Cherreads

Chapter 210 - Boneka Jiwa dan Nama yang Disembunyikan

Di depan gerbang dimensi yang terus berdenyut pelan di kedalaman Hutan Terlarang, suasana mendadak berubah setelah Rei mendengar suara dari masa lalunya.

Sosok gadis itu melangkah keluar dari bayangan pepohonan dengan tenang.

Langkahnya ringan.

Nyaris tidak menimbulkan suara.

Dan justru karena itu, Aerisyl langsung merasa ada yang tidak beres.

Sebagai Guardian Angin, ia terbiasa merasakan napas kehidupan, getaran mana, juga aliran emosi dari makhluk hidup di sekitarnya. Namun gadis yang kini berjalan mendekati Rei itu… berbeda.

Ia ada.

Bentuknya jelas.

Aura sihirnya ada.

Tapi tidak ada energi kehidupan.

Hal itu membuat Aerisyl sedikit menegang.

Angin di sekitar dirinya berputar tipis tanpa sadar, seolah bersiap bila sesuatu yang buruk terjadi.

Aerisyl menoleh ke arah Rei tanpa mengalihkan kewaspadaannya dari gadis itu.

Aerisyl :

"Rei… apa benar gadis ini temanmu?"

Rei yang paham maksud pertanyaan itu hanya melihat gadis tersebut sesaat, lalu menatap Aerisyl kembali.

Tidak ada keterkejutan di wajahnya.

Hanya ketenangan yang aneh.

Rei :

"Benar."

"Dia memang teman lamaku."

"Tapi yang datang saat ini bukan dirinya yang asli."

"Ini adalah manifestasi dari sihir ciptaannya…"

"sihir boneka jiwa."

Mata Aerisyl sedikit melebar.

Istilah itu benar-benar asing baginya.

Aerisyl :

"Sihir… boneka jiwa?"

Sebelum Rei menjelaskan lebih jauh, gadis itu sudah melangkah lagi.

Gerakannya begitu halus hingga dalam sekejap ia sudah berada di sisi Aerisyl.

Hal itu membuat Aerisyl langsung menoleh tajam dan sedikit terkejut karena bahkan anginnya pun nyaris tidak sempat membaca perpindahan itu.

Namun gadis itu tidak memedulikan reaksi Aerisyl.

Ia hanya memandang Rei dari dekat, lalu bersuara dengan nada ringan yang terasa begitu akrab bagi seseorang yang mengenalnya.

Sang Gadis :

"Bagaimana kabarmu, Rei?"

Rei menatap tanah beberapa saat.

Lalu, tanpa mengangkat wajah sepenuhnya, ia menjawab dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Rei :

"Entahlah."

"Aku sudah tidak bisa merasakan apa pun saat ini."

"Karena hanya kesendirian yang selalu menemaniku."

Mendengar jawaban itu, gadis tersebut tidak langsung membalas.

Ia hanya menatap Rei dari samping, cukup lama.

Lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah gerbang dimensi di hadapan mereka.

Cahaya dari segel gerbang memantul tipis di wajahnya.

Sang Gadis :

"Apakah ini gerbang dunia Astraelys?"

Rei pun ikut melihat ke arah gerbang.

Tatapannya dalam. Sunyi. Dan entah kenapa terasa jauh lebih berat saat nama dunia itu disebut.

Rei :

"Benar."

"Itu adalah gerbang penghubung tiga dunia."

"Dunia manusia…"

"Elyndor…"

"dan Astraelys…"

"yang sudah hancur."

Begitu kata hancur keluar dari mulut Rei, gadis itu terdiam.

Ia tetap menatap gerbang, seolah mencoba melihat sisa-sisa dunia lama dari cahaya segel yang berdenyut itu.

Aerisyl tetap diam, namun angin di sekitar bahunya bergerak tipis.

Ia belum memahami seluruh masa lalu mereka, tapi ia bisa merasakan satu hal dengan jelas—percakapan ini membawa luka yang sudah terlalu lama dipendam.

Beberapa detik kemudian, ia bersuara lagi.

Sang Gadis :

"Kau sangat hebat, Rei."

"Dari semua cara yang mungkin gagal…"

"…kau masih bisa memikirkan cara ini."

Rei mengembuskan napas pelan.

Bukan bangga.

Bukan senang.

Lebih seperti seseorang yang menerima kenyataan bahwa ia hanya punya satu jalan tersisa.

Rei :

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

"Aku hanya bisa memilih cara ini."

Setelah itu, Rei menoleh sedikit ke arah gadis tersebut.

Rei :

"Apa kau sudah bertemu dengan Senior Kael?"

Begitu nama Kael disebut, gadis itu diam sesaat.

Tatapannya turun sedikit, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

Sang Gadis :

"Sudah."

"Aku sudah melihat demon tua itu."

"Dan dia masih terlihat bodoh seperti di masa lalu."

Mendengar jawaban itu, Rei tertawa kecil.

Tawa yang sangat samar, tapi cukup untuk membuat suasana yang sejak tadi berat menjadi sedikit lebih hidup.

Rei :

"Apa Senior Kael tahu bahwa itu dirimu?"

