Cherreads

Chapter 897 - Harapan di Balik Kehancuran

Perseiron terus membawa Putri Abell melewati reruntuhan kota.

Di belakang mereka, suara pasukan Bootes Void terdengar semakin jauh.

Namun Perseiron tahu mereka belum aman.

Setiap saat pasukan itu bisa menemukan keberadaan mereka.

Di hadapan mereka berdiri reruntuhan sebuah bangunan yang dahulu menjulang tinggi ke langit.

Kini bangunan itu telah runtuh.

Sebagian besar dindingnya hancur, sementara lantai-lantai atasnya telah menghilang.

Perseiron melihat sebuah celah di antara reruntuhan.

"Di sana."

Ia membawa Abell masuk.

Di balik reruntuhan terdapat sebuah jalan menuju ruang bawah tanah.

Mereka turun perlahan.

Semakin dalam mereka berjalan, suara dari permukaan semakin tidak terdengar.

Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang luas.

Dahulu tempat itu mungkin merupakan aula besar.

Kini hanya tersisa lantai retak, batu-batu besar, dan bagian dinding yang runtuh.

Perseiron memastikan tidak ada pasukan Bootes Void di sekitar mereka.

Setelah merasa cukup aman, ia duduk bersandar pada sebuah batu besar.

Ia menarik napas panjang.

Tubuhnya terasa lelah.

Namun matanya tetap waspada.

Ia terus memperhatikan setiap sudut ruangan.

Abell kemudian duduk di sampingnya.

Gadis itu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Perseiron.

Perseiron tidak mengatakan apa-apa.

Ia membiarkannya.

Mereka memiliki sedikit waktu untuk berhenti.

Abell mengangkat tangannya.

Dengan lembut, ia membelai wajah Perseiron.

Perseiron terdiam.

Ia tahu Abell tidak sedang memikirkan perang.

Putri itu hanya ingin memastikan bahwa orang yang tersisa di sisinya masih ada.

"Perseiron..."

"Ya?"

"Aku tidak ingin pergi lagi."

Perseiron menatapnya.

Abell memandang ruangan yang telah hancur.

"Kerajaan sudah hancur."

Suaranya pelan.

"Keluargaku sudah tidak ada."

Ia menundukkan kepala.

"Istana juga telah hilang."

Abell menarik napas.

"Bootes Void mengambil semuanya."

Perseiron mengepalkan tangan.

Namun ia tidak menyela.

Abell kemudian kembali menatapnya.

"Kalau memang dunia kita sudah seperti ini..."

Ia tersenyum tipis.

"...aku hanya ingin kita tetap hidup bersama."

Perseiron terdiam.

"Di dunia yang sudah hancur ini."

Kata-kata itu membuat hati Perseiron terasa berat.

Ia ingin menjawab.

Ia ingin mengatakan bahwa ia akan tetap berada di sisinya.

Ia bahkan ingin mengangguk.

Karena selama Abell masih hidup...

Perseiron merasa masih ada sesuatu yang layak dipertahankan.

Namun jauh di dalam dirinya...

masih ada harapan.

Perseiron memandang ke arah celah kecil di reruntuhan.

Di baliknya terlihat sedikit cahaya dari langit IC 1101.

Bintang-bintang yang masih tersisa.

Cahaya yang belum ditelan kehampaan.

Perseiron kemudian berkata pelan.

"Putri..."

Abell menatapnya.

"Saya juga ingin tetap bersama Anda."

Abell tersenyum.

Namun Perseiron melanjutkan.

"Tapi saya belum percaya bahwa semuanya sudah berakhir."

Abell terdiam.

Perseiron menunjuk cahaya kecil yang terlihat dari celah reruntuhan.

"Selama masih ada cahaya..."

Tatapannya menjadi lebih tegas.

"...berarti masih ada harapan."

Abell mengikuti arah pandangannya.

"Harapan?"

Perseiron mengangguk.

"Saya melihat cahaya itu sebelumnya."

Ia teringat cahaya besar yang muncul dari kejauhan.

"Cahaya dari galaksi yang sangat jauh."

Perseiron yakin sesuatu sedang menuju IC 1101.

Ia tidak tahu siapa.

Ia tidak tahu apa.

Namun nalurinya mengatakan bahwa cahaya itu bukan ancaman.

"Itu mungkin bukan kebetulan."

Abell menatapnya.

"Menurutmu... mereka akan datang?"

Perseiron tersenyum tipis.

"Saya tidak tahu."

Ia menatap langit yang terlihat melalui celah reruntuhan.

"Tapi saya percaya seseorang sedang menuju ke sini."

Abell kemudian menyandarkan kepalanya kembali di bahunya.

Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.

Di permukaan...

pasukan Bootes Void terus mencari mereka.

Di luar galaksi...

kehampaan semakin meluas.

More Chapters