria, hangat, membawa nuansa kedekatan yang baru saja mulai terjalin. Ada kelembutan mengundang dalam caranya berbicara, seolah pertemuan pagi ini sama sekali tidak canggung.

Radit melangkah masuk dengan hati-hati, setiap gerakannya mengkhianati pertanyaan yang berputar di benaknya. Ruang tamu yang biasanya sunyi kini dipenuhi aroma sarapan dan energi yang berbeda. Kaivan selalu tertutup, pikirnya. Tapi sekarang… ada sesuatu yang berubah di udara. Ini bukan dirinya. Kaivan tak pernah membiarkan orang lain membukakan pintu. Ada apa ini?

Saat melangkah lebih jauh, ia melihat Kaivan duduk di sofa, masih setengah terjaga. Radit duduk di samping sahabatnya, berharap mendapat penjelasan dari pemandangan asing ini. Namun sebelum sempat berbicara, pandangannya tertuju pada Felicia, yang sedang menata piring di meja makan. Rambut panjangnya jatuh di bahu, gerakannya tenang dan anggun, bahkan di tengah kesibukan.

Tak mampu menahan rasa penasaran, Radit akhirnya bertanya, "Siapa dia, Kaivan? Kayaknya aku belum pernah melihatnya."

Masih berat oleh kantuk, Kaivan menjawab santai, "Itu Felicia. Dia menginap semalam."

Radit belum puas. Alisnya bertaut, kebingungannya makin dalam. "Tunggu, bagaimana dengan keluargamu? Sejak kapan orang asing bisa menginap begitu saja?"

Sebelum Kaivan sempat menjawab, suara Teh Kira—kakak Kaivan yang tenang dan penuh wibawa—terdengar dari dapur. "Thivi, tolong ambilkan tehnya. Felicia, bantu aku membawa ini ke meja."

Tindakan sederhana itu, bagaimana semua orang bergerak begitu alami dan selaras, seakan memberi jawaban tanpa sepatah kata pun. Pagi itu, kerja sama dan kehangatan mereka perlahan menyapu bersih kegelisahan Radit. Keanehan situasi melunak, tergantikan oleh rasa memiliki yang menenangkan, seolah semua yang terjadi hanyalah bagian wajar dari hidup yang terus berjalan.

Masih terpikat oleh irama rumah itu, Radit tersenyum lebar ketika Teh Kira memanggil, "Radit, sini duduk. Sarapan bareng kami."

More Chapters