Cherreads

Chapter 6 - Chapter 6

Restoran "Napas Naga" adalah tempat bagi mereka yang memiliki kantong tebal atau nyawa cadangan. Dekorasinya mewah, dengan lampu gantung yang terbuat dari kristal mana yang berpendar hangat. Di tengah ruangan, sebuah kepala naga (yang sudah diawetkan, tentu saja) menempel di dinding, menatap para tamu dengan mata permata yang besar.

"Dua porsi steak daging naga muda, siram saus jamur truffle hutan, dan air mineral paling mahal yang kalian punya," pesan Elena tanpa melihat menu.

Aku duduk di depannya sambil terus mengelus-elus panci saktiku yang diletakkan di atas meja. Beberapa tamu memandang kami dengan tatapan aneh terutama melihat seorang pria dekil membawa alat dapur ke restoran bintang lima tapi kehadiran Elena yang memancarkan aura ksatria tingkat tinggi membuat mereka tutup mulut.

"Nona Elena," panggilku sambil mencoba memotong daging yang teksturnya lebih kenyal dari ban mobil itu. "Kenapa kau membantuku tadi? Maksudku, kau bisa saja membiarkan Leonhart menghajarku."

Elena terdiam sejenak, memotong dagingnya dengan presisi seorang ksatria. "Leonhart itu seperti karat pada pedang. Mengganggu pemandangan dan merusak fungsi. Selain itu..." dia menatapku tajam. "Aku benci orang yang merasa bisa membeli segalanya dengan uang."

"Tapi kau tadi hampir tertawa, kan? Saat zirah emasnya mengelupas?" godaku.

Elena berdehem, rona merah tipis muncul di pipinya. "Itu... itu hanya reaksi biologis karena melihat kebodohan yang luar biasa. Jangan terlalu percaya diri."

[Ding!] [Status Hubungan Terupdate: Rekan Kerja yang Saling Menghargai (Sedikit).] [Peringatan: Elena mulai menganggap Anda menarik. Harap tetap bertingkah bodoh agar alur cerita tidak berubah jadi novel romansa murahan(maaf).]

"Sistem, bisakah kau diam saat aku sedang makan?" batinku kesal.

Setelah makan malam yang menguras sisa-sisa koin emas kami, kami berjalan pulang menuju penginapan. Kota Odelia di malam hari terasa berbeda. Lampu-lampu jalan bertenaga mana memberikan bayangan yang panjang dan menari-nari di dinding bangunan.

"Rian," Elena tiba-tiba berhenti di jembatan yang membelah sungai kota. Matanya menatap aliran air yang jernih. "Apakah kau pernah merasa... bahwa dunia ini tidak nyata?"

Pertanyaannya membuatku tersedak ludah sendiri. "Maksudmu?"

"Terkadang," suara Elena mengecil, hampir seperti bisikan. "Aku merasa aku sudah melakukan ini ribuan kali. Berjalan di jembatan ini, melawan monster di kuil itu, bahkan menatap bulan yang sama. Rasanya seperti sebuah naskah yang harus aku jalani berulang-ulang."

Aku terdiam. Perasaanku tidak enak. Tiba-tiba aku teringat tulisan glitch di reruntuhan tadi siang: Cycle Count: 14,050.

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Nona. Mungkin karena kau terlalu lelah," kataku mencoba menenangkannya, meski tanganku gemetar di balik saku.

"Mungkin," Elena tersenyum pahit. "Tapi setiap kali aku melihatmu... rasanya ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sangat menyakitkan. Seolah-olah di akhir cerita ini, kau bukan lagi pria bodoh yang membawa panci, melainkan sesuatu yang sangat mengerikan."

DEG.

Tiba-tiba, penglihatanku terdistorsi. Wajah Elena di depanku mulai retak seperti kaca. Warna-warna di sekitarku memudar menjadi hitam putih. Di belakang Elena, langit malam yang seharusnya dipenuhi bintang, tiba-tiba tertutup oleh ribuan mata merah yang menatap ke bawah.

[ERROR! ERROR! ERROR!] [Sistem Mengalami Ketidakstabilan Realitas.] [Corruption Meter: 0.25%] [Memulai Protokol Penyeimbang: Mode Komedi Paksa.]

Tiba-tiba, seekor kucing liar melompat ke atas kepala Elena, membuat ksatria agung itu terpekik kaget dan kehilangan keseimbangan.

BYURRR!

Elena jatuh ke dalam sungai yang dangkal.

"Nona Elena?!" aku berteriak, dunia kembali normal seketika. Langit kembali berbintang, dan glitch tadi hilang seolah tidak pernah ada.

Elena muncul dari permukaan air, rambut pirangnya yang indah kini lepek dan tertutup rumput air. Seekor ikan kecil bahkan terlihat menggelepar di pundak zirahnya.

"RIANNNN!!!" teriaknya dengan suara yang bisa didengar sampai ke gerbang kota. "JANGAN HANYA BERDIRI DI SANA! BANTU AKU!"

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. "Hahahaha! Ksatria Suci dikalahkan oleh kucing dan air sungai! Ini benar-benar pemandangan legendaris!"

Elena naik ke darat dengan wajah merah padam. Dia mengejarku dengan tangan kosong sementara aku berlari keliling jembatan sambil mengangkat panciku sebagai perisai.

"Kemari kau! Aku akan menjadikanku sup panci!"

"Ampun, Nona! Aku tidak sengaja tertawa! Hahahaha!"

Kami terus berkejaran sampai ke penginapan, melupakan sejenak percakapan berat tentang naskah takdir dan glitch dunia. Namun, saat aku masuk ke kamarku dan menutup pintu, tawaku langsung hilang.

Aku melihat ke arah cermin di sudut kamar. Di sana, pantulan diriku tidak memakai baju petualang. Dia memakai jubah hitam yang terbuat dari bayangan, tanduk melengkung keluar dari dahinya, dan tangannya berlumuran darah segar.

Pantulan itu mendekati permukaan cermin, meletakkan tangannya di sana, dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa kudengar di dalam jiwaku:

"Tidurlah, Rian. Nikmati tawamu selagi bisa. Karena di siklus ke-14,050 ini... aku tidak akan membiarkanmu bangun sebagai manusia."

[Ding!] [Selamat Malam, Calon Kehancuran.] [Status Mimpi: Mempersiapkan Skenario...]

Aku segera melempar panciku ke arah cermin itu sampai pecah berkeping-keping. Napasku memburu, jantungku berdetak tak karuan.

"Hanya mimpi... ini pasti cuma efek samping daging naga tadi," gumamku sambil meringkuk di bawah selimut.

Tapi di kegelapan malam, Corruption Meter di sudut mataku terus berkedip, menunjukkan angka yang perlahan tapi pasti terus merangkak naik.

More Chapters