Cherreads

Abdi Sang Algojo

MasG3N
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
78
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - NALURI

Kota Maja telah lama berhenti bernapas.

Yang tersisa hanyalah aroma besi terbakar dan debu yang melayang seperti kutukan—lembut di mata, namun menusuk paru-paru.

Di antara jalanan retak dan gedung-gedung tanpa jendela, Jaya Abdi melangkah perlahan.

Setiap langkah terasa seperti menapaki kenangan yang menolak mati.

Di genggamannya, brass knuckle berpendar redup, mengalirkan panas ke tulang jarinya.

Ia tak pernah melepaskannya—bukan sekadar senjata, melainkan pengingat akan satu nama yang terus menghantui pikirannya.

Kapten Rahman.

Guru. Pemimpin. Pengkhianat.

Abdi berhenti di depan jembatan layang yang runtuh separuh.

Angin membawa bau amis yang kering, seperti napas sesuatu yang membusuk terlalu lama.

Saat itulah Atman muncul.

Bukan cahaya.

Bukan suara.

Melainkan naluri.

Insting kasar yang menyeruak dari dalam dada—seperti hewan buas yang terbangun dan mulai menghitung mangsa. Dunia di sekelilingnya terasa melambat, bukan karena waktu berhenti, tetapi karena pikirannya menjadi terlalu tajam.

Kapten Rahman pernah menyebut Atman sebagai insting bertarung murni.

"Bukan kekuatan," katanya dulu.

"Lebih tua dari logika.

Lebih jujur dari moral."

Abdi tak pernah benar-benar mengerti maksudnya.

Ia hanya tahu satu hal—setiap kali Atman muncul, sesuatu di dalam dirinya menjadi kurang manusia.

Getaran naluri itu menguat.

Dingin merayap dari tulang punggungnya.

"Empat orang," gumamnya pelan.

"Dan satu di antaranya… takut."

Empat preman muncul dari balik puing mobil berkarat. Wajah mereka keras, tapi tubuh mereka bicara jujur. Yang paling tinggi maju sambil mengayun besi.

"Kau tersesat, orang asing."

"Aku mencari seseorang," jawab Abdi tenang.

"Kapten Rahman."

Preman itu tertawa kasar.

"Orang itu masih hidup. Tapi sudah gila."

Naluri Abdi berdenyut keras.

Ia merasakan kebohongan—bukan dari kata-kata, melainkan dari cara napas mereka berubah.

"Kalian tahu sesuatu."

Serangan datang lebih dulu.

Abdi tidak berpikir.

Tubuhnya bergerak sendiri.

Satu langkah ke dalam jarak mati.

Satu hentakan.

Krak.

Sikut patah. Jeritan pecah.

Yang lain maju. Abdi memutar tubuh, menghantam rahang dan rusuk. Gerakannya kasar, efisien—tidak indah, tidak berlebihan. Tubuh terpelanting dan diam.

Dua sisanya gemetar.

Bisikan lama muncul di kepalanya.

Jaya… jangan ragu.

Suara Kapten Rahman.

Abdi menatap mereka tanpa emosi.

"Kalian bekerja untuk siapa?"

"A-aku cuma pengantar! Barang dari utara!"

"Untuk siapa?"

"Proyek… Proyek Langit Baru!"

Naluri Abdi menyentuh kebenaran itu—jujur, namun busuk.

"Pergi," katanya datar.

"Sebelum instingku menyelesaikan sisanya."

Mereka lari tertatih, meninggalkan darah di debu.

Abdi berdiri sendiri. Napasnya berat.

Setiap kali Atman muncul, ia merasa sesuatu di dalam dirinya menjadi lebih asing.

Ia menatap langit merah kehitaman.

Sekilas, cahaya biru melintas jauh di sana.

"Energi Langit…" gumamnya.

Ia mengepal brass knuckle.

"Kapten Rahman.

Jika kau masih hidup, aku akan mencarimu.

Dan kali ini… aku tidak akan ragu."

Langit kota Maja mengerang pelan.

Malam kembali berdenyut, mengikuti langkah berat Sang Algojo