Gadis itu menggeleng pelan.

Sang Gadis :

"Tentu saja tidak."

"Kael tidak akan sadar bahwa yang ia temui saat itu hanyalah bonekaku."

"Apalagi mengingat dia masih menggunakan sepuluh segel kekuatan…"

"yang dulu kubuat bersama Eryndra."

"Kecuali jika Kael membuka hingga segel keempat…"

"…mungkin ia akan benar-benar bisa menyadari bahwa saat itu adalah bonekaku."

Setelah mengatakan itu, gadis tersebut terdiam sejenak.

Lalu dengan nada yang sedikit lebih datar, ia menambahkan:

Sang Gadis :

"Tapi kemungkinan dia sudah curiga padaku."

"Karena belum lama ini…"

"…dia melakukan hal yang cukup konyol kepadaku."

Rei akhirnya benar-benar menoleh sekarang.

Ada sedikit rasa penasaran di matanya.

Rei :

"Hal konyol apa?"

Gadis itu menatap Rei sesaat, lalu kembali melihat gerbang dimensi.

Seolah merasa cerita ini terlalu memalukan untuk diceritakan sambil saling tatap.

Sang Gadis :

"Dia menuduhku menipunya saat penukaran batu energi pelangi."

"Padahal itu hanya alasan konyolnya untuk bisa menemuiku."

Mendengar itu, Rei menatap gadis tersebut beberapa saat.

Tatapan yang seolah berkata banyak hal sekaligus.

Namun sebelum ia sempat benar-benar mengucapkan isi pikirannya, gadis itu sudah lebih dulu bicara.

Sang Gadis :

"Tidak usah bilang apa-apa, Rei."

"Aku tahu kau mau mengatakan apa."

Rei pun kembali melihat ke arah gerbang.

Senyum tipisnya hilang, digantikan ketenangan yang lebih dalam.

Setelah beberapa detik, ia kembali bertanya.

Rei :

"Jadi… bagaimana kau bisa selamat, Senior?"

"Apakah sama seperti Senior Kael…"

"…dengan menemukan batu dimensi?"

Pertanyaan itu membuat gadis tersebut terdiam cukup lama.

Angin di sekitar gerbang berembus pelan.

Aerisyl yang sejak tadi diam ikut memperhatikan dengan saksama, meski masih belum benar-benar memahami hubungan dua orang di depannya.

Akhirnya gadis itu menjawab.

Dan kali ini, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.

Sang Gadis :

"Itu semua berkatmu, Rei."

"Jika saja saat itu…"

"…kau tidak secara tidak sengaja menaruh batu keselamatan pada bonekaku…"

"…mungkin aku sudah musnah oleh gadis itu."

Mendengar itu, Rei ikut diam.

Tatapannya menurun.

Ada rasa sesal yang sangat lama dan sangat dalam di sana.

Rei :

"Dari kalian berlima…"

"kalian berdualah yang selalu paling dekat denganku."

"Tidak seperti Senior lain…"

"meskipun mereka juga sama baiknya."

"Tapi entah kenapa…"

"aku hanya ingin mengutamakan kalian berdua terlebih dahulu."

"Dan jika saja saat itu aku masih punya sedikit waktu…"

"…mungkin aku bisa menyelamatkan kalian semua."

"Tapi aku tidak sempat memberikan batu itu kepada tiga yang lain."

Gadis itu menoleh kepadanya.

Tatapannya tenang, namun tegas.

Sang Gadis :

"Tidak perlu kau sesali, Rei."

"Itu semua sudah terjadi."

Lalu ia melanjutkan dengan suara yang lebih ringan.

Sang Gadis :

"Dan untuk pertanyaanmu berikutnya tentang bagaimana aku bisa sampai ke sini…"

"…bukan karena batu dimensi."

"Melainkan karena saat Kael menggunakan batu dimensi…"

"…aku ikut mengikutinya."

Mata Rei sedikit menyipit, lalu ia mengembuskan napas pelan seperti baru menyadari sesuatu yang ironis.

Rei :

"Jadi selama ini…"

"Senior Kael sebenarnya sedang diikuti oleh orang yang ia cari."

Gadis itu tersenyum kecil.

Sang Gadis :

"Benar."

"Aku mengikutinya."

"Selama beberapa hari setelah tiba di dunia ini, aku terus mengikutinya."

"Lalu setelah itu, aku berpisah menuju Kota Veyra."

"Dan sejak saat itu…"

"…aku menjadi seorang pegawai guild pedagang."

Ia berhenti sejenak.

Lalu akhirnya, untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ia benar-benar memperkenalkan identitas yang ia gunakan sekarang.

Shiori :

"Dengan nama…"

"Shiori."

Suasana di depan gerbang menjadi hening sesaat setelah nama itu diucapkan.

Aerisyl menatap gadis itu—atau lebih tepatnya, boneka jiwa di hadapannya—dengan pandangan yang kini jauh lebih rumit.

Sementara Rei hanya memandang ke depan dengan tenang, seolah nama itu bukan sesuatu yang asing baginya…

melainkan sesuatu yang sudah lama ia tunggu untuk ia dengar lagi.

More Chapters