━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🔥 CHAPTER 116 — "Zura Retak Total, Dua Monster Menyerang Bersamaan, dan Evolusi Pertama Moon-Red Instinct" (MC: Damien Valtreos) ━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌑 ADEGAN 1 — Dua Monster Bergerak di Saat yang Sama
Aurelius mengangkat telapak tangan—udara langsung membeku. Voidstep Hunter melompat dari sisi lain—bayangannya memanjang seperti cakar hitam yang haus darah.
Dua serangan dua arah dua niat mematikan.
Rex dan Hana langsung pucat.
"B-BRO—itu dua monster sekaligus!!" "Hentikan!! Damien belum sanggup!!"
Zura memeluk Damien seperti perisai hidup, tubuhnya yang penuh retakan mengeluarkan suara patah halus.
CRACK… CRACK…
Seolah satu sentuhan lagi bisa membuatnya runtuh.
Aurelius melirik Zura.
"Jika kau masih berdiri… itu hanya berarti kau belum hancur sepenuhnya."
Voidstep Hunter mendesis: "Boneka sialan… ini akhirmu."
Mereka menyerang.
––– 🔥 ADEGAN 2 — Zura Menahan Kedua Serangan Sekaligus
Zura menggerakkan tubuhnya untuk menutupi Damien sepenuhnya.
Serangan bayangan dan es menghantam Zura sekaligus—
KRRRAAAK!!
Tubuh Zura bereaksi seperti kaca diseret di atas batu.
Retakan menjalar dari lengan ke dada, dari dada ke punggung.
Rex berteriak putus asa: "ZURA BROOO—!!"
Hana meneteskan air mata. "Dia beneran mau hancur… demi Damien…"
Damien yang setengah sadar mendengar itu— dan hatinya terasa seperti diremas dari dalam.
"…Zura… jangan…"
Zura tidak menjawab. Ia hanya menggenggam Damien makin erat, seolah berkata:
Aku tidak diciptakan untuk hidup lama.
Tapi aku diciptakan untuk melindungimu.
Serangan lanjutan Aurelius turun.
Voidstep Hunter memutar cakarnya.
Zura tidak bisa menghindar. Tidak punya kekuatan untuk mengangkat tangan.
Tapi ia tetap berdiri.
––– 🌕 ADEGAN 3 — Damien Mendengar Kata-kata Zura yang Tidak Pernah Ia Ucapkan
Di dalam kesadarannya yang kabur, Damien mendengar suara Zura—bukan melalui suara fisiknya, tapi dari retakan tubuhnya.
Biarkan aku… hancur.
Jika itu membuatmu hidup satu detik lebih lama…
itu cukup, Tuanku.
Damien gemetar. Air mata muncul tanpa ia sadari.
"S-STOP… jangan… melakukan itu sendirian…"
Zura akhirnya membuka suara, retak dan putus-putus:
"Jika aku… tidak ada lagi… kau akan tetap berdiri… Damien… karena itu… tugasku…"
Tubuhnya semakin retak.
Hana menutup mulut—shock. Rex tidak berhenti gemetaran.
"Zura… bro… jangan ngomong kayak gitu…"
Aurelius mendecak kecil. Voidstep Hunter tertawa rendah.
"Boneka ini tahu dirinya akan mati. Lucu."
––– ⚡ ADEGAN 4 — Trik Licik Damien (Walau Setengah Sadar)
Voidstep Hunter melompat, siap menembus Zura dan Damien sekaligus.
Tapi saat itu…
Damien menggerakkan jari—sedikit, hampir tak terlihat.
Petir kecil menyambar tanah seperti garis tipis.
Aurelius mempersempit mata: "…hmm?"
Damien tersenyum lemah, wajahnya pucat.
"Aku… nggak kuat ngelawan…
tapi aku masih bisa… ngebohongin kalian…"
Petir tipis itu tiba-tiba berubah arah—menyambar ke kanan, memantulkan pecahan batu ke sisi kiri.
Voidstep Hunter refleks menoleh.
Aurelius menghentikan langkah sepersekian detik.
Dalam pertarungan antara monster…
satu detik saja adalah celah.
Zura menggunakan celah itu.
Dengan sisa tenaga, ia memutar tubuhnya, mendorong Damien menjauh beberapa meter—cukup agar serangan tidak mengenai pusat jantung Damien.
Serangan ganda menghantam Zura—
BAAAM!!
Tubuh Zura terhempas ke tanah.
Retakan terakhir muncul.
Tubuhnya… hampir pecah total.
––– ❄️ ADEGAN 5 — Rex & Hana Naik 2 Tingkat di Tengah Keputusasaan
Rex berteriak putus asa: "GUE NGGAK MAU ZURA MATI!!!"
Aura listrik tipis muncul dari tangannya—insting awakening yang tak ia sadari sebelumnya.
Tekanan ekstrem memaksa inti energinya bergerak.
Rex → Essence Flow Realm tingkat 7
Hana menggenggam pedangnya dengan air mata mengalir.
"AKU TIDAK AKAN BIARKAN DAMIEN DIAMBIL!!"
Aura angin putih membungkus tubuhnya tanpa ia kendalikan—naik secara paksa karena ketakutan dan ketegasan hati.
Hana → Essence Flow Realm tingkat 6
Aurelius memandang keduanya tanpa emosi. "Efek titik balik. Wajar."
Voidstep Hunter mendesis: "Biar kurobek mereka juga nanti."
Tapi fokus mereka tetap pada Damien— yang kini berlutut di tanah, melemah, tapi masih melawan tidur.
––– 🌕 ADEGAN 6 — Evolusi Pertama Moon-Red Instinct
Aurelius dan Voidstep Hunter bersiap menyerang lagi.
Damien mengangkat wajahnya.
Matanya merah-perak kembali terbuka…
tapi kali ini berbeda.
Simbol Moon-Red di dadanya retak
lalu berubah bentuk.
Tidak besar. Tidak OP.
Hanya…
berevolusi sedikit.
Aura Moon-Red muncul kembali, namun lebih padat, lebih terarah.
Bukan ledakan liar—
ini seperti refleks perlindungan yang meningkat.
Aurelius berhenti sejenak. "…evolusi spontan?"
Voidstep Hunter mundur setengah langkah. "Kenapa auranya… berubah?!"
Damien berdiri goyah.
Ia tidak mengeluarkan serangan.
Tidak memanggil kekuatan.
Hanya berdiri… melindungi Zura yang hampir runtuh.
Dengan suara serak:
"Kalau kalian mau ambil aku…
lewati dia dulu…"
Moon-Red Instinct menyelimuti Damien seperti mantel tipis.
Tidak kuat. Tidak stabil. Tapi cukup untuk membuat dua monster itu menahan diri.
Sementara Zura, hampir hancur, berbisik:
"Tuan Damien…
jangan buang hidup Anda…
untuk saya…"
Damien tidak menjawab.
Ia hanya memegang kepala Zura—perlahan.
"…giliran aku yang jagain kau."
Aurelius melangkah maju— Voidstep Hunter ikut maju—
serangan final hampir dimulai lagi.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🔥 END CHAPTER 116 ━━━━━━━━━━━━━━━━━━
